
Tiga Hari Kemudian...
Erik semakin lesu, masih sampai saat ini kekasihnya belum juga ada kabar berita. Orang-orang suruhannya mulai kelelahan mencari Maura, namun sampai saat ini belum juga ada petunjuk dimana keberadaannya. Erik semakin kalut, apakah kekasihnya itu hidup atau mati, ia belum tahu.
Sudah tiga hari semenjak hilangnya Maura, keadaan Erik semakin tidak karuan. Makan dan tidurnya sudah tidak beraturan lagi. Setiap hari ia selalu mengunjungi apartemen Maura berharap kekasihnya itu ada disana. Della dan yang lainnya pun ikut bersedih karena hilangnya Maura.
"Makan siang dulu, Kak." Haris meletakkan makanan di atas meja di dalam ruangan direktur.
"Taruh saja di situ, nanti jika lapar aku akan memakannya." Erik masih menunduk membaca berkas di tangannya. Sambil sesekali mengecek ponselnya siapa tahu ada kabar dari para detektif.
"Iya, aku permisi." Pamit Haris keluar dari ruangan itu.
Erik menatap nanar makanan yang ada di dalam piring, hatinya sakit jika mengingat saat ini jam makan siang. Apakah Maura sudah makan siang? Pertanyaan itu muncul di kepalanya. Erik memilih mengacuhkan makanannya dan kembali bekerja.
Selama tiga hari ini belum ada telpon tebusan atau nego yang datang pada Erik atau Zevin. Hal sama juga tidak terjadi pada Dias atau Jo. Sore ini Erik berencana akan pergi ke unit kekasihnya lagi.
...----------------...
Erik mengitari isi apartemen kekasihnya itu berharap ada sesuatu yang memberinya petunjuk. Sayang sekali harapan itu tidak ada. Erik duduk di sofa mengusap wajahnya kasar, nampak sekali keputusasaannya. Tapi Erik tidak ingin menyerah begitu saja. Dirinya yakin bisa menemukan Maura.
"Kamu di mana sayang ? Apa kamu baik-baik saja ? Aku merindukan mu..." Lirihnya membuka folder foto kekasihnya di ponsel.
Daun pintu diketuk dari luar, setengah malas Erik berdiri dan membukanya.
"Kalian..." Ucapnya mempersilahkan Dias, Della dan Jo untuk masuk.
"Belum ada kabar ?" Tanya Dias sambil mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Sementara Della langsung ke dapur menaruh beberapa camilan dan membuat minuman untuk mereka.
Erik menggeleng lemah. "Belum, sepertinya penculik ini memang bukan orang sembarangan. Tidak ada telpon minta tebusan atau nego, artinya penculik ini tidak membutuhkan itu semua. " Paparnya serius.
"Aku sependapat pada mu, coba kita putar lagi cctv-nya. Siapa tahu ada yang terlewati." Seru Jo dari seberang sofa.
"Baiklah." Dias mengeluarkan laptop dan menghidupkannya. Dia dan Jo selalu mendampingi Erik untuk menghadapi permasalahan ini.
__ADS_1
"Kalian minumlah, Erik kamu harus banyak makan agar tenaga mu banyak. Jangan mengabaikan kesehatan mu, karena Maura membutuhkan mu saat ini." Seru Della sambil melangkah menghampiri mereka membawa nampan air dan beberapa makanan.
Erik hanya mengangguk. Benar apa yang dikatakan Della, dirinya harus sehat untuk menemukan Maura. Della melirik ke arah laptop yang menampilkan rekaman CCVT.
"Stop ! Sayang, besarkan bagian itu." Tunjuk Della pada gambar mobil di seberang jalan. Ia mengamatinya dengan teliti. Mobil itu hanya terlihat dari samping saja. "Erik, mobil ini sama persis dengan mobil yang menculik ku dulu." Ucapnya menoleh pada Erik.
"Apa ?" Erik mendekat dan mengamatinya juga. Dias dan Jo pun melakukan hal yang sama. "Kamu benar, mobil ini hampir mirip hanya saja platnya tidak terlihat." Tutur Erik lagi.
"Tapi mobil seperti ini banyak sayang, mungkin untuk para penculiknya mudah menggunakan mobil seperti ini." Seru Dias menoleh pada Della.
"Dias benar, mobil yang sama banyak." Timpal Jo lagi melihat pada teman-temannya itu.
Erik mendesah pelan, lagi-lagi harapan itu buntu. Ia menyadarkan tubuhnya ke dinding sofa. "Selain kita, apa Maura memiliki teman dekat lagi ?" Pertanyaan Erik tertuju pada Della.
"Dia memiliki teman banyak. Tapi untuk yang dekat hanya kita." Jawab Della memberikan gelas pada Dias.
"Huffh...kemana lagi aku mencari nya ?" Erik mengusap wajahnya lagi.
Pintu kembali terketuk dari luar. Della bergegas membuka pintu namun sebelumnya, ia mengintip lebih dulu. Rupanya pengantar pesanan
"Kamu benar, Dell ! Sepertinya malam ini kita menginap saja di sini. Kita cari sama-sama." Seru Jo meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Baiklah. Kalian bisa ambil baju ganti di kamar unit ku." Sahut Erik mencoba ikut makan.
"Kami bawa baju ganti, sebenarnya kami sudah merencanakan ini sejak pagi tadi." Papar Dias tersenyum.
Usai makan malam, mereka tidak langsung mandi. Menunggu beberapa menit selesai makan, karena seharusnya mandi dulu baru makan. Mereka kembali berkumpul lagi diruang tengah berusaha menemukan petunjuk dari orang-orang yang telah dikerahkan.
Pintu unit Maura di ketuk lagi. Jo berdiri dan membuka pintu. Ia sedikit tersentak melihat security berdiri di depan pintu. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanyanya sopan.
"Ada titipan untuk nomor unit di depan ini, tapi karena pemiliknya tidak ada jadi saya berniat menitipkannya pada calon istrinya." Security itu menyerahkan amplop putih.
"Kebetulan pemilik unit di depan ini ada bersama kami, biar saya yang mengantarnya." Jo menerima amplop itu dengan cepat. Ia berharap itu petunjuk tentang Maura.
__ADS_1
"Baiklah, permisi." Security itu pergi meninggalkan tempat itu.
Jo masuk sambil melihat amplop di tangannya. Ia menyerahkannya pada Erik. "Ini titipan untuk mu." Ucapnya meletakkan amplop itu ke atas meja
Erik menerimanya dengan rasa penasaran bercampur bingung. Apa isi amplop ini ? Dengan rasa berdebar Erik membuka amplop itu, ada selembar kertas di dalamnya. Erik membukanya dengan cepat.
'Jangan cemaskan Maura, dia baik-baik saja. Aku hanya ingin bersamanya, kondisinya sehat meski cerewet ingin pulang. Aku sengaja memberitahu mu lewat surat ini, karena aku yakin kamu sudah mengerahkan orang-orang mencarinya. Aku tidak mau dia cepat kembali, sekali lagi percayalah padaku. Aku tidak akan menyakiti wanita yang aku cintai, cepat atau lambat aku pasti mengembalikannya pada mu'
Tubuh Erik kaku, matanya merah menahan emosinya, tangannya mengepal erat hingga buku tangannya memutih. Bersamaan itu juga dadanya sesak luar biasa, siapa yang mencintai calon istrinya itu ? Bahkan berani menculiknya.
"Jadi dia laki-laki." Seru Dias. Ia juga ikut membaca surat itu.
"Dell, apa kamu tahu ada orang lain yang menyukai Maura ?" Jo mencoba mencari tahu.
"Aku tidak tahu, Jo ! Ya Tuhan kemana dia membawa Maura." Lirih Della bersandar lemah di sofa.
"Aku akan keruangan keamanan untuk melihat siapa yang datang mengantar surat itu." Seru Erik berdiri dan melangkah menuju pintu.
"Aku ikut dengan mu." Susul Jo.
Sampai dibawah, Erik dan Jo langsung menemui petugas penjaga ruangan CCTV. Mereka meminta rekaman siang tadi, sayangnya hanya petugas pos yang terlihat. Rupanya pengirim surat itu sudah tahu akan di lacak keberadaannya, jadi dia memilih mengirimnya melalui kantor pos.
Erik dan Jo kembali ke atas, dengan perasaan kalut. Erik membaca surat itu lagi. Setidaknya dirinya lega kondisi Maura masih hidup dan sehat, namun Erik akan tetap mencari kekasihnya itu sampai ketemu.
"Rik, kamu mau ikut saran ku ?" Jo membawa segelas air putih dingin dan memberikannya pada Erik.
"Apa saran mu ?" Erik menerima gelas dan meminumnya.
"Tarik, orang-orang mu. Hentikan pencarian Maura sementara waktu. Anggap saja kita memberikan kesempatan untuk orang itu. Tapi, kita akan mencari Maura dengan cara diam-diam. Utus saja beberapa orang tiap kota terdekat, karena aku khawatir jika pencarian berskala besar maka orang itu akan semakin menjauh membawa Maura." Jo menjelaskan dengan hati-hati.
"Aku setuju dengan saran, Jo. Inti surat itu dia ingin Maura tinggal bersamanya, kita tidak tahu sampai kapan ? Maka dari itu biarkan dia di atas angin dulu tapi kita tetap mencari Maura." Papar Dias menyetujui.
Erik mengangguk dan berkata. "Aku mengerti saran kalian, baiklah ! Aku akan menarik mundur orang-orang ku dan mengabari kak Alby karena dia juga mengerahkan orang-orangnya. Aku juga akan memberitahukan para detektif tentang surat ini. Setidaknya aku lega Maura baik-baik saja. Aku akan membahas masalah ini dengan kak Zev di kantor besok."
__ADS_1
"Aku juga akan menarik orang-orang ku." Seru Dias kemudian meraih ponselnya.
"Besok kita atur lagi rencana, sekarang istirahat dulu. Kita butuh tenaga dan pikiran tenang untuk mencari Maura." Tutur Jo.