
Erik berdiri di depan ruangan IGD dengan perasaan khawatir. Ia mengutuk dirinya sendiri karena meninggalkan Della seorang diri di mobil saat ingin melihat kecelakaan itu.
Senja telah menyapa, matahari juga telah pulang ke peraduannya hingga hanya menyisakan kegelapan. Tidak ada lagi cahaya berselimut mendung seperti tadi sore. Hanya gelap gulita dari segala penjuru, hawa dingin sangat menusuk di telapak tangan. Pertanda jika di atas langit masih ada sisa bom air yang belum meledak.
Erik meraih ponselnya dari dalam saku celananya untuk menghubungi Zevin. Saking cemasnya pada Della, ia lupa mengabari orang rumah tentang keberadaannya.
"Kamu di mana ? Kenapa belum pulang ? Cuaca kurang baik saat ini." Tanya Zevin di dalam telpon. Terdengar nada khawatir dalam bicara nya.
"Aku di rumah sakit, Kak. Della pingsan setelah melihat kecelakaan tadi di depan supermarket." Jelas Erik cepat. Agar Zevin tidak melontarkan lagi pertanyaan .
"Tunggu disana, aku akan menelpon dokter Yudha dan dokter spesialis untuk menangani Della. Jangan cemas !" Zevin memutuskan telpon. Ia berpikir ini ada kaitannya dengan trauma di otak atau cedera otak Della yang menyebabkan dirinya hilang ingatan.
Erik menghembus nafas kasar. Ingin rasanya segera menghubungi keluarga Della. Namun ia enggan karena sudah gelap dan cuaca kurang baik. Ia juga harus memastikan jika Della kondisinya baik-baik saja.
Ponsel Della di dalam tas bergetar, Erik segera mengambilnya. Tertera nama Dias di sana.
"Dias." Jawab Erik.
"Erik, maaf aku tidak tahu jika Della bersama mu. Aku hanya ingin menyampaikan jika besok ada klien yang ingin melihat hasil rancangan terbarunya." Jelas Dias tentang tujuannya menelpon. Ia merasa bersalah karena menelpon Della di saat bersama Erik.
Erik menghembus nafas berat. "Dias, Della sekarang berada di rumah sakit. Saat ini masih di ruang IGD, dia pingsan setelah melihat kecelakaan di jalanan tadi. Sekarang kami di rumah sakit ZK" Jelasnya dengan segenap rasa bersalahnya.
Di seberang sana Dias membeku dengan perasaan tidak karuan. Tubuhnya bergetar saat Erik mengatakan jika Della di rumah sakit. "A—aku akan ke sana." Dias memutuskan telpon. Perasaan takut menyelimuti hatinya. Meski pun Della bukan siapa-siapa untuknya, namun tak dapat dipungkiri jika dirinya cemas kalau terjadi hal buruk pada wanita yang dicintainya itu.
Erik kembali duduk dan bersandar di kursi tunggu dengan tatapan tak lepas dari pintu ruang IGD. Dari jauh Yudha melangkah cepat dan langsung menerobos masuk. Ia sudah mendapatkan penjelasan dari Zevin di dalam telpon.
__ADS_1
Sudah satu jam belum juga ada dokter ke luar dari ruang IGD untuk memberikan informasi pada Erik. Deringan ponsel Della kembali terdengar, Erik meraih ponsel itu dari dalam tas Della.
"Maura." Jawab Erik pelan.
"Maaf.... aku tidak tahu kamu bersama Della. Aku hanya ingin bertanya apa dia besok siap untuk bertemu klien yang ingin melihat hasil rancangannya." Maura menggigit bibirnya sendiri menahan kegugupannya. Sudah lama ia tidak pernah bicara melalui telpon pada Erik.
Erik terdiam sejenak pembahasan Dias sama dengan Maura. Kemudian ia berkata "Della di rumah sakit sedang dalam perawatan"
"Della sakit ?!" Pekik Maura. Ia terkejut karena sore tadi sahabatnya nampak baik-baik saja. Bahkan Della mencemaskannya karena pulang dalam keadaan mau turun hujan.
"Iya. Dia pingsan langsung aku bawa ke rumah sakit ZK" Ujar Erik lagi sambil memijit pangkal kening nya.
"Maaf, untuk malam ini aku belum bisa ke sana, mama tidak ada teman di rumah. Besok pagi saja aku ke sana." Kata Maura dengan berat hati. Padahal ia sangat ingin menemui Della saat ini, tapi Maura juga tidak bisa meninggalkan ibu Sila di rumah sendirian malam hari.
"Tidak apa-apa. Aku tutup telponnya dulu ya, dokter sudah keluar." Erik memutuskan telpon dan berdiri menghampiri Yudha dan dokter lain nya.
"Kita pindahkan dulu ya, sebentar lagi. Zev datang. Satu jam tadi kami observasi dulu dan Della harus inap malam ini." Yudha menepuk pundak Erik.
Perasaan Erik semakin bersalah, kalau bukan keteledorannya mungkin Della tidak terbaring lemas di atas brankar itu sekarang. Dari jauh Zevin datang dan setengah berlari. Di belakangnya ada tas ransel milik Erik serta di tangan kanannya ada rantang nasi. Tak jauh darinya Nazia menyusul dengan membawa beberapa barang dalam paper bag.
Mereka mengikuti brankar Della yang didorong oleh perawat laki-laki serta beberapa dokter yang mengikutinya. Disana terlihat Erik sangat kacau dengan rasa bersalahnya. Beberapa menit berselang Dias juga datang dengan langkah tergesa-gesa ia dapat melihat brankar Della di dorong menuju lift.
Della dimasukkan ke dalam ruangan VVIP sesuai permintaan Zevin di telpon. Perawat mengatur posisi ranjangnya dan tiang infus. Tak lama Dias juga masuk dengan raut wajah yang sama dengan Erik.
Para dokter yang terlibat merawat Della berbicara dengan Zevin menjelaskan kondisi Della. Dari raut wajah Yudha tidak ada yang perlu di cemaskan. Erik bisa bernafas lega.
__ADS_1
Saat ini Erik sangat takut, telapak tangannya sangat dingin. Dia takut jawaban apa yang akan diberikannya pada keluarga Della, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Setelah mendengarkan penjelasan dokter dan berbicara beberapa hal, kini para dokter keluar dari ruangan Della. Zevin mengantarkan mereka sampai ke depan pintu ke luar. Kemudian ia menghampiri istrinya yang duduk di sofa bersama Erik dan Dias.
"Selamat malam Tuan, Zev." Sapa Dias. Ia mengulurkan tangannya menyalami Zevin.
"Selamat malam Dias, silahkan duduk lagi. Jangan terlalu cemas kalian sudah mendengarkan penjelasan beberapa orang dokter tadi." Zevin mengambil posisi tengah antar Istrinya dan Erik.
"Iya, Kak. Aku takut sekali tadi." Sahut Erik mengusap wajahnya kasar.
"Mandilah, aku meminta Kiki menyiapkan baju ganti mu tadi. Setelah itu makan." Nazia membuka rantang makanan.
Erik dengan langkah gontai menuju kamar mandi. Perasaan takutnya berkurang setelah mendengarkan penjelasan dokter tadi saat Della bangun nanti ia akan meminta maaf atas keteledorannya itu.
Beberapa menit kemudian Erik keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Pria ini mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lalu duduk di sofa mengambil makanan yang telah disiapkan Nazia. " Dias ayo makan." Ajaknya menoleh pada Dias.
"Terimakasih, kamu makan saja. Sebelum ke sini tadi aku sudah makan." Tolak Dias halus. Tak ingin mengganggu Erik makan, Dias melangkah menuju ranjang Della
Ia bersedih karena malam ini tidak mendengar suara lembut Della. Ia juga bersedih besok tidak melihat Della di kantor.
Zevin baru saja selesai menelpon ibu angkat Della dan menjelaskan tentang kondisi putri mereka secara rinci. Meski terkejut tapi mereka bernafas lega karena tidak ada hal yang harus ditakutkan.
"Erik, kami pulang tidak apa-apa, 'kan? Tadi Zayyan kami antar ke rumah papa. Malam ini kami menginap di sana." Ujar Zevin duduk kembali di samping istrinya.
"Tidak apa-apa, Kak. Tapi kapan Della akan bangun ?" Tanya Erik. Karena sudah beberapa jam dari pingsan tadi Della masih belum membuka matanya meski pun sudah sadar dari pingsannya saat ini.
__ADS_1
"Jika merasa lapar Della akan bangun. Jangan cemas ! Jika dia tidak bangun malam ini mungkin besok pagi, kami pulang dulu jika terjadi sesuatu telpon saja. Dias kami pulang dulu ya." Pamit Zevin pada Erik dan Dias.