
Joscelin akhirnya mengikuti acara summer camp. Dia akan menginap di perkemahan selama 4 hari. Joscelin adalah tipe anak yang sangat aktif. Dia tidak bisa hanya berdiam diri.
Giani terpaksa mengijinkan Celin ikut summer camp dari pada harus mengijinkan gadis itu mengikuti Jack dan Jared panjat tebing.
Giani merasa kesepian karena semua anak-anaknya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bahkan Jordan yang berumur 14 tahun itu pun juga sibuk mengikuti kompetisi basket.
"Ada apa dengan wajahmu itu, Sweetie?" tanya Ben.
"Aku memiliki keluarga, tapi rasanya seperti hidup sebatang kara. Kalian semua selalu sibuk dengan urusan kalian."
"Besok aku akan cuti dan menemanimu. Bagaimana?"
"Hmm, ya terserah padamu."
"Aku berangkat dulu, ya." Ben memeluk pinggang Giani, dia mengecup bibir Giani sekilas. Namun, saat Ben hendak melepaskan pelukannya, Giani menahan tangan Ben.
"Bolehkah aku pergi jalan-jalan nanti?" tanya Giani.
"Boleh. Asal kau selalu mengirimi kabar padaku. Jangan pergi jauh-jauh."
"Aku sudah seperti Celin saja, belum pergi sudah terlalu banyak pesan," protes Giani. Ben terbahak. Dia merasa apa yang Giani katakan memang benar.
"Baiklah jika begitu. Terserah padamu, asalkan kau sudah ada di rumah sebelum aku pulang dari kantor," kata Ben mencum bibir Giani lagi dengan gemas.
Setelah adegan manis itu, Ben akhirnya pergi ke perusahaannya. Giani bersiap untuk pergi jalan-jalan. Dia ingin pergi ke mall.
__ADS_1
Sejak dulu Giani tak pernah berubah. Meski memiliki suami yang kaya, tapi pembawaannya sangat sederhana. Dia hanya memakai celana pajang dan blouse.
Penampilan Giani terlihat sederhana. Namun, justru membuat ibu dari 4 orang anak itu terlihat awet muda.
Giani naik mobil sendiri, meski sebenarnya Ben sudah menyiapkan sopir untuknya. Namun, Giani tidak terlalu suka.
Giani tiba di sebuah pusat perbelanjaan,Dia berjalan menyusuri tiap tempat yang dia inginkan. Sudah lama sekali di tidak datang ke mall. Giani memasuki sebuh toko sepatu ternama. Namun, entah mengapa orang-orang di toko itu sepertinya tidak terlalu menganggap dirinya, tapi Giani tak peduli. Dia mendekat ke sebuah etalase kaca besar.
Seorang pramuniaga masih muda mendekatinya dengan tersenyum ramah.
"Apa ada yang bisa aku bantu, Nona?" tanya gadis itu dengan lembut. Giani terkekeh saat dipanggil nona olehnya.
"Usiaku 44 tahun, apa aku masih pantas dipanggil nona?" tanya Giani. Gadis itu langsung tampak tercengang dan lalu membungkukkan tubuhnya berkali-kali sebagai permintaan maaf.
"Maafkan aku, Nyonya. Tolong jangan sampai atasanku mendengar masalah ini. Aku masih perlu pekerjaan ini untuk membiayai adikku," kata gadis itu memohon. Giani merasa heran dengan respon berlebihan yang ditunjukkan gadis itu padanya
Di saat Giani berbicara dengan pramuniaga itu, Seorang karyawan lain menghampiri gadis itu.
"Diana, sebaiknya kau layani pelanggan lain yang memang berniat membeli. Jangan sampai kau dipecat oleh bos karena sering membuang-buang waktu."
"A_aku akan tetap melayani nyonya ini. Aku janji akan bekerja sungguh-sungguh Matilda." Giani benar-benar heran dengan situasi sekarang yang sedang dia hadapi.
Giani menunjuk sebuah sepatu berwarna coklat susu dan meminta Diana mengambilnya.
"Kau karyawan baru di sini?"
__ADS_1
"Iya, Nyonya."
"Kau nyaman kerja di sini?" Giani mencoba sepatu itu sembari mengorek informasi tentang gadis itu. Giani merasa kasihan melihat Diana.
"Aku sudah berkeliling banyak toko untuk memasukkan lamaran, tapi hanya toko ini yang menerimaku."
"Berapa usiamu?"
"Usiaku 20 tahun, Nyonya."
"Simpan sepatu ini untukku. Dan ambilkan aku sepatu yang ada di atas itu. Yang warna hijau. Ukurannya sama dengan yang itu." Wajah Diana tampak sumringah. Dia mengmbil kursi tangga dan naik untuk mengambil sepatu yang diinginkan oleh Giani.
"Ini, Nyonya."
"Apa kau mau bekerja di tempatku. Aku akan memberikan kau gaji 2 kali lipat dari gajimu di sini?" ujar Giani. Diana mematung mendengarnya.
"A_apa anda serius? Aku benar-benar sedang membutuhkan uang yang banyak untuk adikku."
"Aku bukan tipe orang yang suka memberi harapan palsu. Jika kau mau, sekarang juga pergi temui atasanmu dan berhentilah."
"T_tapi, apa pekerjaanku nanti? A_aku tidak harus menjual diri kan?"
"Ya Tuhan, kau benar-benar lucu. Aku bukan mucikari dan aku bukan orang jahat. Jadi apa kau menerima tawaranku?" tanya Giani. Diana langsung mengangguk tanpa berpikir 2 kali.
"Temui atasanmu setelah kau mengurus belanjaanku ini. Kau bisa ikut aku setelah ini."
__ADS_1
"Terima kasih, Nyonya. Terima kasih banyak."
...****************...