Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Semangat Della


__ADS_3

Cahaya pagi ini begitu terang benderang, masih jam enam pagi namun  terasa gerah. Erik segera beranjak dari tempat tidurnya. Sampai saat ini ia masih tinggal bersama Zevin dan Nazia. Karena suami Nazia itu enggan berpisah darinya.


"Selamat pagi." Sapa Erik. Ia bergabung di meja makan setelah dua puluh menit bersiap diri di kamarnya.


"Pagi, Rik." Balas Nazia. Istri Zevin ini selalu melayani mereka dengan penuh kasih sayang di meja makan.


Zevin selesai menyuapi putranya, kini giliran diri nya untuk makan. Namun, sebelum menyuapi makanan itu ke mulutnya. Ia menoleh  pada Erik. " Bagaimana klien yang kemarin, apa mengajukan kerja sama lagi pada kita ?" Mimik wajahnya terlihat serius.


Erik meletakkan gelas tehnya lalu beralih melihat pada Zevin. " Sepertinya tidak, biarkan saja." Jawabnya sembari menerima piring dari Nazia.


"Jika seperti itu bahan yang disodorkannya, perusahaan besar mana pun enggan menerimanya. Karena resikonya juga besar secara tidak langsung akan menyeret nama baik perusahaan yang menaunginya jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Membangun apartemen atau hunian lainnya jangan tanggung-tanggung karena pembeli atau penyewa unitnya juga butuh keamanan dan kenyamanan." Terang Zevin.


"Kakak benar."


Mereka melanjutkan sarapan. Hari ini Erik tidak menjemput Della, karena wanita itu ingin naik taksi saja. Erik juga tidak mau memaksa Della, apa pun nyaman menurut Della maka Erik akan mengalah dan mendukungnya.


"Sayang, hari ini aku ke rumah mama ya, setelah mengunjungi rumah praktek." Nazia ijin pada suaminya karena hari ini dirinya tidak masuk ke rumah sakit.


Zevin nampak berpikir sejenak " Ivan hari ini ke resto atau di rumah ?" Tanyanya seperti memastikan.


"Di rumah, restonya telah di booking salah satu kantor untuk mengadakan acara makan bersama." Jelas Nazia tanpa mengerti maksud pertanyaan suaminya.


Kalau Ivan di rumah, nanti anak itu akan menempel terus pada istriku. Tidak bisa di biarkan. Tapi ada, Za. Kalau orang lain dekat sama mamanya dia akan marah.


Zevin terdiam lalu tersenyum. " Baiklah sayang ku, nanti setelah pulang mengunjungi proyek bersama Alby, aku akan menyusul kalian berdua." Ucapnya tenang.


"Benarkah ? Baiklah kalau begitu aku tunggu di rumah mama ya. Nanti biar Ivan atau papa Radit menjemput di rumah praktek"


Di sela pembicaraan Zevin dan istrinya ponsel Erik berdering. Ternyata ada panggilan telpon dari Della.


"Iya, Del." Jawab Erik lembut.


"Maura mengajak kita ke pantai nanti sore. Apa kamu punya waktu luang ?"


Erik mengingat jadwal hari ini lalu berkata. "Baiklah, aku ada waktu."


"Kalau begitu kamu bawa baju ganti ya. Tidak mungkin, 'kan ? Ke pantai dengan baju kerja."


"Baiklah, apa kamu sudah di kantor? " Tanya Erik memastikan.


"Sudah. Aku matikan dulu telpon nya ya."


Erik menyimpan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya. Tanpa menyadari jika Zevin dan Nazia menatapnya ingin tahu. Merasa di perhatikan Erik menoleh pada pasangan suami istri itu.


"Ada apa ?"


"Bagaimana kabar Della ?" Balas tanya Nazia.


"Dia baik-baik saja. Hari ini kami akan ke pantai setelah pulang bekerja. Maura mengajak Della ke sana."


"Maura wanita baik dan cerdas. Aku jadi merindukannya, semenjak mengundurkan diri aku tidak pernah bertemu dengan nya lagi. " Puji Nazia.

__ADS_1


Erik tersenyum tanpa membalas lagi. Pria ini bersiap akan pergi ke kantor. Tak lupa berpamitan pada Zevin dan Nazia. Tak lama di susul Zevin mengantarkan Nazia ke rumah praktek terlebih dulu.


...----------------...


Jewelry Corporation


Della mulai bekerja merancang seperti biasanya. Dua orang wanita yang sempat menganggunya kemarin sudah tidak lagi mendekatinya. Di saat fokus bekerja,  Della di  panggil manajernya karena ada pesan dari Dias untuk ke ruangannya . Agar memperlihatkan hasil sketsanya yang telah di print.


Sebelum mengetuk pintu ruangan Dias. Della lebih dulu menyapa Maura mereka berbincang sedikit lalu kembali pada tujuan awal. Della mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuk." Seru Dias dari dalam sana. Pria itu berusaha sebisa mungkin menyembunyikan kegugupannya.


Della mendorong perlahan daun pintu. "Permisi." Ucapnya sambil melangkah menuju meja atasannya itu.


Dias melemparkan senyum menyambut kedatangan wanita yang mengaduk perasaannya ini. Dadanya selalu berdebar ketika bertatapan langsung dengan Della. "Silahkan duduk Del, ayo ke sana." Dias membawa Della duduk di sofa.


"Terimakasih, Pak. " Ucap Della mendaratkan tubuhnya di sofa.


Dias menghembus nafas pelan untuk menetralkan perasaannya. " Begini saya ingin melihat hasil rancangan kamu. Karena ada satu orang klien ingin melihatnya. Jika bagus dia akan meminta pabrik milik kita untuk membuatkan satu set perhiasan. Dan perhiasan itu nantinya akan dijadikan hadiah untuk ulang tahun istrinya." Jelas Dias panjang lebar.


Della mengangguk tanda mengerti ia membuka map yang di bawanya contoh hasil rancangannya sendiri. " Saya sudah print hasil rancangan saya tapi baru ada tiga ." Della menyodorkan map itu.


Dias menerimanya lalu membuka map itu, ia terkagum dengan hasil rancangan Della. Benar kata Erik tangan wanita ini begitu berbakat. Dias meneliti satu persatu rancangan itu. Segaris senyum melengkung indah di bibirnya. "Cantik sekali. Rancangan ini sangat indah. Saya tidak sabar untuk bisa membuatnya menjadi nyata berbentuk satu set perhiasan. Baiklah, besok klien itu datang kemari. Kamu jelaskan detailnya tentang rancangan kamu ini." Tutur Dias bersemangat.


Della menutup mulutnya tak percaya jika rancangannya akan di masukan ke dalam pilihan untuk klien penting esok hari. " Anda yakin, Pak. Rancangan saya masih kalah bagus dengan pegawai lainnya." Della tidak percaya diri dengan hasil karyanya sendiri.


Dias menatap lekat netra Della yang nampak berbinar." Saya yakin !  Rancangan yang masih di bawah ini saja bernilai ratusan juta jika sudah menjadi satu set perhiasan. Apa lagi rancangan kamu ini sangat indah dan unik. Pasti nilainya fantastis. Kamu belum melihat rancangan tuan Zev. Lebih indah lagi. Tapi sayang beliau hanya akan merancang untuk istri dan ibunya saja." Ungkap Dias meyakinkan.


" Terimakasih atas kerja keras mu. Sekarang kamu boleh kembali bekerja." Dias mengambil map itu dan menyimpannya.


"Baik, Pak !  Saya permisi." Della beranjak dari sofa dan menarik daun  pintu dan menutupnya pelan.


Dias menghembus nafas kasar. Ia selalu merasa gugup dan berdebar hingga merasa gerah sendiri saat satu ruangan bersama Della. Aroma parfum wanita itu sangat memabukkan dirinya Lengkungan senyum yang perlahan menjadi candunya. Sungguh membuat Dias hampir melayang.


Ia melepaskan jasnya lalu duduk kembali di kursi kebesarannya. Senyum manis kembali terbit di bibir Dias saat lembaran kertas di depannya di buka kembali. Air mukanya berubah saat Dias mengingat satu nama yang akan menjadi tameng untuk Della yaitu Erik.


Dias tidak akan mengkhianati persahabatan itu hanya karena seorang wanita. Namun Dias juga tidak menepis jika dirinya telah jatuh cinta. Sampai saat ini ia masih bertanya hubungan apa yang di jalani Erik dan Della. Pertemanankah ? Atau sepasang kekasih.


Jika mereka sepasang kekasih maka Dias akan mengubur rasa cintanya itu pelan-pelan. Tapi jika mereka hanya berteman biasa maka, Tak salah Dias maju dan berjuang.


"Mama... Anak mu sungguh jatuh cinta." Gumam Dias menutup map itu. Pria ini segera meraih ponselnya dan menghubungi sang ibu. Dias putra tunggal pak Ali, hanya mamanya menjadi obat penenang untuknya.


Sepertinya ramalan cuaca tidak salah, panas terang pagi tadi kini berubah mendung. Dari jendela ruangan pantri Della bisa melihat keadaan di luar. Dalam hatinya gelisah, apa rencana ke pantai akan gagal ?


Tepukan di pundaknya mengejutkan Della. Ia menoleh pada si pemilik tangan yang masih berada di pundaknya. Senyumnya mengembang saat tahu jika Maura berdiri di sampingnya.


"Memikirkan apa ?" Tanya Maura. Ikut melihat ke luar jendela.


Della kembali melihat ke kaca. " Cuacanya mendung, apa kita jadi ke pantai ?" Pertanyaan yang mengandung harap.


Maura meraih gelas dan membuat teh untuknya sambil berkata. "Jangan sedih kita pasti berangkat, andai pun hujan pasti hanya sebentar. Kamu  ingin sekali ya..."

__ADS_1


Della menghirup teh miliknya. "Iya, aku sudah lama tidak ke pantai." Jawabnya tersenyum.


"Semangat bekerja ! Setelah itu mari kita pergi nanti ." Maura memberi semangat pada sahabatnya itu.


Della tertawa. " Ayo kita kembali bekerja.


Dua wanita ini kembali ke mejanya masing -masing. Karena hawa terasa dingin mereka memutuskan untuk membuat teh. Di luar sana petir menggelegar disertai kilat menyambar. Banyak pengguna jalan yang berteduh di emperan toko dan halte terdekat.


...----------------...


Di gedung yang berbeda dan di ketinggian yang juga tidak sama, Erik memandang luar jendela. Entahlah dia juga merasa gelisah jika hujan itu tidak berhenti hingga sore.


"Della pasti sedih, jika tidak jadi pergi ke pantai." Gumam Erik pelan.


Pria ini bersandar di dinding dengan kedua tangan bersembunyi di balik saku celananya. Tanpa ia sadari jika suami Nazia telah memperhatikannya dari arah pintu masuk.


Zevin melangkah pelan dan duduk di kursi kebesaran Erik. Ia berpangku tangan memperhatikan cuaca di luar. Di benaknya ingin cepat pulang menemui sang istri di rumah mertuanya.


Erik berpaling dan terkejut mendapati Zevin duduk di kursinya. " Kak, Zev ! "


"Kamu kenapa ?" Zevin melemparkan tatapan penuh selidik.


Erik menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu mendaratkan tubuhnya di sofa. " Hujan lagi, jika sampai sore tidak reda. Della pasti sedih karena tidak jadi ke pantai."


Zevin tergelak. " Jadi itu yang kamu pikirkan sejak tadi ?" Menggeleng kepalanya tak percaya. Ajaib sekali pria dingin ini bisa memikirkan seorang wanita sekarang.


"Iya, karena Maura sudah berjanji."


"Sampai sejauh mana sudah hubungan mu dan Della. " Zevin tiba-tiba ingin tahu.


"Masih berteman, Kak. Aku tidak ingin gegabah, aku harus memastikan perasaan ku dan juga Della." Ungkap Erik.


"Baiklah, jangan sampai aku menggunakan metode papa untuk pembuktian cinta." Seloroh Zevin terkekeh mengingat kisah cintanya. Suami Nazia ini ingin segera pulang untuk memeluk istrinya di rumah. Membayangkannya saja sudah membuatnya merona merah.


Cukup lama berbincang dengan Erik perihal kunjungan mereka bersama Alby. Kini Zevin  memutuskan pulang cepat. Karena hari sudah mulai sore. Hujan juga telah berhenti, cuaca kembali membaik dan cerah.


Erik meninggalkan kantor tak lama setelah Zevin. Ia langsung menuju kantor Dias. Pria ini juga mengajak temannya itu untuk ikut serta. Erik tidak mau menjadi laki-laki sendiri di pantai. Tak lupa Erik berganti baju lebih dulu, alhasil tampilannya sore ini menjadi pusat perhatian pegawai wanita di kantornya.


Mobil Erik berhenti di depan kantor Dias. Di sana Della, Maura dan Dias telah menunggu. "Kita langsung berangkat sekarang ?" Tanya Erik setelah turun dari mobilnya.


"Iya, menghemat waktu." Jawab Maura. Di balas senyuman dari Erik.


Senyum tulus pertama dari Erik untuk Maura, perasaan berdebar itu kembali di rasakan Maura. Kemungkinan pipinya saat ini sudah merona. Tak ingin menjadi pusat perhatian, Maura tanpa ijin masuk ke dalam mobil Dias.


"Ayo berangkat ! Biar Maura ikut bersama ku." Seru Dias.


"Baiklah, ayo ! " Erik menarik tangan Della ke genggaman nya.


Dias dan Maura sama-sama menatap sendu tautan jemari Erik dan Della. Ingin rasanya mereka bertukar posisi. Tapi itu tidak mungkin. Dias menoleh kepada Maura sejenak sebelum melajukan mobilnya. Waktu tempuh empat puluh menit ini tak ada yang buka suara di dalam mobil Dias. Berbeda dengan mobil Erik. Della berceloteh ria tentang rancangan perhiasannya yang akan di perlihatkan pada klien penting hari esok.


Erik menanggapinya dengan senyuman, ia senang Della menekuni pekerjaannya dengan penuh semangat. Rasanya Erik benar-benar bertanggung jawab atas kata-katanya pada keluarga Della untuk menjaga dan membantu putri mereka di kota ini.

__ADS_1


Dua buah mobil itu berhenti beriringan. Della tak sabar segera keluar dari mobil. Erik hanya tersenyum lagi karena Della begitu bersemangat.


__ADS_2