Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Gangguan Jiwa


__ADS_3

Tiga Hari Kemudian...


Pagi bersambut dengan sangat indah hari ini, sama seperti sesosok pria yang tengah menatap wajah cantik di hadapannya. Seutas senyum ia tampilkan untuk mewakili perasaannya pagi ini. Ya ! Dia adalah Erik, pria ini masih menikmati pemandangan langka menurutnya, yang belum pernah ia lihat dan lakukan selama ini. Erik menatap wajah Muara yang masih pulas tidur.


Masih seperti sebelumnya Maura akan tidur di ranjang yang telah di satukan dengan Erik. Kondisi pria ini sudah membaik dan boleh pulang hari ini, karena Zevin bersedia merawat jalan dirinya.


Kelopak mata Maura nampak bergerak-gerak. Perlahan mata itu terbuka, melihat pergerakan wanita di depannya Erik segera memejamkan mata dan menarik tangannya kembali ke dalam selimut.


Maura membuka matanya lebar, kemudian netranya tertuju pada Erik di depannya. Sepertinya pria ini belum bangun begitu pikirnya. Maura meregangkan otot tubuhnya kemudian bangun dan turun dari ranjang. Beruntung kamar yang di tempati Erik adalah kamar khusus milik keluarga Indra, jadi tidak ada orang lain selain dirinya.


Maura mengembalikan posisi ranjang seperti semula. Maura sebenarnya rindu dan merasa tidak sabar ingin segera kembali ke rumah. Sudah tiga hari dia tidak masuk ke kantor dan bertemu Della. Maura juga bingung tidak ada satu orang pun yang menjenguk Erik selama di rawat.


Usai membereskan ranjang, Maura segera ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Erik segera membuka matanya, rasanya berat untuk pulang mengingat dirinya tidak akan bisa sedekat ini lagi pada Maura. Erik harus berpikir keras menyusun rencana lagi.


Pintu kamar mandi terbuka. Maura keluar dengan tubuh yang telah segar, ia mencepol rambut panjangnya ke atas, Maura mengenakan kaos kebesaran yang diantar seseorang ke ruangan Erik. Bawahannya mengenakan celana karet panjang.


"Kamu sudah bangun?" Maura menghampiri Erik dan duduk di tepi kasur


Erik mencondongkan tubuhnya agak maju dan mendekat pada Maura, hingga wanita itu menarik tubuhnya kebelakang. "Kamu wangi, aku juga mau membersihkan tubuh ku." Erik menarik tubuhnya kembali.


Maura menghembus nafas panjang.


"Baiklah, akan ku siapkan." Ucapnya kemudian berdiri menuju kamar mandi.


Erik tersenyum lalu melepaskan kancing bajunya sendiri. Lukanya sudah kering dan tidak terlalu sakit lagi. Ia menanggalkan baju kemudian menunggu Maura datang untuk menyekanya.


Maura tidak terkejut lagi, dengan roti sobek dan dada bidang yang terpampang di depannya. "Aku akan menyeka tubuh mu." Ia mulai melakukan tugasnya sebagai perawat pria dingin ini.


Erik mengamati wajah Maura yang serius dalam merawatnya, rasanya tak ingin ini terhenti begitu saja. "Hari ini aku boleh pulang." Seru Erik


Maura menghentikan tangannya kemudian melihat pada Erik. "Benarkah ? Syukurlah dengan begitu aku bisa pulang ke rumah dan bertemu Della, aku sudah rindu dengan suasana kantor." Papar Maura senang.

__ADS_1


Erik menatap kesal. "Jadi kamu berniat melarikan diri ?!" Ujarnya ketus  dengan tatapan tajamnya.


Maura merasa heran atas penuturan Erik. "Melarikan diri ? Dari siapa ?" Tanyanya bingung. Semakin hari Erik semakin aneh dalam berbicara.


"Kamu ! Siapa lagi ?" Tunjuk Erik. "Siapa yang mengatakan kalau aku sembuh ? Dokter memperbolehkan aku pulang tapi rawat jalan di rumah."


"Hei, perjanjian kita hanya sampai kamu sembuh dan keluar dari rumah sakit. Sekarang kamu sudah sembuh !" Maura ikut kesal pada pria dingin ini.


"Kamu melakukan kesalahan besar pada ku. Aku juga belum sembuh." Tutur Erik tanpa mau melihat pada Maura.


"Kesalahan besar ? Aku sudah menjaga mu disini sebagai rasa terimakasih ku ! Kesalahan apa yang aku perbuat ?" Maura menyudahi membersihkan tubuh Erik. Ia juga menyimpan peralatan itu ke kamar mandi.


"Suatu saat nanti kamu  akan tahu kesalahan mu. Dan untuk saat ini, aku ingin meminta pertanggung jawaban atas kejahatan mu itu." Tutur Erik tersenyum tipis.


"Aku merasa tidak bersalah pada mu. Jadi berhenti meminta pertanggung jawaban ku !" Maura kesal dan duduk di sofa menatap tajam Erik yang memasang bajunya sendiri.


"Kamu adalah pencuri !" Erik membalas tatapan Maura. "Tak hanya mencuri tapi merampok juga." Sambungnya lagi.


"Pokoknya kamu mencuri, titik !" Erik meraih tas Maura dan memangkunya


"Terserah pada mu, setelah mendapatkan luka tembak. Sepertinya saraf mu ada yang rusak, kamu berperilaku aneh beberapa hari ini." Papar Maura mengalah.


Erik tersenyum tanpa di ketahui Maura. "Itu efek dari dari kejahatan mu, Nona !" Ucapnya memasang raut wajah datar kembali. " Untuk mempertanggung jawabkan kejahatan mu itu, setelah keluar dari rumah sakit. Kamu juga pulang bersama ku. Meskipun aku rawat jalan, tapi kamu harus jadi perawat ku sementara waktu. Karena di rumah tidak ada perawat." Tutur Erik panjang lebar.


"Aku tidak mau !" Tolak Maura. Ia semakin yakin jika Erik terkena gangguan jiwa.


"Tidak ada penolakan Nona ! Sahabat tercinta mu itu sudah mengirim barang keperluan mu ke rumah ku. " Jawab Erik tegas dan acuh.


"Ish... Menyebalkan"


Kenapa aku pernah jatuh cinta pada pria semacam dia !

__ADS_1


"Terserah pada mu !" Akhir nya Maura menyetujui. Sebenarnya, ia merasa memang harus bertanggung jawab kalau bukan karena dirinya. Tak mungkin Erik tertembak dan mengalami gangguan jiwa. Sungguh miris sekali nasib pria setampan Erik.


"Kenapa menatap ku seperti itu? Aku memang tampan dan cerdas, jadi tak aneh jika wanita langsung jatuh cinta dipandangan pertama." Seru Erik tersenyum menyebalkan pada Maura.


"Anda percaya diri sekali tuan !" Cibir Maura bertambah kesal.


"Itu faktanya Nona, buktinya kamu jatuh cinta padaku dipandangan pertama. Atau mungkin dulu kamu melihat ku turun dari angkot, namun di matamu, aku seperti turun dari kuda bak pangeran." Tutur Erik lagi sambil bersandar di bantal.


"Ya, itu dulu. Tapi sekarang tidak lagi !" Papar Maura yakin menatap mata Erik.


Erik terdiam. Suasana hening dan canggung, Maura mengalihkan pandangannya ke ponsel. Sementara Erik menatap lekat Maura dari atas kasur. Ada perasaan sesak saat mendengar penuturan wanita cantik itu.


...----------------...


Usai pemeriksaan terakhir dan memastikan kondisi Erik mulai membaik. Yudha mempersilahkan Erik pulang, karena perawatan akan diambil alih  oleh Zevin di rumah.


Maura berkemas jika di lihat barang bawaan mereka hanya sedikit. Namun faktanya lumayan banyak, mereka seolah pulang dari berlibur. Maura sudah menelpon Della jika dirinya akan mengantar Erik ke rumah Zevin Kavindra.


Maura beberapa kali merengek  minta bantuan pada Della agar membebaskannya dari situasi ini. Tapi Della malah mentertawakannya dan tak berniat menolongnya.


"Terimakasih, Kak ! Sudah merawat ku." Ucap Erik sebelum meninggalkan ruangan inapnya.


"Iya, jangan terlalu banyak bergerak dulu. Mungkin dipermukaan luka mu sembuh dan kering, tapi di dalam daging perlu proses sedikit agak lama. Jangan mengangkat sesuatu yang berat dulu. Seperti menggendong Maura misalnya, jangan di lakukan dulu ya..." Goda Yudha sekaligus memberi pesan pada Erik.


"Iya, Kak." Jawab Erik tersenyum tipis kemudian menoleh pada Maura yang menatap kesal padanya dan Yudha "Aku juga harus hati-hati dia menaruh dendam padaku." Tambah Erik lagi.


Semenjak ikut berjaga di rumah sakit, Maura selalu di goda oleh Yudha. Jika perasaannya seperti dulu mungkin hati Maura akan berbunga-bunga mendengar candaan Yudha beberapa hari ini. Namun saat ini berbeda, ia selalu merasa kesal jika berhadapan dengan Erik atau pun Yudha.


"Masih ingin menginap di sini ?" Ketus Maura duduk di sofa. Ia menatap sinis pada dua laki-laki yang saling berbisik itu.


"Ayo pulang, mobil jemputan sudah menunggu. Kak, kami pamit dulu... Sepertinya dia sudah tidak sabar merawat ku di rumah." Ucap Erik kemudian menghampiri Maura dan menarik tangannya untuk berdiri.

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati ! Sampaikan salam ku pada, Zi. Hari ini aku tidak bertemu dengan nya." Yudha mengantarkan Erik dan Maura sampai di luar ruangan.


__ADS_2