
Della nampak ragu-ragu dan melirik pada Maura, ada perasaan tidak nyaman di hatinya. Maura mengabaikannya dan bersikap santai, dia masuk lebih dulu di kursi belakang dan duduk di posisi tengah. Setelahnya disusul Dias dan Jo duduk di sampingnya. Melihat hal itu Della duduk di depan bersama Erik.
Dias dan Maura menghembus nafas pelan, berharap cepat keluar dari mobil itu. Bisa saja Maura memilih naik motor ketimbang satu mobil dengan Erik. Namun dia tidak ingin Della berpikir jika dirinya menghindari dari Erik dan sahabatnya itu. Begitu pun Dias memilih bersikap biasa saja.
Mereka sampai di tempat yang di maksud, Erik dan yang lainnya masuk ke dalam rumah makan lesehan itu. Setelah melepaskan sepatu, mereka mengambil meja yang ukuran besar agar bisa menampung mereka berlima.
Setelah memesan makanan, Erik Dias dan Jo membahas Aryan. Sementara Della dan Maura sibuk bernostalgia. Sesekali mereka tertawa dan berfoto bersama. Hal itu tak luput dari pandangan Erik dan Dias.
Dias bahagia melihat senyum di bibir Della, tanpa sadar dirinya pun ikut tersenyum dengan tatapan lembut pada Della. Erik tak sengaja menangkap sorot mata Dias dan mengikuti arah pandang pria itu. Namun arah pandangan Erik melenceng dari tatapan Dias. Dia terpaku pada Maura yang merapikan ikat rambutnya.
Rambut panjang Maura tertiup angin dan menutupi wajahnya, kecantikan alaminya terpancar sangat menawan disiang ini. Bahkan Jo tak berkedip melihatnya, Asisten Dias ini mengakui jika Maura memang sangat cantik. Tapi dirinya juga mengakui jika Della memang manis. Dua wanita ini memiliki daya tarik masing-masing
Erik segera mengalihkan pandangannya, lalu cepat melahap makan siang yang baru saja di antar ke meja mereka. Yang lain pun juga mulai makan siang.
Tiba-tiba Erik tersedak, Jo dan Della refleks menyodorkan satu gelas air. Sekali lagi mata Erik tertuju pada Maura yang nampak santai memakan makanannya. Pria dingin ini mengambil gelas di sebelah Della kemudian meminumnya sampai habis, matanya masih tertuju pada Maura dengan sorot mata yang tajam
Della dan Dias mengikuti arah pandang Erik. Dias tersenyum tipis lalu melanjutkan makannya. Sementara Della nampak cemas, apa kesalahan Maura hingga Erik menatapnya seperti itu. Apakah Erik membenci Maura ? Apa selama ini Erik berpura-berpura saja ramah pada sahabatnya itu ? Banyak kecemasan yang merasuki pikiran Della.
"Lanjutkan makan mu." Seru Erik membuyarkan lamunan Della.
Della mengangguk dan melanjutkan makannya. " Kenapa makanan mu tidak dihabiskan ?" Tanyanya karena makanan Erik hanya berkurang sedikit.
"Selera makan ku hilang."
"Kalau begitu bungkuskan lagi yang baru, siapa tahu nanti kamu lapar lagi." Usul Della melihat pada Erik.
"Tidak perlu nanti aku cari makan sendiri jika lapar." Tolak Erik. Sesekali melirik pada Maura yang sudah menyelesaikan makannya beberapa menit lalu.
Sambil menunggu Della makan, Erik berbincang lagi pada Dias dan Jo mereka membahas masalah Aryan kembali. Erik sangat penasaran pada pria itu.
__ADS_1
"Pedas ! Air ! " Pekik Della. Dia kepedasan karena tak sengaja mengunyah cabai yang ada di dalam campuran sayur.
Dias dan Erik menyodorkan gelas berisi air, Della mengambil air di tangan Dias dan meminumnya sampai habis. Erik meletakkan kembali gelas itu di atas meja.
"Maaf aku refleks tadi, takut Della kepedasan lama." Ungkap Dias tak enak hati setelah menyadari apa yang dia lakukan.
"Kenapa hanya memberi air di permasalahkan ? Kamu tidak tersedak juga, Maura ?" Canda Jo pada Maura.
Maura hanya tersenyum mengangkat bahunya acuh sambil menatap ponselnya, wanita ini menghiraukan sekelilingnya. Dirinya fokus pada benda pipih itu. Della telah menyelesaikan makannya.
Sebelum mereka kembali ke kantor, Erik berkata. "Karena kalian ada disini aku berencana mengundang kalian besok di kediaman Tuan Zevin sore hari sepulang bekerja."
"Acara apa ?" Tanya Dias memasukan ponselnya di dalam saku celananya.
Erik menatap Della seolah minta ijin untuk bicara. Della menganggu menyetujui, kemudian dia berkata.
"Aku ingin mengadakan acara syukuran karena Della sudah bisa mengingat kembali."
Sebesar itu perasaan mu Erik
"Baiklah, aku akan datang." Dias tersenyum tipis.
Ya, aku harus melepaskannya. Lambat laun mereka akan bersama
Teka - teki cinta. Aku tidak mengerti dan tidak mau mengerti.
"Ayo kembali ke kantor kita terlambat lima menit." Seru Jo melihat jam di pergelangan tangannya.
Della sejak beberapa menit lalu kehilangan semangatnya. Dirinya semakin tidak nyaman dengan Maura. "Maura..." Panggilnya sebelum mereka naik mobil.
__ADS_1
"Iya, ada apa Del?" Maura mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil.
"Maaf..."
"Apa yang perlu dimaafkan? Tenanglah besok aku akan datang. Sudah lama tidak bertemu dengan Nyonya, Zi." Balas Maura tersenyum.
"Masuklah !" Sambungnya lagi lalu membuka pintu mobil.
Mereka kembali ke kantor setelah makan bersama dan dibumbui drama tersedak, entah apa yang hinggap di pikiran Erik hingga dia tak fokus pada makanannya.
...----------------...
Bulan melengkung indah di atas langit, ditemani ribuan bintang yang bertaburan. Ada sedikit angin yang juga ikut menyapa malam ini. Erik duduk seorang diri di balkon kamarnya, malam ini dia menginap di rumah kakaknya Ralda. Karena Alby sedang ke luar kota tadi pagi bersama Jimmy.
"Apa yang mengganggu pikiran mu?" Suara Ralda mengejutkan Erik.
"Duduk, Kak ! Aku tidak memikirkan apa-apa." Jawab Erik sembari memangku keponakannya itu.
Ralda duduk di samping Erik ikut memandangi langit malam. " Kenapa termenung disini ? Tanyanya tanpa menoleh.
"Aku baik-baik saja, Kak. Hanya terpikirkan besok, apa acaranya akan lancar ? Ini pertama kalinya aku membuat acara tanpa didampingi kak, Zev." Tutur Erik. Ia tersenyum pada keponakannya karena menunjuk bulan di langit.
"Semua akan lancar." Ralda bersandar di kursi melipat kedua tangannya. " Rik. Bagaimana perasaan mu pada Della. Jangan menggantungnya jika kamu mencintainya segera lamar dia dan nikahi, jika tidak jangan memberikannya perhatian lebih karena itu akan membuatnya berharap pada mu." Lanjutnya lagi.
"Kak, apa perasaan cinta itu bisa hilang? Tanya Erik tiba-tiba polos.
Ralda menoleh pada adiknya itu dan tersenyum. "Tentu saja bisa, jika kita tidak merasakan apa-apa lagi seperti kenyamanan sebagai pasangan." Jawabnya kembali melemparkan pandangannya ke bulan sabit.
Erik tak lagi bicara hanya diam sembari menjatuhkan kepalanya di bahu sang kakak. Rupanya pria ini bisa juga bermanja.
__ADS_1
"Istirahatlah, jika sudah mengantuk. Jangan salah langkah ya... Kamu ingat pesan kak, Zev. Hati wanita itu lembut !" Ralda menepuk pipi Erik.
"Iya Kak, aku harus memastikannya. Karena aku tidak mau ada keterpaksaan dalam menjalani sebuah hubungan." Ujar Erik menarik kepalanya dari bahu sang kakak.