
Setelah mendung seharian kini siang berganti malam. Cuaca tidak seperti tadi siang. Malam ini cukup cantik di ketinggian langit. Taburan bintang memenuhi penjuru langit malam. Di antara ribuan bintang itu ada setitik cahaya berkedip berwarna jauh di atas sana. Bergerak pelan sesuai rute penerbangannya . Cuaca cukup baik memberikan perasaan nyaman pada penumpang yang tengah terbang malam ini.
Della duduk sendiri di balkon kamarnya. Pandangannya tertuju ke atas langit, mata Della mengikuti pergerakan titik cahaya yang bergerak menjauh perlahan. Ingatan buram mampir sejenak di kepalanya sesaat setelah pesawat tadi menghilang dari pandangannya.
Della menyentuh keningnya, memejamkan mata lalu sedikit memaksa ingatan samar itu. Ia merasakan debaran yang amat kuat di dadanya ketika cuplikan wajah Maura yang menangis memohon padanya. Dengan cara menyatukan kedua telapak tangannya. Entah kapan itu terjadi Della tidak tahu. Ingatan buram itu tiba-tiba datang saat dirinya tengah menikmati indahnya malam.
"Ingatan apa ini ? Kenapa Maura berlutut pada ku ?" Gumamnya bergetar. Keringat dingin merembes di pelipisnya. Denyutan kepalanya sedikit terasa. Ia mengatur nafasnya perlahan agar menekan rasa denyutan itu.
Della tertatih masuk ke dalam kamarnya lalu meraih obat yang tersimpan di laci sisi kasurnya. Akhir-akhir ini ia sering merasakan denyutan itu meski tak parah, tapi cukup membuat tubuhnya lemas. Della segera menelan pil itu agar mengurangi rasa sakitnya. Hampir dua puluh menit obat itu mulai bekerja. Denyutan yang ia rasakan mulai berkurang. Hingga Della merasa kantuk mulai membelenggunya.
Di tempat dan ruang berbeda Erik juga berdiri di pagar pembatas balkon kamarnya. Ketika malam memang nyaman bersantai di balkon kamar sembari menikmati semilir angin malam. Erik terpaku pada sebuah kenangan di masa lalu. Saat dirinya sedang bekerja menjadi buruh kasar di sebuah proyek bangunan. Della datang membawa rantang makanan ketempatnya bekerja.
...----------------...
Kilas Balik
Erik senang karena Della tidak malu menghampirinya yang kotor karena debu bata dan semen. Della wanita satu-satunya tak malu ketika bersama Erik kala itu selain kakaknya Ralda.
"Erik." Panggil Della tersenyum. Ia turun dari motornya menghampiri Erik.
"Della kamu tahu tempat ku bekerja." Erik menuntun Della ketempat aman menurutnya. Banyak mata pekerja memperhatikan mereka. Ada pula juga yang menggoda.
Della menundukkan wajahnya. " Maaf kemarin aku mengikuti mu. Karena beberapa hari ini kamu jarang masuk." Ucapnya jujur dan tak enak hati.
__ADS_1
Erik tersenyum ." Tidak masalah, kamu dari mana ?"
Della meraih rantang yang ia bawa. " Aku ingin mengantarkan makan siang untuk mu." Ia menyerahkan rantang itu pada Erik.
Erik senang merasa di perhatikan. " Kamu memasak untuk ku ?" Bertanya sambil membuka rantang nasi itu.
"Aku dan teman ku memasaknya. Sepertinya aku harus pulang satu jam lagi ada kelas. Jika bisa masuklah, kamu sudah banyak membolos." Della tersenyum sembari berdiri.
"Akan ku usahakan." Erik mengantar Della keluar dari tempat itu.
Setelah memastikan Della menaiki motornya, Erik kembali lagi duduk di tempatnya tadi memakan makanan yang di bawa Della untuknya. Ia sangat lahap selain makanan itu enak Erik memang lapar. Jatah makan siang mereka sedikit terlambat datang.
"Erik !" Panggil mandor. Pria bertopi itu hitam menatap Erik dengan sorot mata yang tak bersahabat.
"Kamu tahu kesalahan mu apa hari ini ? Padahal saya sangat menyukai cara kerja kamu yang rapi." Puji Mandor itu sekaligus mempertanyakan kesalahan Erik.
Erik menundukkan wajahnya. " Maaf apa kesalahan saya, Pak ?" Tanyanya dengan perasaan tidak tenang.
"Kamu memasukkan orang yang bukan karyawan di sini. Kamu tahu Erik ! pekerjaan kita beresiko besar. Dan kesalahan ini sudah berulang dan beberapa kali saya memergoki wanita datang kesini." Ungkap mandor itu atas kesalahan Erik.
"Maaf Pak, yang kemarin kakak saya mengantarkan makanan ke sini." Jelas Erik. Tak kuasa menatap wajah mandor itu karena memang kesalahannya. Mereka berdua juga tak luput dari perhatian semua pekerja di sana.
Mandor itu diam sejenak seolah akan mengambil keputusan berat hingga helaan nafas nya terdengar. Sorot mata yang garang tadi berganti sayu.
__ADS_1
"Saya tidak mau ambil resiko, maaf hari ini adalah terakhir kamu bekerja ikut saya. Karena saya sendiri tidak berani menjamin jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa kakak mu atau wanita tadi. Padahal sebelumnya kamu sudah tahu jika makanan kita sudah dapat jatah masing-masing. Disini banyak alat berat dan bahan material yang besar dan berat. Andai terjadi sesuatu siapa yang bertanggung jawab sementara mereka orang luar. " Mandor itu mengambil keputusan yang tak di sangka Erik.
"Pak, beri saya kesempatan lagi. Beberapa hari kemarin dan tadi saya memang salah membiarkan mereka menghampiri saya. Sejujurnya saya tidak tega menolak kedatang mereka yang begitu peduli dan memberikan semangat untuk saya." Tutur Erik. Masih berharap bisa bekerja di tempat itu.
" Apa kamu pernah melihat istri saya datang kemari ? Meski dia merengek dan memohon ingin menemui saya di sini ? Saya melarangnya keras jika dia ada keperluan penting maka dia harus menghubungi orang yang ada di pos itu terlebih dulu. Karena sekarang zaman canggih bisa melalui telpon untuk memberi kabar. Saya trauma Erik. Beberapa bulan lalu istri salah satu karyawan di sini meninggal karena di timpa material dari atas sana. Saat itu ia datang untuk mengabarkan suaminya jika ibu nya tengah di rawat di rumah sakit. Kecelakaan itu begitu cepat hingga tak ada satu orang pun yang sempat menolongnya. Sangat di sesalkan wanita itu masuk melalui jalan yang tadi tempat teman mu masuk. Padahal itu di khususkan untuk karyawan saja. Tapi mereka tidak perduli. Setiap pekerja seperti kita akan di siapkan jalan darurat untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan." Cerita Mandor itu panjang lebar.
Erik mengerti rasa tanggung jawab Mandor itu. Bagaimana pun juga mereka bekerja di bawah pengawasannya. Keselamatan mereka sangat penting. Terlebih lagi lokasi tempatnya bekerja adalah bangunan hotel yang menjulang tinggi.
"Saya minta maaf pak, terimakasih atas kebaikan bapak pada saya selama ini. Saya juga menerima keputusan bapak." Ucap Erik lapang dada.
"Carilah kerjaan baru, Nak. Kamu layak mendapatkan pekerjaan lebih baik selain disini. Kamu masih muda masih bisa berkarir." Mandor itu menatap sedih pada Erik.
Erik tersenyum dan mengangguk. Ia bergegas mengambil tasnya lalu meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang hanya dia tahu. Erik pulang membersihkan tubuhnya, Istirahat satu jam di rumah. Erik pergi lagi mencari pekerjaan baru. Karena tidak ingin bertengkar dengan pamannya.
Kilas Balik Selesai
...----------------...
Pertemuan itu adalah pertemuan terakhir Della dan Erik karena ia di pecat oleh mandornya karena membiarkan seseorang bukan karyawan masuk ke area bangunan yang berbahaya.
Erik tak menyalahkan Della yang menghampirinya. Namun dirinya yang terlambat memberitahu Della dan kakaknya untuk tidak menemuinya di tempat bekerja.
Malam semakin larut, tubuh Erik mulai dingin setelah lama duduk di balkon kamarnya. Semenjak Ivan pindah kembali ke rumah ibu Mira dalam diam Erik merasa kesepian. Dalam hatinya telah menganggap pria itu sebagai adiknya. Erik memutuskan untuk beristirahat di dalam kamarnya.
__ADS_1