Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Jangan Lepas Tangan Ku


__ADS_3

Beberapa menit yang lalu, pengawal Zevin datang mengambil barang bawaan Erik dan Maura. Jadi mereka keluar hanya membawa tubuh saja.


Erik masih menggenggam tangan Maura tanpa berkata apa pun. Di bibirnya hanya ada lengkungan tipis membentuk senyuman sesekali matanya melirik pada Maura yang terlihat berusaha melepaskan tautan tangan mereka.


Andai dulu Erik seperti ini. Mungkin Maura akan bahagia, namun perbedaan itu begitu terasa di hati wanita cantik ini. "Bisa di lepas tangan ku?" Tanya Maura menoleh pada Erik.


"Tidak bisa, apa kamu tega jika aku terjatuh ? Aku masih sempoyongan."


"Kalau begitu akan aku ambilkan kursi roda." Maura menghentikan langkahnya. Ia berpikir mungkin Erik sempoyongan karena belum sembuh total.


Erik merubah posisi menghadap pada Maura dan berkata. "Tidak perlu, aku masih kuat melangkah sampai parkiran. Pakai kursi roda kamu akan memakai tenaga mendorong ku. Kalau aku jalan kaki tenaga mu tidak terkuras banyak. Cukup menjaga ku saja agar tidak jatuh dan jangan melepaskan tangan ku..."


Maura terdiam kemudian menunduk melihat genggaman tangannya dan Erik.


Andai dulu tangan ini saling ber-genggaman seperti ini, maka akulah orang yang paling bahagia. Ada apa dengan mu Erik ? Apa ini cara mu membalas ku karena cerita masa lalu. Jika benar maka aku siap. Semua memang salah  ku, andai dulu aku tidak minta bantuan pada Della, pasti dia tidak menahan perasaannya. Mungkin, kamu dan Della sudah menikah dan memilik anak yang lucu-lucu


"Ayo..."


...----------------...


Di perjalanan Maura banyak termenung, tak ingin larut dalam keheningan sang sopir menyetel lagu ber-genre  Ballad untuk mereka dengarkan. Mata Maura mengabsen bangunan pinggir jalan yang menjulang ke atas.


Raut wajahnya sendu tak seperti sebelumnya. Erik menyadari itu kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu Maura.


"Hei apa yang kamu lakukan ?!" Pekik Maura terkejut merasakan bahunya berat. Ia menoleh pada Erik di sampingnya.


"Aku butuh bantal, kepala ku pusing." Jawab Erik sembari memejamkan matanya. Tak lupa tangannya, ia kaitkan di pergelangan Maura.


Maura merubah raut wajah dan suaranya. "Benarkah ? Kalau begitu tidur saja di pangkuan ku... Nanti pundak mu sakit jika posisinya seperti ini." Ucapnya lembut.


Erik menggeser tubuhnya, kemudian merebahkan tubuhnya dan menjadikan pangkuan Maura sebagai bantalnya. Ia tersenyum senang rencana menarik perhatian Maura berhasil. "Kepala ku pusing, bisa kamu pijat sedikit." Pintanya lagi.


"Baiklah." Maura memijit kepala Erik dengan pelan. "Pak, bisa lebih cepat sedikit biar Erik segera beristirahat." Ujarnya pada sopir di depan.


"Pelan-pelan saja, kepala ku pusing jadi jalankan mobilnya dengan kecepatan dibawah rata-rata." Tolak Erik sekaligus memberikan perintah pada sopir.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Maura kembali terdiam, tangan nya masih memijat kepala Erik. Tapi matanya kembali menatap lurus ke depannya. Masih mencerna kenapa sikap Erik aneh beberapa hari ini. Namun Maura yakin pria dingin ini terkena gangguan jiwa, malang sekali nasib Erik begitu pikirnya.


Mobil Erik tiba di kediaman family Z. Disana semua orang berkumpul menyambut kepulangan pria dingin ini. Maura membantu Erik turun dengan sangat hati-hati.


"Selamat datang..." Sambut Ivan heboh meniupkan terompet di depan pintu. "Aku merindukan mu, Kak." Sambungnya lagi sembari memeluk Erik.


"Terimakasih, Van." Balas Erik sambil meringis karena tangan Ivan tak sengaja menyentuh daerah lukanya.


"Bagaimana kondisi mu ?" Ralda juga menyambut adik kesayangannya itu bersama suaminya Alby.


"Aku sudah membaik, Kak." Erik membalas pelukan sang kakak.


"Jangan membuat kakak ketakutan lagi." Ralda menepuk pelan pipi adiknya.


Maura terdiam, begitu sayangnya keluarga Erik padanya, sampai di sambut seramai ini. Mereka melangkah masuk di ruang tengah, disana keluarga Indra sedang berkumpul. Erik disambut dengan pelukan hangat, Maura segera menghampiri Della dan Dias yang juga hadir disana, tak sabar Maura mencecar Della dengan pertanyaan kenapa tak datang ke rumah sakit ?


"Bagaimana kondisi mu? maaf aku gagal melindungi mu." Zevin memeluk Erik penuh kasih sayang.


"Sini aku juga ingin memeluk Erik." Sela Nazia menjauhkan suaminya dari Erik .


Mata Zevin melotot kemudian memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. Kemudian mencium pucuk kepalanya "Peluk aku saja sayang, tadi aku sudah mewakili mu memeluk Erik." Zevin menahan tubuh istrinya.


"Tadi, Kak Yudha titip salam untuk Kak, Zi !" seru Erik sembari duduk di sofa.


"Ha ? salamnya tidak di terima !"Sahut Zevin semakin memeluk erat istrinya.


Semua orang tertawa melihat kekonyolan Zevin. Lihatlah dirinya segera menempel pada istrinya. Pak Indra hanya menggeleng kepala melihat kemanjaan putranya yang bersaing dengan cucunya.


"Sekarang kita makan dulu, biar Erik cepat beristirahat. Maura kamar mu di sebelah kamar Erik ya... Dia meminta ijin untuk mu merawatnya disini." Seru Nazia di tengah perbincangan.


"Baik, Nyonya." Balas Maura canggung berada di tengah keluarga Erik. Berbeda dengan Della, ia sudah terbiasa bertemu dengan  keluarga Indra.


"Jangan panggil, Nyonya. Panggil sama seperti Erik ya..." Ralat Nazia lembut dan tersenyum karena kecanggungan Maura.

__ADS_1


"Baiklah, K—kak." Balas Maura terbata. Ia melirik pada Erik yang tersenyum padanya.


Ralda menatap penuh selidik pada adiknya itu yang hanya dibalas Erik dengan cengiran saja. Mereka semua berpindah ke ruangan makan, Erik menarik satu kursi untuk Maura namun wanita cantik ini seakan enggan untuk duduk disana. Maura menatap Della dan dibalas anggukan dari wanita berambut pendek itu.


Maura duduk di samping Erik kemudian memulai makan karena makanan sudah disiapkan oleh Ivan dan Kiki. Hanya Rayya dan Vian serta Yudha yang tidak hadir di sana.


Usai makan mereka kembali keruangan tengah dan berbincang sebentar membahas tentang Aryan. Menghabiskan waktu sekitar satu jam. Pak Indra dan yang lainnya pamit pulang.


"Dell, maaf aku tidak bisa pulang sekarang." Ujar Maura tak enak hati.


"Syutt... Tinggallah disini sampai Erik benar-benar sembuh. Kamu juga bisa bekerja dari sini, semua sudah diatur olehnya." Tutur Della tersenyum lembut.


"Tapi kamu akan sendirian di rumah." Papar Maura sedih. Ia tak tega  karena sahabatnya itu tinggal sendirian.


"Jangan mencemaskan ku, aku tinggal di apartemen sementara waktu. Dias sudah menyewanya untukku. Aku akan aman bersamanya." Kata Della menenangkan Maura.


"Syukurlah kalau begitu, Dias titip Della ya..." Maura tersenyum pada Della dan Dias.


"Jangan cemaskan dia, kamu fokus saja pada pria dingin itu. Lihat matanya sudah mengusir ku agar cepat  pulang. " Tutur Dias tertawa melirik pada Erik yang mengawasi mereka dari seberang sofa.


"Kami pulang ya. Erik, awas saja kalau sahabat ku ini pulang membawa balon !" Ejek Della langsung berpamitan.


Erik hanya tersenyum sangat tipis. Dias dan Della meninggalkan kediaman Zevin Kavindra. Maura kembali duduk di sofa bergabung bersama family Z.


"Sayang, ayo ke kamar. Aku ingin tidur tapi dipeluk ya... Kalian istirahatlah !" Zevin mengajak Nazia dan putranya naik ke kamar dengan menaiki lift.


"Iya tuan."  balas Maura. Ia masih canggung berada langsung satu atap dengan atasannya itu.  Tak pernah terpikirkan olehnya bisa menginap di kediaman family Z .


"Ayo kita istirahat." Erik menarik tangan Maura menuju anak tangga. Maura melepaskan tangan Erik kemudian melangkah mendahului pria dingin itu menaiki undakan tangga.


Erik tiba-tiba memeluk tubuh Maura dari belakang. Tubuh wanita cantik ini hanya sebatas dada Erik.


"Apa yang kamu lakukan ? Lepaskan aku." Maura membeku karena Erik memeluknya tiba-tiba.


Erik mengeratkan pelukannya kemudian membenamkan wajahnya di atas kepala Maura. "Kaki ku lemas butuh penopang untuk naik." Bisiknya pelan sambil terpejam, aroma wangi rambut Maura membuat Erik betah lama-lama menempelkan hidungnya di pucuk kepala wanita cantik ini.

__ADS_1


__ADS_2