
Rerumputan ilalang bergoyang di tiup angin senja. Gelombang air danau tak beraturan diterpa angin yang datang dari segala arah. Enam bulan lamanya tinggal di kota ini membuat Della sudah banyak tahu di mana saja tempat yang bisa melepaskan segala rasa bersarang di hatinya.
Di sinilah, Della menghabisi senja menatap hilir - mudik kapal kecil mengantar para penumpangnya ke segala tujuan. Della berdiri di sisi dermaga menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Apa yang ada di pikirannya, hanya dirinya yang tahu. Danau yang sama tempat Nazia sering menghabiskan waktu sendiri ketika penat.
Cukup lama termenung di tempat itu, sembari menikmati indahnya bias senja menghias langit sore. Della tersentak ketika telapak tangan kekar menyentuh pundaknya. Ia memalingkan wajahnya kesamping melihat si pemilik tangan yang telah menyentuh pundaknya. Della menghembus nafas lega ternyata orang itu adalah atasannya sendiri.
"Apa yang kamu pikirkan ? Kenapa sendiri di sini. Di mana Erik ?" Dias ikut menatap jauh danau itu. Dia sengaja mengikuti Della karena sejak tadi wanita itu ber-murung diri di kantor.
Della kembali melemparkan pandangannya ke arah laut. "Erik ke luar kota. Mungkin nanti malam kembali, dari mana bapak tahu saya ada di sini ?"
Dias memasukan ke dua tangannya ke saku celana lalu berkata. " Aku sengaja mengikuti mu karena ku perhatikan sejak tadi kamu murung, ada apa Della ?"
Della tersenyum tipis tanpa menoleh.
"Saya tidak apa-apa, Pak ! Mungkin, hanya lelah..."
Dias mengangguk perlahan tanda mengerti. Karena hari sudah hampir menggelap. Dias berinisiatif mengantar Della pulang.
"Ayo, aku antar pulang. Panggil saja namaku sama seperti Maura." Tutur Dias santai berusaha mengikis jarak antara atasan dan bawahan. Meski pun Dias sadar jika Della tidak bisa dimilikinya, setidaknya mereka bisa berteman.
"Tapi, bapak atasan saya, tidak pantas rasanya jika memanggil dengan nama secara langsung." Papar Della. Dirinya juga tidak ingin disangka lancang atau tidak memiliki sopan santun terhadap atasannya.
Dias tersenyum. "Itu hanya akan berlaku di kantor, di luaran seperti ini kita bisa berteman. " Jelasnya menatap manik hitam mata Della.
Della dapat melihat kesungguhan di mata Dias, tak hanya itu entah kenapa mata itu seolah menghipnotisnya, cukup lama Della menyelami netra kecoklatan yang teduh menatapnya.
"Baiklah, Di—dias. " Balas Della tersenyum canggung. Ia merasa wajahnya memanas dan malu karena tanpa sadar telah berani bertatapan langsung dengan mata atasannya itu.
Dias tersenyum lebar. " Terimakasih. Ayo kita pulang, sudah gelap. " Ajaknya sembari melangkah.
Mereka meninggalkan ujung dermaga sambil bercanda dan bercerita. Kecanggungan yang sempat ada hilang begitu saja diterpa angin danau. Dias merasa senang bisa berteman dengan wanita yang sepenuhnya mencuri segumpal daging lembut di tubuhnya. Dias telah jatuh sedalam-dalamnya pada perasaannya pada Della. Meski pun wanita di sampingnya itu tidak tahu.
Cukup Dias saja yang tahu bagaimana dalam rasa di hatinya saat ini. Andai bukan Erik pria yang tengah dekat dengan Della, mungkin Dias akan ambil langkah maju ketimbang diam di tempat atau membiarkan hatinya terluka.
Mobil Dias melaju meninggalkan lokasi itu. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di bawah rata-rata. Seolah tak ingin kehabisan waktu untuk berdua. Tak ingin keheningan merasuki suasana, Dias menyetel lagu romantis. Berharap itu akan jadi kenangan suatu hari nanti. Jika ia pernah berdua bersama Della mendengarkan lagu itu. "Del, sebelum pulang kita makan dulu ya..." Ajaknya sembari menoleh ke samping.
"Baiklah, aku juga lapar. Mungkin sampai apartemen aku malas memasak." Della tertawa kecil setuju dengan ajakan Dias.
__ADS_1
Mereka berhenti di salah satu resto sederhana, Dias bukannya tak ingin mengajak Della ke resto berkelas, tapi memang dirinya tidak pemilih yang penting makanannya bersih, sehat dan enak.
"Kita makan disini, apa kamu mau ?" Dias belum mematikan mesin mobil. Ia harus memastikan jika wanita bersamanya ini tidak merasa kecewa dengan pilihannya.
"Aku tidak pemilih yang terpenting tempatnya bersih, nyaman dan makanannya cocok di lidah. "
Dias mengangguk dan mematikan mesin mobilnya. Mereka berdua masuk ke dalam resto tak lama pegawai resto datang menghampiri mereka. Setelah memesan makanan keduanya saling tanya jawab tentang kehidupan pribadi masing-masing.
...----------------...
Di Kediaman Family Z
Erik baru saja tiba dari luar kota. Ia dan Zevin hari ini menghadiri pertemuan penting di sana. Wajah lelahnya sangat terlihat meski Erik dan Zevin membawa sopir pribadi. Namun, cukup menguras tenaga dalam perjalanan mereka. Sejak tadi Erik berusaha menelpon Della tapi tidak di jawab. Ia kembali membuka paper bag berisi oleh-oleh cemilan khas kota yang dikunjunginya. Erik sengaja membelinya untuk Della.
"Kamu kemana, Del ? Aku mencemaskan mu." Erik bergumam sendiri sebelum memutuskan pergi ke kamar mandi.
Erik berdiri di bawah shower membasahi tubuhnya. Pikirannya tertuju pada Della. Ia mencemaskannya karena takut terjadi sesuatu. Bagaimana pun Della adalah tanggung jawabnya. Selesai mandi, Erik segera bergabung di meja makan bersama family Z.
Erik makan dengan cepat seperti tergesa-gesa. Ia tak sabar ingin menemui Della, Erik sangat takut hal buruk terjadi pada wanita itu mengingat dirinya hanya tinggal sendiri di apartemen.
"Kak, aku ke apartemen Della sebentar. Sejak tadi ponselnya tidak bisa di hubungi. Akhir - akhir ini ia sering merasa gelisah." Pamit Erik seraya menyeka mulutnya dengan tissue.
Di perjalanan Erik melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, tak lupa oleh-oleh yang dibeli tadi siang dibawanya. Dalam hatinya berdoa agar tidak terjadi sesuatu pada Della. Setelah beberapa menit berkendara, Erik tiba di apartemen yang dulu ditempatinya bersama Zevin. Tanpa disangka mobil putih milik Dias juga berhenti tepat di belakang mobilnya.
Erik segera keluar dari mobilnya karena merasa mengenali mobil di belakangnya. Melihat sosok Erik yang keluar, Dias merasa tak enak hati karena mengajak Della makan malam tanpa memberitahu Erik. Della hanya diam sebelum keluar dari mobil, ia juga merasa tidak enak hati pada Erik. Karena datang ke sana namun dirinya tidak ada.
"Kalian dari mana ?" Tanya Erik setelah Dias dan Della keluar dari mobil.
"Maaf, aku tidak ijin padamu mengajak Della makan. Tadi selepas pulang dari kantor, aku mengajak Della makan dan jalan-jalan sebentar. Jangan marah padanya." Jelas Dias berharap Erik tidak marah pada Della.
"Tidak masalah, santai saja." Balas Erik tersenyum tipis. Satu hal yang dapat Erik lihat malam ini, perhatian dan keperdulian Dias tak biasa menurutnya. Dirinya dan Dias hampir sama tak mudah dekat secara pribadi pada wanita terlebih baru mengenalnya.
"Kenapa tidak menelpon ku jika ingin kesini ?" Tanya Della pelan. Tak berani melihat wajah Erik, ia hanya menundukkan wajahnya merasa bersalah.
"Ponsel mu tidak bisa di hubungi, aku ke sini hanya ingin memastikan jika kamu baik-baik saja. Dias terimakasih sudah mengantar Della dan mengajaknya makan. " Tutur Erik tenang. Tidak ada raut marah di wajahnya atau pun kesal di nada suaranya.
Dias mengerjap beberapa kali. " Kamu tidak marah padaku ?" Tanyanya untuk meyakinkan.
__ADS_1
Erik tersenyum tipis. " Untuk apa aku marah ? Aku malah bersyukur ada orang lain selain aku yang memperhatikannya. Itu artinya banyak yang perduli pada Della " tuturnya santai.
"Maaf, ponselku ternyata mati." Ucap Della baru mengecek ponselnya.
" Naiklah ke atas. Aku akan pulang, istirahatlah ! Jika terjadi sesuatu cepat telpon aku, Ini untuk mu. " Erik menyerahkan paper bag di tangannya lalu berpaling dan masuk ke dalam mobilnya meninggalkan tempat itu
Dias menjadi semakin tidak enak hati, apa Erik benar-benar tidak marah padanya ? Tidak ingin membiarkan Della naik sendiri, maka Dias mengantarkan Della sampai ke unitnya.
...----------------...
Erik memutuskan untuk pulang karena tubuhnya butuh istirahat. Terangnya lampu jalanan membuat netra Erik menangkap sosok seorang wanita berdiri di depan apotek dengan wajah cemas. Hati Erik berbisik untuk berhenti di sana. Ia bergegas turun dan menghampiri wanita itu
"Maura." Sapa Erik sembari melangkah mendekat. Ia dapat melihat wanita ini nampak cemas sekali bahkan penampilannya acak-acakkan. Wajah lelahnya kentara sekali terlihat.
Maura menoleh ke asal suara dan bibirnya tersenyum tipis, selepas dari pantai waktu itu. Maura memilih menjauhi Erik agar tidak terlalu jatuh dalam rasa sakitnya. " Erik. " Balasnya lembut.
Erik menghela nafas pelan sebelum bicara kembali. "Kenapa di sini ? Kamu sakit ?"
"Aku tidak sakit, aku baru saja membeli obat untuk mama." Jawab Maura memperlihatkan plastik di tangannya.
"Ibu mu sakit lagi ? " Tanya Erik serius. Entahlah dirinya merasa ingin tahu lebih banyak tentang kondisi ibu Sila.
"Iya, katanya tadi pagi pusing. Aku baru tahu saat pulang ke rumah." Jawab Maura. Ada kesedihan yang terlihat oleh Erik. Benar saja ibu Sila sama sekali tidak mengabari Maura.
Tanpa bertanya lagi Erik berkata
"Ayo pulang ? Tunjukkan alamat mu ?" Ia membuka pintu mobil sebelah kemudi dan mempersilahkan Maura masuk ke dalamnya.
"Ha ? Tidak perlu repot ! Aku bisa pulang sendiri. Rumah ku dekat dari sini bisa jalan kaki." Tolak Maura halus. Saat ini Maura benar - benar tidak mau terlibat apa pun pada Erik selain menyangkut ingatan Della.
Erik berdecak kesal, bisa-bisanya wanita ini menolak bantuannya di saat kepepet seperti itu. "Masuk sendiri atau aku paksa !" Ancaman disertai sorot tajam dari mata Erik.
Maura tergagap. "A—aku masuk sendiri." Ia langsung masuk. Dadanya berdebar-debar hingga Maura berulang kali menghembuskan nafasnya. Ini kedua kalinya, ia dan Erik satu mobil dan berdua. Maura merasa gugup dan berkeringat dingin. Dari pada dipaksa lebih baik menurut begitu pikirnya.
Erik melirik sebentar melihat Maura yang mengarahkan pandangannya ke luar jendela lalu berkata. "Apa pemandangan di balik jendela itu lebih indah dari pada orang di samping mu nona ?"
"Haa ? A—apa ? " Maura tiba-tiba terlihat bodoh dan tuli. Masih tak mengerti kenapa Erik banyak bicara pada akhir-akhir ini.
__ADS_1
" Kita sampai !" Kata Erik mematikan mesin mobilnya. Tanpa diminta dirinya ikut keluar mengekor Maura yang keluar lebih dulu dari Mobil.
"Eh ??l Ke—kenapa kamu ikut ? Jangan merepotkan diri mu. Aku bisa sendiri !" Maura terkejut karena Erik tiba-tiba berdiri di sampingnya saat membuka pintu. Erik tak menggubrisnya, ia sengaja menunggu Maura membuka pintu