
Malam ini suasana begitu lenggang. Langit malam kian cantik terlihat, ada bulan separuh menempel di atas sana ditemani bintang-bintang. Sepoi-sepoi angin malam membelai tubuh wanita cantik yang tengah memandang ke bawah dari rooftop ini.
Disini Maura menghirup angin malam. Usai makan malam, ia butuh udara untuk menambah pasok oksigennya. Ia jenuh sendiri hanya bertemankan buku dan televisi. Maura mencari suasana nyaman di luar.
Ditemani sekaleng bir, Maura berdiri di pagar pembatas. Membiarkan angin menyapanya. Disana tak hanya dirinya, namun ada beberapa orang juga mencari ketenangan di rooftop ini.
Maura menenggak bir kalengnya sembari tersenyum ketika teringat cerita Erik saat pulang makan siang. Apakah dirinya memang sudah menghapus perasaannya secara permanen ?
"Sendirian ?" Suara baritone menyita perhatian Maura yang lagi sibuk dengan dunianya.
Wanita cantik ini menoleh ke asal suara lalu kembali melihat ke bawah. "Tidak juga. Masih ada yang lain." Jawab Maura menenggak sisa birnya.
Pria itu tersenyum. "Aku salah mengajukan pertanyaan rupanya." Ujarnya tertawa pelan. "Sebagai tetangga kita belum berkenalan, padahal kita sering bertemu. Nama ku Kenza. Aku kuliah semester akhir dan kamu ?" Pria jangkung ini mengulurkan tangannya ke arah Maura.
"Maura." Sekretaris cantik ini membalas uluran tangan Kenza. "Aku sudah bekerja." Tambahnya lagi.
Kenza tersenyum, dia tipe pria ramah dan hangat. "Maura, kamu sering naik ke sini ? Ah...salah, kakak ! Aku harus memanggil mu kakak " Tanyanya lagi sambil menoleh pada Maura, dan membenarkan panggilannya.
"Baru pertama kali." Jawab Maura. Masih saja memperhatikan pemandangan di bawah sana.
__ADS_1
Pria itu mengangguk, tak ingin hening menyela mereka. Kenza masih saja melemparkan banyak pertanyaan hingga suasana sedikit mencair. Maura dan Kenza saling bercerita, kadang mereka tertawa bersama.
Di sudut lain, Erik tengah memperhatikan interaksi Maura dan Kenza. Tetangga yang menurut Erik akan menjadi ancaman untuknya. Pria ini sengaja menyusul Maura karena ia melihat wanita cantik itu keluar dari unitnya.
Erik melihat sekelilingnya ternyata tak hanya mereka, namun ada juga beberapa orang disana duduk bersantai di kursi yang disediakan. Erik mendekati salah satu pria yang memegang gitar. Ia meminjamnya dari pemuda itu, karena gitarnya tidak dimainkan.
Erik duduk disalah satu kursi menghadap Maura. Namun wanita itu tak menyadarinya. Beberapa orang duduk tak jauh dari Erik, menunggu pria dingin ini memainkan gitarnya.
Erik memetik senar gitar sambil melihat ke arah Maura. Benar saja wanita cantik itu mencari asal suara, ia terkejut melihat Erik duduk memegang gitar. Dari tempatnya duduk Erik tersenyum manis pada Maura yang menatapnya.
"Lagu ini untuk wanita berkaos putih yang berdiri di sisi pagar. Listen to me, so you know what's in my heart. (Dengarkan aku, agar kamu tahu isi hati ku) " Seru Erik. Penuturannya itu membuat fokus semua orang beralih pada Maura yang tengah berdiri menggenggam kaleng minumannya. Menghabiskan beberapa menit lagu di nyanyikan Erik berakhir
Erik mengembalikan gitar itu pada pemiliknya, kemudian melangkah menghampiri Maura. Melihat hal itu Kenza memberi ruang pada mereka dan memilih bergabung pada yang lainnya.
"Maura, malam ini akan ku beritahu pada mu, kenapa selama ini aku menyebut mu sebagai pencuri. Karena memang kamu benar-benar mencuri." Tutur Erik serius namun bibirnya tersenyum sempurna. "Kalian semua yang disini harus tahu, jika wanita cantik di hadapan ku ini adalah pencuri." Serunya lagi sambil melihat ke arah orang-orang yang melihatnya bingung termasuk Kenza.
"Apa yang dia curi dari mu?" Tanya seseorang teramat penasaran. Dia perempuan yang sering memperhatikan Erik akhir-akhir ini.
Erik tersenyum kemudian menghadap pada Maura yang menaruh banyak pertanyaan. "Dia sudah mencuri segumpal daging lembut di tubuh ku, tak hanya itu ! dia juga meracuni ku dengan bayangannya hingga aku selalu memikirkannya." Paparnya tegas. "Maura. Kamu bukan hanya mencuri hati ku, tapi juga merampok seluruh perangkat lunak ditubuh ku. Aku menyukai mu. Sudah lama aku merasakannya namun aku harus memastikan lebih dulu, jika aku memang mencintai mu. Dan hasilnya aku memang mencintai mu." Tutur Erik tersenyum lagi. "Maura, mungkin kamu tidak percaya pada perasaan ku saat ini. Tapi yakinlah... apa yang aku ucapkan, itulah yang terjadi di hati dan pikiran ku." Ungkap Erik serius. Ia sengaja mengunci pergerakan Maura agar tidak pergi menghindarinya.
__ADS_1
"Kamu serius..." Lirih Maura dengan mata yang berkaca-kaca. Rasanya bahagia mendengar ungkapan Erik malam ini. Mungkin perasaan yang sama tumbuh kembali di hatinya.
"Iya, maukah ? Kamu memulainya dengan ku " Tanya Erik berharap. "Ah, tidak ada pilihan, aku tidak menerima penolakan ! Jadi kamu harus menerima ku jadi kekasih mu" dengan percaya dirinya ia tak memberikan pilihan.
Maura tertawa begitu juga dengan yang lainnya. Mana ada orang menyatakan cinta tidak mau ditolak dan memaksa. "Untuk apa kamu bertanya jika jawabannya harus sama !" Ketus Maura membenamkan wajahnya di dada Erik.
"Karena aku tidak membuat penawaran. Aku mencintai mu." Erik mengecup singkat pucuk kepala Maura.
Dua insan ini saling mengeratkan pelukan, meluapkan perasaan yang terpendam selama ini. Rasanya begitu lega setelah isi hati mereka bersambut dengan baik. Mereka tidak perduli dengan orang lain melihat mereka yang pasti, Erik menunjukkan pada orang-orang itu jika wanita cantik di pelukannya ini adalah miliknya.
"Yeah ! Untuk merayakan malam ini aku bawakan kalian beberapa anggur." Seru Jo dan Haris yang datang bersamaan. Mereka membawa kresek besar berisi makanan.
Erik dan Maura terkejut, saking fokus pada ungkapan cintanya, hingga tak menyadari jika teman-teman mereka juga menyaksikannya. Dari jauh Della melambaikan tangannya pada Maura
"Wah, kalau begitu akan ku ambilkan pemanggang ada daging di kulkas ku." Sahut Kenza penuh binar kesenangan.
"Baiklah, aku ambil bumbunya. Kalian tunggu di sini." Seru salah satu dari mereka lagi.
Di rooftop ini mereka berpesta kecil-kecilan. Kenza ikut serta, ia turut bahagia tetangganya itu sedang berbahagia.
__ADS_1