
Mendengar kabar dari Dias, Erik berlari masuk ke dalam ruangan Zevin. Tanpa mengetuk ia langsung menerobos masuk.
"Kak, Della diculik ! Kejadiannya terekam CCTV di depan kantor " Ucap Erik dengan wajah paniknya.
"Diculik ! Laporkan kepada pihak yang berwajib. Minta bantuan para detektif serta siapkan pengawal Jaya group, kita cari sekarang ! Kirimkan CCTV nya agar mereka bisa menindak lanjuti." Tutur Zevin melepas penanya dan bersiap.
Erik menelpon Dias dan menyampaikan, apa saja yang disampaikan Zevin padanya. Mereka berdua bergegas bersiap, sebelumnya Zevin mengabari istrinya dan mengirim mereka ke rumah tuan Indra.
...----------------...
Dias merasa buntu akhirnya menunggu di pinggir jalan, dan mengabari Erik serta para detektif jika ia menunggu kedatangan mereka.
Cukup lama sambil mengerahkan orang-orangnya, Dias menunggu sambil bersandar dibadan mobil "Di mana kamu saat ini ?" Gumamnya sembari menatap foto Della di ponselnya.
Dua mobil datang bersamaan, turunlah Erik dan Zevin. Mereka telah berganti pakaian serba hitam. Mengenakan topi dan masker untuk menutupi wajah mereka. Kemudian disusul para pengawal Zevin, selang beberapa menit mobil para detektif juga tiba. Melihat kedatangan mereka Erik dan Zevin menurunkan masker mereka masing-masing.
"Selamat sore tuan, Zev ! Maaf membuat anda menunggu lama" ujar salah satu detektif.
"Tidak masalah, apa kalian sudah menerima CCTV nya ? Dari mana kita memulai ?" Tanya Zevin dengan wajah serius.
"Kita memulai dari GPS nona Maura, karena beberapa menit lalu. GPS milik nona Della sudah mati. Kita juga akan dipandu oleh pihak call center, melalui CCTV jalanan. Kita pakai ini agar memudahkan kita berkomunikasi dengan pihak call center." Jelas ketua team detektif. Kemudian memberikan headset handsfree.
"Baiklah, saya membawa beberapa pengawal Jaya Group bersenjata lengkap dan bersertifikat. Untuk bergabung, apa boleh ?" Zevin menunjukkan beberapa pengawalnya yang terlatih.
"Boleh tuan, namun hindari adu tembak." Papar ketua team detektif.
"Kalian mendengar itu ?" Seru Zevin pada para pengawalnya dibalas anggukan dari mereka.
Dias merasa bersalah karena merasa gagal dalam memimpin, hingga karyawannya sendiri jadi korban penculikan di halaman kantornya. "Maafkan saya tuan, saya lalai..." Ucapnya menunduk dihadapan Zevin.
"Jangan menyalahkan dirimu, ayo kita cari sama-sama. Ini musibah yang tidak kita tahu." Seru Erik menepuk pundak Dias.
__ADS_1
Mereka bergerak mengikuti panduan call center, mereka berhasil melacak keberadaan mobil penculik Della.
...----------------...
Maura masih melajukan motornya, namun semakin lama motornya perlahan melaju kemudian mati di tempat. Maura yakin jika motor itu kehabisan bahan bakarnya. Ia teringat Jo kemudian menghubunginya.
"Ya, Maura." Jawab Jo. Ia cemas pada Maura yang naik motor seorang diri.
"Aku kehabisan bahan bakar, cepat kesini ikuti GPS ku." Maura mematikan telpon kemudian memeriksa ponselnya, banyak telpon yang tak terjawab termasuk dari Erik.
Dari kejauhan mobil Jo terlihat, Maura melambaikan tangannya kemudian mobil Jo berhenti. Pria itu segera turun dari mobil menghampiri Maura. "Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya cemas.
"Aku baik-baik saja, Jo ! Kita kehilangan jejak gara-gara motor ini." Kesal Maura.
"Tinggalkan disini saja, nanti ada orang yang mengambilnya." Jo menitipkan motor pada salah satu toko pinggir jalan dan meninggalkan kartu namanya.
Maura dan Jo masuk ke dalam mobil kemudian meninggalkan tempat itu, Maura mengeluarkan laptop nya mencoba meretas CCTV jalanan. Butuh waktu sedikit lama akhirnya Maura berhasil. "Jo ikuti arahanku, menyetirlah dengan benar." Ujarnya tersenyum senang.
...----------------...
Para detektif masih dalam panduan call center. Mereka saling bertukar informasi.
"Mobil itu memakai plat palsu." Informasi dari call center.
"Sial !" Maki Dias geram. Ia semakin kesal Karena belum mampu mengejar mobil yang membawa Della.
"Hati-hati, Rik" peringat Zevin pada Erik yang mengemudi.
"Maura dan Jo tidak ada yang menjawab telponku, bagaimana mereka mencari Della tanpa kita ?" Keluh Dias cemas pada dua karyawannya itu.
"Tenanglah, ada Maura bersama Jo." Sahut Erik. Ia percaya pada kemampuan Maura bisa menuntun Jo. Namun ia lupa jika wanita itu naik motor.
__ADS_1
"Maura menaiki motor !" Tutur Dias kesal.
Mereka saling berkejaran dengan waktu, karena hari mulai menggelap. Dengan jarak hampir dua ratus meter mobil hitam itu tak tertangkap lagi CCTV. Mereka mengeram kesal mendengar informasi dari call center. Jika mobil itu masuk ke kawasan tak terpantau kamera pengawas.
Ponsel Dias bergetar ternyata ada pesan masuk. ia segera membukanya ternyata pesan itu dari Maura. "Maura bersama Jo. diperjalanan ia kehabisan bahan bakar." Seru Dias
Erik bernafas lega. Ia mencengkram setir mobil meluapkan amarahnya, karena kejadian ini menyeret Della dan Maura. Zevin tersenyum melihat guratan lega di wajah Erik.
...----------------...
Di dalam salah satu ruangan, Della terkurung dengan kaki dan tangan terikat tak hanya itu. Mulutnya juga di lakban. Perlahan kelopak matanya bergerak, jari-jarinya berkedut kemudian mata Della perlahan terbuka. Ia memusatkan pendengarannya, lalu menyesuaikan netranya pada keadaan dalam ruangan itu.
Tubuh Della gemetar dan menangis, ia ketakutan saat ingatannya kembali pada penyekapan yang membuatnya tak ingat apa-apa. Della berusaha duduk namun tak bisa, ia terjatuh kembali dengan posisi miring. Della menangis berharap akan ada seseorang yang mengeluarkannya dari tempat itu.
Suara hentakan sepatu begitu nyaring dan terdengar jelas ditelinga Della. Ia segera memejamkan matanya kembali dan berpura-pura belum bangun. Nafasnya naik turun serta keringat dingin merembes di kulitnya.
Pintu terbuka. Langkah itu semakin dekat dan kasur terasa bergoyang, rupanya orang itu duduk di tepi kasur. Aroma parfumnya begitu tercium. Della yakin itu parfum mahal.
"Bangunlah."
Della terbatuk-batuk karena menghirup asap rokok yang sengaja ditiupkan orang itu ke wajahnya.
"Tuan Aryan !!" Pekik Della tak percaya. "Kenapa kamu mengurungku ? Lepaskan aku !" Bentaknya penuh emosi.
"Syut.... Jangan membentakku, Nona ! Jika tidak ingin kupatahkan tangan mu ini. Bukankah ? Jari-jari ini bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah." Seru Aryan mengusap buku-buku jari Della.
"Lepaskan aku...."lirih Della dalam tangisnya. Ia sangat takut menghadapi pria ini.
"Melihat wajah mu memohon seperti ini sangat membuatku senang." Arya terbahak senang. Ia menjatuhkan puntung rokoknya dan menginjaknya sampai hancur.
Tubuh Della semakin gemetar, bahkan suara tangisnya pun tak terdengar hanya air mata yang mengalir di pipinya. Della berharap ini hanya mimpi buruk dan esok pagi sudah kembali seperti semula. Sekali lagi, ia berharap jika besok terbangun sudah berada di dalam kamarnya sendiri. Aryan tersenyum senang kemudian meninggalkan kamar Della
__ADS_1