Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Bahagia Untuk Sang Kakak


__ADS_3

Erik dapat bernafas lega, kebahagiaan Ralda yang sempat ia cemaskan kini terbukti. Sekarang kakak tercintanya sudah benar-benar bahagia. Tidak ada lagi ketakutan yang terselip di hatinya.  Keluarga iparnya itu benar-benar menerima Ralda dengan tangan terbuka, terlebih pak Reza yang sangat bahagia melihat kehidupan bahagia putranya itu bersama keluarga kecilnya.


Erik tersenyum mengecup dua ukiran nama atas gundukan tanah yang berusia puluhan tahun ini. Ya. Inilah makam ke dua orang tua Erik. Hari ini ia datang mengunjungi mereka dengan membawa sekeranjang bunga segar. Tidak sendiri Erik di temani Maura, pria ini akan memperkenalkan kekasihnya itu pada ke dua orang tuanya.


Wanita pertama yang Erik bawa ke sana selain kakaknya dan Nazia. Erik merasa saatnya melepaskan kakaknya itu.  Mempercayai Alby sepenuhnya untuk membahagiakan Ralda.


Erik merawat makam kedua orang tuanya ini dengan baik, hingga bersih dan selalu rapi.


"Ma. Pa, Apa kabar hari ini ? Aku datang tapi tidak sendiri, ada wanita bersama ku. Dia kekasih ku Maura, cantik, 'kan ? Mama dan Papa tidurlah dengan damai, karena disini aku dan kakak sudah hidup dengan baik dan bahagia. Kami setiap hari tumbuh dewasa dan bisa menghadapi tantangan hidup. Nanti akan ada saatnya, kakak membawa cucu kalian ke sini memperkenalkan dirinya." Erik berbicara cukup panjang sambil menata bunga - bunga segar di atas makan kedua orang tuanya.


Maura pun tak tinggal diam, ia juga ikut menata bunga segar itu. Kemudian ia berkata." Tante, Om. Ini aku Maura. Terimakasih sudah melahirkan pria setangguh Erik. Tidak mudah untuk ku memiliki pria dingin  ini. Butuh kesabaran bertahun-tahun. Aku mencintai putra kalian."


Jantung Erik berdegup kencang, rasanya tak percaya jika Maura mengakui perasaannya di hadapan makam kedua orang tuanya.


"Terimakasih. Sudah mencintai ku sebesar ini." Ucap Erik tulus. Dan mengecup lembut kening kekasihnya.


Setelah hampir satu jam disana, kini Erik dan Maura meninggalkan komplek pemakaman. Erik sangat bahagia bisa membawa kekasihnya untuk ke sana.


Usai dari pemakaman, Erik langsung mengajak kekasihnya itu makan malam. Maura menyetujui  karena nanti saat pulang tinggal mandi dan langsung tidur.

__ADS_1


"Kemarin, pak Reza kenapa bisa ada di rumah kak Ralda. Bukankah ? dia di penjara " Maura tak bisa menahan rasa penasarannya.


Erik tersenyum sambil menggenggam tangan Maura." Itu karena, Kak Zevin memikirkan kebahagiaan kakak dan Davi." Tuturnya lembut. Kemudian menceritakannya pada Maura.


...----------------...


Kilas Balik...


Beberapa minggu yang lalu, Zevin meminta Erik untuk mengecek kondisi pak Reza. Ia juga meminta pendapat para petugas disana, apakah pak Reza berperilaku baik selama jadi tahanan? Jawaban salah satu sipir disana sangat menyentuh hati Erik, ia pun menceritakan semuanya pada Zevin.


"Itulah, kenapa aku ingin pak Reza keluar dari sana. Di usia seperti mereka sangat ingin berkumpul dengan keluarganya." Papar Zevin setelah mendengarkan cerita Erik.


"Zi, setuju. Dia sendiri yang meminta ini. Mungkin Alby yang berulang tahun tapi, istri ku ingin memberikan hadiahnya untuk Davi dan Ralda." Jelas Zevin.


"Tapi, bagaimana jika dia tidak menerima kak Ralda ?" Erik terlihat sangat khawatir. "Mungkin selama ini mereka ada bertemu itu pun tak saling menyapa." Sambungnya lagi.


Zevin terkekeh." Kamu tahu istri ku yang cantik itu, sudah mengunjungi pak Reza disana. Mereka bicara banyak hal.  Alasan kenapa pak Reza tidak pernah menyapa Ralda, itu karena ia sangat malu memulainya lebih dulu. Meski pun mereka tidak terlibat masalah apa pun, tapi pak Reza tahu jika Ralda putri dari keluarga Indra, kamu juga tahu karena permasalahan dia dan akulah yang mengantarkannya ke penjara." Tuturnya dengan selipan puji untuk Nazia.


"Aku percaya...apa pun ke putusan kakak." Sahut Erik juga tersenyum.

__ADS_1


Sebelumnya Ralda dan Erik tidak tahu jika saat Zevin meminta mereka tinggal bersamanya saat itulah, ia meminta bantuan papanya untuk mengurus surat adopsinya. Setelah mengetahuinya kakak beradik itu hanya bisa menangis haru karena saat pernikahan Ralda nama mereka terselip nama Indra Jaya di belakangnya. Meski bukan dari panti asuhan tapi Tuan Indra harus memiliki dokumen yang sah agar tidak ada orang mempertanyakan keberadaan Erik dan Ralda di dalam keluarga Indra Jaya.


Zevin menghela nafas panjang dan berkata. "Aku menyayangi Ralda sama seperti menyayangi mu, aku juga menyayangi Davi sama seperti menyayangi Zayyan. Mungkin Davi tidak kekurangan kasih sayang terlebih dari keluarga kita. Papa sayang pada Davi sama besarnya dengan Zayyan. Tapi, Davi berhak mendapatkan kasih sayang dari kakek kandungnya, selagi beliau masih hidup. Jika pak Reza bersedia menerima Ralda maka aku bersedia membantunya. Karena aku hanya ingin memastikan jika Ralda dan Davi hidup bahagia. Aku tahu...kamu sejak lama kepikiran ini."


Erik mengangguk pelan, hatinya benar-benar terharu. "Iya, aku terpikirkan soal ini sejak lama. Mungkin, kak Alby bisa saja menjamin pak Reza, tapi dia tidak ingin terbentur dengan kakak. Dia juga terpikirkan dengan Davi dan kak Ralda. Karena belum mendapat restu dari papanya secara langsung, meski pun pak Reza mengatakan merestuinya tapi tidak berhadapan." Papar Erik.


"Besok ajak Denis kesana, aku juga sudah membicarakan masalah ini padanya." Zevin beranjak dari sofa dan kembali bekerja.


Kilas Balik Selesai....


...----------------...


Erik mengantarkan Maura ke apartemennya. Pria ini langsung pulang, karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia  selesaikan. 


Maura tak keberatan dengan hal itu. Ia senang Erik masih menyisihkan waktu untuknya.


"Aku pulang ya, jika ada apa-apa segera hubungi aku. Jaga diri mu." Pamit Erik setelah mengantarkan Maura ke unitnya.


"Baiklah, kamu juga hati-hati. Jika lelah jangan dipaksa bekerja." Maura memeluk tubuh Erik .

__ADS_1


Pria dingin ini meninggalkan apartemen Maura untuk pulang ke rumah. Malam ini dirinya ada lembur bersama Zevin.


__ADS_2