
Masih seperti hari-hari sebelumnya. Erik akan menyiapkan sarapan untuk wanita tercintanya. Tidak ada kata bosan untuk memasak, karena ia menambahkan bumbu kasih sayang.
Erik, akan pulang ke rumah utama beberapa kali dalam seminggu. Ia masih tidak meninggalkan family Z.
Pagi ini, ia sudah memasak sarapan untuk Maura. Erik sudah berada di dapur kekasihnya itu sejak pukul lima pagi tadi.
Erik mengetuk pintu kamar kekasihnya. "Sayang... Ayo bangun !" Panggilnya dari luar. Hening, tidak ada sahutan dari dalam. Erik mengetuk sekali lagi. "Wanita ku... Bangunlah, sudah pagi. Apa kamu ingin jadi putri tidur ?" Seru Erik di luar kamar.
Maura membuka pintu dari dalam, ia keluar dengan tampilan sudah rapi siap untuk bekerja. "Ayo sarapan !" Ajaknya bergelayut di lengan Erik.
Ini yang Erik mau, kekasihnya manja padanya. Tidak terlalu mandiri seolah tidak memerlukannya. "Aku sudah memasak makanan kesukaan mu." Ucapnya tersenyum. Maura bahagia karena dihujan banyak cinta dari Erik.
...----------------...
Erik menghentikan mobilnya di halaman kantor Maura. "Nanti pulang dari kantor, kamu di jemput Ivan ya... Aku ada urusan bersama, Kak Zev." Tuturnya sambil menggenggam hangat tangan Maura.
"Iya, apa dia mau ? "Papar Maura lembut. Ia tidak enak pada Ivan jika harus menjemputnya.
"Pasti mau. Anak itu akan senang. Tapi kamu harus siap jika sewaktu-waktu terjadi serangan mendadak. Seperti memeluk, Ivan akan selalu seperti itu jika sudah menyukai orang lain." Jelas Erik tentang Ivan.
Maura mengangguk. "Baiklah, hati -hati di jalan." Ucapnya sembari membuka pintu mobil.
"Kamu juga, sampai bertemu di rumah, Kak Alby." Erik melambaikan tangannya dan menginjak pedal gas meninggalkan kantor itu.
Hari ini Erik dan Zevin ada urusan di luar untuk menyelesaikan permasalahan dimasa lalu. Maka dari itu pria dingin ini tidak bisa menjemput kekasihnya nanti sore. Kebetulan acara ulang tahun Alby dilaksanakan sore hari sepulang orang bekerja. Tidak ada gaun mewah atau pesta hanya mengadakan syukuran.
...----------------...
Waktu yang ditunggu tiba, Maura bergegas untuk berkemas. Ia tidak mau jika Ivan menunggunya lama. Langit sore ini tidak mendung tidak juga cerah. Tapi memberikan kesan sejuk dan nyaman membuat perasaan tenang.
__ADS_1
Menunggu selama dua puluh menit, Ivan datang menjemput. Pria itu heboh sendiri saat turun dari mobil.
"Maura !" Sapanya sumringah. Teriakannya menarik perhatian beberapa orang yang berpapasan.
"H-hai..." Maura terbata, karena mereka menjadi pusat perhatian.
"Wah, aku lama tidak kesini. Di mana, Kak Jo dan kak Dias ?" Tanya Ivan mencari keberadaan dua pria tampan itu. "Aku jadi merasa kecil sendiri." Tuturnya melingkarkan tangan ke lengan Maura.
"Mereka lembur, besok ada klien yang akan datang. Ayo kita berangkat." Papar Maura tersenyum canggung. Benar kata Erik, jika Ivan bisa melakukan serangan mendadak.
Ivan dan Maura masuk ke mobil, kemudian melaju meninggalkan kantor dan segera pergi ke kediaman Alby dan Ralda. Menempuh perjalanan beberapa menit mereka tiba disana. Ivan memilih untuk masuk ke halaman rumah Zevin. Karena dari sana mereka bisa jalan kaki. Lewat samping akan lebih dekat.
"Maura, gantilah pakaian mu, di kamar Erik." Tutur Nazia sambil meletakkan gelas minuman.
"Tapi aku tidak bawa baju ganti." Papar Maura. Memang tidak membawa persiapan apa-apa.
"Benarkah ? Aku pasti merepotkan kakak." Maura merasa tidak enak hati melibatkan istri Zevin ini.
"Tidak apa-apa. Ayo gantilah, baru kita ke rumah Ralda." Ujar Nazia mempersilahkan Maura masuk ke kamar Erik.
Benar saja setelah Maura masuk ada paper bag di atas kasur. Ia membukanya ada satu pasang dress disana. Rupanya Erik sudah menyiapkannya melalui Nazia. Usai menggantikan pakaiannya, Maura segera turun untuk bergabung.
"Wah, cocok sekali pada mu. Syukurlah aku khawatir tadi jika tidak cocok." Nazia merasa senang karena pesanan dirinya dan Erik pas di tubuh Maura.
Ivan meneliti penampilan Maura dari atas sampai bawah. Tubuh sedikit mungil itu tambah imut mengenakan dress selutut ini. "Sini aku akan memberikan sentuhan di rambut mu." Ivan melambai dengan telunjuknya.
Maura melihat ke arah Nazia sebelum menyetujui permintaan Ivan. Istri Zevin ini memberikan anggukan kecil. Maura menurut, Ivan pun segera mengambil beberapa peralatan di kamar Nazia. Pria setengah gemulai ini menata rambut panjang Maura dengan serius.
"Zi, bagaimana menurut mu ? Apa kak Erik akan takjub ?" Ivan meminta penilaian.
__ADS_1
"Wah, cantik sekali !" Nazia terperangah dengan hasil karya Ivan yang memberikan sentuhan pada rambut Maura.
Usai dengan urusan berdandan, mereka segera pergi ke rumah Ralda dan Alby. Mereka lewat samping karena akan lebih dekat. Mereka juga bisa jalan kaki. Sampai disana, keluarga Alby juga sudah datang. Ada ibu Anggi dan Erika.
Mereka semua berkumpul di ruang tengah, seperti biasa Zayyan dan Davi akan saling jambak bila bertemu. Dan disini Jimmy yang gelabakan memisahkan mereka.
"Dimana, Zev dan Erik ?" Tanya Alby. Karena tetangga anehnya itu tidak nampak batang hidungnya.
"Mereka ada urusan di luar, mungkin sebentar lagi akan datang. Dimana kak Denis ?" Jawab Nazia sekaligus bertanya keberadaan suami Erika.
"Dia lembur Zi, tapi sebentar lagi juga ke sini. Wah, apa ini kekasih Erik ? Cantik sekali." Erika menjawab pertanyaan Nazia dan tersenyum pada Maura.
"Ah, iya kak. Kenalkan dia Maura. Dan Maura ini kak Erika dan mama Anggi." Ralda datang dari dapur langsung memperkenalkan mereka.
"Maura." Wanita cantik ini memperkenalkan diri pada Erika dan ibu Anggi.
"Tante Anggi, Nak ! ibunya Alby." Ibu Anggi membalas mengenalkan diri.
"Erika, kakaknya Al. Kamu cantik sekali." Puji Erika tersenyum "Jim, wanita mu mana ?" Pertanyaan dari Erika menohok jiwa jomblo Jimmy.
"Belum, Nona." Jimmy tersenyum lebar.
"Ini kuenya." Ivan datang dengan membawa nampan kue. Rupanya pria ini langsung melesat ke dapur.
Acara syukuran Alby dihadiri beberapa staf kantornya. Mereka tidak mengundang banyak orang. Cukup mereka yang selama ini berdiri di belakang Alby mendukungnya dalam susah dan senang.
Orang-orang memberikan hadiah pada Alby. Sebenarnya pria ini tidak mengharapkan hadiah, Alby hanya berbagi dengan rasa syukur atas pencapaiannya dalam usianya saat ini. Maura juga memberikan hadiah untuk Alby mengatasnamakan Erik.
Suara sepatu berbenturan dengan lantai begitu nyaring terdengar, saat semua orang larut dalam keheningan berdoa. Suara kaki itu berhenti tak jauh dari meja dimana Alby berdiri.
__ADS_1