Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Apakah dia calon istri ku?


__ADS_3

Erik dan Maura sibuk mempersiapkan pernikahan mereka, cincin pernikahan sudah selesai. Kini Erik dan Maura tengah mencoba gaun disalah satu butik terkenal dan butik itu milik istri pak Ali.


"Mari,  Nak. Kamu coba dulu gaun pengantinnya." Istri pak Ali ini begitu antusias mempersiapkan gaun untuk Maura.


"Iya tante, gaunnya cantik sekali." Maura membawa gaun itu ke ruang ganti. Didalam sana dirinya dibantu oleh istri pak Ali secara langsung.


Beberapa menit kemudian Maura keluar dengan gaun pengantinnya, rambut yang terurai jatuh di pinggulnya. Sangat membuatnya cantik.


"Erik, apa cocok untuk Maura?" Istri Pak Ali menuntun Maura melangkah.


Erik terdiam, matanya tak berkedip. Inikah ? calon istrinya. Cantik ! Sangat cantik. "Iya tante, sangat cantik ! Apa dia calon istri ku?" Tanyanya nyaris tak terdengar.


"Bukan ! Dia calon istri tetangga." Sahut istri pak Ali geram. "Kamu sama saja seperti Dias, melihat wanita cantik tidak berkedip." Gerutu wanita paru baya ini lagi.


Erik memalingkan wajahnya malu. "Itu saja " setuju dengan pilihan Maura dan istri pak Ali.


Setelah Maura berganti baju, kini Erik lagi yang mencoba jas pengantinnya. Pilihan pria ini jatuh pada jas berwarna putih. Erik melambangkan pernikahannya dari warna jasnya yang putih. Pernikahan yang suci dan putih. Warna putih itu akan ia warna dengan cinta dan kasih sayang bersama Maura.


"Cocok ! Aku suka pilihan mu." Seru Maura melihat Erik begitu tampan.


...----------------...


Usai mencoba baju, kini Erik dan Maura mendatangi toko tempat mereka memesan souvernir pernikahan. Namun sebelumnya mereka akan makan terlebih dulu karena sudah menjelang siang.

__ADS_1


Erik dan Maura melangkah menuju salah satu cafe. Mereka memutuskan akan makan disana, agar nanti tidak jauh mendatangi toko souvernir. Mata Erik tertuju pada sosok yang tak asing sedang makan di kafe itu.


Erik menyeringai kemudian menarik tangan Maura ke meja itu. "Kak Jimmy, Kak Dinda." Sapanya sambil tersenyum dengan tatapan seolah menangkap basah dua orang itu.


"Erik." Jimmy tersentak, kenapa harus bertemu orang ini pikirnya. "Hai, Maura." Sapanya lagi.


"Hai, Kak Jimmy. Kak Dinda."


Dinda adalah sekretaris Tuan Indra. Tetangga Zevin dan Erik sewaktu di apartemen. Satu-satunya wanita  yang tahu jika Zevin Kavindra adalah putra Tuan Indra dimasa dulu.


"Apa kabar kak Dinda?" Erik duduk di samping Jimmy.


"Baik, bagaimana dengan tuan Zev dan dokter Zi?" Balas tanya Dinda.


"Aku tahu aku salah, aku pikir jika tuan Zev tahu kondisi Nina waktu itu. Aku takut mengganggunya." Dinda tertunduk penuh sesal.


"Semua sudah berlalu, Nina juga sudah tinggal di surga. Anak sepertinya tidak memiliki dosa. Nanti dipernikahan kami kakak temui kak Zev, dia terlalu sayang pada Nina karena putri kakak itu yang menemani kesendiriannya saat belum bisa memiliki istrinya." Maura ikut bicara memberikan semangat pada Dinda.


"Kalian benar, aku harus berani menemui tuan Zevin." Dinda tersenyum.


"Aku akan menemani mu." Seru Jimmy. Yang sejak tadi terdiam akhirnya ikut bicara.


Erik mengernyitkan alisnya. "Kalian berkencan !" Tebaknya dengan senyum tipis ke arah Jimmy.

__ADS_1


"Kamu pikir hanya kamu yang dilirik wanita !" Ketus Jimmy.


Erik tertawa kemudian menggenggam tangan Maura. "Ayo sayang kita cari meja lain. Jangan mengganggu pria menuju tua ini." Sekali lagi senyum menyebalkan Erik berikan.


"Pergi sana !" Kesal Jimmy mengusir.


...----------------...


Setelah makan malam, Erik dan Maura langsung menuju toko souvernir. Tangan Erik sejak tadi tak lepas bertautan dengan jemari kekasihnya. Senyum mengembang terlihat di wajahnya, Erik benar-benar bahagia.


"Silahkan masuk, Tuan. Nona !" Sapa salah satu karyawan toko itu.


"Apa pesanan kami sudah selesai." Tanya Erik. Menghampiri pemilik toko yang baru datang.


"Sudah, silahkan anda lihat dulu." Pemilik toko itu memanggil salah satu karyawan agar membawa contoh souvernir yang sudah selesai.


Erik dan Maura duduk di kursi tamu, sambil melihat souvernir yang lain. Sesekali Erik mencubit gemas hidung kekasihnya itu. Karyawan wanita di sana tersenyum malu melihat kemanisan yang Erik dan Maura tampilkan.


"Kak Erik !" Suara wanita mengalihkan perhatian Erik dan Maura. Dus di tangannya terjatuh begitu saja.


Wanita ini memeluk Erik dengan tangis yang pecah. Maura kebingungan melihat wanita yang sedikit lebih muda darinya memeluk calon suaminya itu. Pemilik toko terperangah atas sikap karyawannya yang tiba-tiba memeluk Erik.


"Anna..." Lirih Erik membalas pelukan wanita itu dengan sebelah tangannya, lalu tangan satunya menggenggam tangan Maura. Agar kekasihnya itu tidak lari.

__ADS_1


Maura hanya diam, tidak protes atau lari. Setelah ini dia akan meminta penjelasan tentang wanita ini. Apa hubungannya dengan Erik ?


__ADS_2