
Setelah melakukan penerbangan, Erik dan Zevin turun dari rooftop dengan langkah tergesa-gesa. Erik sudah tidak sabar lagi untuk bertemu Maura. Zevin memperlambat langkahnya saat ponselnya bergetar. Ia membaca pesan masuk itu dengan teliti.
"Erik." Panggil Zevin. Ada kelegaan terpancar di wajahnya. Pria ini memberikan senyuman tipis pada Erik yang terlihat kacau.
Erik menghentikan langkahnya kemudian berbalik, ia tersentak melihat Zevin berdiri agak jauh di belakangnya. "Kakak kenapa?" Ia malah cemas pada suami Nazia itu.
"ICU ! Kita kesana, ikut aku." Zevin melangkah dengan arah berlawanan dari Erik. Terpaksa pria dingin itu mengikuti karena Zevin sudah sering datang ke rumah sakit ini. Pasti tahu seluk beluk rumah sakit ini.
Dengan langkah tegap Erik berjalan di sisi Zevin. Pakaian serba hitam mereka menyita perhatian orang-orang sekitar, tanpa protes dan bertanya. Ia masih saja menyamakan langkahnya dengan Zevin. Dengan jarak begitu dekat, Erik bisa melihat kekasihnya itu duduk bersandar di kursi tunggu, disana tak hanya Maura sendiri namun ada juga wanita paru baya dan beberapa orang laki-laki bertubuh besar serta dua orang detektif.
"Sayang." Erik berdiri tak jauh dari kursi tunggu. Ia bisa melihat raut kesedihan di wajah calon istrinya itu.
Maura menoleh kesamping. "Erik..." Wanita cantik ini segera berdiri lalu berlari dan memeluk kekasih yang ia rindukan ini.
Erik tak kalah rindunya, ia mendekap tubuh Maura dengan erat. Melepas semua rasa rindu yang tertampung selama dua minggu ini. "Kamu baik-baik saja ? Ada yang terluka?" Erik memutar tubuh Maura dan melihatnya dengan teliti.
Maura menggeleng kemudian memeluk Erik lagi. "Bukan aku yang terluka tapi dia, Aryan sakit." Maura kembali menangis.
"Aryan ? Di mana penculik mu sayang ?" Erik masih belum memahami situasi saat ini. Maura pun ikut dibuat bingung dengan pertanyaan Erik.
Zevin menghampiri para detektif untuk meminta informasi. "Apa yang kalian dapatkan ?" Bertanya dengan pendek tapi seolah meminta penjabaran.
"Orang yang menculik nona Maura adalah tuan Aryan sendiri, sekarang dia sedang sakit dan dirawat dalam ruangan ini. Ia bekerja sendiri tanpa bantuan dari Wildan." Jelas salah satu detektif.
"Tuan, saya minta maaf atas apa yang dilakukan tuan Aryan. Saya pastikan jika calon istri anda tidak tersakiti sedikit pun. Karena tuan Aryan memperlakukannya dengan baik." Ibu Dina ikut bicara.
"Anda siapa ? kenapa sangat yakin jika dia tidak menyakiti calon istri saya." Erik menatapnya tajam penuh selidik.
Ibu asisten rumah tangga ini tak menunjukkan ketakutan sedikit pun. "Karena saya, asisten rumah tangga tuan Aryan." Jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Yang dikatakan ibu ini benar. Aryan tidak melakukan apa pun padaku." Seru Maura ikut meyakinkan.
Erik mengecup pucuk kepala Maura dan bernafas lega. " Syukurlah..." Ucapnya lembut.
"Dia sakit apa?" Zevin penasaran tentang penyakit Aryan.
"Kanker hati." Sahut ibu Dina "Penyakitnya sudah lama, tapi tuan Aryan mengabaikannya. Entah bisikan dari mana ? Dia meminta bantuan pada temannya untuk membantunya keluar dari penjara. Dia menculik nona Maura bukan untuk menyakitinya, tapi ingin menghabiskan waktu yang tersisa. Maaf, tuan Aryan benar-benar mencintai nona Maura. Tapi caranya salah dengan menculiknya, saya minta maaf untuk itu." Ibu tua ini mengusap sudut matanya yang berair.
Erik dan Zevin menjadi bingung atas semua ini, tindakan apa yang akan mereka ambil. Sementara tersangkanya sudah tergeletak tak berdaya di ruang ICU. "Boleh, kami menjenguknya." Zevin bersuara karena memang ingin melihat sejauh mana penyakit itu menggerogoti Aryan. Agar dirinya bisa mengambil tindakan.
"Silahkan tuan."
"Aku ikut, Kak !" Erik menuntun Maura agar duduk di kursi tunggu. "Kamu tunggu disini ya.." Ia dan Zevin segera memakai baju khusus dan masuk.
Pemandangan miris, sosok Aryan yang dikenal tak memiliki hati nurani ketika melakukan kejahatan terhadap wanita. Kini terbaring lemah di atas ranjang putih ini. Wajah yang pucat, tubuh mengurus serta dilengkapi alat-alat medis penunjang kehidupannya. Belum lagi borgol yang mengikat satu pergelangan tanganya ke pagar brankar. Erik melihatnya begitu teriris, beberapa bulan lalu pria ini masih tangkas menyerang dan menahan pukulan darinya, hari ini ia melihat sendiri raga itu lemah. Saat tahu keberadaan Aryan, salah satu orang detektif memasang borgol di tangannya.
"Rindi, kamu yang menanganinya ?" Zevin menghampiri dokter wanita ini.
"Iya, kanker hati stadium akhir. Dilarikan kesini dalam kondisi kritis." Dokter Rindi menjelaskan sedikit kondisi Aryan. "Apa kabar dokter Zi dan putra mu ?" tanyanya lagi.
Zevin mengangguk. "Mereka sehat dan baik-baik saja. Aku ingin melihat laporannya. Dia tersangka penculikan calon istri adik ku." Jelasnya menerima beberapa laporan dari dokter Rindi.
"Benarkah ? Jadi wanita cantik itu calon adik ipar mu?" Dokter Rindi terperangah. Zevin hanya membalas dengan anggukan.
Suami Nazia ini membaca laporan tentang perkembangan kesehatan Aryan dengan teliti, sebagai seorang dokter merangkap presiden direktur yang belum melepaskan pekerjaannya terkait dunia kedokteran ini. Ia cukup tahu isi laporan itu."Erik, maafkan dia..." Hanya kalimat itu Zevin lontarkan kemudian melangkah ke luar ruangan.
Kini mereka duduk di kursi tunggu, sambil berbincang dengan detektif membahas masalah Aryan. Melihat dari kondisinya dan mendengar penjelasan dari dokter Rindi . Zevin tahu kemungkinan terburuknya. Erik duduk di kursi tunggu dan memeluk kekasihnya itu, hari sudah malam udara terasa semakin dingin.
Maura beberapa kali menguap, matanya terasa berat. Selain lelah dirinya juga mengantuk, perjalanan dari Villa Aryan ke kota memakan waktu satu jam. Erik bisa melihat itu semua rasa sedih, ngantuk dan lelah bercampur menjadi satu.
__ADS_1
"Aku pesankan hotel untuk mu di dekat sini, kamu istirahat ya. Sudah larut malam. Biar aku berjaga di sini." Erik menutupi tubuh kekasihnya itu dengan jaket kulit miliknya.
...----------------...
Kilas Balik...
Saat makan malam, ibu asisten rumah tangga menceritakan banyak hal tentang Aryan, Ya. Banyak cerita yang membuat Aryan menjadi jahat. Sudah dua hari Maura makan malam tanpa Aryan. Pria itu tak menampakkan dirinya baik malam maupun siang.
Maura pun ikut menangis, dibalik kejahatan Aryan ada kisah kelam yang memicunya. "Di mana Aryan ? Beberapa hari ini saya tidak melihatnya."
"Ikut saya Nona." Wanita paru baya ini menuntun tangan Maura.
Sampai di depan kamar Aryan, langkah Maura terhenti. Kenapa kesini ? Begitu pikirnya. Ibu asisten rumah tangga itu membuka pintu secara perlahan.
"Mari Nona, tuan ada di dalam. Dia tidak kemana-mana selama dua hari ini." Ibu Dina mendorong daun pintu lebar.
Maura melangkahkan kakinya perlahan, ia memperhatikan isi kamar Aryan. Kamar yang luas dan mewah. Pandangan Maura terhenti pada seseorang yang terbaring di atas kasur. Kemudian ada seorang perawat yang berdiri mengatur turunnya air infus.
"Aryan..." Lirih Maura menutup mulutnya terkejut. Ia menoleh pada ibu Dina yang mengusap air matanya menatap sedih pada pria di atas kasur.
Wanita tua ini mengangguk perlahan. "Iya Nona, ini tuan Aryan. Dia sedang sakit. Sakit parah..." Wanita ini terisak. "Tuan Aryan mengidap kanker hati stadium akhir." Tangisnya pecah duduk di pinggir kasur.
"Stadium akhir ?! Dan kalian membiarkannya di sini. Kenapa tidak mengobatinya ?!" Maura sedikit berteriak. Bagaimana pun ia menghargai Aryan yang baik padanya selama dua Minggu ini. Tanpa sadar dirinya pun menangis.
"Tuan menolaknya, inilah alasan kenapa tuan Aryan membawa anda kesini. Dia hanya ingin menghabiskan waktu yang tersisa bersama anda, wanita yang dicintainya. Tuan tidak pernah menyukai wanita tapi kehadiran anda mengubah segalanya." Jelas ibu Dina menghentikan tangisnya.
Maura terdiam sebesar itukah cinta Aryan untuknya ? Tapi sayang, hatinya tidak bisa berlabuh pada orang lain lagi. "Ayo kita ke rumah sakit ! Untuk terakhir kalinya biarkan Aryan mendapatkan pengobatan." Ujarnya melihat pada perawat laki-laki yang tengah menjaganya.
Kilas Balik Selesai...
__ADS_1