Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Cinta Pertama nya


__ADS_3

Makan siang Della dan Maura benar penuh cerita tentang kehidupan keduanya. Hingga mereka tak menyadari jika dua pria sedang mendengarkan cerita mereka dari seberang meja.


"Wah lihatlah, Dias. Kekasih mu dan pencuri ini makan siang tanpa kita !" Sinis Erik mengejutkan dua wanita ini.


"Kalian !!" Pekik Della. Menerima kecupan singkat dari Dias. "Aku sudah memesan makanan untuk mu. Apa belum sampai" lanjut Della.


"Sudah, tapi belum aku makan." Jawab Dias tersenyum. Mengusap pelan pucuk kepala kekasihnya itu.


Della tersenyum malu atas perlakuan Dias padanya di hadapan Erik dan Maura. "Akan ku pesankan lagi." Serunya dengan wajah memerah. Di balas anggukan dari Dias.


Sementara itu, Erik tanpa ijin sudah menyeruput jus milik Maura hingga tandas. "Itu minuman ku !" Pekik Maura.


"Pesan lagi." Titah Erik santai. "Aku juga belum makan siang ! Itu salah mu membiarkan aku kelaparan." Ucapnya tersenyum sinis.


Maura tak ingin berdebat kemudian memesan makan siang untuk Erik. Dua pria ini, rupanya dengan sengaja mengikuti Della dan Maura.


Usai makan siang mereka kembali ke kantor, Della ikut bersama Dias lalu Maura bersama Erik. Pria ini selalu punya cara agar Maura ikut dengannya, rupanya ilmu dari Zevin ia praktekkan semua. Andai Nazia tahu apa kabar suami manja itu ? Sudah memberikan ide aneh untuk Erik.


Di perjalanan dua mobil dengan satu arah ini berbeda suasana. Jika di mobil Dias sedang dipenuhi bunga-bunga asmara. Maka, di mobil Erik suasana cukup sepi menyela dua insan di dalamnya.


"Sejak kapan kalian datang ke sana ?" Tanya Maura dengan tatapan lurus ke depannya. Rasanya ingin sekali menghadiahkan jitakkan cantik di kepala pria dingin ini karena telah lancang mengikuti dirinya dan Della.


Erik tersenyum. "Sejak kalian bicara tentang  hubungan double D itu." Jawabnya sambil menoleh pada Maura. Secara tidak langsung ia mengakui jika telah menguping.


"Kamu tahu semuanya ?" Giliran Maura menoleh pada Erik yang fokus mengemudi.

__ADS_1


"Iya, aku tahu semua nya." Jawab Erik. "Aku juga ikut bahagia untuk mereka." Sambungnya lagi. Membalas tatapan Maura.


"Sejak kapan ?" Tanya Maura lagi. Rasanya tidak adil saja dirinya baru tahu sekarang. Dan mereka merahasiakan darinya.


"Sejak menjemput Della pagi di rumah mu, lalu sorenya Della di culik." Jawab Erik  melirik pada Maura. "Jangan marah padanya, sebenarnya Della sudah lama ingin memberitahu mu, tapi waktu bicara berdua dengan mu tidak memiliki banyak waktu." Papar Erik lagi. Lalu menceritakan tentang hari itu


...----------------...


Kilas Balik...


Setelah Maura menemui Erik malam harinya, untuk menceritakan tentang kisah sesungguhnya. Pagi ini pria dingin itu bersiap menjemput Della ke rumah Maura. Setiba disana, Erik tidak berniat turun, ia hanya memperhatikan Maura dari dalam mobil. Sudut bibirnya tertarik melihat Muara yang telah bersiap menunggangi motor besar milik Dias. Tidak disangka saja tubuhnya sedikit kecil dari Della mampu mengendarai motor itu.


Senyum Erik menghilang setelah Della masuk ke dalam mobil, lalu mereka sama-sama meninggalkan pekarangan rumah milik Maura. Dengan posisi sekretaris cantik itu di depan mobil mereka.


"Maaf." Ucap Della memecah keheningan mereka berdua. Ia juga melihat tatapan Erik yang tertuju pada Maura di luar.


"Maura menemui mu ?" Tanya Della tak percaya. Ia setengah terkejut perginya Maura tadi malam adalah menemui Erik.


"Ya" jawab Erik singkat. Wajah datar itu hanya fokus ke depannya. Suasana kembali terdiam, Hingga mobil dijalankan kembali setelah berhenti di lampu merah.


Della terkejut saat Erik mengatakan jika Maura menemuinya untuk meluruskan cerita dimasa lalu. Ia tak menyangka Maura melakukan itu.


"Maaf. Semua kesalahan ini berasal dari ku." Ucapnya menatap lurus ke depan.


"Kenapa kamu tidak pernah menyebutkan nama Maura disetiap kita bertemu ?" Tanya Erik penasaran. Akhirnya rasa penasaran itu tidak mampu lagi ia tampung.

__ADS_1


Della menghela nafas panjang sebelum bercerita. "Dulu aku dikucilkan sejak SMP karena terlahir dari ibu yang bisu dan korban pelecehan, sementara ayah biologis ku tidak mengakui aku anaknya saat masih di dalam kandungan." Papar Della menitikkan air mata, mengingat kisah bagaimana perjuangan sang ibu menunjuk pelaku pelecehan itu pada pak Andi. "Saat itu Maura datang menawarkan pertemanan padaku, tubuhnya yang gemuk begitu lucu di mataku, dia baik hati selalu membela ku jika ada yang mengganggu." Della semakin terisak mengingat persahabatannya dengan Maura. "Awalnya, dia meminta bantuan pada ku untuk berkenalan dengan mu. Aku berjanji membantunya untuk berkenalan dengan mu. Tapi aku mengingkari janji ku itu, aku sengaja tidak menyebutkan namanya disaat kita bertemu, karena aku takut kamu tidak ingin lagi berteman dengan ku." Paparnya menoleh ke arah Erik yang diam mendengarkan ceritanya. "Kamu adalah pria pertama yang mau berteman dengan ku. Karena itulah aku takut kehilangan mu, lambat laun perasaan cinta hadir begitu saja di hati ini, kemudian aku juga merasa iri dengan Maura yang berubah total. Aku pikir dengan kecantikan yang dia miliki, Maura bisa mendapatkan pria lebih tampan dari mu. Itulah alasan ku tidak menyebutkan namanya." Della tertunduk mengusap air matanya.


Erik tersenyum masam lalu berkata. "Cinta atau obsesi hanya kamu yang tahu. Sama halnya padaku, cinta dan rasa kagum hanya aku yang bisa membedakannya. Seperti dulu... Aku menyukai mu, karena ku pikir kamu adalah wanita yang paling memahami ku." Tutur Erik menoleh sejenak pada Della. Sebenarnya ia kecewa atas sikap Della.


"Bukan aku tapi Maura. Dia yang selalu memahami mu, aku hanya tangan ke dua. Dia selalu menanyakan kabar mu, kesehatan mu. Sudah makan apa belum. Apa saja yang dibutuhkan oleh mu saat bekerja. Maura memperhatikan hal terkecil hingga yang besar tentang mu." Sahut Della.


"Tapi aku pernah menolaknya." Lirih Erik pelan. Jika mengingat hal itu dadanya tiba-tiba sesak.


Della tersenyum. "Jangan pikirkan  yang dulu, wajar saja kamu menolaknya karena kamu tidak memilik perasaan apa pun. Kalian juga baru bertemu di Jaya Group. Disini posisinya kamu tidak mengenal Maura." paparnya lembut. Della menoleh lagi pada Erik dan berkata. "Sekarang aku bisa melihat ada perasaan dari mu untuknya. Kamu adalah cinta pertama Maura meski cinta itu tidak pernah mendapatkan balasannya. Sebelum terlambat kejarlah dia, karena Maura sudah menguburkan cintanya itu sejak lama."


Erik menggeleng. "Tidak...tidak boleh. Maura tidak boleh mengubur perasaannya." Ia seolah tak terima dengan penuturan Della.


"Maka dari itu, tumbuhkan lagi perasaannya. Bahagiakan dia..." Ucap Della tersenyum. "Karena aku sudah bahagia, mulai hari ini lepaslah tanggung jawab mu padaku. Karena ada orang lain yang akan menggantikannya. Urusan dengan keluarga ku, biar aku saja yang mengatasinya. Karena sejauh ini mereka juga tidak menganggap apa pun tentang kita." Tuturnya lagi.


"Terimakasih, bila ada kesempatan aku akan mengunjungi om Andi dan pak Joni. Meluruskan semuanya, aku takut mereka berharap lebih pada kita." Ucap Erik.


"Iya, terimakasih atas semuanya. Berkat mu aku bisa bertemu dengan keluarga kandungku. Sekarang fokuslah pada Maura. Karena aku akan memiliki waktu sedikit untuknya, Dias selalu memonopoli ku." Ujar Della sekaligus memberitahu  hubungannya dan Dias.


Kilas Balik Selesai


...----------------...


"Kamu marah ? " Tanya Erik karena Maura hanya diam saja.


"Aku tidak marah." Sahut Maura pendek. Walau sebenarnya kesal

__ADS_1


Erik terkekeh dirinya pelaku membuat Maura tak memiliki waktu yang banyak bersama Della. Mobil yang di kendarai Erik tiba di halaman kantor Maura. Setelah menurunkan sekretaris cantik ini. Erik segera memutar kemudi menuju kantornya.


__ADS_2