
Di Apartemen, Erik bersiap untuk pulang ke rumah utama. Karena hari sudah menggelap. Ponselnya juga sudah berapa kali bergetar karena ada pesan masuk dari Zevin memintanya pulang untuk makan malam.
Erik merapikan barang-barangnya, lalu bersiap untuk pulang. Diperjalanan pria ini berniat kembali mencari kekasihnya setelah makan malam. Berkendara cukup lama, akhirnya Erik tiba di kediaman mereka.
"Ayo makan malam." Ajak Nazia setelah tahu kedatangan Erik.
"Iya, Kak. Maaf sedikit terlambat." Erik mengikuti langkah Nazia ke meja makan.
Disana Zevin sedang menyuapi putranya. Hal rutin yang ia lakukan bergantian menyuapi Zayyan. "Jangan terlalu diforsir, kamu butuh istirahat cukup. Nanti minum vitamin, istirahat mu tidak cukup akhir-akhir ini." Seru Zevin. Dibalas anggukan dari Erik.
"Apa ada surat yang datang lagi?" Nazia juga mengambil makanan untuk suaminya.
"Belum, sudah tiga hari ini tidak ada kabar." Erik menyuapi makanannya.
"Makan dulu baru kita bahas. Ki, kamu sudah makan, 'kan ? Ajak Zayyan ke ruang tengah." Seru Zevin sambil memanggil Kiki.
"Iya,Tuan."
Selesai makan, Erik dan Zevin berpindah ke ruang tengah. Untuk mengganti Kiki menjaga Zayyan, agar Kiki bisa membantu Nazia membersihkan meja makan.
__ADS_1
"Aku takut, penculik itu membawa Maura jauh. Sudah tiga hari ini tidak ada kabar, apa dia baik-baik saja ? Keberadaan Aryan juga tidak ada titik terangnya." Erik mengusap wajahnya kasar.
Ponsel Erik bergetar, ia meraihnya dari dalam saku celananya. Erik terdiam menatap ponselnya. Nomor telpon asing yang masuk ke ponselnya.
Sekali lagi ponsel Erik bergetar, tanpa berpikir lama lagi ia menjawab telpon itu. "Halo." Jawabnya pelan.
"Erik !" Suara wanita terdengar serak di seberang sana. Ada isak kecil juga yang membuat tubuh Erik kaku dan berdebar. "Sayang ini aku..." ucap wanita itu lagi suaranya melemah dan berusaha menahan tangis.
"Maura, kamu dimana sayang ? Katakan ! Aku akan menjemput mu, jangan takut tetap di tempat mu sekarang, jika ada kesempatan pergilah ke kantor polisi terdekat." Erik menjawab dengan perasaan cemas bercampur bahagia. Ia juga melihat Zevin yang melihatnya penuh tanya.
Maura mencoba menghentikan tangisnya kemudian berkata.
"Sebutkan tempat mu sekarang !" Erik memotong kalimat Maura tak sabar.
"Rumah Sakit Raditya." Jawab Maura telpon terputus begitu saja.
Erik menatap ponselnya sejenak lalu melihat pada Zevin. Pria ini senang sudah mendengarkan suara kekasihnya. Tapi dia juga geram saat Maura menyebutkan nama Aryan. Artinya kecurigaan Erik itu benar. Tapi apa yang terjadi kenapa kekasihnya itu ada di rumah sakit ? Erik kembali panik.
"Kak, rumah sakit Raditya milik siapa?" Erik memperlihatkan nomor telpon yang menelponnya tadi.
__ADS_1
"Papa Radit." Zevin terlihat bingung kenapa Erik menanyakannya.
"Maura disana, dia juga menyebutkan nama Aryan. Sepertinya terjadi sesuatu, aku tidak mengampuninya jika sedikit saja melukai Maura." Pancaran amarah begitu terlihat di wajah Erik.
"Hubungi detektif, aku akan menelpon papa Radit untuk meminta bantuannya. Bersiaplah kita ke sana sekarang." Zevin bergegas menelpon dokter Radit.
Erik pun melakukan hal yang sama, ia mengabari detektif atas keberadaan Maura, sepertinya memang kebetulan para detektif itu sudah ada di kota itu.
"Sayang, aku akan keluar kota malam ini bersama Erik. Nanti papa dan mama akan menginap disini, papa Radit dan Mama Mira juga akan kesini." Zevin berkata sambil menaiki tangga untuk bersiap.
Nazia menyusul melalui lift, ia lebih dulu sampai dari pada Zevin. "Kenapa mendadak ? Ada apa ?" Tanyanya sambil membuka pintu kamar.
"Maura ada di rumah sakit papa Radit, aku sudah meminta bantuan dokter disana mencari tahu apa yang terjadi." Jelas Zevin sambil menyiapkan beberapa keperluannya.
"Naik apa ? Ke sana tiga jam sayang." Nazia membantu suaminya itu bersiap.
"Erik sedang menghubungi pilot untuk membawa helikopter ke helipad belakang, rooftop rumah sakit papa Radit bisa menampung Helikopter." Jelas Zevin sambil berlalu keluar.
Kini mereka berkumpul di ruang tengah. Erik sudah siap dengan perlengkapannya, Zevin pun sama. Terdengar suara baling-baling helikopter ada di taman belakang. Erik dan Zevin berpamitan, Nazia memilih naik ke kamarnya untuk melihat keberangkatan suaminya itu.
__ADS_1
Terlihat seseorang berlari membawakan earmuffs untuk Erik dan Zevin setelah terpasang di kuping masing-masing mereka langsung berlari kecil menaiki helikopter. Zevin melambaikan tangannya ketika melihat istri dan putranya berdiri di balkon kamar. Meski pun Nazia tidak melihat lambaian tangan suaminya, hatinya tetap berdoa untuk keselamatan dua laki-laki itu.