
Giani terbelalak saat melihat putra pertamanya menuntun seekor Harimau yang besarnya 3 kali lipat dari tubuh putranya.
"Mom, lihat teman baruku," kata Jarret sembari tersenyum pada Giani. Ben bahkan tak menyangka bisa melihat perubahan putranya yang begitu cepat saat di hadapan Giani.
"Baby, apa itu aman? Dia bahkan 3 kali lipat besarnya darimu," ujar Giani.
"Dia seperti kucing yang lucu, Mom. Bolehkah aku memeliharanya?"
Giani tersenyum kaku. "Baiklah, asal kau menjaganya dengan baik. Jangan biarkan dia mengacak-acak rumah ini."
"Tentu, Mom. Thankyou."
Jarret lagi-lagi tersenyum ke arah Giani. Jack sempat melirik reaksi terkejut ayahnya. Jelas pasti ayahnya akan terkejut melihat perubahan kakaknya.
Zoro di bawa duduk di karpet ruang tamu. Giani dan kedua putranya duduk di sofa, Giani memberikan potongan kue pada kedua anaknya. Sedangkan Ben, meskipun duduk di sofa yang sama di, tetapi posisinya duduk di pegangan sofa, karena sebelah tangannya memegang harnes tali kekang Zoro.
"Mommy, apa kau tidak berniat menyuapi daddy. Kasihan daddy," kata Jack sembari tertawa menutup mulutnya. Giani memotong kue buatannya dan mengulurkan nya di depan wajah Ben, tanpa ragu Ben menggigit kue itu dan mengunyah nya.
"Bagaimana, Dad? Kue buatan mommy enak kan?"
"Hmm, ya. Ini kue terenak yang pernah daddy makan."
"Oh, ya?"
"Tentu saja. Ini kan kue buatan mommy, sudah pasti kue ini kue terenak yang pernah daddy makan."
Malam harinya, Ben melihat ponselnya ada 10 panggilan tak terjawab dari ibunya. Ben hanya membiarkannya saja tanpa berniat menghubungi balik.
Giani baru saja dari kamar kedua anaknya. Dia berjalan sembari menundukkan pandangannya. Ben menatap Giani tanpa berkedip. Giani duduk di tepi ranjang. Namun, sejak tadi dia belum mengangkat wajahnya. Rasanya semakin sulit saja usahanya untuk menyenangkan kedua anak-anaknya.
"Ada apa?" tanya Ben penasaran. Dia melihat Giani gelisah. Dari gerak geriknya tampak jelas jika perempuan itu sedang memikirkan sesuatu.
Giani mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut. "Tidak apa-apa. Kau tidak tidur?"
"Aku menunggumu," jawab Ben. Dia pun berjalan mendekati Giani. Ben lalu duduk dengan posisi menghadap Giani.
"Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu."
"Tidak ada, aku hanya merasa ini masih seperti mimpi," jawab Giani. Namun, wanita itu tidak berani menatap mata Ben secara langsung.
__ADS_1
"Hei, tatap mataku!" ujar Ben, Dia menyentuh dagu Giani dengan lembut. Mau tak mau kini tatapan mata Giani bertemu dengan tatapan Ben. Bola mata Giani bergetar.
"B_ben ... jangan begini."
"Memang kenapa? kau adalah istriku. Kau milikku Giani."
Giani terdiam, dia justru terpaku setelah mendengar pernyataan suaminya! Ben tersenyum lalu ia memiringkan kepalanya dan menahan tengkuk Giani. Ben langsung menyambar bibir Giani. Awalnya Giani tidak membalas ciuman Ben, tapi saat Ben menggigit bibir bawah Giani, mau tak mau dia membuka bibirnya dan membalas ciuman Ben dengan kaku.
Napas keduanya mulai terasa panas dan memburu. Ben akhirnya mengurai ciumannya dan membelai bibir Giani yang memerah.
Jangan ditanya bagaimana wajah Giani saat ini. Wajahnya langsung merah padam, jantung nya terasa dipompa dengan cepat.
"Ini baru permulaan. Aku tidak akan memaksamu untuk urusan yang satu itu, tapi jangan lama-lama ya," bisik Ben. Giani tidak menjawab apa-apa selain menggigit bibir bawahnya.
"Aku ngantuk."
"Baiklah, mari kita tidur. Besok kita masih punya agenda panjang. Kita harus ke sekolah Jack dan Jarret."
"Kau benar. Ehm, kemarin kau pernah bilang akan bertukar informasi tentang masing-masing kita. Apa kau tidak mau mengatakan sesuatu tentangmu yang tidak aku ketahui?"
"Apa yang ingin kau ketahui?"
"Keluarga, ya?" Ben menatap mata Giani.
"Sebenarnya Thomas dan Martha adalah keluargaku. Sejak awal takdir memang menuntunmu untuk selalu berada di sekitarku."
Giani terbelalak, Bibirnya terbuka karena dia memang benar-benar dilanda keterkejutan. Ben terkekeh melihat reaksi Giani.
"Aku beruntung kau tinggal bersama mereka. Setidaknya kehadiranmu bisa menggantikan ketidakhadiranku di tengah-tengah mereka. Dulu kakek tidak setuju dengan rencanaku untuk mendirikan sword of science. Kakek khawatir dengan obsesiku. Dia sampai menjulukiku ilmuwan gila."
"Awalnya aku mendirikan lembaga penelitian itu hanya untuk mencaritahu penyebab kematian ayahku."
"Apa ayahmu juga terbunuh?"
"Ya, begitu lah."
"Lalu bagaimana? Apa kau menemukan pelakunya?" tanya Giani penasaran.
"Ya. Pelakunya adalah istri ayahku sendiri, yang artinya pembunuhnya adalah ibuku sendiri."
__ADS_1
"Ta_tapi bagaimana bisa?"
"Mungkin kau tidak akan percaya, tapi ibuku selingkuh dengan orang kepercayaan ayahku. Hal itulah yang mendasari obsesiku mendirikan laboratorium SOS. Namun, rupanya dari sana aku mendapatkan passionku. Aku menemukan jati diriku yang sebenarnya."
"Aku turut bersedih atas kematian ayahmu," ucap Giani tulus.
"Itu sudah lama berlalu. Saat ini Martha dan Thomas sudah aku pindahkan ke pulau pribadi."
"Kenapa begitu?"
"Sejak kau kembali ke sini, Kata orang suruhan Ramos, ada mobil yang mencurigakan sering terparkir di sekitar rumah dan toko roti mereka. Aku khawatir itu salah satu musuhku atau mungkin orang suruhan ibuku yang masih penasaran dengan harta yang ayahku tinggalkan.
"Rupanya kaya tidak menjamin ketenangan."
"Kau benar. Itulah mengapa aku selalu menyembunyikan keberadaan kakek dan nenekku. Mungkin selama sisa hidup mereka akan merutukiku."
"Kenapa ibumu seperti itu? Maaf jika pertanyaanku kurang sopan."
"Itu juga yang sedang aku cari tahu penyebabnya."
"Lewat?" tanya Giani penasaran.
"Banyak cara yang sudah aku tempuh, tapi dia selalu bisa berkelit."
"Maaf jika aku mengatakan ini, Ayahmu meninggal sudah cukup lama. Ku rasa kau sedikit kurang cerdas untuk hal ini. Lalu bagaimana kau akan melindungiku dan anak-anak?"
Ucapan Giani barusan seperti sebuah tamparan keras untuk Ben. Dia bukannya tidak bisa menyelesaikan masalah penyebab kematian ayahnya. Dia hanya tidak siap menghadapi kenyataan yang selama ini selalu dia pungkiri.
"Percayalah, jika harus ditukar dengan nyawa, aku akan melakukannya demi kalian, tapi untuk kasus ini aku perlu waktu sedikit lagi."
"Terkadang aku berpikir betapa beruntungnya orang kaya seperti kalian, tapi semakin ke sini aku semakin sadar. Kita hanya perlu mensyukuri apa yang kita miliki saat ini. Karena mungkin diluar sana ada orang lain yang menginginkan kehidupan kita."
"Sekarang tidur lah, Ku harap kau sudah mengantuk." Giani menguap, tangannya langsung menutupi mulutnya. Dia mengangguk.
"Selamat malam Ben."
"Tidur lah yang nyenyak. Aku akan menjagamu," kata Ben lembut. Giani memejamkan matanya. Ben menatap Giani dengan tatapan teduh dan menenangkan. Dia harap dia juga bisa menghadapi masalah kematian ayahnya dengan hati yang lebih damai. Sekarang dia memiliki anak dan istri. Jangan sampai mereka bertiga menjadi tumbal musuhnya.
...****************...
__ADS_1