Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Jo Asisten Baru


__ADS_3

Di sebuah bengkel mobil lumayan besar, Jo menekuni pekerjaannya dengan teliti. Ia juga jadi tangan kanan pemilik bengkel itu karena hasil kerjanya yang sangat memuaskan.


Mobil Zevin berhenti di depan bengkel tersebut, melihat ada pengunjung lagi pemilik bengkel segera menyambangi mereka.


"Ada yang bisa di bantu Tuan ?" Tanya pemilik bengkel itu ramah.


" Begini, Pak. Maaf menggangu karyawan anda sebentar. Kami ada perlu pada, Jo." Jawab Erik tak kalah ramahnya.


"Baiklah, akan saya panggilkan." Pemilik bengkel itu segera masuk memanggil Jo.


Menunggu beberapa menit, Jo datang bersama pemilik bengkel untuk menemui Erik di luar.


"Erik " sapa nya senang mengulurkan tangannya pada Erik.


"Jo, bagaimana kabar mu ?" Erik membalas menyalami Jo. Mereka menjadi teman baik semenjak Jo menjadi pengawal Ralda waktu itu.


" Kabar ku baik, kamu sendiri dan tuan Alby sekeluarga. Bagaimana kabar kalian ?" Balas Tanya Jo. Ada terselip rindu pada keluarga mantan bosnya itu.


"Mereka semua baik, aku ada perlu dengan mu. Boleh minta waktu mu sebentar ?" Ujar Erik. " Tuan Zev menunggu mu di mobil. " Bisiknya pelan.


"Tuan Zevin." Jo terkejut ada apa sampai dokter tampan itu ingin menemuinya.


Jo pamit pada pemilik bengkel. Ia juga mengganti bajunya terlebih dulu. Di dalam mobil Zevin telah menunggu, ia mempersilahkan Jo masuk. Meski canggung Jo tetap menuruti. Ia bingung kenapa pemilik Jaya Group ingin bertemu dengannya ? Walau sering bertemu dulu namun tetap saja Jo merasa segan dan takut.


Jo sangat menghindari bersinggungan dengan orang-orang memiliki kekuasaan. Karena ia takut melakukan kesalahan tanpa sadar. Seperti saat ini, ia gugup apalagi  satu mobil dengan Zevin. Tanpa ia tahu bahwa pria bersamanya saat ini adalah pria dengan segudang kekonyolannya.


"Jangan gugup seperti itu, aku tidak suka daging mu, apa lagi bau oli." Seru Zevin di kursi tengah. Pria ini telah berpindah duduk di belakang saat Erik menemui Jo.


"Maaf tuan." Jo tersenyum canggung. Apa  Zevin pemakan daging pikirnya.


Mobil di kendarai Erik berhenti di halaman resto milik Ivan. Mereka masuk bersama dan memilih meja yang nyaman menurut Zevin. Suasana resto masih belum ramai sekali karena belum jam makan siang.


"Kak, Zev ! Aku merindukan mu " pekik Ivan girang. Ia sangat heboh atas kedatangan Zevin. Bahkan ia turun langsung mencatat menu pesanan. Tak hanya itu ia juga memeluk suami Nazia itu dengan erat.


"Iya-iya sekarang lepaskan dulu tubuh ku." Zevin tak sempat mengindari dan menerima pelukan Ivan meski berkeringat dingin.


Aku butuh istri ku untuk menghapus jejak pria ini


"Kak, Zev. Tidak seru !" Sungut Ivan beralih pada Erik. "Kak Erik aku  juga merindukan mu !" Ucapnya memeluk Erik.


Mata Erik melotot, meski pun ia merindukan Ivan tapi tidak harus memeluk juga begitu pikirnya. " Iya, sekarang kamu catat pesanan kami." Ucapnya sembari melepaskan tangan Ivan.


"Baiklah. Eh siapa dia ?" Ivan merubah sikapnya  karena ada Jo di sana. Ia juga tak menyadari jika ada orang lain selain Zevin dan Erik.


"Dia, Jo." Jawab Erik. Ia menarik kursi untuknya duduk.


Mereka saling berkenalan setelah Ivan mencatat pesanan, ia kemudian masuk kedalam meninggalkan tiga pria yang masih menatap punggungnya itu. Tak habis pikir Ivan seperti memiliki kepribadian ganda. Jika bersama Zevin dan Erik, ia akan menjadi manja dan gemulai. Namun, jika ada orang lain atau sendiri, jiwa lelakinya akan keluar dengan sendirinya. Cukup keras Zevin dan Erik mendidiknya sampai ketahap ini.


"Kita salah alamat." Gumam Zevin pelan. Ia merapikan jasnya yang sempat kusut oleh Ivan memeluknya erat.


"Kakak, Benar. "  Balas Erik.

__ADS_1


"Jangan menggibah  !" Ivan datang untuk bergabung kembali.


Kini empat pria ini duduk satu meja. Saling berhadapan sambil menunggu pesanan. Meski belum jam makan siang namun tidak enak saja jika hanya duduk dan berbincang.


"Begini, Jo ! Kami sengaja membawa mu kesini karena kami membutuhkan bantuan mu." Tutur Erik membuka percakapan.


"Apa yang bisa ku bantu ? " Tanya Jo. Melihat pada Erik di sampingnya.


"Bekerjalah bersama ku. Saat ini CEO Jewelry Corporation membutuhkan asisten di kantornya. " Terang Erik.


"Asisten ? Tapi aku tidak memiliki pengalaman tentang itu ?"


"Kamu bisa belajar di sana, saya yakin kamu mampu. Nama CEO nya Dias, saat ini mereka membutuhkan tenaga apa lagi sekretarisnya sedang cuti beberapa hari. Saya sangat yakin dengan kemampuan mu." Papar Zevin. Dia tengah menikmati makanan yang telah di sajikan.


"Perusahaan milik siapa itu ?" Tanya Jo memang tidak tahu.


"Milik saya. Dari namanya saja kamu pasti tahu bergerak di bidang apa." Jelas Zevin. Ia meletakkan sendoknya dan menatap Jo dengan serius.


Jo nampak berfikir lalu berkata " Saya tidak memiliki ijazah Tuan, bagaimana bisa mendampingi CEO ?"


"Yang saya butuhkan keahlian, kesiapan mu dan rasa tanggung jawab serta kepercayaan. Saya memiliki penilaian sendiri terhadap orang lain. Karena saya juga tidak akan mudah mempercayai orang lain yang tidak saya yakini dia mampu." Tutur Zevin tegas.  Dirinya sangat yakin jika pemuda satu meja dengannya ini punya kemampuan setara dengan Erik atau Dias. Maka dari itu Zevin akan tetap berusaha membuat Jo bekerja padanya.


"Baiklah Tuan saya menerimanya, terimakasih telah mempercayai saya. Kapan saya mulai bekerja dan apa saja yang saya siapkan ?" Jawab Jo yakin. Dia sangat senang bisa mendapatkan pekerjaan lain. Meski nanti berkutat dengan kesibukan setidaknya, Jo bisa merubah nasib berkerja pada Zevin.


"Mulai hari ini, siapkan saja berkas lamaran seperti pada  umumnya untuk formalitas melengkapi data. Karena di sini pihak perusahaan yang membutuhkan mu." Kata Zevin.


"Baik Tuan saya akan mengurus pengunduran diri saya di bengkel." Ujar Jo. Bukannya tak betah di bengkel namun gajinya yang agak kecil. Ada peluang bagus maka Jo tidak boleh menyia-nyiakannya.


"Baiklah. " Jo menjawab sangat bersemangat. Beruntung ia masih membawa pakaian formalnya dari kampung.


Ivan sejak tadi menyimak hanya diam tanpa komentar, ponselnya tiba-tiba bergetar ternyata pesan dari Nazia yang memintanya mengirim makanan siang  nanti saat jam istirahat.


Tidak membuang kesempatan ia segera menelpon Nazia via vidio call.


"Zi, sayang ku ! " sapa Ivan sumringah. Matanya melirik pada pria yang tengah memperhatikannya.


"Kirimkan makan siang nanti tiga porsi saat jam istirahat."


Mendengar suara istrinya, Zevin segera mengambil  ponsel Ivan. Matanya melotot ternyata memang istrinya. "Sayang, aku merindukan mu." Manjanya langsung keluar. Senyum di bibirnya mengembang sempurna tatapannya penuh cinta meski hanya lewat telpon.


"Kamu di sana ?" Tanya Nazia. Ia tak menyangka jika Zevin jam seperti ini keluar dari kantor.


"Iya sayang, sebentar lagi kembali ke kantor. Ayo telpon aku ! " Ujar Zevin dengan wajah penuh harap.


"Sekarangkan sudah nelpon." Balas Nazia tersenyum menggoda suaminya. Ia tahu jika suaminya itu tengah cemburu karena Ivan menelponnya.


"Di ponsel aku sayang. Ini ponsel Ivan, aku ingin melihat wajah mu lebih lama. Aku merindukan mu." Zevin menjadi budak cinta kembali jika berhadapan dengan sang istri.


"Baiklah." Nazia mematikan panggilan vidio itu. Zevin mengembalikan ponsel itu dengan kesal.


Ivan terkekeh geli melihat wajah Zevin masam karena ia menelpon Nazia. Tak lama ponsel Zevin bergetar panggilan vidio masuk . Pria itu berdiri dari kursinya " kembali ke kantor !" Ucapnya sembari menjawab telpon.

__ADS_1


Ivan terbahak sudah membuat Zevin cemburu. Erik hanya menggeleng kepala apa lagi, Jo. Masih menatap tidak percaya. Bukankah ? Tadi bos barunya itu nampak tegas, kenapa sekarang seperti kucing minta di belai ?


Di sepanjang perjalanan Jo dan Erik kenyang mendengar ucapan cinta dan rindu dari Zevin untuk istrinya itu. Sampai mobil tiba di halaman kantor panggilan vidio itu belum juga terputus. Erik segera mengantar Jo pulang ke kosnya untuk bersiap ke kantor setelah menurunkan Zevin.


"Kamu tinggal bersama siapa ?" Tanya Erik sambil fokus mengemudi.


"Aku tinggal sendiri, di kos." Jawab Jo. Pria ini sudah terbiasa sendiri, kesusahan apa saja tidak membuatnya berkeluh kesah.


Erik dan Jo tiba di kos, tak butuh lama Jo sudah siap pergi ke kantor. Erik melihat jam di pergelangan tangannya masih jauh dari jam istirahat. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Beberapa menit kemudian mobil Erik tiba di kantor Dias.


Jo mengamati gedung itu dengan penuh kagum. Inikah ? Kantor barunya. Di sana para karyawan tengah sibuk bekerja di ruangannya sendiri.


"Ayo kita temui Dias." Ajak Erik di balas anggukan dari Jo.


Erik dan Jo melangkah menuju lift dan naik ke atas menuju ruangan Dias. Sampai di sana mata Erik tertuju di meja sekretaris yang kosong. Sejak tadi malam ia belum menanyakan kabar ibu Sila.


Erik mengetuk pintu ruangan CEO.


"Masuk. " Seru Dias dari dalam sana.


Erik mendorong daun pintu dan masuk bersama Jo. "Maaf mengganggu waktu mu." Ujarnya duduk di sofa di ikuti oleh Jo.


"Tidak masalah. Bagaimana tanggapan tuan, Zev ? Tentang asisten yang aku minta. " Dias bertanya sambil mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas.


"Sekarang aku membawanya untuk mu. Perkenalkan dia Jo yang akan menjadi asisten mu." Erik memperkenalkan Jo.


"Cepat sekali kalian mendapatkannya. Kenalkan aku Dias. Selamat bergabung di kantor ini, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Dias mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.


"Saya Jo, Pak. Semoga saya bisa membantu bapak." Balas Jo menyalami Dias.


"Jangan memanggil ku bapak terkesan tua, panggil saja Dias. Kita sebaya jadi tidak perlu sungkan, santai saja ya." Dias tertawa di panggil bapak oleh Jo yang seusia dirinya.


"Tapi bapak atasan saya. Dan ini juga di kantor." Tolak Jo halus.


"Tidak Apa-apa. Aku tidak ingin tua sebelum usia ku. " Kekeh Dias.


"Baiklah kalau begitu." Jo mengalah tidak masalah juga pikirnya. Toh, yang meminta Dias sendiri. Jadi jangan mempertanyakan kesopanannya.


"Jo, kamu juga akan dapat mobil inventaris dari kantor agar memudahkan mu kemana-mana dalam bekerja. Karena sebagai asisten kamu bisa di butuhkan kapan saja." Jelas Erik tentang pekerjaannya.


"Terimakasih, aku mengerti ." Balas Jo senang.


"Sepulang dari sini, kamu berkemas jangan tinggal di kos lagi. Tuan Zev sudah mengambil satu unit apartemen untuk mu. Alamatnya akan ku kirim di ponsel mu." Papar Erik. Sesaat setelah mereka bertukar nomor ponsel.


Jo tersentak kaget. "Apartemen ? Apa ini tidak berlebihan ? Bagaimana aku bisa mendapatkan mobil dan apartemen dalam sehari sebelum bekerja ?" Jo merasa tidak enak hati. Mendapatkan semua fasilitas sebelum memulai bekerja.


"Itu semua sudah di pertimbangkan tuan, Zev ! Jadi kamu tidak bisa menolaknya. Sebagai asisten kamu akan berbaur pada para petinggi perusahaan, tak hanya itu kamu juga akan bertemu dengan para klien penting." Jelas Erik. Dia sangat memahami keterkejutan Jo. Karena dirinya juga merasakan hal itu sebelumnya. Bahkan lebih parah lagi ia di bimbing langsung oleh pak Ali ayah Dias.


"Baiklah, terimakasih. Aku akan berkemas nanti." Balas Jo tersenyum lega.


Cukup lama mereka menjelaskan perihal tugas dan tanggung jawab Jo, Erik pamit kembali ke perusahaan. Ia sengaja tidak menemui Della karena sudah ada janji nanti saat jam istirahat untuk bertemu.

__ADS_1


__ADS_2