
Pagi menjemput kembali, namun ada yang berbeda hari ini. Cuaca begitu mendung. Tak secerah hari kemarin, alam seakan tahu isi hati Maura yang tengah bersedih. Hingga alam pun ikut merasakannya.
Beberapa menit kemudian air hujan mulai berjatuhan membasahi bumi. Pantulan air mengenai jendela kamar Maura begitu ramai, menandakan jika hujan itu sangat lebat. Titik-titik air hujan jatuh di atas rerumputan nampak indah sekali di pandang mata.
Maura terpaku pada keindahan itu meski tanpa senyuman. Ia masih betah menyaksikan turunnya hujan berharap setelah ini perasaannya kembali membaik. Mencintai sendiri itu memang sakit, itulah di rasakan Maura.
"Kamu belum siap ?" Suara ibu Sila meruntuhkan kaca lamunan putrinya.
"Sudah Ma. Masih menunggu taksi datang." Balas Maura menyentuh tangan sang ibu di pundaknya.
Ibu Sila berdiri ikut memandang ke luar jendela kamar. Melihat indahnya berkah Tuhan pagi ini. Tangan beliau terulur mengurai rambut panjang Maura yang terikat satu di belakang.
" Akhir-akhir ini, mama perhatikan. Kamu banyak berdiam diri, ada apa sayang ?" Tanya ibu Sila lembut.
Maura mengalihkan pandangannya untuk menghadap sang ibu. Senyum manis terbit di bibirnya. "Tidak ada hal serius, Ma. " Jawabnya pendek.
Ibu Sila berpindah duduk di samping Maura lalu menoleh ke arahnya. " Apa karena Della tidak bisa mengingat mu?" Tebak sang ibu. " Jangan sedih, Nak ! Nanti Della juga ingat kembali asal jangan memaksanya. Mungkin dia juga tersiksa dengan keadaannya sekarang, pasti ada rindu di dalam hati Della tentang masa lalunya." Tutur ibu Sila.
Maura merebahkan kepalanya di pundak sang ibu. Memejamkan mata sejenak merasakan lembutnya kasih sayang seorang ibu.
...----------------...
Apartemen
Tak jauh berbeda dengan Maura, hal sama juga di rasakan Della. Wanita itu berdiri di depan kaca jendela kamarnya menatap dari ketinggian unitnya menyaksikan pantulan hujan menjatuhi atap bangunan sekitar yang lebih rendah dari bangunan apartemen. Kilauan hujan jatuh di atas atap sangat cantik bak permata. Air suci dan bersih itu berkat Tuhan sangat nyata dirasakan manusia.
Dalam lubuk hati Della sangat ingin mengingat masa lalu yang terlupakan selama tiga tahun belakangan ini. Ia ingin tahu apa saja yang telah dilalui dirinya bersama Maura dan Erik. Hampir satu jam mematung di depan jendela, Della di kejutkan dengan suara bel unitnya. Ia bergegas keluar dari dalam kamar untuk membuka pintu. Ia melihat Erik melalui monitor Lcd,
Della kemudian menarik daun pintu.
"Silahkan masuk ." Ucapnya mempersilahkan Erik masuk ke dalam.
"Ayo berangkat ."
"Harusnya kamu tidak perlu menjemput ku. Nanti pekerjaan mu terbengkalai." Della melangkah ke kamar mengambil tas.
Erik hanya diam tanpa bicara lagi, ia terfokus pada ponsel di tangannya. Karena baru saja Zevin mengirimnya pesan agar langsung menuju tempat mereka bertemu klien.
Della dan Erik meninggalkan apartemen, mereka saling diam memperhatikan jalanan yang masih di guyur hujan. Setiba depan kantor bertepatan dengan Maura juga baru tiba. Wanita itu tengah membayar taksi yang di tumpanginya.
"Maura " panggil Della setengah berlari kecil menghampiri Maura.
"Della kamu juga baru datang ? Ayo kita masuk."
"Ayo." Della mengapit tangan Maura. Dua wanita ini tersenyum riang saat bertemu. Sepertinya Maura benar jika mereka memang bersahabat.
Dari dalam mobil, Erik memperhatikan interaksi Della dan Maura. Hati Erik ter-cubit dengan keberadaan mereka berdua. Rasa apa ini yang hinggap di hatinya ? Tak ingin berlama-lama ia meninggalkan halaman kantor segera mengendarai mobil menuju tempat janji temu.
Volume hujan mulai berkurang. Erik tiba di resto milik Vian. Di sana Zevin telah menunggu sambil menggenggam ponselnya. Rupanya pria itu masih menjadi budak cinta meski pun telah memiliki putra.
Baru saja meninggalkan rumah Zevin sudah mengucap rindu yang banyak pada istrinya. Derasnya hujan tadi pagi membuat beberapa pasangan berhenti di resto milik Vian menghabiskan waktu bersama sembari menghangatkan perut. Hal itu membuat Zevin sedikit iri. Karena waktu yang dimilikinya tidak banyak seperti dulu untuk menempel pada istrinya.
"Sayang, aku merindukan mu. Andai tiap hari kamu bisa ikut aku ke kantor." Zevin sedikit merengek memohon di telpon.
__ADS_1
"Mana bisa seperti itu, aku juga bekerja. Nanti di rumah kita bertemu ."
"Sayang... Aku rindu. Zayyan pasti menempel pada mu jika sudah di rumah." Lagi-lagi kata itu yang di ucapkan Zevin. Benar saja jika putranya itu bangun maka, ia akan terkalahkan dengan Zayyan.
Nazia menghela nafas panjang. " Aku akan ke kantor mu setelah jam kerja ku selesai." Putus nya tak tega pada suaminya yang manja itu.
"Benarkah ?! Terimakasih sayang ku." Pekik Zevin girang. Wajahnya sudah bahagia tak sabar rasanya agar jam cepat berputar.
"Iya, sekarang aku akan ke ruang kebidanan. Aku tutup telponnya ya."
"Iya Cinta, di sini juga Erik sudah ber-kukus mendengarkan pembicaraan kita. Semangat bekerja sayang ." Zevin memutuskan telpon lalu melirik pada Erik yang memandangnya kesal.
"Aku tidak hanya ber-kukus, tapi juga sudah empuk. Tinggal di makan !" Gerutu Erik. Karena buru-buru menemui Zevin ternyata klien mereka belum tiba. Malah mendengarkan rengekan manja dari Zevin tentang kerinduan nya.
Suami Nazia ini tertawa senang melihat Erik kesal. "Harusnya kamu juga menelpon kekasih mu, bukan mendengarkan siaran langsung ucapan rindu ku pada, Zi." Tutur Zevin tersenyum.
Erik menghembus nafas kasar." Aku tidak memiliki kekasih !" Ucapnya datar.
Zevin beralih menghadap Erik dan berkata.
"Della kamu anggap apa ?"
Erik juga merubah posisi duduknya.
" Aku tidak memintanya menjadi kekasih ku. Sampai saat ini kami masih berteman."
Zevin berubah serius jika membahas perasaan wanita yang sensitif. " Bukankah ? kamu sedang menunjukkan perasaan mu pada nya. Jangan sampai rasa yang kamu tunjukkan itu disalah artikan Della. Perlihatkan perasaan mu padanya dengan benar."
"Aku mengerti, Kak. "
"Maaf saya terlambat." Wanita itu mengulurkan tangannya pada Erik dan Zevin. Namun sayangnya, Zevin tak membalas uluran tangan itu, dirinya hanya mengangguk dan mempersilakan wanita itu duduk.
Wanita itu berdecak kesal. Benar rumor yang beredar jika pemiliki Jaya Group itu memang tak bisa didekati dengan muda. Terbukti wajah datar Zevin ditunjukkan di meja itu.
"Silahkan, Presentasikan bahan yang anda bawa untuk mengajukan kerja sama pada kami." Erik mempersilahkan tanpa ingin membuang waktu lagi.
"Baiklah, besar harapan saya agar tuan, Zev. Mau menerima nya." Wanita itu melirik sejenak pada Zevin yang tengah melihat salinan dokumen itu.
Menghabiskan waktu dua puluh menit. Wanita itu selesai mempresentasikannya. Ia meremas jarinya sendiri karena cemas mendengar tanggapan Zevin selanjutnya. Cukup lama terdiam akhirnya suami Nazia angkat bicara.
"Bahan yang anda sodorkan kurang cukup memenuhi syarat untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan kami. Terutama bahan materialnya di bawah standar dari yang kami biasa gunakan. Saya tidak mau terjadi kegagalan dalam setiap proyek yang di kerjakan hanya karena kesalahan sepele." Jelas Zevin santai tanpa menatap lawan bicara nya hanya tangannya yang sibuk melingkari tulisan di atas kertas yang dibacanya itu.
Wanita itu bersedih." Satu kali kesempatan tuan. Saya jamin semuanya akan berjalan sukses. Dan lihatlah saya memakai parfum, produk terbaru yang perusahaan anda luncurkan." Bujuknya tak mau patah semangat sembari mengeluarkan botol parfum berlabel perusahaan jaya Group.
"Maaf, kami menolak bekerja sama dengan perusahaan anda. Bukan hanya karena material di bawah standar Jaya Group saja jadi masalahnya. Tapi lihat denah bangunan ini sangat tidak menarik. Perbaiki dulu baru ajukan lagi." Seru Erik tegas.
Wanita itu menatap nanar dokumen di hadapannya. Padahal ia bersusah payah merombaknya agar di lirik Zevin. Wanita ini mengajukan kerja sama untuk membangun apartemen di salah satu kota. Namun sayangnya material yang mereka gunakan tak sesuai standar milik Jaya Group. Bahkan denah bangunannya saja tak membuat Erik atau Zevin berminat.
Erik tidak mau ketika nanti semua berjalan, hasilnya tidak memuaskan dan akan mempermalukan perusahaan Jaya Group.
...----------------...
Kantor Jewelry Corporation
__ADS_1
Karyawannya mulai bekerja dengan medianya masing-masing. Cuaca masih dingin karena hujan menyisakan gerimis. Hawanya semakin menusuk di kulit di tambah lagi dengan AC ruangan. Beberapa kali Della menggosokkan telapak tangannya sendiri untuk mengurangi kaku jemarinya.
Della berinisiatif membuat teh hangat di pantri untuk dirinya. Tak ingin meminta pada OB Della berangkat sendiri untuk membuat teh. Tak di sangka di sana juga ada Maura.
"Kamu di sini ?" Della menyentuh pundak Maura saat mengaduk teh.
"Iya, pak Dias meminta ku membuatkan teh. Kamu juga mau ? Biar ku buat juga." Maura meraih satu gelas kosong lagi.
"Aku sendiri saja. " Tolak Della. Tak ingin Dias menunggu lama di ruangannya karena Maura juga membuat teh untuknya.
"Baiklah, kalau begitu aku duluan ya." Pamit Maura membawa dua cangkir teh.
Della tersenyum mengangguk. Ia memulai membuat tehnya sendiri, saat tengah mengaduk gula dari arah belakang tiba-tiba ada dua wanita pegawai kantor.
"Hei kamu ! Buatkan aku kopi." Titah dua wanita itu berpangku tangan menatap sinis pada Della.
Della tak menoleh pada dua wanita di sampingnya itu. Ia hanya diam tidak menjawab. Ia bukan wanita mudah ditindas. Della tidak suka orang memerintahnya layaknya bos. Bahkan Dias saja penuh sopan santun menyuruhnya.
"Kamu tidak mendengar ku ?! "Bentak wanita itu lagi.
"Apa tangan mu tidak berfungsi ?"jawab Della datar. Wanita itu mengeram kesal lalu meraih gelas dan membuat tehnya sendiri.
Tanpa mereka sadari jika Dias berdiri di ambang pintu. Kedatangan nya ke pantri untuk membuat teh lagi. Karena teh miliknya yang di buat Maura tak sengaja disenggol tangannya sendiri.
"Apa saya pernah mengajarkan kalian untuk bersikap tidak sopan pada sesama pegawai ?" Suara Dias mengejutkan Della dan dua wanita tadi.
"Pak Dias" Della mundur selangkah kebelakang membiarkan Dias berdiri menghadap dua wanita tadi.
"Apa yang kalian lakukan ?! Apa seperti ini bersikap sebagai wanita. Jika kondisi kalian sehat tak seharusnya memerintah orang lain, kalian sendiri masih bisa melakukannya. Kejadian ini jangan sampai terulang lagi. Kantor ini memberikan kalian kebebasan untuk membuat makanan atau minuman di pantri ini. Bukan memberikan kalian kebebasan untuk memperlakukan orang tidak baik." Ceramah Dias panjang lebar.
Dua wanita itu saling meremas jari. Keringat dingin terlihat di kening mereka, wajah galak tadi tenggelam dalam ketakutan. Menunduk malu tak berani menatap Dias maupun Della.
"Maafkan kami Della. Kami berjanji tidak mengulanginya lagi." Mereka berdua meminta maaf tanpa di minta.
"Iya."
"Kami juga minta maaf pada Anda Pak Dias karena tidak berlaku sopan." Ucap mereka lagi.
Dias tersenyum tipis." Kalian bisa kembali bekerja jika sudah selesai membuat tehnya."
Dua wanita itu mengangguk. Setelah membuat teh, mereka keluar dari pantri meninggalkan Della dan Dias.
" Anda ada perlu apa, Pak ?" Tanya Della tak enak hati jika langsung meninggalkan Dias selaku atasannya di kantor itu.
Dias kembali berdebar hanya mendengar namanya di sebutkan " Saya mau membuat teh, tadi tehnya tak sengaja tumpah." Tersenyum canggung pada Della.
"Kalau begitu saya akan buatkan." Della meraih gelas bersih di rak nya.
"Apa tidak merepotkan mu?" Pertanyaan Dias menghentikan pergerakan Della yang membuka tutup toples gula.
Della menghadap pada Dias dan meletakkan toples gula yang telah dibukanya dan berkata.
"Saya juga karyawan, Pak. Jadi bapak bisa meminta bantuan saya jika memerlukan sesuatu di kantor ini."
__ADS_1
Dias tersenyum dan menghembus nafasnya kasar. Ia semakin tak mengerti kenapa di depan Della ia seakan mati kutu ? Pesona Della telah merenggut sebagian fokus Dias.