
Bulan begitu indah malam ini tergantung di dinding langit, seindah hati Della yang bahagia karena mendapatkan pesan jika dirinya diterima bekerja. Tahap demi tahap tes untuk masuk bekerja akhirnya lulus. Della menyandang status sebagai karyawan Jewelry Corporation milik Zevin.
"Terimakasih Tuhan atas semua ini..." Gumam Della tersenyum melihat kembali pesan di ponselnya.
Della di terima sebagai perancang perhiasan. Senyumnya masih saja mengembang semenjak mendapatkan pesan resmi dari kantor itu. Malam ini Della dan Erik berjanji akan mencari baju untuk masuk bekerja.
Seperti bersepakat family Z pun tak ketinggalan. Mereka juga akan jalan-jalan malam ini selain mengajak Zayyan bermain di mall, Nazia dan Zevin berniat membeli mainan untuk putra mereka.
Mall ternama dan besar yang sering tempat pelepasan stres anak-anak. Arena bermain sangat ramai dikunjungi malam ini, tak ketinggalan Zayyan putra Nazia dan Zevin ikut meramaikan. Di sisi lain Erik dan Della juga ikut menemani mereka, mengesampingkan dulu tujuan datang ke mall ini demi melihat aksi si kecil Zayyan bermain.
Zayyan melangkah tertatih karena belum lancar berjalan. Ia menarik-narik kaos sang papa sambil menunjuk mobil-mobilan.
"Za. Mau main itu ?" Tunjuk Zevin. Putranya tersenyum dan berbinar menandakan perkataan papanya benar.
Zayyan menarik tangan Zevin agar cepat sampai di mobil yang ditunjuknya."Pa-pa Ucapnya sedikit belepotan.
Zevin bahagia, akhirnya Zayyan bisa menyebut papa padanya. Karena selama ini hanya kata mama yang keluar dari mulut Zayyan. Gelak tawa ayah dan anak itu terdengar sekali walau tak mampu mengalahkan dentuman musik permainan. Nazia selalu berdiri tak jauh dari suami dan putranya itu sambil membawa satu botol air mineral di tangannya.
Di tempat yang sama Erik tengah berjuang mengambil boneka untuk Della. Mereka juga ambil bagian untuk bermain, tawa dan canda mereka menghiasai wajah keduanya ketika Erik gagal mendapatkan boneka.
"Jangan mengejek ku, tunggu saja aku pasti berhasil" Erik kembali menggesek kartunya.
Della tertawa.
"Semoga saja. Tapi aku minta boneka yang berwarna putih itu." Tunjuknya dalam lemari boneka
"Baiklah, Aku pasti mendapatkannya. Aahh jatuh lagi." Sungut Erik karena bonekanya jatuh kembali.
Della tertawa lepas karena Erik gagal mendapatkan boneka itu. Perhatian Erik teralihkan karena tawa wanita di samping nya.
"Manis..." Celetu nya tersenyum tipis.
"Apa yang manis?" Della menghentikan tawa nya.
"Kamu." Erik menatap lekat wajah Della.
Wanita itu memalingkan wajah nya malu.
"Ayo, ambil bonekanya."Della menguasai rasa gugupnya.
"Baiklah."
Cukup lama singgah di arena bermain, Zayyan mulai letih. Ia juga tidak terlalu bersemangat seperti tadi, mandi bola ternyata cukup menguras tenaganya. Nazia terkekeh dan mencium gemas putranya.
__ADS_1
"Za, sudah ngantuk ya sayang?" Nazia bertanya sembari menyeka keringat putranya. Jika di sini Ia bertugas menemani Zayyan mandi bola dan Zevin akan mengambil moments ketika putranya itu bermain.
Nazia dan Zayyan keluar dari sana menghampiri suaminya. Tak lama Erik dan Della juga bergabung, sepertinya pria itu berhasil mendapatkan bonekanya. Terbukti Della memeluk boneka itu dengan senang.
"Kita belanja dulu ya, Kak."
"Iya, kami juga akan turun. Membeli mainan untuk Zayyan." Balas Zevin.
Mereka berpisah di tempat itu dan berjanji bertemu di kafe lantai bawah. Di sana Zevin dan Nazia memilih mainan untuk putra mereka. Seperti habis di charge Zayyan kembali berbinar ketika melihat bagai macam mainan. Dengan gemasnya, dia menunjuk barang yang di inginkannya.
Tak mau kalah dengan kehebohan family Z. Erik dan Della juga sibuk memilih baju.
"Bagaimana jika kemeja yang ini." Della menunjukkan salah satu kemeja.
"Jangan, warnanya jelek di kulit mu."
Della kembali mengambil beberapa kemeja dan menunjukkannya kembali pada Erik.
"Kalau yang ini? " Tanyanya penuh harap untuk di setujui.
Erik mengamati satu persatu.
"Baiklah, cocok untuk mu."
Della mengambil beberapa lembar rok pendek di atas lutut berwarna hitam.
Mata Erik melotot melihat rok yang di pegang Della sangat pendek. "Ganti ! Jangan pakai rok, kemeja tadi cocok di pasangkan dengan celana."
Della nampak berpikir sambil menimbang antara rok dan celana. Sementara Erik mengitari tempat sepatu wanita.
"Kalian di sini?" Suara Nazia mengejutkan Della dan Erik.
"Bukannya kita janji bertemu di kafe tadi?" Erik menghampiri Zevin dan Nazia.
"Iya, tapi aku baru ingat jika harus membeli kemeja untukku. Kemeja ku banyak yang sempit, bagian dada ku membesar karena masih ada asinya. " Jelas Nazia santai
Zevin segera memeluk tubuh istrinya dan berkata " Sayang jangan di perjelas ukuran dada mu. Itu milikku yang hanya aku titipkan sebentar pada putra kita."
Nazia terkekeh dan mengecup pipi Zevin sesaat. Bersyukur Erik tak mencerna ucapan Nazia. Pria itu teralihkan karena Zayyan menyentuh tangannya.
"Kalau begitu ayo, Kak ! Kita pilih sama-sama." Ajak Della.
Dua wanita itu saling bertautan tangan memilih kemeja dan celana. Kini Della mengikuti fashion Nazia yang bekerja memakai celana sebagai bawahan kemejanya.
__ADS_1
Tak di sangka ternyata tetangga kesayangan mereka juga tiba-tiba ada di sana.
Senyum Alby merekah, melihat tetangganya itu tengah menggendong putranya dan berbincang dengan Erik.
"Hai, tetangga ku."
"Wah ! kebetulan kalian ada di sini kita seperti janjian saja." Seru Ralda girang.
"Kalian mengikuti kami ya ?" Tebak Zevin memicingkan matanya.
"Percaya diri sekali ! Memangnya kamu artis idolaku sampai harus membuang waktu untuk menguntit mu." Cibir Alby tak terima.
Zevin tersenyum mengejek.
"Kamu memang fans ku. Buktinya sekarang menjadi tetangga ku."
"Stop ! Sayang kamu jaga baby dulu ya. Aku mau belanja juga." Ralda bergegas bergabung bersama Nazia dan Della.
Zevin dan Alby saling pandang dengan wajah masam, sementara di hadapan mereka hampir saja Zayyan menjambak rambut baby Davi. Beruntung Erik dengan cepat menjauhi stroller mereka berdua. Sambil berbincang-bincang tiga pria ini menunggu akhirnya, para wanita telah selesai berbelanja.
"Sayang aku ke kasir dulu ya." Kata Nazia.
"Tunggu, Erik mana kartu mu?" Tanya Zevin mengulurkan tangannya. Dan
menghentikan langkah istrinya.
Erik segera mengeluarkan kartu miliknya tanpa mengerti maksud Zevin.
"Ini, Kak." Ia menyerahkan kartu itu pada Zevin.
"Sayang, ini kartunya. Masukan ketagihan Erik saja belanjaan kalian semua." Zevin memberikan kartu itu pada istrinya
"Tapi sayang, ini belanjaan aku." Nazia enggan menerima kartu itu.
"Pakai saja. Uang Erik banyak, untuk apa dia menimbun bayi-bayi uang itu. Dia pria kaya tenang saja. Erik tidak akan bangkrut malam ini." Zevin meletakkan kartu milik Erik di tangan Nazia.
Istri Zevin ini terlihat ragu lalu melihat pada Erik. Pria ini tersenyum dan mengangguk pelan. "Pakai saja. Kalau kurang nanti minta suntikan dana dari dua laki-laki di samping ku ini." Balasnya melirik Zevin dan Alby.
Nazia terkekeh lalu mengajak Ralda dan Della ke kasir. Usai mengantri dan membayar, dua keluarga kecil ini mampir ke kafe untuk sekedar menghilangkan haus sebelum pulang. Della semakin akrab dan bisa menyesuaikan diri bersama keluarga Zevin dan Alby. Malam ini Zevin sengaja meminta bayi-bayi Erik di rekeningnya.
Sesaat sebelum mereka masuk ke kafe tadi sepasang mata melihat pada punggung mereka. Dari jarak sedikit dekat, Maura bisa melihat jika pengunjung yang duduk di meja itu nampak bahagia.
Namun sayang nya, lagi-lagi dia bisa melihat wanita di samping Erik hanya punggungnya saja. Nampak sekali Erik sangat dekat dengan wanita itu. Bahkan dia tak canggung berkumpul dengan keluarga Erik.
__ADS_1
Ya Tuhan... Kenapa rasanya sesak melihat ada wanita lain di sisinya.... Siapa dia ?
Maura menyentuh dadanya sendiri dan segera berlalu dari tempat itu.