Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Tidak Ada Hak Menerima


__ADS_3

Kantor pusat JG.


Erik dan Zevin sudah berada di dalam ruangan yang bertuliskan Presiden direktur. Mereka mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Sesekali Zevin melirik pada Erik yang duduk di sofa seperti gelisah. Terdengar beberapa kali ia mendesah frustasi karena tidak konsentrasi bekerja.


"Bisa jelaskan pertanyaan Dias tadi? Sepertinya sangat mengganggu mu ?" Zevin tersenyum tipis karena melihat guratan gelisah di wajah Erik. Nampaknya pria dingin ini melakukan hal konyol penuh resiko yang tidak ia ketahui.


Erik memandang Zevin sejenak lalu beralih melepas kancing lengan kemejanya dan menggulung  hingga sampai ke sikut. "Waktu itu, ibunya Maura tengah sakit. Aku tidak sengaja melihatnya di depan apotek dan memaksa mengantarkannya pulang. Setelah itu aku menelpon, Kak Yudha. Untuk datang ke rumahnya. Lalu siangnya aku melihat Maura di halte menunggu bus. Cuaca sangat panas... aku berniat mengantarnya pulang, tapi Maura menolak. Karena iba aku mengirim motor ke rumahnya atas nama kantor sebagai inventaris." Jelasnya sembari bersandar di dinding sofa.


Zevin terbahak, tak menyangka jika Erik melakukan hal nekat seperti itu. Bukan karena nilai motornya yang seharga lebih dari dua puluh juta namun keberanian Erik mengambil keputusan memberikan motor pada Maura. "Kenapa tidak memberitahunya jika motor itu dari mu ?" Tanya Zevin menghentikan tawanya.


Erik melirik kesal karena Zevin mentertawakannya. " Aku malu jika dia menolak pemberian ku." Ucapnya sedikit ketus. "Niat ku hanya ingin membantunya. " Lanjut Erik lagi


Zevin berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah menghampiri Erik dan bergabung duduk di sofa. "Adik ku ternyata sudah dewasa, sudah memiliki rasa kepedulian pada orang lain. Tidak kaku lagi dengan makhluk yang namanya wanita." Zevin tersenyum lagi. Ia merasa lucu dengan apa yang dilakukan Erik. Mengingat kisah cintanya dengan Nazia penuh drama, Zevin jadi merindukan istrinya itu.


Erik merasa terharu, Zevin memang benar-benar menyayangi dirinya dan Ralda. Tapi ia juga kesal melihat wajah Zevin yang seolah mengejeknya. "Aku  takut jika Maura tahu motor itu dariku, maka dia akan marah." Tutur Erik setelah beberapa detik diam.


Zevin mengernyitkan alisnya. "Kenapa kamu takut dengan kemarahan Maura ? Harusnya kamu takut dengan kemarahan Della karena kamu memberikan motor secara gratis untuk wanita lain." Paparnya bingung.


"Entahlah, Kak. Selama ini hubungan ku dan Della hanya sebatas pertemanan. Aku ingin  meyakinkan perasaan ku padanya , tapi tidak bisa. Aku nyaman dengan pertemanan kami." Ungkap Erik. Ia mengatakan apa yang dirasakannya saat ini.


"Apa kamu menyukai orang lain ?" Selidik Zevin. Ia tak mau jika Erik suka memberikan harapan palsu pada para wanita.


"Menyukai orang lain ? " Erik menjadi bingung sendiri. Ia terdiam tak mampu menjawab pertanyaan Zevin.


"Saran ku, telaah dulu perasaan mu sendiri. Jika kamu mencintai Della,  maka segera katakan. Tapi jika tidak jangan memberinya harapan, siapa tahu dia berharap lebih padamu. Dan jika kamu menyukai orang lain cepat kejar dia, jangan sampai keduluan orang lain. Jika Maura tahu masalah ini maka jelaskan dengan baik jangan pakai emosi." Tutur Zevin serius. "Satu lagi yang harus kamu tahu, perasaan cinta itu bisa datang begitu saja dan juga bisa pudar dengan sendirinya." Lanjutnya.


"Baiklah, Kak ! Saatnya jam makan siang, aku ke kantor Della dulu. Kami makan siang bersama. Apa kakak ke rumah sakit?" Kata Erik sembari merapikan beberapa berkas di atas meja.


"Tidak, Zayyan dan mamanya akan datang kesini. Nanti sepulang kerja kami akan ke rumah papa. Sejak semalam mereka menelpon untuk mengantar Zayyan ke sana." Ujar Zevin kembali duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Aku berangkat." Pamit Erik setelah membuang kaleng bekas minumannya.


"Hati-hati. " Ucap Zevin melanjutkan pekerjaan sambil menunggu kedatangan anak istrinya.


...----------------...


Cuaca tidak terik dan juga tidak mendung, sedikit berangin tapi tidak kencang. Di perjalan Erik mengingat kembali perbincangan dirinya dan Zevin beberapa menit lalu. Erik dalam tujuan ke kantor Della, namun di tengah perjalanan ia mengubah arahnya karena Della mengiriminya pesan jika sudah menunggu di kafe biasa.


Erik melajukan mobil ke alamat tersebut. Di dalam mobil musik ballad mengisi kesunyian Erik, entahlah dia tiba-tiba menyukai lagu-lagu ballad akhir-akhir ini. Mobil Erik tiba di halaman parkir kafe, ia bergegas masuk setelah memarkirkan mobilnya dengan benar.


Langkah kaki Erik terhenti ketika mendapati sosok lain di meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Di meja itu ada Maura dan Della, mereka belum menyadari jika Erik sudah datang. Perasaan pria dingin ini tiba-tiba cemas, kenapa Maura ada disini? Bukankah ? ia sering menolak jika diajak makan bersama.


Erik mengenyahkan ragam pertanyaan di otaknya. Ia melangkah pelan menuju meja yang telah terisi dua wanita itu. "Maaf aku terlambat." Ucapnya sambil menarik kursi untuknya duduk.


"Tidak apa-apa, ayo kita pesan dulu."  Della meraih buku menu lalu memilih menu yang akan dipesannya.


Hal sama juga dilakukan Erik dan Maura, sesekali Erik melirik dari atas buku menu memperhatikan air muka Maura yang terlihat datar. Perasaan Erik kembali tidak enak, namun ia berusaha tenang meski sebenarnya gelisah. Usai memesan makanan Della menoleh pada Erik dan Maura bergantian.


"Tidak ada, Dell. Memang masalah apa ?" Maura balik bertanya disertai senyuman yang menunjukkan tidak ada apa-apa.


"Jangan saling diam, ayo berbincang lah. Sampai kapan kalian saling kaku ? Kita rekan kerja meski tidak sekantor. Sudah seharusnya kita akrab." Tutur Della mencairkan suasana.


"Kamu benar." Sahut Erik. Ia tersenyum kaku. Itu nampak menjengkelkan di mata Maura.


Pembicaraan mereka terhenti karena makanan mereka datang. Sebelum melanjutkan perbicangan lagi, mereka bertiga memilih makan dalam diam.


Beberapa menit kemudian makan siang mereka selesai, Della menyeka mulutnya dengan tissue. Ia baru ingat jika peralatan mandinya habis di apartemen. Ia berniat membelinya di supermarket seberang kafe. Dan juga memberi ruang pada Maura untuk membahas sesuatu seperti yang diucapkannya di telpon.


" Aku selesai, Maura ingin bicara pada mu, Erik. Jadi selagi kalian bicara aku akan ke supermaket depan itu. Ada yang ingin ku beli." Ujar Della menunjuk supermarket seberang kafe.

__ADS_1


"Terimakasih, Dell ! Ini hanya sebentar. Hati-hati menyeberang." Balas Maura.


Della meninggalkan kafe itu membiarkan dua temannya ini menyelesaikan permasalahan mereka jika memang ada masalah diantara mereka berdua.


Setelah memastikan Della keluar dari kafe, Maura beralih melihat ke arah Erik. Ternyata pria dingin ini sejak tadi memperhatikannya.


"Aku mendengarkan pembicaraan kalian tadi, bisa jelaskan tentang motor itu ? Dan apa maksudnya ?" Lontar Maura menatap datar pada Erik.


"Jadi kamu menguping ? Ish ! Tidak sopan sekali." Cibir Erik tiba-tiba kesal. Karena Maura membahas tentang motor itu.


"Jangan membicarakan ketidak-sopanan ! Siapa yang lebih lancang antara kita ? Kamu sudah berani ikut campur dalam kehidupan ku !" Tekan Maura juga terbawa kesal. Ia tak menyangka jika Erik bersikap menyebalkan.


Erik menatap tajam pada Maura. Dia tersinggung atas kata-kata Maura padanya. " Ya, aku yang mengirim motor itu ! Jangan salah paham, aku hanya kasian padamu karena kepanasan di bawah terik matahari saat itu." Ucapnya datar.


Maura tersenyum tipis. Ya, alasan Erik sudah dapat ditebaknya. Memang apa yang diharapkannya dibalik pemberian motor itu ? Cinta ? Atau rasa suka. Sekali lagi Maura harus menampar dirinya sendiri bahwa itu tidak akan jadi nyata.  Jika ditanya tentang perasaannya, maka perasaan itu perlahan memudar. Semenjak Maura memutuskan untuk memutus rantai harapnya.


"Terimakasih karena memiliki rasa kasian padaku. Sekarang aku kembalikan motor itu padamu. Aku mengerti niat baik mu, tapi aku tidak ada hak menerima apa pun dari mu." Ucap Maura dengan nada melemah,  Ia menyodorkan kunci motor itu di atas meja. Kemudian melenggang pergi setelah mengirim pesan pada Della dan ke kasir.


Erik terdiam menatap kunci motor itu, bibirnya terkatup tak bisa menyampaikan kata-kata lagi. Perasaannya kacau, ia mengutuk bibirnya sendiri yang asal mengeluarkan kalimat. Ia tahu Maura tersinggung  saat ini. Erik meremas kunci motor itu hingga membekas di telapak tangannya.


Seakan tersadar Erik segera menyusul Maura ke luar kafe. "Maura tunggu !" Tahannya menjangkau pergelangan Maura. "Ayo kita bicara " Ajaknya lembut


Maura melirik tangannya yang di pegang Erik. Refleks saja pria dingin itu melepasnya. " Bicara apa lagi ? Apa aku lupa berterimakasih dengan benar? Kalau begitu terimakasih karena kamu mengijinkan aku memakai motor mu satu bulan ini. Aku pastikan kondisi motor itu sangat baik. " Ucapnya tersenyum.


Erik menjadi merasa bersalah. Harusnya sebelum melakukan ini, ia berpikir ulang agar tidak menjadi masalah seperti ini. " Maafkan aku, bukan maksud ku membuat mu tersinggung." Ucapnya lembut. Ada kesedihan yang tak terbaca dari netra hitamnya.


"Apa aku boleh kembali ke kantor ? jam istirahat sudah berakhir. Della menunggu mu jemputlah dia, untuk makan siang tadi sudah ku bayar. " Ujar Maura sambil menoleh pada Della di seberang jalan.


"Maura, bawalah motornya lagi." Bujuk Erik penuh harap.

__ADS_1


"Maaf aku tidak bisa. Permisi..." Maura melangkah menuju halte bus.


Sekali lagi tubuh Erik melemas, perasaan macam apa ini? Kenapa rasanya sakit dapat penolakan ? Erik kembali melihat kunci motor di genggamannya.


__ADS_2