Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Kunjungan Zevin


__ADS_3

Tiga Hari Kemudian...


Maura bangun sangat pagi, selain bersiap bekerja. Ia juga harus memasak sarapan untuk dirinya dan ibu Sila. Kondisi wanita paru baya ini sudah berangsur membaik, tekanan darahnya juga kembali normal saat di ajak Maura cek ke dokter.


"Mama jangan melakukan aktivitas apa pun. Untuk makan siang, aku akan memesannya. Nanti ada yang mengantarnya kesini." Pesan Maura sambil bersiap untuk berangkat bekerja. Ia tak membiarkan ibunya menyentuh peralatan masak.


"Kamu hati-hati, Nak !" Ibu Sila mengantarkan Maura ke depan pintu. Beliau menatap sedih pada putri tunggalnya itu. Sejak meninggalnya ayah Maura kehidupan mereka yang mapan berubah drastis, tak hanya itu harta yang seharusnya jadi milik mereka kini sudah di ambil oleh adik tiri ayah Maura.


"Iya Ma, aku berangkat dulu jika terjadi sesuatu telpon saja. Jangan seperti kemarin." Maura menurunkan motor maticnya dari teras rumah. Sebelumnya sudah ia panaskan hingga tak perlu lagi untuk menunggu.


Semakin lama, semakin jauh punggung Maura dari penglihatan ibu Sila. Beliau mengusap air matanya yang menetes tanpa ijin. Andai saja adik tiri suaminya tidak serakah, mungkin Maura tak perlu bekerja keras karena harta yang mereka miliki cukup untuk masa depan ibu Sila dan Maura.


...----------------...


Maura tiba di halaman kantor, ia memarkirkan motornya di tempat parkiran khusus karyawan. Hari ini ia akan bertanya pada Dias tentang motor itu, Maura hanya takut ada orang lain memanfaatkannya. Ia tergesa-gesa dalam melangkah.


"Maura..." Panggil Della. Wanita ini baru turun dari mobil Erik, beberapa hari ini pria dingin itu yang mengantar dan menjemputnya pulang. Meski Della beberapa kali menolak tapi Erik tak perduli.


"Kamu juga baru sampai ?" Maura tersenyum pada sahabatnya itu. Ia tak  berniat memperhatikan sekitarnya. Maura tahu masih ada Erik di situ, semakin hari Maura memantapkan hati untuk perlahan  menghapus nama Erik dalam ingatannya, meleburkan rasa cintanya yang telah tumbuh sekian lama.


"Iya, bagaimana kabar tante Sila ?" Tanya Della sembari mengimbangi langkah Maura yang cepat. Della berpaling kebelakang sebentar melambaikan tangan pada Erik yang masih melihatnya dari dalam mobil.


"Sudah membaik." Jawab Maura pendek. Di pikirannya ia harus segera bertemu Dias.


Della mengangguk. " Baiklah nanti sore aku ke rumah mu, sekarang aku keruangan dulu ya." Di balas anggukan oleh Maura.  Della melangkah menuju ruangannya.


Maura terus melangkah hingga sampai di ruangannya, ia sengaja datang lebih awal agar menunggu Dias. Hampir setengah jam orang yang ditunggu akhirnya datang, Dias datang bersama Jo. Maura melihat Jo dengan seksama wajah dan postur tubuhnya tidak begitu asing. Ia sering melihat pria itu dulu di depan kantor Jaya Group.


"Selamat pagi, Pak !" Sapa Maura. Setelah Dias dan Jo sampai di depan ruangannya.


"Pagi Maura, bagaimana kabar tante Sila ? Maaf dua hari ini aku tidak menjenguk, di kantor sibuk sekali. Perkenalkan ini Jo." Dias membalas sapaan Maura lalu memperkenalkan Jo.


Maura tersenyum tipis. " Hai, perkenalkan saya Maura sekretaris pak Dias, semoga kita bisa saling bantu. Kabar mama sudah membaik, Pak." Balasnya sembari memperkenalkan diri dan menjawab pertanyaan Dias tentang ibunya.


"Saya, Jo. Asisten pak Dias. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Jo mengulurkan tangannya dan di balas oleh Maura.


"Karena kalian sudah berkenalan, jadi aku harap kita bisa berteman layaknya team. Kalian boleh memanggil nama ku saja tapi jika kalian keberatan lakukan itu hanya di kantor atau di depan klien saja. " Seru Dias menampilkan senyum manisnya.


"Iya, Pak."


Dias melihat gelagat Maura yang gelisah lalu bertanya. "Ada apa Maura ?"


"Begini, tiga hari lalu ada orang mengantarkan motor matic warna merah ke rumah. Katanya inventaris dari kantor. Apa itu benar ? Saya hanya takut di manfaat."  Tanya Maura serius.

__ADS_1


Dias nampak heran dan berpikir. "Mungkin itu langsung dikirim oleh Tuan, Zev." Jawabnya ragu. Sebenarnya Dias juga bingung karena dari pihak kantor tidak ada mengirim kendaraan ke rumah Maura. Tapi bisa jadi itu langsung dari Zevin karena Jo juga mendapatkannya.


Maura terdiam, ia juga berpikir mungkin langsung dari Zevin karena orang yang mengantarkan motor itu juga menyebutkan nama Jo.


...----------------...


Kantor pusat JG


Hari ini Zevin ada jadwal kunjungan ke rumah sakit miliknya. Ia bergegas penuh semangat ingin segera pergi, Zevin merapikan mejanya setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sisa sedikit. "Selesai, tunggu aku sayang !" Zevin bergumam senang.


Erik menggelengkan kepalanya. Zevin Kavindra tidak ada perubahan dalam mencintai istrinya, bahkan dirinya semakin menggila dengan sosok Nazia Mishall. " Sudah siap, Kak ?" Tanya Erik beranjak dari sofa tempatnya duduk.


"Iya, ayo berangkat ! Nanti singgah di toko bunga dulu ya." Zevin melangkah mendahului Erik keluar dari ruangannya.


"Iya, Kak. " Erik mengimbangi langkah Zevin.


Mereka bergerak meninggalkan basemen kantor. Pria ini nampak berbinar selain kunjungan, Zevin juga bisa bertemu Nazia. Matanya mengabsen deretan bangunan yang berjejer di pinggir jalan, dengan senyum tipis selalu menghiasi bibirnya. Baru beberapa jam tadi berpisah, Zevin sudah merasakan rindu yang dalam pada istrinya.


Erik menghentikan mobil mereka di tepi jalan halaman toko penjual bunga. Zevin segera turun membeli satu buket bunga kesukaan Nazia. Usai membayar Zevin kembali lagi ke mobil tanpa ada yang di bahas lagi mereka segera melaju ke rumah sakit.


"Berhenti dimana, Kak ? Basemen atau di halaman saja." Tanya Erik sebelum memasuki gerbang rumah sakit.


"Di halaman saja, kita hanya sebentar." Jawab Zevin sembari merapikan tampilannya.


"Selamat datang dokter, Zev !" Sapa para dokter. Mereka senang dengan kehadiran pemilik rumah sakit itu.


"Terimakasih" Zevin tersenyum. Seutas senyum itu membuat para dokter junior yang baru masuk hampir saja berteriak senang. Mata Zevin mencari keberadaan jantung hatinya yang tak terlihat di sana.


Seakan mengerti Yudha langsung menghampirinya. " Dokter, Zi. Ada operasi mungkin sebentar lagi keluar." Ucapnya menjawab arti dari sorot mata Zevin.


"Baiklah, sekarang mari kita ke ruangan mu. Setelahnya kita berkeliling." Zevin mengajak dokter Yudha setelah menyalami para dokter yang ikut menyambutnya. Sekali lagi para dokter junior tersenyum bangga bisa merasakan menyentuh telapak tangan si pemilik rumah sakit.


"Ayo mari, terimakasih kalian sudah menyambut kedatangan dokter, Zev !" Pamit Yudha pada mereka yang ada disana.


Para perawat yang mengenal Zevin menyapa dan memanggil nama Zevin dari kejauhan. Mereka sangat senang bisa melihat dokter itu lagi, selama ini Zevin selalu datang dalam keadaan yang diperlukan. Suami Nazia ini membalas sapaan mereka dengan melambaikan tangannya dan tersenyum, tidak ada perubahan dari dirinya masih seperti dulu pada para rekan kerjanya.


Disaat yang sama Nazia selesai dengan tugasnya berniat kembali ke ruangannya, setelah memastikan pasiennya siap dipindahkan ke ruang inap. Ia dan dokter yang terlibat dalam operasi itu keluar dari sana.


Di lorong rumah sakit Zevin menghentikan langkahnya melihat sang istri berjalan masih dengan seragam scrub atau seragam ruang operasi bersama dokter lainnya meninggalkan depan ruangan operasi. Sudut bibirnya tertarik, ia bangga pada istrinya yang profesional. "Dokter, Zi." Sapanya tersenyum tipis. Ia sengaja menunggu rombongan istrinya itu mendekat padanya.


Nazia mengangguk disertai senyum tipis. "Selamat datang dokter, Zev !" Balas Nazia bersama yang lainnya. Keduanya berlaku formal karena Zevin kunjungan resmi hari ini.


Zevin berbincang-bincang sejenak bersama istrinya dan dokter lain. Ia kembali pada tujuan awalnya ke ruangan Yudha. "Terimakasih atas kerja keras kalian, saya akan keruangan dokter Yudha dulu." Pamitnya sembari tersenyum.

__ADS_1


Aku merindukan mu sayang.


Tatapan terakhir Zevin berikan pada istrinya sebelum melangkah.


Erik ikut tersenyum tipis sambil memegang buket bunga yang dibeli Zevin. Pria dingin ini berpikir kapan bunga ini diberikan ? Padahal Erik mulai mabuk mencium aroma bunga itu.


Hampir satu jam Zevin selesai dengan kegiatannya, ia tak sabar menemui istrinya di ruangan biasanya. Zevin meminta Erik kembali ke kantor lebih dulu karena dirinya akan mengantar istrinya pulang lebih dulu. Karena sopir akan menjemput mereka.


Pintu dibuka dari luar.


Nazia dan Rayya sama-sama menoleh ke arah pintu.


" Zev !" Pekik Rayya langsung berdiri dan mencubit lengan Zevin untuk meluapkan rasa rindunya pada temannya itu. Mereka memang jarang bertemu.


"Aku yang merindukan istriku, kenapa kamu yang menganiaya aku?" Zevin tertawa karena Rayya mencebik kesal.


"Kapan-kapan kita berkumpul, aku rindu lama tidak menyiksa mu." Rayya tertawa jahat duduk kembali di sofa.


"Kamu dengar sayang, wanita jahat ini ingin menyiksa ku. Aku merindukan mu. Ini bunga untuk mu sayang" Tanpa malu Zevin memeluk dan mencium istrinya di hadapan Rayya.


"Tidak adakah kata-kata lain, Zev. Aku bosan mendengarnya." Seru Rayya seolah mengorek telinganya sendiri. Zevin tertawa nyaring melihat ekspresi Rayya.


Nazia mengirup aroma bunga itu dalam-dalam." Terimakasih, dimana Erik ?" Tanyanya karena tidak melihat pria dingin itu.


Wajah Zevin berubah cemberut. "Sayang aku disini, kenapa menanyakan pria lain? Ay, tutup mata mu !" Zevin membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya dan meminta Rayya menutup matanya karena ia ingin menghukum bibir nakal Nazia.


Rayya tertawa


"Dari pada aku menutup mata lebih baik aku pulang." Ucapnya sembari menyambar tas dan melangkah keluar.


Nazia tersenyum belum mencerna ucapan suaminya dan Rayya. Ia melambaikan tangannya dan berkata. " Hati-hati, Ay !"


Zevin tak sabar langsung mengecup bibir istrinya, melihat raut keterkejutan istrinya Zevin merasa gemas. Tak membuang waktu ia langsung membungkam bibir istrinya itu dengan kiss berdurasinya.


Setelah pasokan oksigen Nazia menipis, Zevin melepaskan tautan bibir mereka. Dan mengusap bibir istrinya yang kemerahan olehnya.


Bibir ini hanya boleh menanyakan keberadaan ku sayang.


Zevin tersenyum mengecup kening Nazia penuh cinta. " Ayo kita pulang." Ucapnya sembari merapikan anak rambut istrinya yang sedikit berantakan karena ulahnya.


Nazia berjinjit mengecup bibir suaminya lalu berkata." Ayo, kamu sudah makan siang ?"


"Belum." Zevin hanya mampu menjawab dengan satu kata karena dadanya berdebar mendapatkan kecupan singkat dari istrinya. Bahkan pipinya merona merah seperti biasa jika mendapat serangan dadakan dari Nazia.

__ADS_1


__ADS_2