Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
S2. Bisa Membuatku Gila


__ADS_3

Diana cemas menunggu proses operasi adiknya. Suhu udara dingin AC membuat tubuh Diana yang belum pulih sepenuhnya menggigil kedinginan.


Jared tidak bisa menemani Diana. Sementara Giani juga sedang ke sekolah Jordan karena anak itu kembali membuat masalah. Celine berada di dalam menunggu Felly.


"Kenapa lama sekali?" gumam Diana resah.


Sudah hampir 1 jam Felly belum dibawa keluar dari ruang operasi. Diana benar-benar sudah tidak sabar menunggu.


Saat ruang operasi terbuka, Diana seketika berdiri. Dia langsung mendekat ke arah dokter Rea dan beberapa tim dokter yang memang sengaja Ben panggil untuk mengoperasi Felly.


"Dokter, bagaimana kondisi Felly?"


"Sebentar lagi, Felly akan dipindahkan ke ruang perawatan. Operasinya berhasil, tapi untuk mulai jalan, Felly harus melakukan terapi rutin terlebih dahulu."


"Terima kasih, Dokter."


"Sebaiknya kau istirahat, Diana. Tidak perlu mengkhawatirkan Felly. Ku rasa kondisimu lebih mengkhawatirkan."


"Aku baik-baik saja, Dok .... " Diana tak sempat melanjutkan ucapannya karena tubuhnya tiba-tiba tumbang. Dokter Rea terkejut. Beruntung refleknya bagus dia bisa menahan kepala Diana sehingga kepala gadis itu tidak terantuk kursi.


Salah seorang pria tim medis yang tadi membantu proses operasi Felly akhirnya membantu dokter Rea mengangkat Diana. Dia membawa Diana ke ruang pemeriksaan. Dokter Rea segera mengecek kondisi Diana. Diana kemarin menolak untuk pengecekan darah, tapi sekarang dokter Rea terpaksa harus mengambil sampel darah Diana, dia harus memastikan kondisi gadis itu.


Tekanan darah Diana cukup rendah, Dokter Rea kembali memasang infus di tangan Diana. Ponsel Diana bergetar, Dokter Rea yang tadi memungut ponsel itu menatap layar yang menyala-nyala tanda panggilan masuk. Dengan ragu dokter Rea menggeser layar ponsel itu.


"Ha_halo."

__ADS_1


"Di mana Diana? Kenapa anda yang menjawab ponselnya?"


"Diana pingsan lagi, Jared. Dia sekarang masih belum sadarkan diri."


"APA?"


"Tekanan darahnya sangat rendah."


"Aku akan segera pulang, Dok. Tolong jaga dia sampai aku datang."


"Aku pasti akan menjaganya, Jared."


Jared langsung mematikan ponselnya. Jared segera membereskan pekerjaannya dan membawanya pulang. Dia tak mau dianggap menyepelekan kepercayaan yang telah diberikan oleh ayahnya.


"Tuan muda .... "


"Aku harus pulang, Rocky, tapi kau tenang saja. Berkas kemarin akan aku bawa pulang."


"Apa anda perlu ku antar?"


"Tidak usah. Jika kau mengantarku itu akan memakan waktu."


"Baiklah, berhati-hatilah dalam berkendara, Tuan muda."


"Itu pasti."

__ADS_1


Jared segera pergi. Dia sungguh sangat cemas dengan kondisi Diana saat ini. Seharusnya tadi dia menemani Diana. Jared jadi menyesal setelah mendengar kabar Diana pingsan.


Diana membuka matanya, dahinya mengernyit karena kepalanya terasa berputar. Gadis itu melenguh, Dokter Rea yang duduk tak jauh dari ranjang segera mendekati Diana.


"Sudah aku bilang sebaiknya tadi kau istirahat, tidak perlu memaksakan diri menunggu adikmu."


"Aku tidak bisa tenang jika tidak menunggunya, Dok."


"Tapi gara-gara itu kondisimu lagi-lagi drop."


"Maaf, Dokter."


"Kau tidak salah, hanya saja jika kau sering begini itu akan merusak organ tubuhmu yang lain, bahkan bisa saja berakibat fatal, Di."


Pintu ruang perawatan Diana terbuka. Jared menatap Diana dengan raut wajah cemas. Dia segera mendekati ranjang Diana dan tanpa banyak kata Jared mengecup kening Diana. Padahal di dalam ruangan itu masih ada dokter Rea.


"Ada apa dengannya, Dok?"


"Tekanan darahnya 80/60 dan lagi dia tadi menunggu Felly operasi 2 jam lamanya di bawah suhu AC yang lumayan dingin."


"Kau benar-benar bisa membuatku gila."


"I'am sorry."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2