Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Keterkejutan Maura


__ADS_3

Kediaman Family Z


Keluarga kecil ini tak biasanya bangun jam tiga pagi. Zayyan yang terbangun lebih dulu mengajak Zevin bercanda. Ia mulai menarik-narik hidung papanya itu. Kadang ia terkekeh sendiri karena Zevin hanya membuka mata sebentar.


"Sayang tidur lagi ya, Papa masih ngantuk."


Zayyan kembali jahil, ia menoel pipi papanya dan mengecupnya. Zevin menjadi geli dan segera duduk dari tidurnya. Ia mengecup seluruh wajah putranya itu dengan gemas. Tawa Zayyan menggema hingga membangunkan Nazia.


"Kalian sudah bangun ? Masih pagi ini." Nazia berbalik menghadap suami dan putra nya itu.


"Mama" Panggil Zayyan merangkak menghampiri Nazia.


"Za, sudah bangun kenapa sayang? " Nazia menarik tubuh mungil Zayyan ke dalam pelukannya.


Tak mau ketinggalan Zevin berguling di kasur dan menempel pada istrinya."Sayan, aku juga mau di peluk." Rengeknya dan menyelinap masuk ke dalam selimut.


Zevin memeluk dua orang yang merupakan jantung hatinya itu. Ia mengecup kening istri dan anaknya bergantian. Nazia tersenyum karena hari ini ayah dan anak itu akur tanpa saling cemburu.


"Sayang, ayo kita keluar, aku akan membantu Kiki di dapur."


Zevin dan Zayyan menggeleng secara bersamaan. Hingga Nazia tak berkedip sungguh kompak pikirnya.


Zevin semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan kemana-mana, aku ingin tidur lagi sambil memeluk mu." Ucapnya sambil memejamkan mata. Merasakan kehangatan tubuh sang istri.


Kini posisi Nazia berada di tengah-tengah dua lelaki kesayangannya itu. Zayyan yang menyangka Zevin berpura-pura tidur akhirnya, ia juga memejamkan matanya alhasil Zayyan tertidur pulas. Setelah memastikan suami dan putranya tidur kembali. Nazia perlahan membebaskan diri dari pelukan Zayyan dan Zevin. Ia menaiki selimut hingga batas leher suami dan putranya. Nazia melihat wajah keduanya sejenak sebelum beranjak dari kasur, tak mungkin ia ikut tidur kembali sementara jam sudah menunjuk jam empat pagi.


...****************...


Jam lima pagi alarm di atas nakas kamar Della membangunkannya pagi ini. Ia meraba-raba dengan mata tertutup, berusaha menemukan jam itu dan mematikan alarmnya. Perlahan ia mulai mengerjapkan matanya sembari meregangkan otot tubuhnya.


Della tersenyum mengingat hari ini adalah hari pertama dirinya masuk bekerja. Sejak tadi malam ibu Weni dan ibu Indah menelponnya bergantian sekedar untuk mengingatkan tentang sarapan dan makan siang agar tidak di dilewatkan.


Dua puluh menit telah bersiap, Della kini menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Namun, sebelum ia memulai mengoles selai di rotinya. Tiba-tiba bel unitnya berbunyi. Della bergegas melangkah ke pintu masuk. Di lihatnya wajah Erik muncul ke monitor LCD yang tertempel di dinding.


Pintu di buka Della dari dalam." Silahkan masuk." Ucapnya mempersilahkan.


Erik tersenyum" Selamat pagi ! Kamu sudah sarapan?" Pria ini melangkah menuju meja makan.


"Aku baru saja ingin sarapan, apa kamu juga belum sarapan? Atau ingin ku buatkan sesuatu." Della menarik kursi untuknya duduk.


"Aku membeli sarapan tadi, mari kita makan sama-sama." Erik meletakkan dua kotak bubur ayam di atas meja.


Mata Della berbinar, tak habis pikir Erik tahu dirinya suka bubur ayam." Terimakasih ! Kamu tahu saja jika aku suka bubur ayam."ucapnya sumringah.

__ADS_1


Erik tertawa pelan, " Aku juga tahu apa yang tidak kamu sukai." Menatap lekat pada manik mata Della.


Della tertegun sesaat lalu kemudian tersenyum," Sebanyak apa kamu tahu diri ku ?" Tanyanya sambil menyuap bubur itu ke mulutnya.


Erik mengangkat pandangannya." Sebanyak yang ingin kamu tahu." Tak butuh lama untuk Erik mengetahui apa yang Della suka dan tidak disukainya.


Della mengangguk dan meneruskan sarapannya, tak di ragukan lagi Erik memang mengenal dirinya sangat banyak. Apa Erik benar mengutamakan nya waktu dahulu ? Hingga, pria ini banyak tahu tentangnya. Tanpa Della sadari lengkungan tipis menghiasai bibir Erik.


Usai sarapan Erik berniat mengantarkan Della ke kantornya. Ia sengaja berangkat pagi agar bisa mampir ke apartemen Della. Mulai hari ini dirinya dan Zevin tidak lagi satu mobil kecuali ada pertemuan penting. Suami Nazia membebaskan Erik agar bisa berjalan sendiri mengatur urusan pribadinya. Zevin sangat senang kini Erik tidak terlalu dingin seperti sebelumnya.


"Harusnya kamu tidak perlu repot-repot mengantar ku."


"Aku tidak repot, waktuku masih banyak yang luang. Kak Zevin juga tidak keberatan kami berangkat masing-masing." Balas Erik tengah fokus mengemudi.


"Maaf, tadi malam belanjaan ku dibayar oleh Kak, Zi. Menggunakan kartu mu."


"Tidak masalah benar kata kak, Zev. Bayi-bayiku sudah membesar dalam kartu itu. Mereka harus di kosongkan sedikit agar tidak sempit." Canda Erik.


Berkendara empat puluh lima menit, mobil Erik tiba di depan kantor tempat Della bekerja. Mereka turun bersamaan karena Erik akan memperkenalkan Della pada Dias terlebih dulu. Namun, sebelum melangkah masuk. Mobil Dias juga baru tiba. Pria itu melangkah sambil tersenyum setelah meminta security memarkirkan mobilnya di basemen kantor.


"Selamat pagi." Sapa Dias menghampiri Erik dan Della. Matanya terfokus pada wanita di samping Erik.


"Kenalkan dia Della, yang aku ceritakan tempo hari. Della ini Dias atasan mu bekerja disini. Dia CEO nya." Erik memperkenalkan Dias dan Della.


"Selamat pagi juga Della. Baiklah mari kita ke ruangan saya." Balas Dias tak fokus.


"Baiklah pak Dias."


Tak mau melepaskan Della begitu saja, Erik juga ikut mengantarkan wanita itu sampai ke ruangan nya.


"Kamu posesif sekali."


"Aku hanya waspada pada makhluk seperti mu." Balas Erik juga berbisik.


Dias tertawa tak bersuara lucu juga pikirnya si Erik. Entah apa hubungan mereka berdua hingga Erik begitu perduli. Mereka menaiki lift agar cepat sampai ke ruangan Dias. Para pegawai kantor mulai berdatangan termasuk Maura yang telah datang lebih awal.


"Della, sebelum ke ruangan mu. Saya kenalkan dulu kamu pada sekretaris saya." Ujar Dias menghentikan langkah nya.


"Baik, Pa."


Erik berhenti melangkah, ia merasa sedikit tak nyaman pada Maura karena wanita itu pasti tahu jika Erik selama ini tidak pernah dekat dengan wanita dan hari ini tiba-tiba Dias memperkenalkan Della yang datang bersama dengan nya. Hati Erik sedikit resah, bagaimana perasaan Maura nanti nya?


"Bagaimana, Rik. Kamu setuju?" Dias melirik Erik di sebelah Della.

__ADS_1


"Ya, itu lebih baik agar Della memiliki teman wanita disini" tutur Erik menepis perasaan tak nyamannya.


Mereka bertiga melanjutkan langkah melewati ruangan tempat Della bekerja. Di meja tak jauh dari ruangan yang bertuliskan CEO. Maura duduk tengah fokus pada tablet di tangannya. Wanita berambut panjang ini selalu tampil cantik meski mengenakan pakaian tertutup.


"Maura..."


Maura mengangkat wajah nya mendengar namanya di sebut. "Selamat pagi pak, Di—"


Tubuh Maura mematung, lidahnya kaku untuk meneruskan kata-kata nya. Matanya menatap tak berkedip melihat wanita di samping Erik.


"Maura, kamu kenapa?" Dias bertanya melihat raut keterkejutan Maura. Begitu juga dengan Della dan Erik terheran melihat reaksi Maura saat melihat Della


Tiba-tiba Maura merasa lemas dan gemetar, pendengarannya mulai tuli dan penglihatannya buram. Ia tak kuasa menjawab, namun matanya berkaca-kaca.


Maura jatuh terkulai di lantai tak sadarkan diri. Dias dan Erik bersamaan menghampiri Maura. Della masih berdiri di tempatnya dengan perasaan yang tak dimengertinya. Ia juga merasakan kepalanya sedikit berdenyut saat melihat wajah Maura.


"Maura bangun, kamu kenapa?" Dias memangku kepala Maura sembari menepuk pipinya pelan.


"Kita bawa keruangan mu saja." Erik mengambil alih menggendong tubuh Maura.


"Iya, akan aku hubungi dokter." Dias merogoh saku celananya sambil mengikuti langkah Erik.


Della mengikuti dua laki-laki itu, hingga ke kamar pribadi Dias. Dengan sigap Della mengatur bantal di atas kasur. Erik meletakkan tubuh lemah Maura dengan sangat hati-hati.


Tak segan dia juga melepaskan sepatu Maura. Semua itu tak lepas dari perhatian Della dan Dias. Erik merasa cemas apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Maura begitu terkejut melihat Della? Apa Erik telah menyakiti hatinya lagi ? Namun, Erik tidak melakukan apa pun di depan Maura yang bisa membuatnya terluka. Apa karena kedatangan dirinya dan Della ? Sedalam itukah luka yang ditorehkan Erik atas penolakannya pada Maura ?


Erik terdiam dengan ragam macam pikiran yang mengusik dirinya. Begitu juga dengan Dias dan Della. Pria itu tersadar saat melirik Della berdiri di sampingnya dengan bibir sedikit pucat.


"Kamu sakit ? "


"Tidak Pak Dias, saya baik-baik saja. Mungkin hanya terkejut." Balas Della.


"Duduk lah." Erik menuntun Della duduk di sofa.


Dias keluar dari kamar itu dan mengambil minuman manis di dalam kulkas nya lalu memberikannya pada Della.


"Minum lah." Ucapnya membuka tutup botol itu.


"Terimakasih pak Dias"


"Apa dokternya masih lama ?" Tanya Erik.


"Sebentar lagi."

__ADS_1


Erik mendesah pelan nampak sekali jika pria ini sangat khawatir.


__ADS_2