
Hari - hari berlalu begitu saja tanpa terasa Della sudah enam bulan di kota ini. Meninggalkan desa dan kota kelahirannya. Hubungannya dan Erik masih seperti biasa. Mereka masih seperti di bangku kuliah berteman namun saling perduli. Tapi ada yang berbeda jika dulu Della berdebar dekat Erik, maka sekarang ia tak merasakannya. Padahal pria seperti Erik nyaris sempurna.
Hari ini, Zevin dan Nazia dapat undangan pertemuan namun tidak boleh membawa anak kecil. Karena pak Indra dan ibu Felisya juga menghadiri acara itu maka terpaksa Zayyan tinggal bersama Erik. Karena ibu Mira dan dokter Radit pergi ke luar kota bersama Ivan mengunjungi rumah sakit milik mereka.
"Za, jangan nakal ya sayang tinggal sama om Erik. Mama hanya sebentar"
"Tenang saja aku bisa menjaganya yang terpenting asinya siap di botol." Balas Erik duduk bersama Zayyan di karpet bulu.
Zevin turun dari lantai atas karena ponselnya ketinggalan di kamar. "Sayang, ayo berangkat biar cepat pulang."
"Baiklah. Nanti jika, Za. Rewel cepat telpon ya." Nazia mengecup seluruh wajah anaknya. Ini pertama kalinya mereka berdua meninggalkan Zayyan pada Erik.
"Jagoan yang pintar ya, Nak ! Papa mau berduaan dengan mama dulu." Zevin usil menggoda putranya dengan mengecup pipi istrinya. Alhasil telapak tangan mungil Zayyan mendarat di jidatnya.
Erik dan Nazia tertawa bersamaan. Apa lagi Zayyan memasang wajah permusuhan pada papanya. Ketika asyik tertawa tetangga sebelah mereka juga datang. Alby dan Ralda juga mengenakan pakaian tema yang sama dengan Double Z.
"Kalian mau kemana ?" Tanya Zevin menghentikan tawanya.
"Kami juga dapat undangan itu, jadi kami mau pergi ke sana" Jelas Alby tersenyum.
"Benar, Kak. Nah sekarang aku mau menitipkan Davi pada Erik." Tambah Ralda.
Mata Erik melotot lalu melihat pada Zayyan dan Davi bergantian. Dua bocah berbeda bulan itu tersenyum lebar menampilkan deretan gigi mereka. "Bagaimana aku menjaga mereka seorang diri ?" Tunjuk Erik pada dua keponakannya itu.
"Mereka tidak nakal, Davi juga baru bisa merangkak. Kecuali Zayyan dia sudah bisa jalan." Seru Alby.
"Eh, putra ku pintar ya, tidak nakal !" Balas Zevin tak terima.
"Ish ! Kenapa kalian berdua yang ribut ?!" Pekik Nazia kesal.
Zevin mengecup pipi Zayyan dan Davi bergantian. "Ayo sayang kita berangkat." Ajaknya menarik tangan Nazia ke genggamannya.
"Erik kami hanya sebentar, keperluan keponakan mu sudah ada di dalam tas." Pamit Ralda.
Dua pasang suami istri ini meninggalkan putra mereka bersama Erik. Belum jauh mobil ayah dan ibu mereka meninggalkan depan rumah ini. Zayyan dan Davi saling menarik baju. Erik di buat panik oleh tingkah dua keponakannya itu.
"Bisakah ? Hanya ayah kalian saja yang tidak akur ! Jangan sampai kalian pun mewarisinya juga." Gumam Erik melepaskan baju Zayyan dari genggaman Davi.
"Tuan, jam tidur mereka masih lama." Seru Kiki iku memisahkan dua anak itu.
"Kamu benar, Ki." Erik setuju melihat jam tergantung di tembok.
Hampir setengah jam, Erik mulai frustasi. Dua anak laki-laki ini bergerak sesukanya. Terlebih Zayyan yang mulai lancar melangkah. Ia bebas ke sana-kemari. Sambil mulutnya mengoceh tak jelas. Apa saja barang di depannya semua di ambil oleh Zayyan. Bahkan Kiki ikut turun tangan membantu. Beberapa menit berpikir Erik dapat ide cemerlang.
Erik meraih ponselnya yang sempat di banting Zayyan di karpet, dengan gerak cepat dan hafal luar kepala, ia menekan nomor ponsel Della.
"Iya, Rik."
__ADS_1
"Aku perlu bantuan mu. Sekarang bersiaplah ! Aku akan menjemput mu. Tapi jangan kaget ada dua ekor ku yang ikut." kata Erik.
"Baiklah."
"Aku juga bersiap." Erik mematikan telpon. Ia segera bersiap sebelumnya, Davi di masukkan kedalam stroller agar memudahkan Kiki menjaga Zayyan sementara Erik berganti baju.
Tak ambil pusing Kiki juga menaruh, Zayyan kedalam Stroller agar ia bisa menyiapkan keperluan Zayyan dan Davi. Karena Kiki tahu Erik akan membawa mereka keluar.
"Tuan, perlengkapan mereka telah siap." Kiki meletakkan tas di atas stroller.
"Terimakasih, Ki. Sekarang kamu bantu aku membawa stoller mereka ke mobil dan katakan pada supir untuk mengantar kami ke apartemen Della." Erik menggendong Davi lalu Zayyan di giring jalan kaki karena anak itu tidak mau di gendong.
Setelah siap barang bawaan mereka di taruh di belakang. Lalu Zayyan dan Davi duduk di pangkuan Erik. Sepertinya mereka anteng menikmati perjalanan mereka hingga membuat Erik tertawa sendiri.
Menempuh perjalanan tiga puluh menit mereka tiba di depan apartemen Della. Erik menelponnya agar turun ke bawah. Karena dia tidak bisa naik ke lantai tempat unit Della berada. Menunggu beberapa menit, Della datang dengan tergesa-gesa. Ia tersenyum mendapati mobil Erik terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Maaf membuat mu menunggu." Ujar Della di balik kaca. Matanya tertuju pada dua bocah yang tersenyum ke arah nya.
"Mereka ekor ku..."
Della terkekeh. "Jadi ceritanya ingin mengajak ku jalan - jalan bersama mereka ?" Ujarnya sembari mengapit gemas pipi Davi dan Zayyan.
Erik mengangguk pelan. "Iya, aku perlu bantuan mu. Tadinya hanya, Za. Yang di tinggalkan bersama ku. Eh ternyata Davi juga di tinggal padaku."
Della mangut-mangut mendengar cerita Erik. Ia membuka pintu sebelah Erik. "Baiklah, anak- anak. Kita jalan kemana sekarang ?" Ia mengambil alih Zayyan dari pangkuan Erik.
"Davi, sama tante ya, Nak ! Kita jalan-jalan."
Seulas senyum tercipta di bibir Erik. "Pak, kita ke Mall terdekat saja. Setelah kami turun bapak boleh kembali nanti pulangnya kami naik taksi." Titahnya.
Sopir itu mengangguk. Mobil mereka membelah jalanan, seperti di katakan Erik. Zayyan lebih aktif dari pada Davi. Tak lama mereka tiba di halaman parkir Mall. Erik dan Della turun masing-masing membawa anak asuh mereka berdua. Setelah semua turun Erik memasukkan Zayyan ke dalam stroller nya lalu menggendong tas milik anak laki-laki itu. Lalu Della membawa tas milik Davi serta mendorong stroller nya.
Mereka nampak seperti keluarga bahagia, tak jarang orang-orang mengira mereka sepasang suami istri yang tengah jalan-jalan.
"Nyonya, jarak kelahiran dua putra anda berapa bulan ?" Tanya salah satu ibu yang menunggu anaknya bermain bola.
Della tersenyum "Dia keponakan saya." Jawabnya jujur.
"Maaf, saya mengira dia putra anda."
Sudah tiga jam, Zayyan tidak ada rasa kantuknya. Meski telah berkeringat tapi masih saja bersemangat untuk bermain. Tidak pada Davi, ia mulai menguap. Sebelum pulang Erik mengajak Della untuk makan terlebih dulu.
"Kamu ikut ke rumah saja sekarang, nanti aku akan mengantar mu pulang." Ucap Erik di sela makannya.
"Baiklah."
Tak hanya Erik dan Della yang makan, Davi dan Zayyan juga makan. Kiki telah menyiapkan kotak makan mereka berdua. Selesai makan Erik memesan taksi untuk mereka pulang.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Zayyan dan Davi segera dibersihkan oleh Erik dan Kiki. Setelah itu di berikan asi yang telah di siapkan ibu mereka, entah faktor kelelahan atau memang mengantuk. Dalam waktu lima belas menit mereka tertidur di kamar Erik.
Ia sengaja tidak menidurkan Zayyan dan Davi di kamar Nazia atau milik Zayyan. Agar memudahkan dirinya memantau keduanya. Erik juga ingin beristirahat . Tak lupa Della di minta beristirahat di kamar tamu.
...----------------...
Zevin sangat menyesal datang ke undangan itu. Waktu yang dikiranya sebentar ternyata sangat membuatnya kesal. Andai tahu dirinya akan selama itu di pesta, maka Zevin enggan untuk datang.
Ia sangat menyesal karena meninggalkan Zayyan selama empat jam. Tak masalah jika kakek dan neneknya yang mendampingi putra kesayangannya itu, permasalahannya adalah karena Erik menjaga putranya. Ia cemas jika Erik kerepotan mengurus dua orang anak laki-laki.
Meski pun ada Kiki, tapi tetap saja Zevin khawatir belum lagi Nazia menangis sesegukkan di pelukannya karena merasa bersalah meninggalkan putranya. Zevin membelai rambut istrinya yang di buat mengombak dan bersandar di dadanya.
"Sayang, jangan nangis lagi. Za, pasti anteng sama Erik." Zevin berusaha memenangkan istrinya meski pun dirinya sendiri juga cemas.
Nazia mengusap air matanya. "Aku menyesal pergi ke pesta itu. Kasian, Za. Di tinggal bersama Erik, pasti dia kesusahan menjaga Davi dan Za. Kamu tahu sendiri aktifnya putra mu." Tutur Nazia setengah terbata.
Zevin mengecup pucuk kepala istrinya penuh kasih sayang. "Aku mengerti, lain kali aku tidak akan datang ke pesta apa pun. Meski itu penting. Terlebih membawa mu. Aku tidak mau lagi kamu dilirik banyak mata." Ucapnya sembari mengecup lembut kening istrinya.
Mereka seperti tidak pernah melihat wanita saja. Aku tahu istriku cantik, tapi tidak perlu juga melihat milik orang lain sampai melotot
Batin Zevin mengomel.
Setiba di rumah, Nazia segera berlari masuk tak menghiraukan Zevin yang tertinggal di belakang nya. "Ki. Erik, Za !" Panggil Nazia nyaring.
"Iya Nyonya, kalian sudah pulang ?" Kiki berlari kecil datang dari arah dapur.
"Iya, dimana, Za dan Erik ?"
"Di kamar tuan Erik, Nyonya."
Nazia langsung berlari ke kamar Erik tanpa mengetuk, ia langsung membuka pintu kamar itu. Di atas kasur putranya masih tidur nyenyak bersama Davi dengan Erik di tengah-tengah.
Ia melangkah pelan menghampiri putranya lalu mengecup pipi gembulnya dan beralih mengecup pipi Davi. "Maafkan mama sayang meninggalkan kalian lama." Gumam Nazia pelan.
"Sayang, kita bersihkan tubuh dulu baru menemui mereka. "Zevin menyusul istrinya lalu mencium kening putranya dan Davi bergantian. Perasaannya lega saat melihat dua wajah tak berdosa itu tidur dengan nyenyak.
"Kalian sudah pulang ?" Erik terbangun karena terganggu dengan suara gumaman Zevin dan Nazia.
"Iya, baru saja. Kami bersih-bersih dulu."
Di ruangan tengah Kondisi yang sama juga terjadi pada Alby dan Ralda. Wajah istri Alby itu sudah sembab karena menangis. "Di mana putraku ?" Tanya Ralda saat berpapasan dengan Nazia dan Zevin.
"Mereka tidur di kamar Erik. Lebih baik kalian bersihkan diri dulu baru menemui nya." Ujar Nazia.
"Baiklah."
Menunggu sedikit lama akhirnya, Zayyan dan Davi bangun, Erik menggendong mereka berdua untuk ke ruang tengah di mana orang tuanya menunggu. Tak lama Della juga bangun keluar dari kamarnya. Kini mereka faham jika Erik tak sendiri menjaga Zayyan dan Davi.
__ADS_1