
Pagi menjelang, rentetan aktivitas siap menyambut. Setelah diguyur hujan hampir semalam, kini langit kembali cerah tak muram seperti tadi malam
Sesuai permintaan Maura, kini mobil Erik sudah berada di halaman rumah wanita cantik ini. Ia akan menjemput Della. Rupanya Dias diantar oleh Jo untuk pulang tadi malam. Karena pak Ali tiba-tiba menelpon putranya itu untuk pulang.
Della dan Maura bersamaan keluar dari rumah, Della sangat senang karena Erik tak lagi marah padanya.
"Ayo berangkat." Ajak Della pada Maura
"Aku naik motor saja. Tadi aku sudah berjanji mengantar motor Dias ke kantor" tolak Maura halus. Ia melangkah menuju motor besar milik Dias. Memasang helm dan siap melajukan motor besar itu.
"Kalau begitu baiklah, hati-hati." Della melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobil. Erik tak bicara, ia hanya menatap Maura dari kaca jendela mobilnya.
Maura melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Di belakangnya ada mobil Erik mengikuti. Arah pandang pria dingin itu tak lepas dari sosok cantik bermotor besar itu. Mungkin Maura memintanya tak memikirkan pembicaraan tadi malam, namun Erik sangat memikirkannya hingga ia kesulitan untuk tidur.
"Maaf..." Ucap Della memecah keheningan mereka berdua. Ia juga melihat tatapan Erik yang tertuju pada Maura di luar.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Maura sudah menjelaskannya." Sahut Erik tanpa menoleh.
"Maura menemui mu ?" Tanya Della tak percaya. Ia setengah terkejut perginya Maura tadi malam adalah menemui Erik.
"Ya" jawab Erik singkat. Wajah datar itu hanya fokus kedepannya
Suasana kembali terdiam, Hingga mobil dijalankan kembali setelah berhenti di lampu merah.
...----------------...
Karyawan berkerja dengan tertib. Mereka menjalankan bidangnya dengan sungguh-sungguh. Della juga nampak ceria setelah Erik menjemputnya. Saat fokus bekerja, tiba-tiba OB datang menemui Della dan meletakkan capuccino hangat di atas mejanya. Lalu di bawah gelas ada kertas berwana Pink terselip.
'Habiskan kopinya, aku suka melihat wajah ceriamu.'
Della tersenyum membaca tulisan itu. Ia melipatnya dan menyimpan kertas itu ke dalam tas. Kemudian mencicipi kopinya. Hanya secarik kertas dan kalimat sederhana. Namun, mampu melambungkan Della di ketinggian nirwana, hatinya tumbuh bunga-bunga bermekaran.
Di ruangan sekretaris, Maura merasakan dadanya ringan tak memiliki beban setelah semuanya terungkap tadi malam. Entah dari mana dirinya memiliki keberanian menceritakan semua itu.
Maura tersenyum ketika Jo meletakkan beberapa permen di atas mejanya." Terimakasih." Ucapnya senang.
__ADS_1
"Aku bertamu ke rumah, tapi kamu tidak ada, memangnya kamu kemana?" Jo menarik kursi di samping Maura dan duduk di sana.
"Bertemu Erik." Jawab Maura. Tangannya sibuk mengupas permen yang diberikan Jo.
Jo mengangguk pelan. "Aku tak menyangka jika kamu bisa mengendarai motor besar." Ungkapnya antusias.
"Aku bisa sejak SMA." Terang Maura. Meski bicara tapi fokusnya tetap pada pekerjaannya.
Jo dan Maura larut dalam perbincangan, banyak hal yang mereka bahas. Kehadiran Jo begitu menghibur Maura, walau bagaimana pun kejujurannya tadi malam menyisakan jejak kesedihan.
...----------------...
JG pusat...
Erik mengerjakan pekerjaannya di ruangannya sendiri, hari ini ia ingin menyendiri tak ingin diracau oleh atasannya itu. Erik mengingat kembali pertemuan tadi malam. Tak menyangka jika foto yang ada di kamar Maura jawabannya ia dengar langsung dari mulut Maura.
Erik menatap gantungan kunci mobil di atas meja, tangannya menggenggam boneka yang di ambilnya dari meja Maura. Kenapa wanita itu tak membahasnya lagi ? Tanpa sengaja Erik menekan perut boneka kecil itu lalu terdengar suara musik yang amat merdu. Benda kecil ini mengeluarkan bunyi seperti kotak musik.
Erik terpaku alunan musiknya sangat menggetarkan jiwanya. Haruskah ? Ia mengembalikan gantungan kunci itu. Tapi ada perasaan tak rela melepas boneka mungil itu. Erik terlanjur jatuh hati saat melihatnya pertama kali di motor yang pernah dipakai Maura. Pria dingin ini mengusap wajahnya kasar. Mengingat pembicaraannya pada Della tadi pagi, Erik bingung memulainya dari mana ? Namun, ia sangat yakin jika pemilik gantungan kunci itu telah lancang mengusik jiwanya yang tenang selama ini.
Suara Horor membangunkan Erik dari dunianya. Matanya menatap tajam pada sosok yang berpangku tangan bersandar di daun pintu ruangannya. Saking larut dalam lamunannya Erik tak mendengarkan pintunya dibuka.
"Kenapa tidak mengetuk ?!" Ketus Erik pada pria yang dijuluki pria menuju tua oleh Zevin.
"Cih, tanganku sampai memerah mengetuk pintu, kamu saja tidak mendengar." Gerutu Jimmy. Ia melangkah masuk dan duduk di sofa.
"Ruangan untuk tamu ada khusus ! Kenapa kesini ?" Erik tak terima ada orang luar masuk ke dalam ruangannya.
"Tuan Zevin sudah mengijinkanku. Mana berkas proyek yang sedang di kerjakan itu. Tuan Alby ingin melihatnya." Tutur Jimmy atas maksud dan tujuannya.
Erik menarik laci meja dan meraih satu dokumen yang tersimpan rapi di dalamnya. "Ini." Ucapnya pendek menyodorkan dokumen itu di atas meja.
"Terimakasih, ayo ikut ! Kita lihat sama-sama jadi bila ada kesalahan kita tanggung bersama." Ajak Jimmy tersenyum menyebalkan.
Erik tak menjawab dan meraih ponselnya serta kunci mobil lalu menyimpannya di saku celana. Tanpa bicara ia keluar lebih dulu.
__ADS_1
"Dasar pria dingin !" Umpat Jimmy. "Cocok ! bosnya aneh dan konyol, asistennya dingin dan menyebalkan. Jadi tetangga pun mereka sangat menyebalkan." Gerutunya lagi.
Erik tersenyum tipis mendengar ocehan Jimmy di belakangnya, secara tidak langsung Jimmy melawak dan mampu menciptakan lengkungan tipis di bibir Erik.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Zevin, rupanya dua pria sebagai atasan Jimmy dan Erik ini tengah bergosip. Mereka membahas Yudha yang di kerja-kejar dokter junior di rumah sakit.
"Rupanya mereka tengah bergosip !" Bisik Jimmy. Erik tersentak merasakan panas di kupingnya tatapan elangnya, ia layangkan untuk Jimmy.
"Makanya jangan berbisik ! Kamu tahu dia bukan hanya si pemilik netra tajam namun juga pria sedingin salju, berbicara banyak jika dia perlu saja." Ejek Zevin melihat Jimmy menelan saliva karena tatapan Erik. Sementara Alby terbahak melihat raut takut di wajah Jimmy.
...----------------...
kantor JC....
Karyawannya bersiap untuk pulang, hal sama juga dilakukan Della dan Maura. Mereka sudah berkemas serta berpamitan pada Dias dan Jo.
Maura melangkahkan kakinya menuju lift, ia sudah mengembalikan kunci motor milik Dias, namun CEO itu menolaknya dan membiarkan Maura memakainya dulu.
Langkah Maura terhenti karena mendapat pesan dari Della jika dirinya menunggu di bawah. Kali ini Della ingin ikut Maura naik motor. Maura melanjutkan langkahnya hingga ke luar kantor. Maura mengambil motor lebih dulu baru menghampiri Della yang menunggu tak jauh dari pos depan.
"Kamu mau pulang ?" Sapa Jo berpapasan dengan Maura. Ia baru saja datang membeli sesuatu.
"Ya, kami duluan ya." Pamit Maura keluar dari tempat parkir. Della tersenyum dari kejauhan melihat Maura menghampirinya.
"NONA DELLA !" Pekik pak security. "Tolong....tolong..." Teriaknya lagi.
Della hilang kesadaran setelah hidungnya ditutup dengan sapu tangan. Dengan gerak cepat beberapa pria menarik tubuh Della ke dalam mobil berwarna hitam.
Maura melihat kejadian itu, dengan cepat langsung memacu gas motornya membuntuti mobil yang membawa Della. Jo yang baru masuk mendengar teriakan pria paru baya itu terkejut dan segera berlari ke pos.
"Kenapa Pak ?" Tanya Jo terengah-engah.
"Nona Della dibawa orang tuan, dia di sekap menggunakan sapu tangan. Nona Maura mengejarnya dengan menaiki motor." Terang security-nya. Beliau menunduk dan gemetar merasa bersalah tak sempat menolong Della.
Jo segera menelpon Dias, kemudian berlari ke arah parkiran dan melajukan mobilnya, ia sengaja mengikuti GPS ponsel Maura. Di ruangannya Dias panik lalu menghubungi Erik tak lupa ia mengecek CCTV halaman kantornya. Dirinya yakin jika Della telah di culik.
__ADS_1