
Beberapa Hari Kemudian...
Erik dan Della tengah bersiap untuk pergi ke kota kelahiran Della. Wanita itu nampak gugup dan gelisah, banyak hal yang dia takuti. Apakah keluarganya mempercayai dirinya masih hidup? Apa keluarganya masih mau menerimanya? Itulah pertanyaan yang menggerayangi otak cantiknya.
Erik telah selesai berkemas dan memasuki barang bawaan mereka.
"Ayo berangkat" ajaknya seraya membuka pintu mobil untuk Della.
"Iya, Ayo ! Apa kita pamit ke rumah Kak, Zi?"
"Tidak, aku sudah pamit pada mereka. Untuk menghemat waktu kita langsung saja karena cuti ku hanya tiga hari." Tutur Erik fokus mengemudi.
Della menatap wajah Erik dari samping.
"Maafkan aku. " Ucapnya sendu.
Erik menoleh sebentar lalu tersenyum tipis dan berkata. "Jangan memasang wajah menyedihkan seperti itu. Apa pun yang aku lakukan saat ini karena aku mengenal mu. Jadi, aku punya kewajiban untuk mempertemukan kamu dan keluarga mu."
Della kembali tersenyum dan bersemangat. Semakin hari Della merasakan kenyamanan saat berada di sisi Erik. Ia pun tak mengerti dengan perasaannya, pertemuan seperti apa sebenarnya dirinya dan Erik di masa lalu.
Menempuh perjalanan selama dua jam mobil Erik memasuki kawasan perumahan padat penduduk. Della tidak merasa asing dengan tempat itu. Namun, sayangnya Della tak bisa mengingat apa pun saat ini.
Mobil Erik berhenti di halaman rumah bewarna merah. Rumah berlantai dua nampak sepi. Erik keluar lebih dulu mengetuk pintu rumah itu. Beberapa kali mengetuk pintu cukup lama menunggu sambil mengamati lingkungan sekitar.
"Ada yang bisa saya bantu, Nak ?" Pintu terbuka dari dalam. Seorang paru baya membuka pintu dan bertanya.
"Saya mencari Pak Andi, apa benar ini rumah nya?" Tanya Erik sopan.
"Saya sendiri, Nak. Benar ini rumah saya."
Erik tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Kenalkan, Om. Saya Erik." Ia memperkenalkan diri.
"Baiklah, Nak Erik ayo masuk kedalam."
Erik menoleh sebentar ke mobilnya lalu berkata. "Di sini saja, Om. Begini tempo hari ada seorang pria datang ke rumah ini dan mengatakan kalau keponakan, Om. Yang bernama Della masih hidup."
Pak Andi mengajak Erik duduk di kursi teras rumahnya. "Benar, tapi saya tidak percaya. Karena Della sudah meninggal tiga tahun lalu." Ucapnya sedih.
Erik menatap lekat wajah pak Andi dan menyentuh punggung tangannya.
"Om, saya teman Della. Beberapa minggu yang lalu saya liburan ke desa. Di sana saya bertemu orang mirip Della." Jelasnya perlahan.
Pak Andi nampak terkejut dan berkata.
"Apa mungkin orang yang sudah tiada bisa hidup lagi ? Mungkin, kamu berhalusinasi"
Erik tersenyum
"Saya tidak berhalusinasi, Om. Saya menepati janji pria yang datang kemari saat itu. Jika akan mempertemukan Della dan Om."
Pak Andi menelisik ke dalam dua bola mata Erik mencari celah ke bohongan di sana, tapi sayangnya tidak ada. "Buktikanlah ! Jika Della masih hidup. Om sangat berterimakasih pada mu telah menemukannya." Tuturnya penuh harap.
"Baiklah, tapi sebelumnya Om jangan terkejut. Jika Della tidak mengenali Om, karena dia lupa ingatan akibat dari kecelakaan yang di alami nya" jelas Erik tentang kondisi Della.
"Jadi dia benar kecelakaan?!" Pekik pak Andi terkejut. Di balas anggukan Erik.
Setelah menenangkan pak Andi dari keterkejutannya. Erik menghampiri Della untuk mengajaknya keluar dari mobil. Erik memberikan tatapan keyakinan pada Della karena wanita itu nampak gugup.
Pak Andi refleks berdiri dari tempat nya duduk, saat melihat sang keponakan semakin dekat dengannya. "De—della ini kamu, Nak?" Pak Andi meraih keponakan semata wayangnya itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Pa—paman." Della menangis haru. Hatinya merasakan rindu yang tak dimengertinya setelah melihat wajah pak Andi, tanpa ragu ia membalas pelukan pamannya itu.
Della dan pak Andi saling merangkul haru atas pertemuan mereka. Meski pun, Della tidak mengingat pak Andi. Namun, ia dapat merasakan jika laki-laki paru baya itu ada kaitan darah dengannya. Erik memberikan waktu pada mereka berdua. Ia memilih mengeluarkan barang-barang Della dari dalam mobil.
Pak Andi meregangkan pelukannya dan menatap wajah keponakan nya itu.
"Kamu ingat paman, Nak? Tadi kamu memanggil dengan sebutan paman." Ujarnya senang.
Della menundukkan wajahnya merasa bersalah. "Maaf paman, aku belum mengingatnya. Tadi hatiku mengatakan jika aku harus memanggil dengan sebutan paman." Tutur sangat bersalah
"Kamu memang memanggil dengan sebutan itu, Nak. Perlahan saja ya untuk mengingat semuanya. Sekarang ayo masuk ajak juga, Nak Erik" Ujar Pak Andi
Della memanggil Erik agar ikut masuk. Pria dingin itu sedang memberi kabar pada Ralda dan Zevin. Rumah pak Andi nampak sepi. Karena hanya dirinya dan sang istri yang menempatinya. Saat ini istrinya sedang pergi keluar.
"Della, Nak Erik . Kalian istirahatlah dulu. Nanti kita bercerita banyak ya." Pak Rudi mempersilahkan mereka berdua untuk beristirahat.
"Iya, Om."
"Panggil paman saja biar sama dengan Della." Kata Pak Andi.
" Iya paman."
...----------------...
Maura sedang memenuhi panggilan dari kantor. Di sana dia sedang tes wawancara. Sambil menunggu hasilnya. Maura makan siang di kantin kantor.
"Maura..."
Maura menoleh ke asal suara.
"Pak Dias. " Balasnya tersenyum manis.
Dias terkesima dengan senyum manis dari Maura. Mata Dias mengerjap beberapa kali bak mata boneka. Setelah menguasai dirinya. Dias duduk di salah satu kursi berhadapan dengan Maura. "Ayo makan siang !" Ucapnya meletakkan nampan makanannya.
"Iya, Pak Dias."
Dias menggantung sendoknya.
"Panggil Dias saja." Ucapnya serius.
"Tapi itu tidak sopan, jika saya diterima di sini anda akan jadi atasan saya. Bagaimana pun anda CEO nya di sini." Tolak Maura.
"Panggil nama saja, jangan anda atau saya. Tapi kamu dan aku." Tegas Dias mengedipkan matanya.
Maura melihat keseriusan Dias lalu berkata.
"Baiklah, Dias..."
Senyum Dias mengembang sempurna. Saat Maura memanggil namanya.
...----------------...
Di rumah pak Andi mereka baru saja selesai makan siang. Istri pak Andi selalu menempel pada Della. Ia tak menyangka jika keponakan kesayangannya itu masih hidup. Mereka saling bercerita tentang Della tiga tahun belakangan ini. Begitu juga pak Andi menceritakan bagaimana terpuruknya keluarga saat tahu Della telah tiada. Pak Andi dan ibu Indah adalah sepasang suami istri tanpa anak. Istri pak Andi di vonis tidak bisa memiliki anak, namun pak Andi sosok setia meski beberapa kali ibu Indah memintanya menikah.
"Jadi paman bagaimana ceritanya. Jenazah yang dimakam itu dikenali sebagai Della?" Tanya Erik
"Di lokasi kejadian warga menemukan tas milik nya bersamaan dengan motor dan jenazah nya, tapi sangat di sayangkan saat itu bagian kepala nya pecah posisi jatuh nya tengkurap jadi bagian wajah nya rusak tergesek aspal sangat mengerikan." jawab Pak Andi.
...----------------...
Kilas Balik
__ADS_1
Tiga Tahun lalu....
Pak Andi akan berangkat mengajar di salah satu SD kota itu. Ia masih memanaskan mesin mobilnya di dalam garasi.
"Ma, apa Della sudah menelpon jika mereka telah sampai di desa temannya?" Tanya Pak Andi merapikan tas kerjanya.
"Belum, Pa. Tidak biasa nya Della seperti ini. Ibunya sudah gelisah sejak tadi." Jawab Ibu Indah.
"Terus hubungi dia." Titah pak Andi sembari melangkah keluar.
"Iya, Hati-hati di jalan." Ucap Ibu Indah menggiring suaminya keluar.
Pak Andi bersiap untuk pergi bekerja. Tiba-tiba di depan pagar rumahnya ada mobil polisi baru saja berhenti. Pak Andi mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil. Ia menunggu kedua polisi itu masuk lebih dulu.
"Selamat pagi, dengan Pak Andi?"
"Selamat pagi, benar saya sendiri . Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Pak Andi mempersilahkan dua tamunya itu duduk di kursi teras rumah.
"Begini Pak. Maaf jika berita ini mengejutkan bapak sekeluarga." Tutur polisi saat melihat kedatangan ibu Indah dari dalam rumah.
"Katakan saja, Pak."
"Anda mengenal saudari Della ? Kami mendapatkan alamat ini dari kartu indentitas nya." Ujar polisi itu.
"Iya, dia keponakan kami. Apa yang terjadi?" Tanya Pak Andi cemas.
Polisi itu memperhatikan reaksi sepasang suami istri ini. Bagaimana pun dia juga memiliki hati dan mengerti perasaan pak Andi dan istri nya jika mendengar berita yang akan disampaikannya.
"Tadi malam kami mendapatkan laporan dari warga, seorang bernama Della mengalami kecelakaan dan dia meninggal di tempat kejadian. Maaf kondisinya sangat buruk. Jalanan itu tidak ada CCTV. Kami menemukan tas miliknya yang berisi dompet, STNK serta kartu tanda penduduknya yang tergeletak tak jauh dari motornya."
Ibu Indah jatuh pingsan di lantai, Pak Andi segera menggendong istrinya masuk ke dalam. Di ruang tengah ibu kandung Della terkulai lemah dengan air mata yang mengalir. Ia mendengar semua percakapan polisi dan Pak Andi.
"Di mana jenazah keponakan saya?" Tanya pak Andi lemah namun berusaha kuat.
"Di rumah sakit. Bapak bisa ikut kami menjemputnya."
"Baiklah, saya akan ikut." Pak Andi meminta tolong pada asisten rumah tangganya untuk merawat istrinya dan ibunya Della.
Pak Andi meluapkan rasa kehilangannya menangis di mobil polisi. Tak menyangka kabar buruk yang diterimanya pagi ini . Della yang berpamitan pergi ikut temannya ke desa malah mengalami hal semacam ini.
Setiba di rumah sakit, Pak Andi mengurus kepulangan jenazah Della. Dan meminta pihak rumah sakit langsung memesan kotaknya. Ia tidak ingin istri dan adiknya melihat kondisi Della yang mengenaskan. Pak andi sendiri tak sanggup melihat jenazah keponakannya itu.
Setelah memastikan semuanya beres jenazah diantarkan pulang ke rumah. Sirene ambulans menghujam dada pak Andi, tangisnya pecah memeluk peti jenazah keponakannya itu. Biarlah kali ini beliau menerima kebencian dari adik dan istrinya karena tak memperbolehkan mereka untuk melihat tubuh Della terakhir kalinya sebelum dimakamkan.
Isak tangis keluarga dan tetangga yang mengenal baik sosok Della terdengar pilu. Wanita baik dan ringan tangan membantu orang lain dalam kesusahan, kenapa secepat itu kembali kepada Tuhan ? Pemakaman berakhir semua orang kembali ke rumah. Ibu kandung Della menatap kosong pada gundukan tanah yang masih basah itu. Tak menyangka putri yang ia banggakan kini telah pergi selamanya. Rasanya beliau pun ingin menyusulnya. Meski bisu namun ibu Della bisa menunjukkan rasa kasih sayangnya pada Della.
Selama beberapa hari orang-orang sekitar masih membicarakan Della. Masih belum percaya jika mereka telah kehilangannya.
Kilas Balik Selesai.
...----------------...
Pak Andi menyeka air matanya menyudahi ceritanya. Begitu pun Della sesegukkan di pelukan ibu Indah. Tak hanya itu pak Andi juga menceritakan jika rumah yang dulu telah beliau jual untuk membiayai pengobatan ibu kandung Della yang sakit.
"Nak Erik berapa hari kalian di sini?" Tanya pak Andi setelah merasa tenang.
"Tiga hari paman."
Paman mengangguk dan berkata.
"Paman ingin minta tolong antarkan paman ke desa orang tua angkat Della yang telah menolongnya."
__ADS_1