Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
S2. Ada Apa Denganmu?


__ADS_3

Diana akhirnya meminum obat tanpa memakan apapun. Dia hanya tak ingin siapa pun melihat kondisinya yang menyedihkan itu. Diana kembali ke kamar untuk memakai make up nya. Jangan sampai karena melihat kondisinya, orang-orang di rumah itu akan semakin mengasihani dirinya.


Saat Diana masuk ke kamar, Felly rupanya sudah ada di sana. Gadis itu langsung menekan tombol di kursi rodanya agar bisa lebih melihat jelas wajah kakaknya.


Sekilas Felly melihat wajah pucat Diana. Dia khawatir sang kakak terlalu memaksakan diri.


"Kakak sakit?"


"Tidak, Fell. Kakak baik-baik saja," kata Diana tersenyum lembut pada adiknya. Felly menatap sang kakak dengan sendu.


"Jangan memaksakan dirimu kak, jika kau di sini tidak tenang, kita bisa pergi ke negara lain."


"Kakak baik-baik saja, Felly. Kau tidak perlu cemas. Kakak mau berdandan, sebentar lagi kakak harus menemani aunty Giani."


Felly menatap punggung kakaknya dengan perasaan sedih. Felly tahu selama ini kakaknya selalu berusaha untuk terlihat kuat walau pun sebenarnya Felly tahu, setiap malam kakaknya selalu dihantui ketakutan.


Diana merias wajahnya dan menyamarkan warna kantung matanya. Dia juga sengaja memakai lipstik untuk menutupi bibirnya yang pucat.


"Kak .... "


"Kakak akan menemui aunty Giani dulu. Kau jangan lupa untuk sarapan, ya." Diana bangkit dari duduknya dan meninggalkan Felly. Dia tak mau jika Felly terlalu mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


Diana keluar dari kamar sembari menenteng sepatu kemarin yang urung dia berikan pada Jared.


"Kau mau kemana, Di?" tanya Jared. Diana menoleh dan menganggukkan kepalanya sedikit.


"Saya ingin menyerahkan ini, Tuan. Ini sepatu milik nona Celine yang kemarin."


Alis Jared bertaut dalam, dia tak suka dengan panggilan yang Diana gunakan untuk menyapanya.


"Ada apa denganmu?"


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya sedang berusaha untuk tidak melewati batasan saya."


"Tu_tuan, jangan seperti ini," lirih Diana.


"Katakan padaku, batasan apa yang kau buat Diana?" Jared menatap dalam ke netra Diana. Ada kemarahan yang tersirat dari sorot mata Jared. Namun, Diana sungguh tak mau kembali menelan kecewa.


Diana menelan salivanya saat mata Jared masih terus memburu netranya.


"Anda anak dari majikan saya, Sedang saya di sini hanya seorang pelayan. Tidak sepantasnya saya melewati batasan itu."


"Ada apa ini?" suara Ben membuyarkan Diana dan Jared. Ben dan Giani baru saja turun. Mereka terkejut mendapati putranya sedang mengintimidasi Diana.

__ADS_1


"Ada apa, Jared?" tanya Ben sekali lagi, Jared masih menatap Diana. Namun, Diana memilih menundukkan kepalanya. Jared mendesah dan melepas tangan Diana.


"Mom, Dad, aku akan berangkat ke perusahaan dulu." Jared pergi begitu saja tanpa menoleh. Hati Diana terasa mencelos. Dia terbiasa diabaikan, tapi entah mengapa saat Jared mengabaikannya hati Diana seperti tersayat.


'Sadar Diana, kau hanya pembantu yang menyedihkan. Dia terlalu tinggi untuk kau sejajari.' Diana membatin.


"Ada apa, Di? Tadi apa yang Jared katakan padamu?"


"Ti_tidak ada aunty. Dia hanya bertanya ada apa dengan saya."


"Oh, ya. Besok Felly akan menjalani operasi kakinya. Ku harap kau tidak keberatan dan kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Ok!"


Mata Diana berkaca-kaca. Baru beberapa hari tinggal di sana, tapi Diana hanya menerima perlakuan baik dari majikannya.


"Aku tidak tahu harus berterima kasih seperti apa pada aunty dan uncle."


"Jangan berlebihan, Sayang. Celine juga sangat menyukai Felly. Semakin cepat Felly jalan maka akan semakin bagus."


"Terima kasih aunty, terima kasih uncle."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2