Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Meluruskan Cerita


__ADS_3

Cuaca nampak tak bersahabat, di atas sana terlihat gelap gulita, bintang pun seolah enggan menyapa. Hal semacam ini pertanda akan turunnya hujan, Langit seperti mendengar keluh kesah Della di rumah dan juga turut bersedih atas kisah persahabatan dan cinta dua sahabat ini.


Maura melajukan motor itu dengan kecepatan rata-rata. Dirinya sengaja ingin menemui Erik dan menjelaskannya, Maura tak tega melihat Della yang bersedih sejak pulang dari pantai tadi. Hatinya berkecamuk melawan rasa tidak percaya dirinya. Dengan tatapan penuh konsentrasi Maura tak lagi ingin merangkai kata-kata untuk menghadapi pria dingin itu.


Beberapa menit berkendara, Maura tiba di tempat janji temunya dan Erik. Disinilah tujuannya. Kampus tempatnya menimba ilmu, disini awal kisah itu di mulai. Disini pula perkenalan  yang tak sampainya bermula dan malam ini juga Maura akan mengakhiri ceritanya.


Maura memarkirkan motornya dengan benar, rupanya kampus itu nampak sepi. Sebelum masuk dirinya sudah ijin terlebih dulu, Maura melangkahkan kakinya yakin untuk bertemu Erik. Rupanya tak jauh darinya, pria dingin itu bersandar di badan mobilnya sembari memegang ponsel.


"Maaf membuat mu menunggu." Suara Maura mengejutkan Erik. Ia menelisik penampilan Maura yang kian mempesona.


"Untuk apa mengajak ku bertemu di sini !" Suara ketus dan tatapan dingin mencampuri raut wajah datar Erik. Sejenak ia terpana dengan makhluk cantik itu. Namun, Erik segera menetralkan perasaannya.


"Ayo duduk disana." Maura melangkah lebih dulu menuju kursi yang pernah ia duduki bersama Della waktu itu. Erik terpaksa menuruti dan menjatuhkan tubuhnya di sisi Maura, namun masih menyisakan jarak untuk mereka berdua.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Erik tanpa menoleh. Pria ini seakan enggan menatap Maura, rasa kecewanya sangat membelenggu hatinya saat ini.

__ADS_1


Maura mengeluarkan dua kaleng bir dari dalam plastik lalu meletakkannya ditengah mereka berdua. "Jangan marah pada Della, dia tidak salah. Sejak sore tadi dia menangis." Paparnya sembari membuka bir kaleng itu, namun belum juga meminumnya. Ia pun tak menoleh pada pria di sampingnya ini.


Erik menoleh sebentar lalu kembali menghadap ke depannya. "Kenapa kamu susah-susah menyampaikan hal itu ?!" Nada suaranya belum terdengar bersahabat. Sedikit sudut matanya melirik ke samping.


Hening, Maura mengatur perasaannya yang gugup,  ia menatap nanar ke depan. Ya ! Maura harus siap,  pilihan yang tepat malam ini cerita konyol itu harus selesai.


Maura menggenggam kaleng minumannya lalu menatap lurus ke depan gerbang, Perlahan ia menyandarkan tubuhnya meminta kekuatan pada dinding bangku sebelum memulai berbicara. "Di depan gerbang itu." Ucapnya terhenti. Erik ikut melihat ke arah pandang  Maura. "Aku melihat pria turun dari angkot dihari pertama menginjakkan kaki di tempat ini, wajahnya sangat tampan. Dia juga memiliki tatapan tajam dan dingin. Wajah datarnya sangat menggemaskan di mataku. Dadaku berdebar hebat kala itu. Aku meminta pada Della untuk mencari tahu siapa dia, karena aku tidak memiliki kepercayaan diri yang bagus maka aku memulainya dari Della." Cerita Maura terhenti lalu menenggak minumannya kembali. Ia bernafas lega, sepenggal kisahnya sudah tersampaikan.


"Lalu..." Lirih Erik menoleh pada Maura. Jantungnya berdegup kencang, cuplikan dirinya turun dari angkot tiba-tiba hadir begitu saja. Nada suaranya melemah, tubuhnya gemetar dan lemas seolah menolak sesuatu yang akan didengarnya.


Dada Erik bergemuruh, perasaannya jadi tidak menentu. Nafasnya naik turun, sesak itu yang dirasakannya. Kenyataan seperti inilah seakan enggan diterimanya. Mendengar cerita Maura sebelum menyebutkan namanya, Erik sudah dapat menebak jika pria itu adalah dirinya. Pria yang dekat pada Della.  "Ke—kenapa kamu tidak pernah muncul di hadapanku... dan aku tidak pernah melihat mu bersama Della ?" Tanyanya pelan setelah mampu menguasai perasaannya.


Maura kembali meminum bir kalengnya kemudian berkata. "Aku terlalu malu dan tidak percaya diri. Sebelum Della kecelakaan, kami sempat bertemu dan membicarakan tentang pertemuan tak sengaja kita di JG pusat. Aku terlampau senang karena melihat mu lagi, namun kesenangan itu juga mengungkapkan ada hati lain yang menginginkan mu. Della juga mencintai mu."


Erik semakin terkejut. "Jadi Della mencintai ku juga ?" Tanyanya pelan Artinya perasaanku waktu itu tidak bertepuk sebelah tangan

__ADS_1


Ia jadi yakin apa yang diucapkan Maura saat pulang dari komplek pemakaman waktu itu bukan racau semata karena Maura sedang berduka, tapi memang kenyataannya.


"Iya, Aku terluka namun aku bisa apa ? Setelah mendengar pengakuannya aku berniat akan mengubur perasaanku. Tapi perasaan itu seolah tak tahu malu masih tumbuh di hatiku, sampai saatnya aku menyatakannya padamu. Namun aku bersyukur kamu tidak menyesal menolakku, itu tandanya kamu memang tak memiliki rasa padaku... Terlebih kita tidak saling mengenal saat itu." Maura melemparkan senyuman tipis pada Erik. "Disini juga aku mengerti kamu mencintai Della dan begitu sebaliknya. Jadi, jangan marah lagi pada Della. Perhatiannya tulus padamu... Akulah yang menempatkannya di posisi itu dan bodohnya aku tak menyadari jika kalian memiliki perasaan yang sama." Sambung Maura menghabiskan minuman kalengnya.


Erik terdiam, tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Kenapa rasanya sesak ? Kenapa rasanya tak rela saat Maura menyebutkan tak ada rasa ? Ia tak tahu jika di belakang Della ada Maura yang memperhatikannya. Tapi, kenapa Della tak pernah menyebutkan nama Maura disaat mereka sering bertemu ? Apa Della memang tak ingin Erik berkenalan dengan Maura ? Atau Della juga jatuh cinta dipandangan pertama pada Erik? Biarkan cerita ini Erik simpan sendiri, Maura tak boleh tahu sejak mengenal Della tak pernah sekali pun, wanita itu menyebutkan nama Maura dipertemuan mereka.


Petir menggelegar, waktu telah menunjukkan jam sepuluh malam. Angin mulai menghembus kencang sebentar lagi akan turun hujan. Maura menengadahkan kepalanya ke langit. Ia tersenyum sejenak, ungkapan hatinya malam ini disambut dengan muramnya sang langit malam.


"Sepertinya akan turun hujan, ayo pulang ! Ingatlah besok jemput Della dia tidak bersalah, aku yang menempatkannya seperti itu. Jangan salahkan dia dan jangan dipikirkan pengakuanku tadi, itu hanya cerita masa lalu."Tutur Maura berdiri dari kursi. "Satu lagi, disini rasa itu telah mati jadi aku tidak mengejar mu lagi." Ucapnya menyentuh dadanya sendiri dan tersenyum


"Biar aku antar." Usul Erik. Lidahnya sangat kelu tak mampu banyak bicara. Sakit rasanya mendengar kalimat terakhir Maura, kenapa rasanya hampa?


"Aku pulang sendiri saja. Hati-hati di jalan." Pesan Maura lalu melangkah meninggalkan Erik.


Aku sudah meluruskannya, aku juga sudah menyampaikan isi hati Della Maura tak menoleh lagi.

__ADS_1


Erik masih menatap punggung Maura hingga menghilang di belokan parkir tak berapa lama keluarlah motor besar berwarna hitam. Erik tersentak, benarkah ? Itu Maura jadi penunggang motor besar itu adalah dia begitu terka pria dingin ini.


__ADS_2