
Hari ini Della berencana akan pindah ke apartemen milik Zevin dan Erik. Nazia dan suaminya tidak bisa mengantar Della untuk pindah karena ia sudah masuk bekerja.
"Aku akan memanggil mu dengan nama asli mu saja." Ucap Nazia tersenyum pada Della sembari mengambil makanan untuk Zevin.
Della menghentikan tangannya saat mengoles selai roti. "Iya, Kak." tersenyum lembut merasa senang.
"Maaf, aku tidak bisa ikut mengantar mu ke apartemen. Hari ini aku masuk kembali bekerja ke rumah sakit." Kata Nazia tak enak hati.
"Tidak apa-apa, Kak. Terimakasih sudah mempercayai ku untuk menempati apartemen dokter, Zev." Della berkata tulus pada orang-orang yang telah membantunya.
"Setelah kita pulang dari kota mu baru kamu masuk bekerja. Aku harus menghubungi Dias lebih dulu." seru Erik menyudahi sarapannya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyiapkan diriku untuk pergi bertemu paman." Della menghela nafas panjang. Banyak macam perasaan yang muncul di hatinya.
Zevin hanya menyimak, sambil menyuapi putranya makan. Suami Nazia ini selalu bergantian dalam mengurus baby Zayyan. Erik juga sudah bercerita banyak pada Ralda tentang Della dan keinginannya untuk membantu Della bertemu dengan keluarganya.
Ralda mendukung sekali begitu pun Alby. Ia salut dengan adik iparnya itu. Meski tidak terlalu dekat dengan Erik namun suami Ralda itu menyayangi adik iparnya.
"Sayang, ayo aku antar ke rumah sakit." Zevin berdiri menggendong baby Zayyan.
"Iya, tunggu aku ambil tas baby Z dulu." Nazia melangkah ke ruang keluarga.
"Aku juga berangkat bersama Della." Pamit Erik meraih tas kerjanya dan kunci mobil. Tak lupa memberikan ciuman manis di pipi Zayyan.
"Iya, hati-hati." Zevin membalas uluran tangan Della yang berpamitan padanya.
"Della, sering-seringlah kesini. Jika terjadi sesuatu jangan sungkan hubungi aku." Tutur Nazia mengapit lengan suaminya sambil melangkah keluar rumah.
"Iya Kak." Della memeluk tubuh Nazia.
Mereka berangkat mengendarai mobil masing-masing. Hari ini Erik dan Zevin tidak satu mobil seperti biasanya. Sebelum ke kantor Erik mengantar Della lebih dulu. Begitu pun Zevin, ia mengantar baby Zayyan dulu ke rumah ibu Mira baru mengantar istrinya ke rumah sakit.
"Sayang, kamu melupakan sesuatu." Zevin menunjuk bibirnya sendiri dengan wajah manjanya." Tadi kamu memberikan ciuman pada putra kita saat meninggalkannya." Rajuknya manis nan menggemaskan.
Nazia terkekeh pelan. Ia lupa jika bayi besarnya akan menuntutnya agar adil." Hati-hati di jalan ya..." Ia mencium kening suaminya itu lalu turun di kedua pipi dan terakhir di bibirnya.
Zevin tak membuang kesempatan kecupan singkat yang di berikan Nazia menjadi ciuman berdurasi." Aku berangkat." Pamitnya mengusap bibir Nazia yang telah men-candu dirinya.
...----------------...
Tiba di apartemen, Erik membawakan koper milik Della. Ia mengantar wanita itu sampai ke dalam.
"Semoga kamu nyaman dan betah di sini." Erik meletakan koper itu langsung ke dalam kamar Della.
__ADS_1
"Terimakasih atas semuanya."
"Di ruang sebelah kamar mu sudah ada perlengkapan untuk membuat sketsa aku siapkan. Jadi, sambil menunggu panggilan untuk masuk ke kantor kamu bisa memulainya di ruangan ini dulu." Erik mengajak Della melihat ruangan yang di maksud.
Della terharu kebaikan Erik begitu tulus, ia ragu apa bisa membalasnya atau tidak.
"Terimakasih." Mata wanita ini nampak berkaca-kaca.
Erik tersenyum menangkup kedua pipi Della dengan telapak tangannya sembari berkata.
"Suatu hari nanti kamu akan tahu siapa aku. Semoga saja ingatan mu cepat pulih, sekarang aku harus ke kantor. Tidak-tidak apa, 'kan ? aku tinggal sendiri."
Della mengangguk
"Iya tidak apa-apa. Aku berharap disaat aku bisa mengingat kembali maka kamulah orang pertama yang muncul di memori ku."
"Aku berharap begitu." Erik menatap lekat bola mata Della.
*Jika dulu cintaku tak tersampaikan dan tidak terungkap. Maka inilah saatnya aku menunjukkan perasaan ku*
"Makan siang kemarilah."
"Boleh begitu? Kalau kamu tidak keberatan. baiklah." Balas Erik senang.
Erik tersenyum melambaikan tangannya. Ia keluar dari unit apartemen dengan hati bahagia. Tak menyangka jika dirinya masih memiliki kesempatan untuk kembali bertemu dengan Della. Wanita yang telah Erik cari selama bertahun-tahun. Setelah ini pria dingin itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi. Erik juga sangat ingin mencari tahu siapa yang di makamkan atas nama Della.
...----------------...
Maura baru saja mengantarkan lamarannya ke kantor yang di pimpin oleh Dias putra pak Ali. Tidak sulit karena mereka saling kenal sebelumnya. Maura berharap bisa di terima bekerja di tempat itu meski, ia tidak bisa kembali masuk ke kantor pusat.
"Terimakasih, Pak Dias ." Maura mengulurkan tangannya untuk bersalaman sebelum meninggalkan ruangan Dias.
"Sama-sama Maura. Saya dengar Erik juga akan memasukan seseorang di sini, tapi saya belum tahu siapa. Janjinya hari ini saya dan Erik bertemu." Dias menyambut tangan Maura lalu mengantarnya keluar.
"Benarkah ? Andai saya tidak cepat pulang, saya juga mau bertemu dengan tuan Erik." Maura menutup rasa penasarannya. Siapa yang akan direkomendasikan Erik di kantor itu ? Wanita atau pria? Dalam hati Maura bertanya-tanya.
"Semoga kamu diterima ya, terimakasih sudah menyempatkan diri untuk menemui saya." Dias tersenyum. Putra pak Ali ini tak kalah tampan dengan Erik. Sikapnya juga ramah pada siapa pun.
"Iya, kalau begitu saya pulang dulu. Titip salam saja untuk tuan Erik." Pamit Maura.
Dias mengangguk menyetujui permintaan Maura. Ia menatap lekat punggung Maura yang telah menjauh meninggalkan kantor.
Aku tahu kamu masih menyimpan rasa untuk Erik.
__ADS_1
Sebelum Dias melangkah masuk. Erik tiba di depan kantornya. Sepertinya dia dan Maura belum di ijinkan bertemu. Karena Erik tiba setelah kepulangan Maura.
"Apa kabar Dias?"
"Kabar ku baik. Angin apa hingga seorang Erik berkunjung kesini tanpa Tuan, Zev." Ejek Dias membalas menyalami rekan kerjanya itu. Lalu mempersilahkan Erik masuk ke dalam ruangannya.
Erik menjatuhkan tubuhnya di sofa nampak sekali jika pria ini tengah lelah. Namun, sekali pun tak terdengar keluhannya. "Aku ada perlu dengan mu. Tapi, kenapa jam seperti ini seorang pimpinan seperti mu berkeliaran di depan kantor?" Ujarnya balas mengejek.
Dias terkekeh. Ia mengambil dua minuman kaleng dari kulkas sebelum duduk dan menjawab pertanyaan Erik.
"Tadi Maura datang kemari" jawabnya sembari duduk.
"Maura?" Tanya Erik membuka kaleng minuman miliknya.
"Iya."
"Apa tujuannya?"
"Dia melamar pekerjaan lagi disini. Baru saja hari ini memasukan berkasnya. Ada apa kamu ingin bertemu padaku ? Aa, tadi Maura titip salam untukmu karena aku memberitahukan jika kita akan bertemu." Jawab Dias sekaligus bertanya.
Erik menatap heran pada Dias.
"Bukankah ? Maura tidak menguasai bidang ini. Kenapa melamar disini ? Kenapa tidak melamar ke kantor cabang Jaya Group saja?" Tanyanya sembari meletakkan kaleng minumannya.
Dias menghabiskan minuman kaleng nya. "Entahlah, tapi aku ada lowongan untuknya." Menjeda kalimatnya sejenak karena membalas pesan masuk. " Lalu tujuan mu kesini?" Lanjut Dias.
"Begini aku mau menitipkan seseorang di sini, dia pandai membuat sketsa perhiasan. Jadi, aku mau tahu apa ada lowongan di sini?" Jelas Erik tentang tujuannya.
"Kalau lowongan masih ada. Tapi kenapa harus lewat bawah ? Kamu bisa menempatkan dia dinsini dengan rekomendasi tuan, Zev. " Tutur Dias.
Erik menyandarkan tubuhnya di dinding sofa dan berkata. "Dia pasti tidak suka. Biarkan dia ikut seleksi seperti layaknya karyawan."
"Orang spesial" Tebak Dias memicingkan matanya.
Erik hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Aku kembali ke kantor pusat dulu." Pamit nya beranjak dari sofa.
"Hei kamu belum menjawab pertanyaan ku. Pria atau wanita?"
"Wanita." Jawab Erik tanpa menoleh.
Dias menggeleng sambil tertawa.
__ADS_1
Aku tahu jawabannya sekarang. Bila ada seseorang terluka maka dokter akan mengobatinya. Maka begitu juga dengan Maura jika kamu terluka aku akan siap mengobati hati mu