
Mobil yang dikendarai para detektif memasuki kawasan sepi, disana daerah perbukitan. Tak banyak rumah penduduk lokal, sepertinya daerah itu memang khusus untuk menyepi dari keramaian. Sesuai instruksi mobil yang dikendarai Erik juga masuk ke sana bersama mobil para pengawal Jaya Group.
Mereka turun dari mobil dan berpencar mencari Della, tiap orang berpapasan tempat mereka bertanya. Dias semakin tak karuan di samping Erik, ia sangat mencemaskan kondisi Della saat ini.
"Lihat, disana ada sebuah Villa. Petunjuk terakhir mobil itu memasuki kawasan tempat ini. Dan tidak ada jalan lain selain yang kita lewati saat ini." Seru salah satu detektif.
"Anda benar ayo kita ke sana, saya akan kerahkan tim saya untuk mendekat lebih maju." Sahut Zevin memberikan titah pada keamanannya.
"Baik tuan, hindari adu tembak." Detektif memperingatkan.
Saat mereka ingin melangkah mobil lain berhenti juga dsana. Semua mata melihat ke arah sorot lampu mobil dan bersiap dengan senjata masing-masing. Sesaat kemudian turun dua orang yang tak lain adalah Maura dan Jo.
Erik segera menghampiri Maura dan Jo. "Bagaimana keadaan kalian ? " Tanyanya penuh rasa khawatir. Netra tajamnya menatap lekat wajah Maura.
"Kami aman." Jawab Jo pendek. Lalu melangkah menghampiri Zevin dan Dias.
"Syukurlah." Erik bernafas lega, matanya tak lepas menatap Maura yang melihat layar laptopnya. Erik melepaskan rompi anti pelurunya. "Pakai ini." Tegasnya menyodorkan baju itu ke depan Maura.
Maura tersentak lalu menatap heran pada Erik. "Untuk apa ? aku masih mengenakan jaket." Ucapnya datar. Maura memang mengenakan jaket milik Jo.
"Rompi anti peluru." Jelas Erik singkat dan padat. Ia merasa kesal karena Maura tak mengerti niat baiknya.
"Aku bisa menjaga diri ku." Balas Maura langsung melenggang ingin meninggalkan Erik. Namun langkahnya terhenti karena Erik mencekal tangannya.
"Pakai ini ! Atau tinggal di mobil !" Tegas Erik kembali. Kali ini suaranya terdengar dingin.
Tak ingin membantah Maura menerima baju itu lalu mengenakannya, ia menatap kesal pada Erik yang masih berdiri di depannya." Puas !" Ketusnya melenggang pergi. Erik tersenyum tipis lalu menyusul Maura dan yang lainnya.
"Tuan, Zev ! Bagaimana ada petunjuk dimana Della ?" Tanya Maura kelelahan dan juga lapar. Waktu semakin malam dan gelap.
"Petunjuk terakhir ada disini. " Jawab Zevin menyodorkan sebotol air mineral pada Maura. "Minumlah, kamu terlihat sangat lelah." Zevin kembali berkumpul pada Detektif.
Mereka mulai berpencar dan mencari Della, tiap tingkat perbukitan mereka periksa dengan teliti. Tak ingin tinggal di mobil, Maura juga ikut bersama Jo. Erik sesekali mengawasi Maura, perasaannya takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu.
__ADS_1
...----------------...
Villa...
Della merasakan sekujur tubuhnya kesakitan karena sejak tadi meringkuk di atas kasur dengan kaki tangan terikat. Air matanya seakan tak pernah habis untuk keluar. Dirinya semakin takut, selain tidak mengenal Aryan dia juga takut pria itu berbuat yang tidak-tidak padanya.
Pintu kamar terbuka. Muncul sesosok laki-laki tegap membawa nampan makanan. Della semakin ketakutan ia menggelengkan kepala meminta pria itu tidak mendekat padanya.
"Makanlah. Kamu harus memiliki banyak tenaga, karena aku butuh tangan dan otak mu malam ini. "Aryan menarik lakban penutup mulut Della
"Aku mohon lepaskan aku." Mohon Della sambil menangis.
Aryan tertawa. "Melihat mu memohon seperti ini, rasanya sangat menyenangkan." Ucapnya pelan namun penuh makna.
Della berusaha memundurkan tubuhnya meski dalam ke adaan terikat. "Kenapa kamu lakukan ini padaku ? Apa salahku padamu ? Aku ingin pulang." Lirihnya dengan tatapan memohon.
Aryan mendekat lalu mencengkram dagu Della dengan sedikit keras. "Aku butuh tangan dan otak mu. Salah kamu sendiri menolak untuk bekerja sama dengan ku." Geram Aryan
Della meneteskan lagi air matanya karena merasakan kesakitan. "Aku memiliki perjanjian di kantor tempat kubekerja. Bahwa kami tidak akan bekerja sama dengan orang lain." Tegas Della.
Karena ketakutan dan menjaga dirinya agar tetap sadar Della menuruti kemauan Aryan untuk makan. Tak butuh lama Della selesai dengan makan malamnya.
...----------------...
Waktu terus berputar, kondisi yang gelap semakin memperlambat langkah mencari Della. Para detektif dan yang lainnya semakin mendekati wilayah Villa.
Tak hanya lelah, mereka semua juga lapar dan haus. Apalagi Maura yang memang melewati makan siangnya. Ia merasa tubuhnya lemas, tanpa sadar dirinya menyentuh tangan Jo.
"Kenapa ?" Jo berbalik melihat kepada Maura. Yang terlihat pucat dan berkeringat.
Maura mendekat pada Jo dan berdiri sejajar "Aku haus." Bisiknya pada Jo.
"Erik ! Calon istri mu ini kehausan, apa kamu ada air ?" Jo tiba-tiba melemparkan candaan untuk mencairkan suasana. Maura melotot pada Jo yang memasang wajah tak bersalahnya.
__ADS_1
Erik menoleh pada Maura, benar apa yang dikatakan Jo bahwa dia terlihat lelah. Padahal Erik sudah memintanya untuk tinggal di mobil namun Maura keras tak ingin menurutinya. "Tunggu di sini." Ucapnya lalu berjalan cepat.
Erik masuk disalah satu warung kecil. Ia mengambil beberapa roti dan air mineral. Tak hanya itu ia juga mengambil beberapa minuman manis, Erik melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan jam delapan malam. Pantas saja Maura lelah pikirnya.
"Bos sangat pilih kasih, wanita itu diberikan makanan enak dan kita diberi makan roti !" Gerutu dari salah satu orang itu
"Tenanglah ! Hanya sementara sampai pagi. Bos Aryan akan membawa wanita itu besok setelah mendapatkan beberapa sketsa perhiasan. Seperti biasa dia akan di jual." Balas teman satunya.
"Iya, nona Della pasti laku keras, dia sangat manis." Celetuk orang itu lagi sambil tertawa.
Erik terkejut, hampir saja ia menjatuhkan minuman manis di tangannya. Ia segera mengirim pesan pada Zevin dan membayar barang belanjaannya. Erik menunggu kedatangan yang lainnya diwarung itu. Sambil menjaga sikapnya agar tidak terlihat mencurigakan.
"Di mana mereka ?" Tanya salah satu detektif. Ia datang dengan terburu-buru tak ingin kehilangan jejak lagi.
Erik menunjuk ke dalam lalu menyerahkan belanjaan itu pada Maura. "Makanlah." Ucapnya lembut. Kemudian mengusap pucuk kepala Maura. Ia melangkah menghampiri yang lainnya.
Beberapa orang tadi terkejut saat para detektif meringkus mereka. "Katakan dimana bos kalian ?!" Bentak salah satu detektif.
"Untuk apa kalian mencarinya ? Siapa kalian ?" Tanya salah satu anak buah Aryan.
"Jadi yang menculik Della adalah Aryan ?" Seru Zevin. Ia melangkah sambil memasang kaos tangannya. Jo dan Dias bergidik ngeri melihat cara Zevin seperti itu. Ia tahu saat Erik mengirim pesan padanya menyebut nama Aryan.
"Kami tidak tahu dan tidak mengerti apa yang kalian bicarakan ?" Anak buah Arya bersikap tidak tahu.
"Bawa mereka !" Titah ketua team detektif.
" Aryan Perdana, pemilik toko perhiasan beserta pabrik kecil bergerak di bidang memproduksi perhiasan. Tak hanya itu dia juga terlibat bisnis terlarang jual - beli wanita. Beberapa tahun lalu dia ditangkap saat melakukan transaksi jual - beli disebuah pelabuhan. " Informasi dari call center. Mendengar nama Aryan di sebut Zevin mereka langsung mencari identitas pria itu.
Dias memukul salah satu dari mereka. "Katakan dimana Aryan." Ucapnya marah. Ia tak bisa membayangkan hal buruk terjadi pada Della.
"Kami tidak tahu !" Teriak anak buah Aryan berusaha setia.
"Jangan menyembunyikannya !" Erik juga melayangkan tinjunya. Pria ini mendekat setelah memastikan jika Maura makan roti dan minumannya.
__ADS_1
"Sabar tuan, jika mereka tidak mau menunjukkan tempatnya. Kita kirim mereka ke kantor nanti ada anggota yang akan datang. Kalian tunggu di sini" Titah ketua team.
"Pengawal ! seret anggota keluarganya khususnya wanita bawa mereka kesini aku akan melakukan bisnis bersama Aryan !" Seru Zevin santai namun mengancam.