Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Tentang Aryan


__ADS_3

Jo dan Maura berangkat menemui klien yang kemarin ingin bertemu dengan Della. Mereka janji temu di sebuah kafe, Jo dan Maura telah tiba dan menunggu selama sepuluh menit disana untuk mewakili Della yang tidak bisa datang. Dias menunjuk mereka berdua sebagai pengganti Della dan dirinya.


Dari kejauhan seorang pria datang dengan langkah tergesa-gesa." Maaf saya terlambat. Kenalkan nama saya Aryan" Ujarnya memberikan senyum ramah. Serta mengulurkan tangan bersalaman.


"Tidak masalah,Pak. Nama saya Jo dan ini Maura sekretaris kami." Jawab Jo. Ia dan Maura membalas uluran tangan pria itu.


"Saya sangat menyukai rancangan dari pegawai kalian, karena beberapa kolega saya sudah memakai perhiasan yang dirancang kalian. Hasilnya bagus dan memuaskan. Jadi saya berniat melihat rancangan terbarunya." Ujar laki-laki bernama Aryan ini. Dia langsung berbicara pada intinya


"Ini Tuan, maaf jika kami tidak bisa mempertemukan anda dengan perancangnya karena dia sedang tidak masuk ke kantor." Maura memperlihat hasil rancangan Della dan beberapa pegawai lainnya di iPad.


Aryan mengamatinya dengan kagum. "Sangat indah." Ucapnya tak mengalihkan pandangannya. "Ini milik Nona Della ?" Tanya Aryan memastikan. Pria ini banyak mendengar jika kantor Jewelry Corporation memiliki beberapa perancang perhiasan yang cukup baik. Salah satunya Della, hal itulah membuat Aryan tertarik.


"Benar, Pak. Sisanya hasil rancangan karyawan kantor kami yang lain." Jelas Jo. Ia menggeser layar untuk memperlihatkan hasil rancangan yang lain


"Semua bagus dan indah tapi saya lebih tertarik dengan hasil rancangan Nona Della. Sayang sekali saya tidak bisa bertemu dengannya padahal saya ingin mendengar penjelasan secara rinci darinya." Tutur Aryan. Nampak raut kecewa dan tatapan tak bisa diartikan dari wajah dan sorot matanya.


"Saat ini dia sedang sakit makanya tidak masuk ke kantor." Sahut Maura. Dia bisa menangkap ada tatapan kesal diberikan pria itu.


"Kalau begitu saya akan menunggunya saja. Agar lebih puas dengan penjelasan rancangan ini." Papar Aryan. Dia menggeser iPad itu ke hadapan Maura.


"Baiklah." Jawab Jo pendek. Tangannya meraih iPad itu dan menyimpannya.


"Saya pamit dulu, terimakasih sudah meluangkan waktu anda." Aryan. langsung berpamitan tak lupa bersalaman kembali.


Jo dan Maura menatap punggung Aryan dengan tatapan curiga. Kenapa pria ini hanya ingin langsung bertemu dengan perancangnya. Maura tersenyum tipis. " Aku akan mencari tahu tentangnya. Ayo kembali ke kantor." Ajaknya.


...----------------...


Beberapa hari kemudian


Della kembali masuk ke kantor, kesehatannya semakin membaik. Dia tidak lagi merasakan pusing atau semacamnya. Masih seperti sebelumnya, Della akan diantar jemput oleh Erik. Sekarang dia merasakan tidak enak hati pada Maura karena pernah berkata mencintai Erik. Dalam hati kecilnya sangat menyesali sikapnya waktu itu.


Andai dirinya bisa mengendalikan rasa cemburu mungkin tidak ada luka yang dia goreskan di hati Maura. Andai Della berani berkata jujur pada Maura bahwa waktu itu dia juga jatuh cinta pada Erik, mungkin Maura tidak selalu menaruh harap agar membantunya dalam mendekati pria bermata tajam itu.


Della tahu jika Maura lebih dulu memiliki perasaan itu pada Erik, hanya saja sahabatnya itu tidak memiliki keberanian dan kepercayaan diri seperti dirinya. Perasaan Della yang datang tiba-tiba membuatnya mengarahkan Erik untuk jatuh pada perasaannya dan melupakan tujuannya mendekatkan  Erik dan Maura.

__ADS_1


"Hai Dell, selamat pagi ! Bagaimana kondisi mu ?" Sapa Maura dan bertanya tentang kondisi Della. Mereka tak sengaja bertemu di depan lift.


"Maura." Della menoleh dan tersenyum canggung, lamunannya buyar mendengar suara sahabatnya itu. "Aku sudah membaik hanya saja kemarin sengaja ambil cuti." Jawabnya sambil melangkah masuk ke dalam lift.


"Syukurlah, kemarin kami sudah bertemu dengan klien yang ingin bertemu dengan mu. Dia nampak kecewa karena tidak bisa bertemu langsung padamu." Maura bicara tentang hari kemarin.


"Begitu ya, apa mereka menyukai rancangan ku?" Tanya Della antusias. Ia melupakan kecanggungannya tadi karena pembahasan mereka sedikit menarik perhatiannya.


"Dia tertarik, satu jam lagi kita  bertemu di ruang meeting. Ada hal yang ingin aku sampaikan tentang klien itu." Kata Maura saat lift berhenti di lantai tempat ruangan Della berada.


"Baiklah, kamu sudah sarapan?" Della bertanya lagi sebelum benar-benar berpisah dengan Maura.


Maura mengangguk. "Aku sudah sarapan." Jawabnya sembari tersenyum.


Della mengangguk dan melangkah menuju ke ruangannya. Maura melanjutkan naik ke lantai atas. Bibirnya tertutup dan senyum manis tadi pun seketika lenyap, hanya ada tatapan kosong pada pantulan dirinya di dinding lift .


...----------------...


Ruang meeting


Satu jam sudah pembahasan mereka akhirnya, para staf yang ikut serta di persilahkan kembali keruangannya masing-masing dan lanjut bekerja.


Di ruangan itu hanya tersisa Della, Dias dan Jo serta Maura. Beberapa hari lalu Maura sudah banyak mengumpulkan informasi tentang Aryan yang mencurigakan menurutnya.


"Informasi apa yang kamu dapatkan Maura?" Tanya Dias. Kini ia mulai bersikap datar karena harus menjaga hatinya juga.


"Begini, klien yang kita temui beberapa hari lalu, dia bukanlah orang yang benar-benar ingin membeli hasil rancangan kita. Tapi terlebih ingin tahu para perancang kita." Maura mulai menyampaikan informasi.


"Aryan maksud mu?" Celetuk Jo. Dia menatap Maura dengan wajah serius, jiwa waspadanya saat menjadi bodyguard dulu muncul di saat seperti ini.


"Benar, dia pemilik toko sekaligus pabrik perhiasan. Dia penasaran dengan hasil  rancangan milik kita, karena para pelanggannya banyak beralih ke kita untuk memproduksi perhiasan. Hasil rancangan karyawannya jauh dibawah kita, hal itu membuat nilai jualnya menurun bahkan orang-orang penting sekarang memesan langsung pada kita." Jelas Maura dengan panjang lebar. Tak lupa ia menyertakan nama toko dan pabrik milik Aryan lalu memperlihatkannya pada Dias.


"Jadi maksud mu, dia sengaja membuat janji ingin bertemu para perancang kita karena penasaran?" Tanya Dias. Sesekali melirik pada Della yang diam menyimak pembicaraan Maura. Perasaan cemas segera menyerang hatinya.


"Benar, intinya berhati-hatilah. Kita belum tahu niat yang sebenarnya. Ada baiknya pak Dias ceritakan hal ini pada Tuan Zevin. Sekarang bukan hanya hasil rancangan kita saja yang bisa dicuri, namun keselamatan para perancang kita juga tidak bisa di abaikan." Tutur Maura. Ia melihat ke arah Dias dan Jo secara bergantian.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku akan menemui Tuan Zevin membahas masalah ini. Apa mungkin orang itu ingin menjalin kerja sama ? atau ada maksud lain."  Dias kembali berpikir.


"Aryan ! Pantas saja dia seperti kesal kemarin." Seru Jo. Mangut-mangut mengerti. " Tapi bagaimana kamu bisa mendapatkan informasi ini dengan cepat ? Apa kamu membuntuti Aryan ?" Tanya Jo penasaran pada sekretaris cantik ini, yang hanya di balas senyuman dari Maura.


"Della, mulai hari ini apa pun hasil rancangan mu.Tinggalkan di kantor saja lebih aman." Papar Dias. "Buatkan pengumuman untuk para pegawai yang merancang perhiasan." Tambahnya lagi.


"Baiklah, aku mengerti ." Jawab Della tersenyum. Ia juga merasa takut jika membawa hasil rancangannya itu pulang pergi ke kantor. Dia sangat tahu hal semacam itu bisa jadi masalah selagi nilai jualnya ada.


"Tidak usah cemas." Maura menyentuh lengan Della dengan lembut. "Erik akan menjaga mu, jika dia tahu hal ini. Maka Erik akan mengirim pengawal untuk melindungi mu. Dan bersikaplah seperti biasa jika nanti kamu bertemu dengan Aryan." Sambung Maura lagi.


Della menatap Maura dengan bola mata memerah. Entahlah ketika Maura menyebutkan nama Erik maka hatinya ter-cubit kembali, mengingat kejadian waktu itu. "Terimakasih... Karena selalu ada di samping ku. Kamu yang selalu ada untuk, tapi apa yang aku lakukan pada mu ? Aku mengkhianati mu dengan mencintai pria yang kamu cintai


Della menatap lekat wajah sahabatnya itu.


"Hei apa yang kamu bicarakan, tidak ada yang berubah dari kita. Saatnya makan siang ! Aku sudah lapar." Maura berdiri seraya mengemasi berkas di hadapannya.


Dias dan Jo tersenyum serta bangga dengan persahabatan Maura dan Della, meski mereka tidak tahu pembahasan dua wanita itu tentang apa ? Tapi mereka dapat melihat ada kasih sayang diantara mereka. Karena jam makan siang sudah tiba mereka berempat keluar dari gedung bermaksud makan siang bersama hari ini. Namun tak disangka ternyata Erik sudah menunggu di depan kantor.


"Erik." Panggil Della. Dia menoleh sejenak pada Maura yang terlihat santai melihat kearahnya dan Erik.


Erik menghampiri Della. " Ayo makan siang. " Ajaknya namun sesekali matanya melirik pada Maura yang tengah bicara pada Jo.


"Erik kamu di sini ?" Dias datang menghampiri setelah berbicara sedikit dengan resepsionisnya.


"Ya, kalian mau makan siang ? Ayo sekalian saja kita sama-sama. Bagaimana jika di kafe itu." Ajak Erik dan menunjuk kafe seberang kantor.


"Tapi sepertinya penuh." Sahut Della. Karena jarak kantor dan kafe itu dekat. Mereka bisa melihat pengunjungnya banyak.


"Bagaimana jika tempat kemarin, rumah makan lesehan. Makanannya enak dan bersih." Usul Jo. Setelah berpikir beberapa menit.


"Baiklah, aku setuju." Jawab Dias dan Della bersamaan. Mereka saling pandang dan tersenyum atas ke kompakan mereka.


"Bagaimana Maura?" Tanya Jo menoleh pada temannya itu.


"Terserah, aku ikut saja." Jawab Maura pendek dan tersenyum seperti biasanya.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo berangkat, naik mobil ku saja." Ajak Erik membuka pintu mobil dan mempersilahkan Della masuk.


__ADS_2