
Hari berganti Minggu terlewati begitu penuh warna oleh Erik dan Maura, termasuk pasangan yang lainnya juga. Hubungan yang mereka jalani tak semulus jalan tol, ada pertengkaran dan selisih paham untuk bumbu hubungan mereka. Namun sejauh ini, semua berakhir dengan baik. Karena Erik maupun Maura bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin.
Meski sama-sama bekerja kantoran tapi tidak mengurangi rasa cinta dari dua insan itu. Mereka semakin manis setiap hari. Erik berperan banyak dalam mengatur waktu untuk kekasihnya. Sebagai seorang asisten kesibukannya melebihi sekretaris, hampir tak memiliki waktu untuk berdua.
Namun, Zevin bukan atasan serakah yang mempekerjakan asistennya di luar jam kerja secara berlebihan. Ia akan meminta bantuan Erik tanpa harus menyita waktunya terlalu banyak. Kecuali pekerjaan itu memang tak bisa ditunda hari esok, maka Erik harus siap bekerja lembur. Sejauh ini masih tidak berdampak pada hubungan Maura dan Erik. Namun Erik juga bukan asisten yang tidak tahu aturan, ia akan tahu apa saja yang harus dikerjakannya tanpa ketergantungan dari perintah. Erik juga memiliki wewenang untuk mengambil keputusan
...----------------...
Sore ini, para pekerja sudah bersiap untuk pulang. Maura dan Erik berjanji akan pergi belanja bahan makanan. Masih sesuai kesepakatan mereka akan makan malam bersama.
"Ayo pulang." Erik membuka pintu mobil untuk kekasihnya itu. Maura tersenyum mendapatkan perlakuan manis seperti itu.
"Kita belanja dulu ya, bahan mentah di kulkas sudah habis." Tutur Maura menoleh pada Erik. Pria itu membalas dengan senyumnya.
__ADS_1
Mobil melaju menuju supermarket, Erik merasa mereka seperti pasangan suami istri saja. Tunggu ! Pikiran pria dingin ini tertuju ke sana, apa Erik menikahi Maura saja ? Ia melirik dari sudut matanya, kemudian tersenyum sendiri membayangkan jika mereka menikah. Apakah dirinya juga di rasuki jin budak cinta seperti Zevin ? Sepertinya tidak, meski pun nanti dirinya juga menjadi budak cinta tapi tak separah suami Nazia itu. Karena budak cinta level tertinggi sudah bersemayam di tubuh Zevin.
"Kita pilih sayuran dulu ya." Maura melingkarkan tangannya ke lengan Erik, setelah mereka masuk ke dalam supermarket.
"Terserah pada mu." Papar Erik mengikuti langkah kekasihnya itu. Ia benar-benar merasa bahagia.
Maura mengambil sayuran dengan teliti, hampir semua barang makanan yang diambilnya adalah kesukaan Erik. Ia lupa memikirkan dirinya. Melihat hal itu, Erik tidak mau diam saja. Pria dingin ini mengambil beberapa makanan dan sayuran kesukaan kekasihnya.
Merasa cukup mereka mengantri, banyak wanita muda mencuri pandang pada Erik. Tapi pria ini selalu memasang wajah datar dan tatapan dingin pada orang lain. Maura tersenyum tipis meski bersamanya hangat tapi tetap saja kekasihnya itu akan dingin pada orang lain
"Kamu ada perlu ?" Maura balas bertanya. Karena Erik membawanya keluar lagi.
"Besok ulang tahun kak Alby. Jadi aku mau mencari hadiah untuknya. Besok di rumah mereka ada syukuran keluarga." Jelas Erik sambil menutup pintu belakang mobil.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kita pulang dulu. Mengantarkan belanjaan ini tidak usah memasak, kita makan di luar saja. Nanti kalau lapar lagi masak mie instan ." Papar Maura penuh semangat.
Erik tertawa. "Sesuai permintaan mu." Ucapnya mengusap lembut pucuk kepala kekasihnya.
...----------------...
Maura dan Erik hanya pulang membersihkan tubuh mereka saja, kemudian lanjut keluar lagi untuk makan malam dan mencari hadiah untuk Alby.
Erik dan Maura singgah disalah satu resto, mereka akan makan disana. Setibanya di dalam, mereka langsung memesan makanan. Erik tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari wajah Maura. Bibirnya tersenyum sangat tipis melihat kekasihnya salah tingkah.
"Jangan melihat ku seperti itu." Maura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia begitu malu karena Erik menatapnya.
"Kenapa ? Apa aku tidak boleh melihat wajah kekasih ku sendiri ?" Tutur Erik lembut dengan tersenyum sedikit.
__ADS_1
"Aku malu..." Lirih Maura belum juga membuka tangannya.
Erik meraih kedua tangan Maura lalu menggenggam lnya. "Makanan datang, ayo makan." Ucapnya menyiapkan sendok untuk Maura.