Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Bab 69. Bahagia


__ADS_3

Ben memerintahkan anak buahnya untuk membeli testpeck malam itu juga. Dia sungguh berharap Giani saat ini benar-benar mengandung benihnya.


"Daddy, kenapa dari tadi daddy mondar-mandir?"


Ben menghentikan gerakannya dan tersenyum pada Jack. Sangking cemasnya dia sampai tak sadar dengan apa yang dia lakukan.


"Daddy sedang menunggu seseorang."


"Tapi kenapa daddy mondar-mandir? Bukankah daddy bisa menunggu sambil duduk. Daddy membuat kepalaku jadi pusing," kata Jack. Giani yang masih merebahkan tubuhnya di samping Jack hanya tertawa mendengar protes anaknya.


Tak lama pintu kamar Jack di ketuk. Ben segera membuka pintu karena dia yakin siapa yang ada di luar pintu itu.


"Ini, Tuan."


Ben menerimanya dan langsung menutup pintu. Dia sudah tidak sabar ingin Giani segera memakainya.


"Sweetie, ini pakailah dulu."


"Ben, testpeck itu dipakai saat pagi hari."

__ADS_1


"No, aku membeli yang bagus yang bisa dipakai sewaktu-waktu. Jadi ayo bangun. Aku sudah tidak sabar untuk melihat hasilnya. Jack dan Jared pasti juga penasaran apakah adiknya sudah ada di perutmu atau belum."


"Dasar pemaksa." Giani dengan malas bangkit dari tidurnya dan mengambil tespeck yang ada di tangan suaminya.


Giani melihat di dalam kantong yang dibawa Ben ada begitu banyak tespeck.


"Kau beli banyak sekali untuk apa, Sayang? Kau ingin mengoleksinya?"


"Ini untuk persediaan saja. Jika kali ini gagal kita bisa mencoba sebanyak yang kau mau."


"Oh God. Kau benar-benar membuatku speechless."


Saat sudah mendapatkan hasilnya. Giani keluar dari kamar mandi dengan wajah lesu. Dia menyerahkan tespeck itu dengan posisi terbalik dan kembali naik ke ranjang. Ben malah fokus pada Giani tanpa membalik tespeck itu.


"Tidak masalah, kita bisa mencobanya lagi," kata Ben. Dia pikir Giani seperti itu karena hasilnya negatif.


"Apa yang mau dicoba? Jika kau mau mencobanya sabar dulu sampai anak di perutku ini lahir, Sayang," ujar Giani sembari memejamkan matanya.


Ben melongo dan langsung membalikkan tespeck itu. Dia tersenyum lebar saat melihat tanda + di tespeck itu. Ben langsung ikut naik ke atas ranjang dan memeluk Giani.

__ADS_1


"Kau benar-benar hamil? Apa kau tadi berniat mengerjaiku?"


"Ya. Kau terlalu banyak berpikir, Suamiku. Aku hanya merasa sangat pusing. Sepertinya anakmu ini sangat manja seperti daddy-nya."


"Terima kasih, Sweetie. Kau sudah memberiku keluarga yang sangat aku impikan sejak dulu." Jack dan Jared ikut tersenyum bahagia mendengar bahwa ibunya saat ini hamil.


"Hmm, bisakah kau tidak menggangguku. Aku ingin tidur," ujar Giani. Dia memeluk Jack dan menyembunyikan wajahnya di samping kepala putra bungsunya.


Kita tidur bersama malam ini. Kemarilah Jared, daddy akan memelukmu." Jared yang semula duduk di tepi ranjang kini ikut bergabung. Jared berada di tengah-tengah Giani dan juga Ben.


"Mom, kapan infus ini akan dilepaskan?"


"Sebentar, Sayang. Nanti dokter Rea akan kemari setelah infus itu habis."


"Aku sudah merasa jauh lebih baik, Mom." Giani menyentuh kening Jack yang sudah reda panasnya.


"Sayang, bisakah kau memanggil dokter Rea kemari? Jack sudah merasa mendingan."


"Baiklah," jawab Ben.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2