Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Mengajari mu


__ADS_3

Sore hari di pekarangan rumah family Z, keluarga kecil ini tengah bermain di rerumputan. Zayyan berlari mengejar kelinci yang berlompatan, kemudian sang papa mengambil moments putranya itu.


Zayyan berlari dengan girang, bisa bermain bebas di halaman rumah. Nazia duduk di ayunan mengawasi suami dan putranya itu. Zevin tipe pria penyayang bahkan pada putra Alby saja ia sayang.


"Za. Sini, Nak ! Minum dulu ya. Wah berkeringat sekali." Nazia memberikan gelas minum pada Zayyan dan menyeka keringat putranya.


"Aku juga haus sayang. Kamu tidak memberi ku minum ?" Rengek Zevin bergelayut manja di lengan istrinya.


Nazia tertawa. "Aku sudah siapkan jus untuk mu." Ia melirik meja yang tak jauh dari ayunan itu.


Zevin mengecup pipi Nazia kemudian meraih gelas jus dan bergantian meminumnya bersama istrinya. Zevin meraih tubuh Nazia kedalam pelukannya menikmati kebersamaan mereka. Sementara Zayyan kembali mengejar kelinci yang tak bisa melompat jauh itu.


Dari lantai atas rumah ini, Maura memperhatikan interaksi family Z itu. Bibirnya tersenyum, sungguh keluarga bahagia pikirnya. Meski pun kesibukkan menyita waktu pasangan suami istri itu namun tak mengurangi cinta dari  mereka.


Saking fokusnya Maura tak menyadari jika Erik mengamatinya dari depan pintu kamar. Ia melangkah menghampiri Maura kemudian berdiri sejajar dengan wanita cantik ini.


"Kita turun ke sana."


"Kapan kamu masuk ?! "Pekik Maura menoleh pada Erik kemudian kembali melihat ke bawah.


"Sudah beberapa menit lalu. Ayo kita ke sana." Ajak Erik. Ia menarik tangan Maura dan menggenggamnya.


"Lepaskan tangan ku, nanti jika tuan Zev melihat bisa salah faham." Tutur Maura menahan langkahnya.


Erik menoleh namun tak melepaskan genggaman tangannya. Ia bahkan semakin mengeratkan tangannya. "Biarkan saja !" Jawabnya santai.


Maura melirik kesal kemudian menurut pada Erik yang menarik tangannya. Mereka menuruni undakan tangga bersama-sama. Kiki yang melihat dari kejauhan tersenyum pada Erik, tak pernah pria dingin itu menempel pada wanita meski bersama Della. Selama yang Kiki tahu Erik hanya sesekali menyentuh tangan Della dan memeluknya itu pun dalam kondisi tertentu.


"Ki, tolong buatkan jus dua gelas ya. Jeruk saja. "Pinta Erik ketika berpapasan dengan Kiki.


"Baik tuan."


"Aku bantu ya, Ki." Seru Maura melepaskan genggaman tangan Erik.


Kiki melihat pada Erik meminta persetujuan dari pria dingin itu. Erik mengangguk setuju, kemudian mengikuti langkah Kiki ke dapur.


Maura mencuci buahnya sebelum membuat jus. Tiba-tiba Erik berdiri di belakang Maura dan melapisi tangan sekretaris cantik ini mencuci buah.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan ? Menjauh dari ku. Ada Kiki disini nanti dia salah faham." Bisik Maura risih karena Erik menaruh dagunya di pucuk kepalanya.


"Aku mengajari mu cara mencuci buah, Nona." Erik tersenyum tanpa di ketahui Maura. Tangannya masih saja menempeli tangan Maura mencuci buah.


Mereka yang mesra namun Kiki yang malu."Nona, silahkan semuanya sudah saya siapkan." Seru Kiki tak berani menoleh.


"Ah, iya Ki. Jangan salah paham, pria ini terkena gangguan jiwa setelah mengalami luka tembak." Sindir Maura pada Erik.


Sementara itu Erik menjauhkan tubuhnya dari Maura, memberikan ruang pada wanita ini membuatkan Jus. Usai membuat dua gelas jus, Maura dan Erik keluar dan bergabung pada Zevin dan Nazia.


"Kalian sudah bangun ? Ayo sini." Nazia mengajak Maura duduk di ayunan.


"Iya, Kak. Maaf aku hanya membuat dua gelas jus saja." Maura tak enak hati karena lupa membuatkan jus untuk Nazia dan Zevin.


"Tidak romantis. Lihat aku minum satu gelas dengan istri ku" Bisik Zevin di telinga Erik. Mereka duduk berdekatan di seberang Nazia dan Maura.


Erik melirik pada Zevin. " Dia mengira aku terkena gangguan jiwa." Balas Erik  melihat pada Maura. "Apa lagi yang aneh-aneh, nanti dia mengira aku benar-benar gila." Ujarnya kembali berbisik.


Zevin terkekeh melirik pada Maura dan Nazia. Mendapatkan tatapan penuh selidik dari sang istri Zevin mengalihkan pandangannya dari Nazia.


"Za, sudah sore mandi dulu ya.Nak !" Panggil Nazia pada Zayyan.


Family Z ini meninggalkan Erik dan Maura di ayunan. Erik berpindah duduk ke samping Maura, ia memilih menatap wajah cantik wanita ini.


"Apa ada sesuatu di wajah ku ? Kenapa kamu melihat ku seperti itu ?" Maura membalas tatapan Erik sambil menghabiskan jusnya.


" Aku hanya ingin melihat wajah pencuri ini saja." Erik menopang kepalanya di kursi ayunan.


"Semakin hari kamu semakin parah." Maura melenggang pergi meninggalkan Erik di ayunan.


Pria dingin ini tersenyum


"Hei jangan meninggalkan ku !" Serunya mengejar Maura.


...----------------...


Pagi sekali Maura bangun, kemudian membersihkan tubuh nya. Hari ini ia akan pergi ke kantor, tak ingin hanya berdiam diri. Maura turun ke lantai bawah dan membantu Kiki menyiapkan sarapan.

__ADS_1


"Selamat pagi, Kak. Selamat pagi, Ki !" Sapa Maura menghampiri Nazia dan Kiki. Rupa nya istri Zevin itu juga bangun sangat pagi. Maura mengira sebagai istri seorang Zevin Kavindra Nazia tidak akan melakukan pekerjaan rumah.


"Pagi, Maura..." Balas Nazia  tersenyum sambil memotong sayuran.


"Pagi, Nona." Balas Kiki juga sibuk membersihkan rumah.


"Apa yang bisa aku bantu, Kak ?" Maura mendekat pada Nazia.


"Kamu iris sayur ini saja. Aku ingin membuat teh dulu. Setelah nya di masak dengan ini." Nazia meletakkan mangkok berisi daging yang di iris tipis.


"Baiklah." Maura mengambil alih pekerjaan Nazia. Sementara itu istri Zevin ini membuat teh seperti biasa, kemudian menyiapkan sarapan untuk Zayyan.


"Maura, aku membangunkan Za dan papa nya dulu ya... Nanti setelah  matang saji kan saja. Ki ! Tolong bantu Maura." Titah Nazia melenggang naik ke atas.


Kiki menyiapkan piring dan peralatan makan lain nya di atas meja. Sementara itu, Maura fokus memasak sayur yang di minta Nazia.


"Memasak itu apron nya di ikat, Nona..." Erik tiba-tiba berdiri di belakang Maura dan mengikat tali apron nya yang terlepas.


"Kamu mengejutkan ku saja ! Menjauh dari ku." Maura melirik pada Kiki yang menyiapkan makanan Zayyan.


"Memasak lah aku tidak menggangu mu, tapi mengawasi mu ! Siapa tahu saja kamu lupa bumbu nya." Bisik Erik. Nafas nya terasa hangat di kuping Muara.


"Su—sudah matang. Akan ku siapkan, kamu tunggu di kamar akan ku ganti perban mu. "Usir Maura secara halus.


Erik memundurkan tubuh nya kemudian melepaskan tali apron dari tubuh Maura. "Sekarang saja. Aku sudah mandi hanya perban ku yang belum di ganti, jangan lupa kata kan pada Kak, Zev. Untuk memeriksa nya." Erik menarik tangan Maura meninggalkan dapur.


"Ki, tolong ya...." Maura tak enak hati meminta Kiki menyajikan makanan nya.


Di kamar, Erik melepaskan baju nya kemudian duduk di atas kasur. Sementara itu Maura memberanikan diri mengetuk kamar Zevin dan Nazia.


Setelah memanggil Zevin, pasangan suami istri ini bergegas ke kamar Erik. Zevin melihat luka bekas tembakan itu ia mengecek nya dengan teliti. "Luka  nya sudah mengering, dua minggu lagi sembuh total. Terus saja di minum obat dari Yudha." Tutur Zevin turun dari atas kasur.


"Lumayan dalam ya sayang luka nya..." lirih Nazia ikut melihat pundak Erik.


"Iya, peluru nya masuk beberapa centimeter ke dalam. Beruntung tidak tembus ke dada nya dan posisi luka nya juga sebelah kanan." Terang Zevin.


"Pakaikan lagi perban nya, setelah itu kalian turun lah ke bawah untuk sarapan. Dan Maura kita pergi sama-sama nanti. Erik cuti jadi istirahat saja di rumah" papar Nazia.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku bisa naik taksi , Kak." Tolak Maura.


"Biar di antar saja Maura... Perintah Nyonya saya, mutlak tak bisa di tolak." Seru Zevin. Mendapat cubitan kecil di lengan nya. " Ayo sarapan lihat putra ku sudah mengibarkan bendera perang." Zevin menoel pipi gembul Zayyan yang menatapnya sinis.


__ADS_2