
Jack dan Jared akhirnya pergi ke kamar mereka. Mereka ingin ibunya lekas pulih. Ben melepas jasnya dan meletakkannya di sofa. Ben melepas sepatunya dan melepas 2 kancing kemejanya. Dia naik ke ranjang dan berbaring di samping Giani.
"Hai, Sweetie. Ada apa denganmu?" lirih Ben sembari membelai wajah Giani.
Giani membuka matanya meski rasanya berat. "Hai handsome, kau sudah pulang?" tanya Giani. Dia mengucek matanya untuk memperjelas pandangannya.
"Hmm, karena anak-anak mengabarkan jika belahan jiwaku pingsan. Jadi aku pulang untuk menemaninya."
"Tadi aku sedang membuat makanan untuk Jack dan Jared, tapi tiba-tiba kepalaku pusing dan lalu aku sudah berada di sini."
"Tekanan darahmu sangat rendah. Kau seharusnya banyak beristirahat."
"Tapi mengurus anak-anak sudah menjadi kewajibanku, Sayang."
"Ya, tapi kau harus memikirkan kesehatanmu dan janin yang ada dalam kandunganmu."
"Baiklah, jika begitu sekarang peluk aku. Aku ingin dekat-dekat denganmu," kata Giani. Ben pun merengkuh tubuh Giani. Dia meletakkan kepala Giani di lengannya. Ben ngusap rambut sang istri dengan lembut.
__ADS_1
"Kenapa kau jadi manja sekali."
"Aku rasa kali ini anakku perempuan," kata Giani sembari mengecupi ceruk leher Ben.
"Kenapa kau bisa berpikiran begitu?"
"Karena kehamilan pertama, aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Aku saja merasa aneh dengan diriku sendiri, Sayang."
"Jika dia benar-benar perempuan, Jack dan Jared pasti akan senang."
"Tentu saja," kata Giani. Dia kini menghisap leher Ben hingga meninggalkan bekas merah kehitaman.
"Aku suka harum tubuhmu, Ben. Aku menyukainya."
"Oh God. Kau memancing pusakaku, Baby."
"Oh ya?" Giani semakin bersemangat menggoda suaminya. Giani menyusupkan kakinya di antara paha Ben. Dia melakukan gerakan yang cukup menggoda dan membangkitkan gairah Ben.
__ADS_1
Akan tetapi, Ben tidak akan mau melanjutkan adegan ini karena kondisi Giani yang tidak memungkinkan.
"Kau tidak menginginkanku, Sayang?" tanya Giani dengan suara lirih nyaris seperti desa*han.
"Aku ingin, tapi aku tidak mau membuatmu semakin sakit."
"Tapi ku rasa ini adalah obat yang aku mau." Giani semakin gencar menggesek pahanya dan Ben benar-benar dibuat frustasi. Pusakanya telah menegang. Dan kini dirinya dilema. Apa benar tidak masalah?
"Kau yakin ingin melakukannya?" tanya Ben memastikan. Giani mengangguk. Ben mengangkat dagu Giani dan lalu dia ******* bibir Giani dengan lembut dan sangat pelan.
Jemari tangan Ben menyusup ke dalam atasan yang di pakai Giani. Dia mengusap puncak dada Giani yang ternyata juga sudah menegang. Ben menyingkap atasan Giani dan mulai menyesap puncak kemerahan itu. Giani melengkungkan tubuhnya dan mendes*h. Ben sudah melepas pakaiannya, sedangkan Giani hanya dibuka atasannya karena ada infus di tangannya, lalu bawaannya dilepas oleh Ben. Ben bergerak cukup hati-hati karena dia takut akan menyakiti janin yang ada di perut Giani.
"Ouh, ini enak sekali, Sayang," rancau Giani.
Ben tersenyum dan tetap fokus pada gerakan tubuhnya. Tak lama dia menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan tak lama tubuh Ben menegang. Dia mende*sah keras.
Ben mengecup kening Giani setelah pergulatan itu. Giani kembali tertidur dan Ben hanya membiarkannya. Ben mengambil handuk basah dan membersihkan tubuh Giani. Dia membetulkan baju Giani dan memasang bawahannya. Ben lantas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri.
__ADS_1
...****************...