
Erik merapikan tempat makannya dan mencuci sendok dan piringnya. Ia juga merapikan ranselnya yang berantakan, sementara itu Dias duduk di tepi ranjang. Jari-jarinya merapikan anak rambut Della yang sedikit menutupi wajahnya, tangan satunya menggenggam telapak tangan Della yang terasa dingin.
"Cepat bangun, aku sangat merindukan mu. Malam ini aku tidur tanpa mendengar suara mu seperti malam-malam sebelumnya, besok kantor pasti sepi." Dias bicara begitu lembut dengan hati yang sedih. Ingin rasanya ikut menemani Della di ruang itu, namun ia juga harus menghargai Erik.
Selesai dengan sedikit pekerjaannya, Erik melangkah menghampiri ranjang Della, Dias refleks melepaskan genggaman tangannya dari tangan Della. Erik duduk di tepi kasur, menatap lekat wajah Della.
"Aku bersalah, karena meninggalkannya sendiri di mobil." Ujar Erik setelah keheningan beberapa menit.
Dias melihat pada Erik. " Jangan menyalahkan diri mu sendiri. Andai aku disana mungkin akan melakukan hal yang sama, siapa yang tidak tergerak melihat kejadian di depan mata kita." Ujarnya berusaha menenangkan Erik dari rasa bersalahnya.
"Aku akan menelpon Om Andi sebentar." Erik mengambil ponselnya di atas meja dan keluar dari ruangan.
Dias mengangguk lalu kembali menatap wajah Della, merekamnya di dalam ingatannya. Agar nanti di rumah, ia bisa mengingatnya kembali. Perasaan yang Dias rasakan saat ini bukan main-main, ia benar-benar mencintai Della.
Cepat sembuh Bidadari Hati ku, andai kamu tahu rasa ini begitu dalam pada mu. Pasti aku orang yang paling bahagia. Melihat mu lemah seperti ini hati ku sakit, namun aku sadar aku tidak ada dalam hati mu. Maka dari itu aku memilih menyimpan rasa ini sendiri hingga waktu yang akan mengikisnya
Gagang pintu didorong Erik dari luar. Ia kembali menghampiri Dias. "Besok pagi mereka akan ke sini." Berkata seolah faham dengan pertanyaan yang Dias sampaikan melalui tatapannya.
"Syukurlah, sepertinya aku harus pulang. Besok biar aku langsung menemui klien yang ingin bertemu dengan Della." Dias memandang wajah Della sejenak. "Kamu cepat bangun, lihat dia begitu bersalah karena meninggalkan mu sendiri tadi" Ucapnya tersenyum tipis dan sangat pelan.
__ADS_1
"Hati-hati." Balas Erik mengantarkan Dias ke.depan pintu. Ia menutup pintu lalu duduk di sofa memeriksa beberapa pekerjaan nya melalui iPad nya.
Erik membalas e-mail yang masuk padanya, sembari melirik Della di atas ranjang sesekali. Salah satu perawat wanita masuk ke dalam ruangan Della memeriksa kondisinya sebentar kemudian pamit keluar. Erik merasa tubuhnya begitu lelah hingga tak kuasa menahan kantuk yang menyerangnya. Erik segera mematikan iPad nya lalu berbaring di sofa. Tanpa menunggu lama pria dingin ini langsung terlelap.
...----------------...
"Maaf Maura, aku tidak bisa ikut bekerja dengan mu. Aku sudah bekerja disini." Tolak Della saat Maura mengajaknya ikut merantau ke kota lain dan bekerja bersamanya.
"Dell, aku menemukannya ! Dia bekerja satu kantor dengan ku. Kamu tahu dia sangat tampan, tapi dia dingin sekali menyapa pun tak pernah. Berbeda dengan bos kami dia ramah dan hangat." Maura antusias menceritakan tentang pertemuan tak sengajanya dengan pria yang menjadi tambatan hatinya.
Della berbinar dan tersenyum. " Kamu menemukan Erik ! Di mana dia ? Aku juga ingin bertemu dengannya. " Papar Della senang.
"Dia sudah sukses, syukurlah. Nanti setelah cuti selesai, aku akan menemuinya. Untuk sekarang aku akan menemani Amera pulang ke kampung." Ujar Della memberitahukan tentang rencananya dan Rosa.
Sebelum bertemu kembali dengan Erik, Maura sudah memutuskan melupakan perasaannya itu. Namun Jaya Group mempertemukan mereka kembali, hingga bunga-bunga cinta yang telah kering dan mati di hati Maura. Tumbuh lagi dan mekar setiap hari. "Dell, andai nanti kamu bertemu dengannya. Apa kamu mau membantu ku untuk terakhir kalinya? aku ingin mengatakan perasaan ku." Cicit Maura tidak percaya diri.
Seketika rasa cemburu di dada Della berkobar. " Untuk yang itu aku tidak bisa membantu mu Maura !" Jawabnya ketus memalingkan wajahnya. Entahlah tiba-tiba Della merasa tidak rela jika Maura menyampaikan perasaannya pada Erik. Perasaan iri itu muncul begitu saja setelah melihat perubahan Maura begitu cantik.
"Kenapa Dell ? Aku mohon bantu aku, sekali ini saja." Maura menyatukan kedua telapak tangannya. Dengan sorot mata penuh harap besar.
__ADS_1
Della semakin kesal dengan kegigihan Maura dan berkata " Maaf jika aku mengkhianati persahabatan kita. Karena seringnya bertemu Erik dan menghabiskan waktu bersama. Perasaan terlarang ini tumbuh di hatiku. Aku juga mencintai Erik !"
Perasaan Maura seketika sakit, dadanya berdenyut nyeri. Dirinya dan Della terjebak rasa yang sama. "Maafkan aku Dell, semua gara-gara aku. Andai aku memiliki kepercayaan diri sedikit saja. Mungkin persahabatan kita tidak akan menjadi taruhannya." Lirih Maura tersenyum pahit dengan air mata menetes.
Della tersenyum sinis merasa senang melihat kekalahan Maura sebelum maju melangkah. " Mulai saat ini perjuangkan Erik dengan cara masing-masing. Aku tidak perduli bagaimana cara mu untuk mengenalnya. Kamu berjuanglah sendiri dan aku akan berjuang sendiri, satu hal kamu perlu tahu. Aku sudah maju beberapa langkah dari mu. Erik dan aku sudah saling mengenal satu sama lain bahkan kami sering menghabiskan waktu bersama di waktu luang. Terimakasih karena kamu mendorong ku sampai ketahap itu." Della meninggalkan rumah Maura bersama Rosa yang hanya menyimak saja.
Maura duduk lemas di teras rumahnya. Air matanya tumpah begitu derasnya bercampur dengan rasa sakit di hatinya. Cinta yang didambakannya jatuh tak berujung. Semua memang salahnya, andai Maura punya keberanian dan kepercayaan mungkin tidak sesakit ini. Pasti sejak dulu ia dan Erik bisa berteman dan saling mengenal. Haruskah ? Maura memulai dari awal lagi. Ia menyeka air matanya lalu masuk ke dalam rumahnya.
...----------------...
Erik yang tengah terlelap di sofa terjaga oleh suara isak di atas ranjang. Ia segera duduk dan melihat pada Della sesegukkan dengan mata terpejam.
"Della...Dell... Bangun ! Apa yang sakit ?" Erik menepuk pelan pipi Della.
Hanya beberapa kali tepukan Della membuka matanya lalu menatap lekat pada netra Erik yang menatapnya cemas. "Erik... A—aku ingat semuanya ! Dimana Maura ?" Della memaksakan duduk sambil menggenggam tangan Erik. Nafasnya tidak beraturan kegelisahan begitu terlihat dari sorot matanya.
Erik tersenyum senang karena Della mengatakan mengingat semuanya. "Dia akan datang nanti. Kamu sudah ingat semuanya ? Maaf meninggalkan mu sendiri kemarin." Ia menyisihkan poni yang menjuntai di kening Della
Della mengangguk dengan mata berkaca-kaca " Ya aku ingat" ucapnya tersenyum kemudian memeluk Erik. "Aku sangat senang, akhirnya ingatan ku kembali."
__ADS_1
Erik membalas pelukan Della tak kalah senangnya. Akhirnya tak sia-sia dirinya membawa Della ke kota meski butuh waktu berbulan-bulan.