Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Es Buah dan Es Krim


__ADS_3

Setelah mendengar permintaan Zevin. Erik melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Matanya tertuju pada penjual es buah pinggir jalan, ia melihat jam tangan di pergelangannya. Sudah jam makan siang pikirnya, ia merogoh ponselnya dan menekan nama Della disana.


"Iya Rik, ada apa?"


"Sudah makan siang ?" Tanya Erik. Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Belum, sekarang mau makan siang bersama Maura, Dias dan Jo."


"Tunggu disana aku akan menjemput mu." Erik mematikan telpon secara sepihak. Ia melajukan mobilnya karena sudah separuh jalan hanya dalam waktu tiga puluh menit Erik tiba disana.


"Erik, kamu mau bergabung makan siang?" Tanya Dias. Mereka sengaja menunggu Erik di halaman kantor, setelah Della mengatakan jika Erik akan datang.


"Iya, aku ingin mengajak Della makan siang." Ujar Erik. Sesekali pandangannya tertuju pada Maura yang hanya diam di samping Jo.


"Baiklah, apa kalian mau bergabung dengan kami atau sendiri ?" Tanya Dias lagi. Sebelum mereka naik mobil.


"Bergabung saja." Sahut Della. Dibalas anggukan Erik.


Jo segera membuka pintu mobil untuk Dias dan Maura. Di belakang mereka Erik dan Della satu mobil. Di perjalanan Maura hanya menatap luar jendela, Dias melirik dari kaca depannya.


Ia juga merasakan apa yang di rasakan Maura saat ini. " Maura, kamu baik-baik saja?" Pertanyaan Dias mengisi keheningan mereka bertiga.


"Tentu." Maura tersenyum tipis. "Bagaimana dengan kamu sendiri?" Balasnya.


"Sama seperti mu, aku berusaha baik-baik saja. Meski di dalam sini tidak baik-baik saja ! "Dias menghela nafas berat menyentuh dadanya sendiri.


"Ada apa dengan kalian? Apa perlu kita ke rumah sakit." Tanya Jo polos tanpa tahu apa-apa.


Dias dan Maura tertawa bersama "Anak kecil tidak akan mengerti?" Cibir Dias sembari tersenyum mengejek.


"Jangan meremehkan aku, begini juga aku idola kaum hawa di sekolah ku." Ucap Jo bangga.


Dua buah mobil itu berhenti di halaman rumah makan kecil dan lesehan yang di lihat Erik tadi. Di sana tidak jauh dari tempat orang penjual es krim dan es buah.


"Kita makan disini, tidak apa-apa, 'kan?" Tanya Erik. Matanya tertuju pada Dias dan Jo.


"Tidak apa-apa. Di mana saja yang penting bersih dan enak." Sahut Jo.


"Kalian masuklah, pesan saja aku ada perlu sebentar." Erik meminta teman-temannya itu masuk lebih dahulu. Sementara dirinya pergi ke tempat penjual es krim.


Disaat menunggu pesanan makanan datang. Erik masuk membawa beberapa cup es krim, tak lama ada seorang pria paru baya masuk mengantarkan beberapa cup es buah.


"Terimakasih, Pak." Ucap Erik.


"Sama-sama, Nak."


Dias  dan Jo langsung meraih es krim itu dan menyendokkan ke mulut mereka. "Banyak sekali kamu membeli es." Seru Dias.


"Cuacanya terik. Aku juga haus." Jawab Erik sembari membuka cup es buah untuk Della.

__ADS_1


"Kenapa Della kamu kasih es buah?" Tanya Jo heran. Karena mereka semua mengambil cup es krim.


Erik tersenyum  sangat tipis lalu berkata. " Karena Della lebih suka es buah dari pada es krim."


Hati Maura kembali terasa diremas, ketika luka kasat mata itu menggores kembali di daging lembut dalam tubuhnya.


Kamu banyak tahu tentang Della rupanya, sekarang aku semakin yakin untuk meleburkan perasaan ini.


Ia masih menatap cup es krim di tangannya.


"Kamu kenapa dari tadi dia, Maura ?" Tanya Della sambil menikmati es buahnya.


"Aku sedang merasakan dinginnya es krim ini." Jawab Maura tersenyum.  Berusaha menutupi perasaan yang tengah mengalihkan perhatiannya saat ini.


"Kamu tidak suka es buah?" Tanya Della lagi karena sahabatnya itu memilih es krim. Semua mata melihat pada Maura.


"Aku makan apa saja, untuk es buah nanti setelah makan saja."


Tak lama makanan datang. Tanpa bicara lagi, mereka melahap makanan itu. Setelahnya nanti baru mereka makan es buahnya lagi.


...----------------...


Waktu terus berdetak dengan cepat, tanpa terasa menjelang sore. Di atas langit nampak awan mulai berubah kehitaman pertanda akan turun hujan. Para pekerja kantoran sudah merapikan meja kerja mereka masing-masing.


Bahkan sebagian sudah menyerobot halte menunggu bus sesuai rute tujuan. Terlihat sekali raut wajah mereka begitu cemas karena berkejaran dengan waktu meledaknya bom air dari atas sana.


Hal sama juga dirasakan Maura, ia sudah berkemas dan tak lupa merapikan mejanya. Ia mencemaskan sang ibu di rumah, karena kebiasaan ibu Sila akan menunggunya pulang di depan pintu jika akan turun hujan.


"Masuk." Seru Dias dari dalam ruangan melihat ke arah pintu.


"Permisi, aku pulang duluan ya..." Pamit Maura dari depan pintu.


Dias menoleh ke arah kaca dari tempatnya duduk, ia bisa melihat cuaca di luar sana. " Tapi cuaca mendung, Maura. Sebentar lagi turun hujan." Dias kembali melemparkan pandangannya kepada  Maura.


"Justru itu aku ingin cepat pulang, nanti keburu hujan, kita tidak tahu seberapa lama  hujannya nanti." Ujar Maura ikut melihat ke arah luar melalui kaca.


Dias menghela nafas kasar. " Baiklah, hati-hati. Jika hujan mulai turun berteduhlah jangan memaksakan keadaan. Atau Jo akan mengantar mu, biar motor mu tinggal di sini saja." Usul Dias berdiri dari kursinya menghampiri Maura.


Maura menggelengkan kepala. " Tidak perlu, aku naik motor saja. Kalau begitu aku pulang duluan ya," Pamit Maura sekali lagi meninggalkan ruangan Dias


Sekretaris cantik ini melenggang meninggalkan ruangan Dias. Ia melangkah dengan terburu-buru berkejaran dengan cuaca, Maura segera menuju tempat parkir karyawan dan mengeluarkan motor maticnya. Tak lupa ia juga mengenakan mantelnya untuk antisipasi karena angin mulai bertiup.


"Maura... Harinya sudah gerimis. Ayo ikut  aku dan Erik saja. Kami akan mengantarkan mu pulang." Seru Della datang menghampiri Maura yang tengah mengenakan mantel.


"Aku naik motor saja, Del. Rumah ku dekat jadi masih sempat, aku juga sudah mengenakan mantel." Balas Maura tersenyum pada Della, matanya melirik ke arah mobil Erik yang terparkir. Rupanya pria itu sudah datang menjemput Della.


Della melihat ke atas langit yang semakin menggelap." Tapi, sebentar lagi hujan lebat." Ia berusaha membujuk sahabatnya itu.


"Jangan cemas aku bisa sendiri, sekarang kamu masuk ke mobil. Erik sudah menunggu mu." Maura mendorong tubuh Della agar cepat menghampiri mobil Erik.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan." Ucap Della pasrah. Ia merasakan jika Maura akhir-akhir ini banyak diam, mungkin karena ibu Sila yang jatuh sakit begitu pikir Della.


Maura melajukan motornya tanpa menoleh lagi, tatapannya lurus ke depan saat melewati mobil Erik. Berbeda pada pria dingin yang ada di dalam mobil, sejak tadi Erik memperhatikan Maura dan Della. Ia menghembus nafasnya kasar masih berpikir jika Maura marah padanya karena membentaknya waktu itu.


"Sebelum pulang kita ke supermarket dulu ya." Ajak Della pada Erik.


"Iya, pasang sabuk mu." Balas Erik. Melirik sebentar pada Della.


Di atas sana, tepatnya ruangan CEO. Dias melihat ke bawah dari kaca pembatas ruangannya. Ia tersenyum masam melihat Della kembali diantar jemput oleh Erik. Miris memang kisah cintanya tak berujung karena harus di patahkan sebelum berkembang. Dias tak ingin di cap sebagai penjahat cinta, mengambil paksa milik orang lain. Meski hubungan Erik dan Della terbilang masih berteman.


Dias juga tidak menyalahkan Erik yang belum mengungkap perasaannya, mungkin pria dingin itu butuh keyakinan dan tidak ingin gegabah dalam mengambil tindakan. Sebab jika nanti salah melangkah maka akan ada hati yang terluka.


"Kenapa ?" Tanya Jo. Sejak tadi ia sudah memperhatikan gelagat atasannya itu. Pria ini duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.


Dias belum beralih dari depan kaca, ia menatap lekat butiran hujan yang mulai berjatuhan." Apa kamu pernah jatuh cinta ?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya.


Jo meletakkan ponselnya di atas meja lalu bersedekap. " Jatuh cinta ? Sepertinya belum. Karena memang aku tidak terpikirkan ke arah sana." Jawabnya yakin.


Dias tersenyum tipis, lebih miris lagi bawahannya itu tidak pernah merasakan jatuh cinta. " Apa kamu percaya jatuh cinta pada pandangan pertama ?" Tanya Dias lagi kini sedikit menghadap ke arah Jo yang duduk di sofa.


"Percaya, karena perasaan itu sangat jarang dirasakan seseorang. Kebanyakan orang-orang akan jatuh cinta karena seringnya bersama dan menghabiskan waktu." Jawab Jo seolah pernah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.


Dias tersenyum kembali menatap arah luar, nampak sekali jika hujan semakin lebat. " Jo, apa kamu bisa membedakan rasa kagum dan rasa cinta ?" Dias bertanya untuk ketiga kalinya.


Jo berdiri dari tempatnya duduk dan melangkah menghampiri Dias. Kini mereka sama-sama menghadap ke luar. Dari ketinggian ini mereka dapat melihat pergerakan kendaraan di bawah sana. Jo menghembus nafas panjang sebelum menjawab. "Menurut ku, Cinta adalah berdebar bila di dekatnya. Salah tingkah dan takut salah di matanya. Ingin terlihat sempurna bila berhadapan dengannya. Dapat memilikinya adalah perasaan bahagia yang luar biasa. Kagum adalah takjub atas tindakannya, memuja kecantikan atau sisi lebihnya . Dan tak berniat memilikinya cukup memuja dari jauh."


"Panjang sekali penjelasan mu." Dias tertawa. " Dulu aku mengagumi Maura yang cantik dan cerdas dan itu aku definisikan sebagai cinta. Ternyata setelah kedatangan Della aku merasa perasaan lain, aku gugup dan sering salah tingkah. Aku berusaha tampil sempurna di matanya, aku juga ingin terlihat bisa melindunginya. Perasaan itu tidak aku rasakan pada Maura selain memang menyukainya karena dia cerdas dan cantik." Ungkap Dias.


Jo tersenyum tipis. " Kamu menyukai Della. Dan Maura menyimpan perasaan untuk Erik. Lalu hubungan Erik dan Della yang masih abu-abu. Sungguh rumit. Ayo pulang hujannya sudah reda." Ajak Jo.


"Baiklah, aku berkemas dulu." Dias kembali ke mejanya.


...----------------...


Erik dan Della sedang memilih barang yang di butuhkan Della. Erik tidak lagi mengeluarkan uang untuk Della. Karena pasti wanita itu menolaknya karena alasan sudah memiliki gaji sendiri.


Mereka berkeliling setelah merasa cukup dan lengkap Della mengantri di kasir. Sementara itu Erik menunggu di depan supermarket, usai membayar Della menyusul keluar. Karena hujan mulai reda sebagian pengendara motor mulai beranjak meninggalkan emperan toko dan depan supermarket.


Erik tengah menyusun belanjaan Della di belakang. Sedangkan Della memayungi Erik, meski hujan di katakan reda tapi masih menyisakan gerimis.


Suara benturan keras di aspal menarik perhatian Erik dan Della. Semua orang yang belum keluar dari parkiran supermarket berhamburan lari menuju jalan raya. Erik penasaran karena suaranya begitu keras bisa di pastikan terjadi kecelakaan di jalan itu. Della bergeming dari tempatnya berdiri, suara keras tadi membuat kepalanya berdenyut dan gemetar. Ia mengepalkan tangannya beberapa kali mengusir rasa pusing dan gelisahnya.


Erik yang tanpa sadar meninggalkan Della, membelah kerumunan orang-orang itu. Sesuai dugaannya terjadi kecelakaan di depan supermarket. Disana tergeletak sepasang suami istri di atas aspal berlumuran darah, nampaknya mereka  juga baru keluar dari halaman parkir supermarket. Saat di jalan raya mereka ditabrak mobil yang melaju kencang dan menyeret motor itu hingga beberapa meter.  Itulah yang terdengar Erik dari gumaman warga yang melihat secara langsung kejadian itu.


Sopir mobil diamankan warga hingga tidak bisa melarikan diri. Della yang mencari keberadaan Erik terpaksa memaksakan diri untuk menghampiri kerumunan itu. Dengan tertatih Della meminta jalan agar terus ke pinggir jalan Raya. Setelah melihat Erik, ia segera menghampirinya. Namun langkahnya terhenti setelah melihat darah mengalir diguyur sisa air hujan dan sepasang suami istri yang tergeletak di aspal  entah tidak sadarkan diri atau meninggal. Orang-orang masih ribut menelpon polisi lalu lintas dan ambulance, ada pula yang memaki sopir mobil itu karena melaju di persimpangan supermarket. Ada pula yang menolong korban kecelakaan itu.


Tubuh Della melemas dan gemetar, keringat dingin merembes di keningnya meski cuaca sedang dingin. Pandangannya buram, lidahnya kelu hanya sekedar menyebut nama Erik. Dadanya sesak tak karuan.


"DELLA !!" Pekik Erik terkejut.

__ADS_1


Della tersungkur di tanah, Erik yang tidak menyadari jika Della berdiri di sampingnya sangat terkejut dan panik.


__ADS_2