
Maura masuk ke kamar Erik membawa nampan makanan, dengan pergerakan pelan. Ia membangunkan Erik. Pria dingin ini mengerjapkan mata lalu menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu kamarnya
"Sudah gelap ? Apa aku tidur sangat lama?" Erik duduk dan bersandar di dinding kasur.
Maura tersenyum. "Kamu tidur dari sore, sekarang cuci wajah mu. Makan dulu setelahnya boleh tidur lagi." Ucapnya menuntun Erik untuk berdiri
"Maaf mengabaikan mu, tubuh ku benar-benar lelah tidak memiliki tenaga untuk bangun." Erik menggenggam tangan Maura dan menatap lembut wajah kekasihnya itu dengan rasa bersalah.
"Hei, kamu kurang sehat bukan mengabaikan ku. Ayo cuci muka dulu... Aku tunggu di sini !" Maura mendorong sedikit tubuh Erik agar cepat bergerak.
Maura menatap ke luar dari kaca pembatas balkon kamar. Pandangannya jatuh pada bulan di atas sana. Pikirannya tertuju pada hubungannya dan Erik. Pria itu sudah melamarnya, siapa yang akan mendampinginya saat menikah nanti ? Sementara dirinya dan sang ibu sudah benar-benar tersisih dari keluarga.
"Memikirkan apa?" Erik menyusupkan tangannya dari belakang kemudian memeluk kekasihnya itu.
"Aku tidak memikirkan apa-apa, sekarang kamu makan dulu ya." Maura mengganti posisinya menghadap Erik.
__ADS_1
"Mata mu tidak bisa berbohong," Erik menarik tubuh kekasihnya agar lebih menempel padanya. "Kita pecahkan bersama jika ada masalah. Ada aku yang bisa kamu andalkan, ada kamu yang menopang ku jika aku terpukul mundur." Erik meraup bibir kekasihnya itu.
"Ayo makan dulu." Maura membawa Erik masuk.
...----------------...
Dua Hari Kemudian...
Keadaan masih seperti sebelumnya, tiap orang disibukkan dengan rutinitas masing-masing. Hal sama juga terjadi pada Erik dan Maura, pria dingin itu bekerja kembali setelah satu hari istirahat di rumah. Kondisinya benar-benar pulih, Erik mengantarkan Maura ke kantornya.
"Hari ini aku ada perjalanan ke luar kota, jadi untuk makan siang kamu makanlah bersama Della dan yang lainnya. Sepertinya akan pulang malam, jaga diri mu." Erik mengecup lembut kening Maura
Maura segera naik ke atas dimana ruangannya berada, setelah mengatur semuanya, Maura menemui Dias untuk mengatakan jadwalnya hari ini. Selesai dengan urusannya, Maura kembali ke mejanya dan mulai bekerja.
"Selama pagi Maura..Kamu semakin cantik saja." Goda Jo yang datang menyapa Maura.
__ADS_1
"Ish, sepagi ini kamu sudah mengganggu ku, apa kamu tidak bekerja ?" Maura melirik sebentar kemudian kembali melihat laptopnya.
Jo tertawa. " Aku bekerja, tapi aku ingin menyapa mu lebih dulu." Pria ini melenggang pergi meninggalkan meja Maura.
...----------------...
Hari semakin sore, Erik baru saja selesai dengan urusannya. Ia pergi sendiri, diperjalanan Erik melihat gerobak penjual makanan dan makanan itu kesukaan Maura. Mengingat kekasihnya itu, Erik berhenti untuk membelinya.
Pria dingin ini tak menyangka jika urusannya cepat selesai jadi tidak perlu pulang malam. Erik meminta penjual itu membungkusnya secara terpisah agar tidak basi. Usai membayar Erik segera melaju lagi meneruskan perjalanannya.
Ponsel Erik bergetar di saku long coat blazer nya. Pria dingin ini mengurangi kecepatan laju mobil lalu meraih ponselnya dan melihat sekilas ternyata telpon dari Maura, bibirnya melengkung indah membentuk senyuman, Erik memasukkan kembali ponsel ke sakunya kemudian menjawab melalui headset bluetooth. "Kamu merindukan ku." Ucapnya sambil fokus mengemudi.
"Tuan."
Erik memilih menepi. "Siapa kamu ?! Kenapa ponsel calon istri saya ada pada mu?" Nada suaranya terdengar dingin sekali. Siapa yang berani menggunakan ponsel kekasihnya untuk menelpon.
__ADS_1
Orang di dalam telpon terdiam sejenak mengatur kata-katanya. Agar lawan bicara bisa memahami perkataannya. "Tuan, kami dari keamanan. Ingin menyampaikan jika pemilik ponsel ini, dibawa paksa oleh beberapa orang. Tas ini ditemukan dalam taksi yang kemungkinan ditumpanginya, karena sopir taksi ini sedang dirawat di rumah sakit ZK setelah mengalami pengeroyokan."
Jantung Erik berdegup kencang, dunianya seakan runtuh seketika. Tubuhnya bergetar dan lemas, apa yang terjadi ? Siapa yang membawa kekasihnya ? Erik mematung pikirannya tiba-tiba kosong.