
Giani sudah merasa jauh lebih baik sekarang. Sejak 3 hari dari kejadian itu, Ben melarang dirinya untuk beraktifitas.
Jack dan Jarret selalu meluangkan waktu selepas pulang sekolah, mereka selalu menjaga ibunya karena mereka merasa sangat bersalah pada Giani.
Hari ini Kedua anak Giani akan pulang sekolah sendiri bersama sopir, karena Ben sejak semalam harus ke Sidney untuk menyelesaikan masalah di cabang perusahaannya.
Giani belum diperbolehkan Ben untuk beraktifitas seperti biasanya. Bahkan hanya untuk sekedar mengantar jemput Jack dan Jarret pun dia masih belum boleh.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore tapi kedua putranya masih belum juga nampak. Giani mulai merasa cemas. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi sekolah Jarret dan Jackson.
"Maaf, saya ibu Jarret dan Jackson. Apakah hari ini anak-anak ada tambahan jam?"
("Mereka sudah pulang sejak pukul 1 tadi, Nyonya.")
"Oh, baiklah. Terima kasih."
Giani akhirnya memutuskan untuk menghubungi supirnya. Namun, berkali-kali dia melakukan panggilan, tidak ada satu pun yang diangkat oleh sopirnya.
"Oh God. Kalian kemana? Kenapa belum sampai di rumah?"
Giani ingin menghubungi Ben, tapi dia khawatir justru akan mengganggu suaminya. Giani akhirnya memutuskan untuk mencari si kembar sendiri.
Giani keluar membawa mobil. Namun sampai di gerbang dia dicegat oleh penjaga keamanan.
"Nyonya, Tuan Ben melarang anda untuk keluar."
"Minggir dari jalanku atau aku akan menabrak kalian!"
"Kami tidak bisa melanggar perintah Tuan Ben."
__ADS_1
"Berati bersiaplah." Giani menginjak pedal gas, tapi kaki yang satunya masih menginjak rem.
"Menyingkirlah dari jalanku. Aku harus mencari kedua putraku!" pekik Giani frustasi. Entah kenapa sejak tadi perasaannya sudah tidak enak.
Pintu gerbang besar itu perlahan terbuka. Giani langsung melepas injakan di rem mobilnya dan melesat dengan kencang.
Tidak biasanya Jack dan Jarret pulang telat. Giani khawatir terjadi sesuatu pada anak-anaknya.
Tanpa terasa air mata Giani mengalir dengan deras. Dia tidak akan bisa, jika terjadi hal yang buruk pada kedua anaknya.
20 menit kemudian Giani sudah sampai di depan sekolah. Sekolah itu sudah sepi. Giani menghampiri penjaga gerbang sekolah itu.
"Maaf, Pak."
"Iya, Nyonya."
"Mereka memang sudah pulang bersama supirnya. Karena saya melihat sendiri mereka naik ke mobil yang biasa mengantar jemput mereka."
"Baiklah, terima kasih jika begitu."
"Semoga mereka segera pulang ke rumah," kata penjaga gerbang itu. Namun, Giani sudah tidak menyahuti lagi.
Saat ini yang ada di pikiran Giani adalah sekelebatan pikiran buruk yang terjadi pada kedua putranya. Giani masuk ke dalam mobil dan menangis.
Dengan tangan gemetar, Giani langsung menghubungi nomor ponsel Ben. Namun, ternyata tidak bisa terhubung. Giani merasa frustasi.
"Kemana kalian?"
Giani kembali melajukan mobilnya dia menyusuri jalan yang biasa dilalui oleh anak-anaknya ketika pulang.
__ADS_1
Mata Giani terus mengedar menatap sekeliling. Dia khawatir anak-anaknya mengalami kecelakaan atau hal buruk lainnya.
Giani kembali menghubungi nomor supir Jack dan Jarret. Namun, lagi-lagi panggilannya tidak terhubung.
Giani menghentikan mobilnya. Dia menelungkupkan wajahnya di atas stir mobilnya.
Sesaat Giani terdiam dengan posisi seperti itu. Dia perlu berpikir jernih saat ini. Giani akhirnya menghubungi nomor mansion. Namun, kata kepala pelayan kedua putranya belum tiba di rumah.
Giani mencari nomor Elena. Semoga saja Elena bisa membantunya.
"Halo, Nyonya ada apa?"
"Di mana kau?"
"Saya sedang di pulau pribadi untuk mengantar dokter untuk memeriksa kondisi kakek Thomas."
"Ya, sudah jika begitu. Sampaikan salamku pada Thomas dan Martha."
"Baik, Nyonya."
Giani benar-benar putus asa. Dia kembali menghubungi nomor Ben. Kali ini panggilannya tersambung.
Beberapa kali dering akhirnya Ben menjawab teleponnya.
"Ada apa, Sweetie?"
"Ben. Anak-anak hilang."
...****************...
__ADS_1