
Tiga Hari Kemudian...
Hari pernikahan yang sangat lama ditunggu Erik. Kini hari itu tiba, hanya menunggu detik yang mana pernikahan suci akan dilaksanakan. Semua orang telah bersiap di kediaman Tuan Indra. Atas permintaannya pernikahan Erik dan Maura akan dilaksanakan di rumah keluarga Tuan Indra. Kemudian resepsinya akan dilaksanakan disalah satu hotel milik Alby. Suami Ralda ini memaksa agar resepsi pernikahan Erik dan Maura di hotel miliknya.
Pertama kali nya, Zevin mengalah untuk urusan Erik. Namun ia akan menyiapkan fasilitas untuk bulan madu Erik dan Maura.
"Sayang, kamu terlalu cantik memakai gaun itu..." Protes Zevin untuk yang ketiga kalinya. Ia duduk di tepi kasur bersama Zayyan. Ayah dan anak ini tampak kompak setelah memakai tuxedo couple. "Benarkan Za? Mama semakin cantik pakai gaun itu?" Zevin meminta dukungan pada putranya.
"Hm." Zayyan meniru gaya duduk Zevin sambil melipat tangannya di dada.
Nazia menatap garang dua laki-laki itu, ia sangat kesal hampir tiga puluh menit hanya gonti-ganti gaun. "Aku bukan bidadari dari kayangan hingga membuat orang jatuh pingsan karena kecantikan ku !" Gerutunya kesal.
Zevin dan Zayyan sama -sama tersenyum. "Mama adalah paling cantik di mata kami." Kalimat yang di ucapkan secara bersamaan itu. Rupanya sudah dilatih beberapa jam yang lalu.
Nazia mengambil gaun sedikit panjang namun bagian belakangnya terbuka hingga punggung. "Kalau yang ini sepertinya cocok." Ia keluar dari ruang ganti.
Zevin melotot ketika istrinya itu berputar, punggung mulus itu terekspos sangat sempurna." No ! Mama, jangan yang itu !" Lagi-lagi ayah dan anak ini bersamaan mengeluarkan kalimat mereka. Tingkat posesif mereka rupanya sama.
"Aku pakai daster saja kalau begitu !" Nazia melenggang masuk. Keruang ganti dengan perasaan dongkol. Zevin dan Zayyan segera menghampiri Nazia yang kesal.
Kecupan mendarat di pipi kiri dan kanan Nazia dari suami dan putranya itu.
"Kami yang akan memilih untuk mu sayang. "Zevin tersenyum melihat wajah kesal yang selalu dirindukannya itu. "Ayo Za kita pilih gaun untuk mama." Zevin dan Zayyan menuju lemari pakaian yang dipenuhi gaun-gaun cantik milik Nazia.
...----------------...
__ADS_1
Erik sejak tadi mondar-mandir tak karuan. Jantungnya berdetak lebih cepat. Gugup, takut bercampur jadi satu. Disudut sofa Zevin tertawa puas melihat tingkah Erik yang tidak seperti biasanya.
"Duduklah, kamu membuat ku pusing." Seru Zevin dari ujung sofa. Di ruangan itu tidak hanya dirinya. Namun ada Alby, Dias, Jo dan Haris serta Yudha.
"Aku gugup." Erik menyeka keringatnya dengan tissue.
"Kamu seperti melahirkan saja." Tutur Yudha tapi fokus pada ponselnya.
"Nanti kakak juga merasakannya !" Erik tak mau kalah harus membalas ucapan dari Yudha.
"Apa yang membuat mu gugup ?" Alby di pojok kasur juga ikut bersuara. Ia betugas menjaga putranya.
"Aku takut salah ucap." Lirih Erik. Duduk di sofa di samping Zevin.
"Kalau begitu biar aku menggantikan mu." Seru Jo dengan wajah yang menyebalkan.
"Haris, Gantung dia !"
Haris hanya tersenyum. Pria ini sedang menemani Zayyan bermain.
"Cih, cemburu !" Cibir Dias ikut menggoda Erik.
"Tunggu giliran mu bulan depan, awas saja kamu gugup !" Erik memperingatkan tentang pernikahan Dias dan Della yang akan di laksanakan dua Minggu lagi.
Para laki-laki ini saling mengejek dan tertawa bersama. Sangat jarang waktu berkumpul, karena kesibukkan mereka dalam keseharian.
__ADS_1
Pintu kamar di ketuk. Kemudian di dorong dari luar.
"Sayang, ajak Erik keluar semua sudah siap." Nazia datang untuk memberitahu.
"Perhatikan mata kalian ! Jangan melihat istriku." Zevin menoleh pada semua orang yang ada di kamar itu karena melihat kedatangan Nazia. "Iya sayang, benarkan kamu cantik sekali. Harusnya aku tidak memilih gaun itu untuk mu." Zevin mendekat dan memeluk istrinya.
"Mama." Zayyan berlari menyela tubuh orang tuanya itu. Aksinya membuat semua orang tertawa.
"Za, mama mu hari ini sangat cantik dari biasanya. Jadi papa harus menutupinya dari pandangan lali-laki lain." Zevin duduk menyamakan tingginya pada Zayyan.
"Jangan lihat mama Za !" Bibir mungil Zayyan menggemaskan ketika kalimat larangan itu keluar.
Zevin tersenyum kemudian menggendong putranya lalu menggandeng jemari istrinya. "Ayo gandeng Erik keluar, siapa tahu saja dia tidak memiliki tenaga untuk melangkah." Selesai mengejek dan menginstruksi suami konyol ini melangkah lebih dulu . Erik dan yang lain menatap kesal pada punggung Zevin.
"Kenapa dalam hal posesif mereka sangat kompak." Gerutu Yudha
...----------------...
Pernikahan serta resepsi Erik dan Maura baru saja berlangsung dengan khidmat dan lancar. Semua orang mengucapkan selamat pada mereka berdua, hal paling mengharukan adalah kedatangan paman tiri Maura. Kepergian Erik tempo lalu ke luar kota adalah untuk menemui keluarga kekasihnya itu.
"Maaf." Pria bernama Dedi ini menunduk dengan rasa berjuta penyesalan. "Maafkan Om, Nak." Lelehan air mata perlahan mengalir di pipinya yang mulai menua. Tanpa ada sambungan kata lagi pak Dedi meninggalkan hotel tempat pelaksanaan resepsi.
Maura tak mampu berkata-kata, hanya terdengar sesenggukan. Meski tidak bicara panjang lebar pada pamannya, tapi ia sangat bahagia dan bersyukur karena satu-satunya keluarga terdekatnya dapat hadir disini menyaksikan pernikahannya.
Erik tersenyum mengusap sisa air mata di wajah wanita yang baru saja berstatus istrinya ini. " Jangan menangis lagi, maaf aku hanya menghadirkan beliau." Ia meraih tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Maura mengangguk. "Aku bahagia, terimakasih untuk semuanya. Suami ku." Kalimat terakhir yang terucap mampu membuat Erik merona karena panggilan suami ku dari Maura.