
Diana membuka matanya, dia sedikit terkejut mendapati Jared sedang memandanginya dengan tajam.
"Tu_tuan."
"Sudah berapa kali aku katakan panggil namaku, Jared! Sekali lagi kau memanggilku Tuan, aku akan membungkam mulutmu," ucap Jared dengan nada penuh ancaman.
Diana masih menatap Jared dengan tatapan linglung. Giani masuk ke ruang perawatan Diana sembari tersenyum. Giani bisa melihat betapa Jared sangat mempedulikan Diana.
"Diana, bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja, Aunty."
Giani mendekati Diana dan menyentuh kening gadis itu. "Dokter Rea mengatakan kau dehidrasi, demammu sudah sedikit berkurang, tapi kau tetap harus banyak istirahat."
"Bolehkah aku istirahat di kamarku saja?"
"Tentu saja boleh, kau tidak boleh banyak pikiran. Felly sudah ditangani dengan baik. Besok operasinya akan dilaksanakan siang. Celine yang akan menemani Felly nanti."
"Terima kasih, Aunty. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan aunty," ujar Diana tulus. Giani mengangguk dan tersenyum pada gadis itu.
__ADS_1
Giani berlalu sembari menepuk punggung putranya. Jared hanya menoleh dan tersenyum tipis. Namun, sebelum mencapai pintu Giani berpesan, "Jangan membuat Diana sedih, Jared atau kau akan berurusan dengan mommy."
"Tidak akan mom."
Setelah kepergian Giani, Jared kembali duduk di tepi ranjang. Dia masih menatap Diana hingga membuat gadis itu salah tingkah dan malu.
"Jangan menatapku seperti itu," kata Diana.
"Kenapa pagi tadi kau bersikap menyebalkan padaku, apa aku berbuat salah padamu?"
"Tidak. Kau sama sekali tidak bersalah," ujar Diana menunduk. Dia tak tahan jika Jared terus memandanginya dengan tatapan seperti itu.
"Lalu?" Jared mengangkat sebelah alisnya. Dia merasa heran, jika tidak bersalah kenapa sikap Diana berubah.
"Kau berbicara seperti itu, seolah ada yang melarangmu berdekatan denganku."
"Bukan begitu, aku hanya tidak mau terluka. Jujur aku sangat takut jika harus kecewa lagi."
"Kau pikir aku akan mengecewakanmu?" Jared benar-benar bingung dengan alasan Diana yang menurutnya terlalu dibuat-buat. "Dengar, Di. Aku tidak akan mengecewakanmu, aku tidak mungkin melakukan hal yang nanti akan ku sesali sendiri."
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Kau hanya kasihan padaku, kan? Kenapa kau seperti ingin mempermainkan perasaanku?"
"Siapa yang bilang aku kasihan padamu?"
"Kau sendiri yang bilang, kau bilang pada aunty jika kau kasihan padaku. Aku mendengarmu mengatakan itu, Jared."
"Dan kau pergi tanpa mendengar kelanjutan percakapan ku dengan mommy?"
"Hidupku sudah sangat rumit, aku ...."
Diana terbelalak saat Jared menempelkan bibirnya yang hangat di bibir pucatnya. Sesaat otaknya terasa kosong. Diana mendorong dada Jared. Namun, pria itu justru menahan tengkuk Diana. Diana memejam erat, tangannya mencengkeram jas Jared.
Jared melepas ciumannya, Dia mengusap bibir Diana dengan ibu jarinya.
"Kau hanya perlu percaya padaku dan aku akan berusaha untuk tidak membuatmu kecewa."
"Why?"
"I don't know why, tapi aku benar-benar tidak ada niatan untuk membuatmu kecewa. Awalnya memang aku kasihan padamu, tapi rasa itu sudah berubah menjadi rasa peduli dan aku ingin melindungimu. Aku menyayangimu, Di."
__ADS_1
Diana masih membeku. Dia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Jared kembali mengusap bibir Diana, dia lalu menangkup wajah Diana dan kembali membenamkan bibirnya. Kali ini ciuman Jared lebih intens. Namun, penuh dengan kelembutan.
...****************...