Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
S2. Apa Kita Aman?


__ADS_3

Giani dan Diana tiba di Mansion megah milik Ben. Meski awalnya Diana merasa takut karena dia tidak berangkat bersama Giani, tapi setiba di depan mansion mewah itu, Diana tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya.


Anak buah Ben menyiapkan kursi roda untuk Felly. Gadis berusia 13 tahun itu tampak senang sekali, karena seumur-umur setelah kecelakaan itu dia tak pernah keluar dari rumahnya. Kakaknya selalu melarang Felly keluar.


Felly bahkan harus putus sekolah, Felly pernah menjadi korban bully teman-temannya karena kondisi fisiknya yang kini tidak sempurna itu.


Semenjak itu, Diana melarang Felly untuk bersekolah. Diana hanya membelikan beberapa buku untuk Felly sebagai pengisi waktu luangnya.


Diana sangat menyayangi Felly, karena bagaimana pun Felly adalah satu-satunya anggota keluarga yang tersisa dari pembantaian di keluarganya. Waktu itu kebetulan Felly ada acara di sekolahnya.


Meski sampai sekarang tak tahu apa motif pembantaian itu, tapi karena hal itulah Diana membawa Felly pergi jauh sampai ke Melbourne. Jadi sekarang apapun yang terjadi Diana akan menjaga Felly dan berusaha mengumpulkan uang untuk biaya operasi Felly.


"Bagaimana? Apa kalian mau tinggal di rumah ini?" tanya Giani. Ben sudah masuk terlebih dulu ke dalam rumah.


"Rumah ini besar sekali, Nyo ... eh aunty."


"Ya, tapi sayangnya keempat anakku tidak ada yang betah tinggal di rumah ini. Jadi aku selalu kesepian, tapi sekarang aku punya kau dan Felly. aku sangat senang sekali."

__ADS_1


"Aunty terlalu berlebihan."


"Tidak sama sekali. Nanti kalian akan tinggal di kamar tamu."


"Ta_tapi aku hanya pekerja, aunty. Apa tidak masalah?"


"Tentu saja tidak. Ayo ajak Felly masuk."


Diana lantas mendorong kursi roda Felly. Meski sebenarnya kursi roda Felly adalah kursi roda Elektrik, tapi Diana seakan tak membiarkan adiknya bergerak sendiri.


Seorang bodyguard menarik dua koper kecil milik Diana dan Felly. Mereka sampai di kamar tamu. Diana dan Felly lagi-lagi hanya bisa terpukau dengan kamar yang Giani sediakan untuk mereka berdua.


Setelah itu Giani meninggalkan Diana dan adiknya, Diana menutup pintunya.


"Kak, apa di sini kita akan aman?"


"Kita sudah jauh dari rumah. Kakak yakin kita akan aman."

__ADS_1


*


*


*


Giani masuk ke dalam kamar. Dia melihat Ben sedang duduk di sofa sembari mengerjakan sesuatu. Giani tak mau mengganggu suaminya dulu. Dia memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum nanti dia melaksanakan hukumannya.


Giani mandi dan memakai wewangian untuk menuntaskan hukuman yang dia sendiri tahu seperti apa. Waktu makan malam masih 1 setengah jam lagi. Itu artinya dia bisa memberikan 1 servis terbaiknya pada sang suami.


Ben masih menatap layar laptopnya saat Giani keluar dari kamar mandi. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi itu kini hanya berbalut bathrobe. Giani bahkan tak memakai pakaian dalamnya.


Giani mendekat ke arah Ben dan langsung duduk di atas pangkuan Pria itu. Ben memundurkan tubuhnya bersandar di sofa. Giani tersenyum manis. Dia mengalungkan tangannya di leher Ben.


"Sebelum kau menghukumku, biarkan aku yang menyenangkanmu. Aku akan menjadi pe**cur malam ini," bisik Giani sensual sembari menj*lat telinga Ben.


Ben tersenyum, dia akan memberi kesempatan pada istrinya untuk bermain dengan tubuhnya. Karena sudah cukup lama mereka tak bermain-main.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2