Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Bab 66. Malas


__ADS_3

Ben dan kedua putranya tiba di rumah. Jack dan Jarret langsung menuju kamar mereka, sementara Ben mencari keberadaan istrinya di dalam kamar.


Ben membuka pintu kamar. Alisnya bertaut karena ruangan di kamarnya tampak hanya remang-remang. Padahal seingatnya pagi tadi dia sudah membuka tirai kamarnya.


Ben mengambil remot untuk membuka tirai kamarnya. Akan tetapi saat tirai perlahan bergerak. Giani langsung bersuara.


"Jangan di buka tirainya, kepalaku pusing, Sayang."


"Why? Apa hubungan tirai ini dengan kepalamu, Sweetie?" Ben meletakkan remot tirai itu dan kini dirinya berjalan mendekat ke arah ranjang.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Setiap melihat cahaya matahari kepalaku pusing sekali. Rasanya berkunang-kunang."


"Oh God. Apa kau akan berubah menjadi vampire?"


"Ya, sepertinya begitu dan orang pertama yang akan aku gigit adalah dirimu."


"Kau sangat mengerikan Nyonya, tapi jika kau mau sekarang akan pasrah jika kau memang ingin menggigitku." ujar Ben sembari mengusap wajah Giani. Meski ruangan itu hanya di terangi lampu tidur, tapi Ben masih bisa menatap wajah istrinya yang terlihat lelah dan pucat itu.


"Aku akan memberimu suntikan Vitamin untuk mencegah sakit."


"Tidak perlu berlebihan, Sayang. Lebih baik kemarilah, biarkan aku memelukmu," kata Giani dengan suara lembut.


Ben mengulum senyuman, entah ada angin apa Giani tiba-tiba terlihat lebih agresif.

__ADS_1


Ben naik ke ranjang, Dia menyandarkan punggungnya di sandaran dan Giani tiba-tiba meletakkan kepalanya di paha Ben. Kakinya bahkan menggunci kaki Ben karena posisi Giani saat ini seperti sedang tidur memeluk guling.


"Kenapa kau wangi sekali, Sayang?" tanya Giani, "Apa kau sedang mencoba menarik perhatian wanita lain?"


"Apa kau sedang cemburu, Sweetie?" Ben mengusap puncak kepala Giani.


"No, aku tidak mungkin cemburu."


"Apa kau sudah makan?" tanya Ben pada Giani


"Belum, sejak pagi tadi."


"WHAT?" Ben langsung duduk dengan tegak. "Ada apa denganmu sebenarnya?" Kau sakit?" tanya ben


"Bukankah tadi aku sudah bilang aku sedang kurang enak badan."


Ben mencoba berbicara dengan nada selembut mungkin. Meski dalam batinnya dia cukup kesal karena Giani seakan menyepelekan kesehatannya.


"Kau marah padaku?" tanya Giani berlinang air mata.


"Hei, aku tidak marah. Siapa yang memarahimu? Aku hanya bertanya, Ok."


"Aku sedang tidak lapar. Aku mau tidur."

__ADS_1


"Tidak boleh. Kau harus makan dulu, Sweetie. Jika sampai kau sakit, Jared dan Jack pasti akan merasa sedih."


Ben beranjak dari ranjang dan mengangkat Giani ala bridal. Giani mengalungkan tangannya di leher Ben.


"Apa kau tidak jijik padaku?" tanya Giani sembari menatap dagu Ben.


"Kenapa aku harus jijik padamu? Kau itu istriku."


"Aku belum mandi sejak pagi."


"Tapi aroma tubuhmu masih sangat wangi," ujar Ben.


Ben mendudukkan Giani di kursi ruang makan. Dia memerintahkan kepala pelayan untuk menyiapkan makanan.


"Ben, di mana Jack dan Jared?"


"Mereka da di kamarnya. Kau ingin aku memanggil mereka?"


"Tidak usah, biarkan mereka beristirahat."


Giani meletakkan kepalanya di atas meja. Dia benar-benar merasa sangat malas melakukan apapun sekarang."


"Setelah ini aku akan membawamu ke ruang pemeriksaan. Aku merasa ada yang tidak beres dengan dirimu."

__ADS_1


"Hmm, terserah kau saja," jawab Giani, Dia memejamkan matanya yang terasa sangat berat.


...****************...


__ADS_2