
Kantor JG Pusat.
Usai mengantar Jo dan menjelaskan apa saja yang harus dikerjakannya. Erik kembali bekerja lagi, banyak yang harus dikerjakannya hari ini. Sepertinya, ia akan lembur. Di tengah kesibukannya bekerja, ponsel khusus untuknya bekerja berdering.
"Hallo." Jawab Erik setengah malas setelah tahu si penelponnya. Ia tak berniat menanggapinya dengan serius.
"Tuan Erik, saya Merlinda. Saya ingin mengajukan kembali berkas kerja sama yang kemarin. Bisa atur jadwal bertemu ?" Tanya si penelpon. Dia adalah wanita yang di olak oleh Zevin berkas kerja samanya untuk membangun Apartemen.
"Nona, bukan kah kemarin tuan, Zev. Sudah menolak nya." Balas Erik dengan nada sedikit kesal.
"Tuan beri saya kesempatan lagi. Saya yakin kali ini tuan Zev pasti setuju." Merlinda meyakinkan.
"Saya diskusikan dulu. Nanti pihak kami memberitahu anda." Balas Erik ingin menyudahi pembicaraan itu.
"Baiklah Tuan terimakasih. Saya tutup telponnya." Balas Merlinda. Hatinya berbunga senang, ia yakin jika kali ini Zevin pasti menyetujui keinginannya. Sejak lama, ia mengharapkan bisa bekerja sama dengan perusahaan besar itu.
Usai menerima telpon, Erik bergegas keruangan Zevin untuk mendiskusikan permintaan kedua dari pihak Merlinda. Sebenarnya Erik enggan untuk membahas ini, karena perusahaan itu sering mengalami masalah jika melakukan kerja sama. Dengan tidak tahu malunya mereka mengajukan lagi. Perusahaan milik Merlinda hanya perusahaan kecil yang berusaha menarik perhatian perusahaan yang lebih besar darinya.
Waktu terus maju hingga tanpa terasa jam istirahat pun tiba. Erik bergegas bersiap untuk bertemu Della. Terik matahari tidak menjadi penghalang untuknya menepati janji, Erik melajukan mobilnya. Perhatiannya teralihkan pada seorang wanita yang berdiri di halte.
Entah bisikan dari mana, Erik memutar arah dan berhenti di depan halte itu. Ia membuka sedikit jendela mobil lalu memanggil wanita tersebut. "Maura !" Panggilnya sedikit nyaring
Maura mencari sumber suara lalu matanya melihat satu mobil tak jauh dari tempatnya duduk. " Erik, ada apa ?" Jawabnya tak berniat menghampiri. Bahkan matanya menatap silau pada badan mobil yang tertimpa cahaya matahari.
Erik mengalah turun dari mobil dan menghampiri Maura. "Sedang apa kamu disini ? Mau kemana ?" Tanyanya lembut. Tak biasanya seorang Erik meluangkan waktu hanya untuk bertanya tujuan seseorang. Apalagi wanita yang tidak ada kaitan dengan dirinya.
"Aku membeli buah untuk mama." Jawab Maura memperlihatkan plastik buah yang dibawanya. Ia menjawab namun matanya tak melihat ke arah Erik. Ia sibuk memantau kedatangan bus.
Erik memperhatikan sekitar halte cukup banyak orang yang menunggu.
"Ayo ku antar pulang !" Kata Erik. Ia berniat mengantarkan Maura pulang. Karena cuaca begitu panas saat ini. Bahkan wajah Maura nampak memerah karena panas.
Maura menoleh kepada Erik dan tersenyum sangat tipis.
"Terimakasih, aku naik bus saja. Sebentar lagi tiba." Ia memang bertekad untuk tidak lagi mengharapkan atau menunggu balasan cinta dari Erik. Cukup mencintai sendiri bertahun-tahun. Kali ini, ia harus bisa merubah haluannya.
"Cuacanya panas Maura, mungkin tante Sila sekarang menunggu mu." Bujuk Erik lagi. Sepertinya, ia harus memastikan jika Maura pulang sampai ke rumah dengan selamat.
__ADS_1
"Di rumah ada tetangga, jadi aku minta tolong untuk menemani mama sebentar. Kamu lanjutkan saja perjalanan mu. Aku naik bus saja." Sekali lagi Maura menolak. Ia tahu jalan itu adalah jalan menuju kantor tempatnya bekerja. Dan kemungkinan Erik ke sana untuk bertemu Della. Maka dari itu Maura tidak mau menghambat perjalanan Erik.
Erik terdiam mendengar penolakan Itu, tak lama bus yang di tunggu Maura tiba. Ia menoleh sebentar pada Erik lalu naik ke dalam bus tanpa mengucapkan satu kata pun. Bus melaju meninggalkan Erik yang masih terpaku melihat Maura di dalam sana tanpa melihat padanya lagi.
Erik teringat janjinya langsung bergegas meninggalkan halte itu, ia merogoh ponselnya menelpon seseorang. Sambil berbicara Erik mengemudikan mobil hingga sampai di kafe tempat janjinya dan Della.
Erik memutuskan panggilan setelah orang dihubunginya faham. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kafe, di sana Della juga baru tiba. "Maaf membuat mu menunggu." Ucapnya sambil menarik kursi.
Della tersenyum. "Aku juga baru sampai, kamu pesan apa ?" Tanyanya meraih buku menu.
"Samakan dengan mu saja." Jawab Erik menatap lekat pada Della. Dulu wanita itu bisa membuatnya nyaman, dulu wanita ini selalu membuatnya tersenyum. Entah kenapa sekarang meski mereka sering bersama Della serasa jauh darinya. Apakah ia salah dalam menunjukkan perasaannya ? Apa Della tak nyaman bersamanya ?
Keheningan merajai meja yang di isi oleh Erik dan Della, mereka tengah menikmati makan siangnya tanpa pembicaraan. Sampai beberapa menit kemudian makan siang mereka selesai.
Erik menyeka mulutnya dengan tissue. " Apa yang ingin kamu bicarakan ?" Tanyanya tentang tujuan Della mengajaknya bertemu siang ini.
Della melipat kedua tangannya di atas meja menatap Erik dengan serius. " Aku minta maaf karena tadi malam kamu datang ke apartemen, aku tidak ada. Dias mengajak ku makan malam selepas pulang dari kantor " Ucapnya tulus dan jujur.
Erik mengangguk pelan. "Tidak masalah aku mengerti." Ucapnya santai. Ia merasa tidak boleh membatasi pergaulan Della, agar wanita itu tidak merasa di kekang.
Erik terkejut, matanya menatap tajam pada Della." Kenapa ? Ada masalah ? Atau aku membuat kesalahan ?" Tanyanya tak melepaskan Della dari tatapan elangnya. Erik tidak suka dengan keputusan Della yang tiba-tiba menurutnya.
Della mengatur nafasnya, tiba-tiba saja dirinya gugup saat melihat reaksi Erik. "Bu—bukan begitu ! Aku tidak mau merepotkan mu lebih lama lagi. Uang tabungan ku cukup untuk menyewa unit apartemen, tak hanya itu. Om Andi juga mentransfer ku uang." Jawabnya terbata.
Erik menghembus nafas kasar. "Apa kamu tidak nyaman di dekat ku ? Aku tidak merasa direpotkan oleh mu. Aku bertanggung jawab karena mengajak mu ke kota ini. " Tanyanya dengan nada datar. Bahkan tanpa sadar ia mengucapkan kata-kata tanggung jawab.
Della meremas tangannya sendiri mengatur kata-katanya agar Erik tidak tersinggung. "Aku nyaman bersama mu dan merasa aman juga. Tapi sudah waktunya aku mandiri, terimakasih sudah membantu ku selama ini. Nanti akan ku kirim alamat apartemen yang baru. Maafkan aku karena harus pindah." Jelas Della.
"Terserah pada mu, jika terjadi sesuatu hubungi aku. Akan ku kirim beberapa orang untuk membantu mu berkemas." Erik mengalah dengan ke putusan Della.
"Tidak perlu mengirim orang. Maaf... tidak memberitahu mu, tadi aku meminta bantuan Dias untuk membantu ku, dia setuju menyuruh beberapa orang datang ke apartemen." Cicit Della menunduk lagi.
Erik tersenyum tipis. " Baiklah kalau begitu. Aku harus kembali ke kantor, sebentar lagi kami ada meeting." Erik beranjak pergi dari sana.
Jadi mereka sudah sedekat itu.
"Ada apa ini ? Kenapa aku tidak bisa marah?"Gumamnya sambil melangkah ke luar.
__ADS_1
Della menatap punggung Erik yang menjauh, tak mau membuang waktu Della juga kembali ke kantor. Perasaan dulu ber-desir ketika bersama Erik kini perlahan memudar. Della juga tidak tahu penyebabnya.
Di perjalanan Erik kembali merenung, beberapa bulan terakhir Della sedikit menjauhinya. Padahal Erik tak merasa melakukan kesalahan. Hal inilah membuat Erik tak ingin gegabah dalam mengungkapkan perasaannya, terlebih memang dirinya susah mengatakan cinta pada seseorang. Erik harus memastikan dulu perasaan orang yang disukainya memiliki perasaan yang sama atau tidak.
...----------------...
Cahaya matahari mulai meneduh tidak se-terik tadi siang. Jam di tembok menunjukkan pukul empat sore yang mana seluruh karyawan akan siap pulang kantor. Jalan raya mulai memadat karena sebagian orang sudah berbaur bersama pengendara lainnya.
Di kediaman ibu Sila, wanita paru baya itu sedikit membaik dari kondisinya tadi malam. Maura tidak meninggalkan ibunya kemana-mana, selain membeli buah tadi siang. Mengingat pertemuan dirinya dan Erik tadi siang, Maura kembali merenungi apakah yang di lakukannya tadi siang sudah benar ? Menolak ajakan Erik untuk mengantarkannya pulang.
Maura menghembus nafas berat, ini pilihannya. Belajar menekan perasaannya untuk Erik, jika nanti ingatan Della kembali. Maka Maura akan berjanji mengikhlaskan Erik bersama Della, bagaimana pun juga urusan hati tidak bisa dipaksakan. Apalagi menunggu sesuatu yang tak mungkin ia dapatkan.
Saat Maura larut dalam lamunannya tiba-tiba di depan rumahnya ada mobil pickup berhenti, di atasnya ada sebuah motor matic berwarna merah.
Daun pintu di ketuk dari luar, Maura tersentak dan segera berdiri dari sofa untuk membuka pintu. Ia terlihat bingung karena ada mobil pickup di halaman rumahnya serta motor matic yang ada di atasnya.
"Dengan Nona Maura ?" Tanya pria berpakaian serba hitam. Ia membuka kertas alamat yang didapatnya.
"Iya benar, ada apa ya pak ?"tanya Maura. Ia mengamati dua orang berpakaian serba hitam itu dengan teliti, apa tujuan dua orang itu begitu pikirnya.
"Begini nona, pihak kantor Jewelry Corporation. Mengirimkan motor itu untuk anda." Ujar salah satu dari dua orang itu, memberikan selembar surat.
"Tapi, saya tidak mendapatkan pemberitahuan dari Pak Dias." Tutur Maura belum mau mempercayai dua orang itu.
"Ini bukan dari pak Dias, tapi dari presdir Jewelry Corporation sendiri. Tak hanya anda yang dapat inventaris seperti ini, Tuan Jo asisten baru pak Dias juga dapat namun beliau berupa mobil." Jelas pria itu.
Maura berpikir sejenak, mungkin yang dikatakan orang ini benar. Besok saja ia menanyakan tentang asisten baru itu."Baiklah, kalau begitu turunkan saja." Ucapnya mengalah
Dua pria tadi menurunkan motor itu dan menyerahkan kuncinya pada Maura. Setelah selesai mereka berpamitan, Maura melangkah mendekati motor matic berwarna merah itu lalu mendorongnya untuk masuk ke atas terasnya.
Maura masuk kembali ke dalam rumah, bertepatan dengan Ibu Sila juga keluar dari kamar. "Siapa, Nak ?" Tanya Ibu Sila.
"Orang dari kantor, Ma. Mereka mengantar sepeda motor, katanya inventaris dari kantor. Tidak cuma aku yang dapat tapi asisten baru Pak Dias juga dapat." Jelas Maura.
"Syukurlah setidaknya kamu tidak naik bus lagi atau memakai taksi online jika pergi ke kantor, mama mau makan buah yang tadi siang kamu beli." Kata ibu Sila melangkah menuju dapur.
Iya Ma, sekarang mama tunggu di ruang tengah saja. Biar aku kupas buahnya dulu." Maura memapah ibu Sila ke ruang tengah.
__ADS_1