
Pak Joni menghela nafas panjang sebelum bercerita. Karena di balik rasa bahagianya menemukan Della ada duka yang tersimpan sangat dalam. Kehadiran Della sangat membantu pak Joni dan istrinya dalam menyalurkan rasa rindu pada putri mereka yang menghilang tanpa kabar.
"Saat itu, saya sedang menunggu kedatangan putri saya dari kota. Untuk mengambil tasnya berisi berkas-berkas penting. Dia bekerja di kota selama ini bersama temannya. Hari itu ia berjanji pulang bersama salah satu teman kantor nya." Pak Joni memulai bercerita.
...****************...
Kilas Balik
Tiga Tahun Lalu...
Pak Joni pulang dari sawah nya sudah pukul empat sore. Hatinya sangat gembira mengingat putri kesayangannya akan pulang hari ini. Sampai di rumah pak Joni mencari keberadaan putrinya itu, namun sayangnya ia harus menelan kekecewaan karena anaknya tidak terlihat.
"Bu, apa Rosa sudah berangkat dari kota? " Pak Toni bertanya dengan raut wajah kecewa dan cemas.
Tak kalah cemas ibu Weni menjawab. "Sudah Yah, tadi siang...Rosa menelpon ibu menggunakan ponsel temannya." Mendesah pelan sebelum melanjutkan ceritanya." Ponsel Rosa rusak tadi pagi."
Pak Joni duduk di kursi samping istrinya dan menghembus pelan nafasnya melalui mulut untuk mengurangi rasa cemas nya. " Sudah sore... Tapi dia juga belum sampai. Coba hubungi lagi nomor ponsel temannya itu."
Seperti mendapat perintah, ibu Weni kembali menelpon nomor yang digunakan Rosa memberinya kabar siang tadi. " Tidak aktif, Yah..."
Pak Joni merangkul pundak istrinya dengan lembut." Ya sudah, mungkin dia sedang di jalan. Doakan saja semoga selamat sampai ke mari. Ayo masuk ! Sudah senja." Berusaha menepis pikiran negatifnya.
Sepasang suami istri itu masuk ke dalam rumah, menutup pintu dan jendela karena hari mulai menggelap. Makanan yang telah di masak untuk menyambut sang anak sudah mulai dingin. Pak Joni dan Ibu Weni makan malam setelah masing-masing membersihkan diri. Mereka berdua banyak diam karena masih terpikirkan Rosa yang belum sampai.
Menghitung dari jam keberangkatan harusnya Rosa dan temannya sudah tiba di rumah pukul empat sore. Jam terus maju hingga malam benar-benar menjemput. Pak Joni dan Ibu Weni duduk di kursi teras rumah menunggu dan memantau kendaraan yang masuk lewat depan rumahnya.
Pak Joni berdiri dari tempatnya duduk saat sorot motor terlihat akan melewati depan rumahnya. Ia berharap itu adalah Rosa. Setelah motor itu semakin mendekat Pak joni kecewa ternyata bukan putri nya. Motor besar itu berhenti di depan rumah pak Joni. Pria penunggangnya melepaskan helm setelah memastikan motornya.
" Selamat malam. Pak, Bu !" sapa orang itu. Dia adalah pak Kades.
Pak Joni tersenyum bersamaan dengan bu Weni juga berdiri menghampiri suami nya. " Selamat malam, Pak. Dari mana?" Pak Joni bertanya sembari menyalami pak Kades.
Pak Kades menyambut tangan Pak Joni." Dari kota, Pak. Sebenarnya saya sampai jam enam tadi. Tapi di jalan ada kecelakaan motor dan truk."
Dada pak Joni dan Ibu Weni bergemuruh. "Ke—kecelakaan motor, bagaimana kondisinya?" Pak Joni bertanya dengan terbata.
Pak Kades turun dari motornya lalu naik ke atas teras rumah. Tak sopan rasanya bercerita sambil duduk di atas motor pada orang lebih yang tua darinya." Parah Pak, kepalanya pecah terlindas ban truk." Pak Kades berhenti sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. " Korbannya wanita, sudah tidak bernyawa. Jenazahnya sudah di bawa ke rumah sakit."
Pak Joni dan ibu Weni semakin cemas dan gelisah. "Apa identitasnya di ketahui?" Tanyanya meremas kedua tangannya.
__ADS_1
"Iya, identitasnya ada tak jauh dari TKP tasnya ditemukan. Hanya ponsel miliknya yang tidak tahu terbanting kemana? " Jawab Pak Kades.
Pak Joni dan Ibu Weni bernafas lega, karena andai korban itu tidak tahu identitasnya maka mereka semakin takut karena Rosa meninggalkan tas yang berisi kartu-kartu pentingnya di rumah itu. Beberapa hari lalu Rosa datang dan hanya mampir sebentar ke rumah orang tuanya di desa. Rosa mengeluarkan uang untuk di berikan pada ibunya saat itu tas kecil dari dalam tas kerja nya ketinggalan.
Setelah kepulangan pak Kades. Pak Joni berniat keluar dari desa mencari informasi atau menunggu putrinya di pinggir jalan Raya persimpangan masuk ke Desa. "Bu, jangan cemas Rosa baik-baik saja. Sekarang ayah akan menunggunya di persimpangan jalan." Pamit pak Joni.
Bu Weni menahan pergelangan tangan suaminya dan menatap penuh khawatir. "Yah, Sudah pukul sembilan malam. Mungkin mereka tidak jadi pulang, besok saja Ayah tunggu di sana." Saling menenangkan. "Mungkin mereka sudah tidur ponselnya tidak aktif atau lowbat."
Pak Joni mengerti jika istrinya sangat mengkhawatirkannya." Tidak apa-apa. Ibu tidur saja di rumah. Ayah hanya sebentar." Menepuk punggung tangan istrinya penuh kehangatan.
Dengan berat hati ibu Weni mengantarkan suaminya ke depan pintu. " Hati-hati ! Yah..." Sembari berdoa dalam hati untuk keselamatan suaminya.
Di perjalanan pak Joni bersikap tenang dan tidak terburu-buru. Yang dipikirkannya saat ini adalah putrinya yang tengah kesusahan di tengah jalan. Sampai di persimpangan jalan pak Joni memperhatikan sekitarnya nampak lenggang dan sunyi.
Pak Joni menghampiri warung kopi pinggir jalan seraya bertanya tentang kecelakaan tadi sore. Pemilik warung itu menceritakan sesuai yang ia dengar dari orang-orang yang telah singgah di warungnya. Kejadiannya berjarak satu kilometer dari simpang masuk ke desa.
Entah bisikan dari mana pak Joni menghidupkan kembali motornya dan melaju ke tempat kejadian. Sampai di sana ia melihat bercak darah yang sudah di bersihkan serta sisa pecahan kendaraan. Tempat itu di beri garis polisi, pak Joni turun dari motornya tanpa ijin masuk ke TKP mengamati sekelilingnya. Pak Joni menyebrangi parit pembatas jalan raya dengan tanah kosong milik warga. Ia melihat sepertinya semak-semak di sana nampak seperti habis di tindih batu.
Pak joni memberanikan diri membuka semak-semak itu. Alangkah terkejutnya beliau melihat sesosok wanita terluka parah. Pak joni langsung meminta bantuan warga setempat untuk membawa wanita itu ke rumah sakit. Serta melaporkan penemuan itu ke kantor polisi.
Setelah menghubungi istrinya, pak Joni pergi ke rumah sakit. Sampai di sana wanita itu mendapatkan perawatan dan ditanggung jawab oleh pak Joni sendiri. Polisi menduga jika wanita itu korban kekerasan karena tidak memiliki indentitas. Mendengar hal itu pak Joni berniat mengurusnya sendiri hingga wanita itu sembuh.
Kilas Balik selesai
...****************...
Semua orang terdiam mendengar cerita pak Joni termasuk Della yang telah dua kali mendengar cerita tentangnya. Semenjak menemukan Della sepasang suami istri itu memperlakukannya dengan baik.
Pak Andi sangat bersyukur karena pak Joni merawat keponakannya itu selama tiga tahun belakangan, meski pun mereka juga merasakan kehilangan yang mendalam karena kehilangan Rosa yang tak tahu kemana.
"Terimakasih Pak, Bu. Kalian telah merawat dan menyayangi Della selama ini. Saya hanya mampu mengucapkan kata-kata itu." Pak Andi menundukkan wajahnya karena memang tidak tahu harus melakukan apa untuk membalas jasa sepasang suami istri itu.
"Sama-sama, Pak. Melihat Della bisa bertemu keluarganya kembali itu saja sangat membuat kami bahagia" Pak Joni menepuk pundak Della dengan penuh kasih sayang.
Ibu Weni meraih tangan Della dan menggenggamnya. " Kehadiran Della cukup membayar kerinduan kami pada Rosa. " Ucapnya menatap lekat wajah putri angkatnya itu.
"Semoga Rosa cepat kembali. Sebenarnya, Della hari itu pergi bersama temannya. Mereka berpamitan pada saya, tapi di mana temannya itu ? Harusnya dalam kecelakaan itu ada dua korban." Penuturan ibu Indah membuat mereka saling tanya.
Pak Joni menegakkan duduknya dengan wajah serius. "Maksud ibu Indah, hari itu Della dan temannya yang pergi?" Ia menjeda kalimatnya sejenak " Apa mungkin, jenazah itu atas nama Della adalah teman yang satu motor dengannya."
__ADS_1
Wajah semua orang mulai serius dengan pemikiran nya masing-masing. Begitu juga dengan Erik yang hanya menyimak. Pak Andi dan ibu Indah saling pandang dalam kebingungan.
"Seperti nya begitu, Pak." Sahut pak Andi.
"Karena waktu itu Della duduk di belakang sementara itu temannya yang di depan karena Della tidak hafal jalan ke tempat temannya itu." Ibu Indah menyampaikan cerita baru lagi.
Pak Joni teringat kembali cerita pemilik warung kopi tiga tahun lalu. "Tempat terjadi kecelakaan itu adalah di tikungan. Waktu itu tidak seramai sekarang kendaraan berlalu lalang. Dalam tiga tahun belakangan daerah ini maju sangat pesat. Apapun ceritanya yang penting jenazah itu telah di kebumikan dengan baik dan benar." Ujarnya menyandarkan tubuhnya perlahan di dinding sofa.
"Benar Pak, kami mengebumikannya dengan layak. Karena kami tahu dia adalah keponakan kami. Boleh saya melihat foto putri bapak? Siapa tahu nanti di kota saya bertemu tak sengaja." Pak Andi merasa harus membantu pak Joni dalam mencari Rosa.
Ibu Weni mengangguk dan berdiri pergi ke kamarnya untuk mengambil foto putri nya. Selama ini mereka sengaja menyimpan foto Rosa agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Ibu Weni keluar dari kamarnya membawa beberapa lembar foto Rosa. " Ini foto nya." Ia meletakkan di atas meja.
Ibu indah meraih foto itu. Seketika dadanya berdegup kencang dan tangannya gemetar dengan lelehan air mata.
"Di—dia... Am—mera..."
Tubuh pak Joni dan Ibu Weni menegang mendengar nama yang di sebut ibu Indah." Ibu mengenalnya ? Dia Rosa Amera putri kami" lirih ibu Weni.
Tak jauh berbeda dengan ibu Indah pak Andi lemas dan gemetar." Kami mengenalnya dengan nama Amera. Dia berteman dengan Della selama ini. Mereka satu kantor."
Tangis ibu Weni dan Pak Joni pecah. Perasaan mereka begitu sakit. "A—apa dia yang bersama Della hari itu?" Ibu Weni berharap pertanyaannya itu di jawab tidak.
Ibu Indah mengangguk pelan " Iya, hari itu Amera mengajak Della pulang ke desanya. Karena mengambil sesuatu yang penting tertinggal di sana. Della menyetujui karena dirinya cuti. Mereka berteman selama satu tahun lamanya semenjak Amera diterima di kantor tempat Della bekerja. Dia sering menginap di rumah kami." Cerita ibu Indah di sela tangisnya.
"Rosa putri ibu...." Tangis ibu Weni tak bisa di bendung lagi begitu juga dengan Pak joni. Mereka semakin yakin jika jenazah yang di makamkan oleh keluarga Pak Andi adalah putrinya.
Erik dapat menarik garis besar dari cerita dua keluarga ini. Ia menatap Della lekat melihat reaksi wanita itu. Della ikut menangis entahlah perasaannya tak menentu. Ia juga merasakan kepala sedikit berdenyut selama tiga tahun, ia belum pernah merasakan rasa itu di kepalanya.
Tangan Della terulur untuk melihat foto yang di sebut ibu Indah adalah temannya yang mengalami kecelakaan bersama saat itu.
Dada Della bergemuruh, memang tidak asing wajah wanita di foto itu. Tapi sayangnya Della belum bisa mengingatnya. Tangannya tiba-tiba gemetar dan kepala tambah berdenyut. "Aaa...." Rintihnya menyentuh kepalanya.
Suara rintihan Della menarik perhatian orang - orang yang tengah dirundung kesedihan itu.
"Della... Kamu kenapa, Nak?" Ibu Indah segera menghampiri Della.
"Jangan di paksa." Erik tak kalah cemasnya melihat Della kesakitan dengan bibir pucat dan berkeringat dingin.
Ibu Weni segera bangkit mengambil air putih di dapur. "Nak, minumlah dulu. Jangan memikirkan apa pun sekarang."
__ADS_1
Erik merogoh ponsel di kantong celananya. Segera menghubungi Zevin dan memberitahukan kondisi Della. Di dalam telpon Zevin memberitahukan langkah-langkah yang harus diambil Erik.