Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Bab 74. Joscelin Alexander


__ADS_3

"Ini sudah pembukaan sempurna, Nyonya. Ikuti aba-aba saya, ya .... " Belum juga dokter Alexa menyelesaikan ucapannya. Giani sudah mengejan karena sudah tidak tahan.


Tidak butuh waktu lama, seorang bayi perempuan meluncur dengan mudahnya dari jalan lahir Giani.


"Wah, rupanya babynya sudah tidak sabar," ucap dokter Alexa. Dia memutus tali plasenta dan menyerahkan bayi itu kepada perawat untuk di bersihkan.


Giani kembali menangis saat mendengar jeritan pertama putrinya. Dokter Alexa membantu Giani mengeluarkan plasenta dan sisa gumpalan darah dari dalam rahim Giani.


Ben tersenyum dan mengecup puncak kepala Giani berkali-kali."


"Terima kasih sayang."


Setelah bayi mereka dibersihkan, Giani langsung diminta untuk menyusui putri kecilnya.


"Dia cantik sekali," ujar Ben.


"Kamu benar, Sayang. Dia benar-benar cantik."


Giani dan putrinya langsung pindah ke kamar pribadi Ben.


Jack dan Jared mengerubungi adiknya dengan tatapan takjub.


"Wah, dia cantik sekali Mom."


"Ya. Adik kalian memang cantik."

__ADS_1


"Siapa nama adikku?" tanya Jack.


"Apa kalian berdua ingin memberikan nama pada adik kalian?"


"Apakah boleh? Sebenarnya aku dan kakak sudah menyiapkan nama untuknya jauh-jauh hari."


"Tentu saja boleh." Giani tersenyum melihat wajah excited kedua putranya.


"Kami ingin memberinya nama Joscelin. Joscelin Alexander, biar nanti jika di sekolah kami akan di kenal dengan triple J."


"Tapi ketika adik kalian masuk ke Primary Education, kalian sudah naik tingkat ke Secondary Education."


"Oh iya, mommy benar."


Ben yang melihat interaksi antara Giani dan Si kembar di buat takjub. Jack dan Jared menjadi seperti anak-anak pada umumnya jika bersama Giani. Mereka tidak menunjukkan kelebihannya di depan Giani.


"Daddy senang kita bisa berkumpul seperti ini. Daddy harap kelak kalian akan menjaga Celin dengan baik."


"Tentu saja, Dad. Kami sangat menyayangi Celin."


Sore harinya Thomas dan Martha datang ke mansion Ben. Mereka bahagia karena kedatangannya disambut dengan kehadiran anggota keluarga baru.


"Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Martha pada Giani.


"Aku sangat baik, Martha. Aku senang akhirnya kita bisa berkumpul lagi."

__ADS_1


"Semoga kau betah dengan ilmuwan gila itu," kata Martha. Giani tertawa.


"Dia mencintaiku," ujar Giani.


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Tentu saja aku mencintainya. Dia memperlakukanku dengan baik, Martha."


"Kau sudah memaafkan kesalahannya juga?" tanya Martha benar-benar memastikan jika Giani sudah menerima Ben apa adanya.


"Aku sudah memaafkan kesalahannya. Masa lalu itu tidak bisa aku rubah. Lagi pula jika tidak ada kejadian itu, aku tidak akan mempunyai Jack dan Jared yang begitu menyayangi dan melindungiku."


"Hai Sweetie, apa yang kalian bicarakan?" tanya Ben mendekat dan mencium bibir Giani sekilas di depan neneknya.


"Aku sedang membicarakan keburukanmu, Ben. Aku bertanya pada Giani apakah dia bisa menerimamu yang banyak kekurangannya itu."


"Dia pasti akan menerimaku, Nek. Dia tergila-gila padaku."


Giani melotot dan mencubit pinggang Ben. Bisa-bisanya dia berkata begitu di depan Martha. Martha tertawa. Rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat Ben yang santai seperti ini.


Sejak kematian ayahnya, Ben berubah dingin dan tak tersentuh. Dia seakan menutup semua akses untuk berdekatan dengan orang-orang di sekitarnya.


Kali ini Martha kembali melihat sosok Ben yang sebenarnya. Itu semua berkat peran Giani.


Keluarga Ben akhirnya berkumpul kembali. Malam ini Ben akan mengadakan acara kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan kakek, neneknya dan juga untuk menyambut kelahiran putrinya.

__ADS_1


Giani duduk di dalam ruang keluarga. Dia menggendong Joscelin sembari mengayun-ayunkan bayi itu dengan pelan.


...****************...


__ADS_2