Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Bab 77. Diana (2)


__ADS_3

Diana benar-benar melakukan apa yang Giani perintahkan. Matilda menatap kesal ke arah Diana. Apalagi barang yang berhasil di lobi oleh Diana merupakan limited edition. Bisa dipastikan bonus yang akan Diana terima pasti lumayan banyak.


Setelah Diana mengurus belanjaan Giani. Dia masuk ke dalam ruangan atasannya.


"Maaf, Pak. Aku ingin bicara."


"Silahkan, Di."


"Saya mau keluar dari pekerjaan ini," kata Star.


Pria yang merupakan manager toko itu terkejut. Pasalnya dia menyukai Diana. Itulah kenapa dia menerima Diana saat melamar pekerjaan di sana. Meski sebenarnya toko itu sedang tidak membutuhkan tambahan karyawan."


"Why?"


"Saya akan ikut bekerja dengan kerabat saya, Pak. Dan ini hari ini saya berhasil menjual 2 sepatu L.E (Limited Edition). Saya harap bapak menurunkan gaji saya sesuai dengan kesepatakan."


Pria itu lalu mengambil kertas salinan Struk dan melihat nominal sepatu yang dibeli oleh pelanggan Diana.


"Kau benar-benar luar biasa. Sayang sekali potensimu harus terhenti di tengah jalan."


"Maafkan aku," sahut Diana. Manager toko itu mengetik sesuatu di ponselnya.


"Aku sudah mentransfer gajimu. Kau sudah bisa pulang. Semoga adikmu lekas sembuh."


"Terima kasih, Pak."


Diana langsung ke ruang loker untuk berganti pakaian, setelah itu dia pergi menyusul Giani yang katanya menunggu di cafe atas. Diana mengedarkan pandangan dan tersenyum saat melihat Giani melambaikan tangan ke arahnya.


"Nyonya."

__ADS_1


"Panggil aku aunty saja. Aku tidak mau orang lain memandangmu rendah karena mereka mengira kau hanya pembantu."


"Tapi kenapa? Bukankah memang pekerjaanku nanti seperti itu?"


"Tidak. Kau tidak akan menjadi pembantu, tapi aku akan menjadikanmu orang kepercayaanku."


"Lalu bagaimana jam kerjaku. Karena aku tetap harus pulang untuk merawat adikku."


"Adikmu sakit?"


"Iya. Dia tertabrak mobil dan membuatnya lumpuh."


"Oh, ya Tuhan. Aku turut bersedih mendengarnya."


"Apa aku boleh bertemu dengan adikmu?" tanya Giani. Diana tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah, kita pesan makanan dulu lalu kita ke rumahmu."


Entah mengapa pertemuannya dengan Diana membuat Giani tersentuh. Diana adalah gadis yang cantik dan masih terlihat polos.


Usai makan, Giani dan Diana akhirnya pergi ke rumah kontrakan Diana. Giani terenyuh saat pertama melihat rumah yang ditempati oleh Diana.


"Maaf jika rumahnya jelek. Aku hanya tinggal berdua dengan adikku saja."


"Tidak masalah. Lalu jika kau pergi siapa yang merawat adikmu?"


"Tidak ada. Aku mengunci pintunya dari luar. Setiap aku pergi aku mematikan aliran listrik karena aku khawatir saat ku tinggalkan terjadi sesuatu padanya.


Saat Diana membuka pintu rumah suara seorang gadis kecil terdengar.

__ADS_1


"Kakak sudah pulang?"


Diana segera masuk dan Giani pun mengikutinya. Giani menelan ludahnya kasar. Dia hampir saja meneteskan air matanya. Namun, saat matanya bertemu dengan wajah ceria adik Diana, Giani sekuat tenaga menahannya.


"Ya, Felly. Kakak sudah pulang."


"Apa kakak dipecat?" tanya Felly dengan raut wajah yang langsung berubah sendu."


"Tidak, Felly sayang. Kakak justru mendapat pekerjaan baru. Dan perkenalkan dia atasan kakak yang baru. Namanya nyonya Giani."


"Halo Nyonya, terima kasih sudah mempekerjakan kakakku."


"Ehm Diana, Sebenarnya aku ingin kamu tinggal di tempatku karena aku bisa saja sewaktu-waktu memerlukanmu."


Diana sesaat melempar pandangannya pada Felly.


Giani tahu arti tatapan Diana pada adiknya itu. "Aku ingin kau tinggal di rumahku begitu juga dengan Felly."


Diana langsung menoleh menatap Giani dengan tatapan tak percaya. "A_anda serius?"


"Ya tentu saja. Aku tidak akan sejahat itu membiarkan adikmu tinggal sendirian."


Diana menangis untuk yang pertama kalinya di depan Felly dan Giani. Felly ikut menangis melihat kakaknya menangis.


"Hei, kenapa kalian malah menangis?" tanya Giani.


"Terima kasih banyak, Nyonya."


...****************...

__ADS_1


Visual Diana



__ADS_2