Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Bab 63. Pertama dan Terakhir


__ADS_3

Ben masih menatap kedua putranya yang sibuk memilih bunga untuk Giani.


"Aku tidak menyangka mereka memiliki sisi se menakutkan seperti itu. Ku pikir ada yang salah dengan mereka." Ben berbicara pada Ramos, tapi matanya masih berpusat pada Jack dan Jarret. Kedua bocah itu seakan tidak menyadari tatapan mata ayahnya.


"Anda perlu memberi batasan pada mereka, Bos. Jika sisi lain itu lebih dominan. Nyonya Giani pasti akan sangat syok jika mengetahuinya."


"Sepertinya aku memang perlu memberikan pengertian pada mereka. Entah bagaimana mereka menyembunyikan semua itu dari Giani selama ini."


Tak lama Jack dan Jarret mendekati Ben. Mereka sudah selesai memilih bunga untuk ibunya. Jack mengambil uang yang ada di dalam tasnya. Dia membayar sendiri bunga itu.


"Hei, boy. Biar daddy yang bayar bunga itu."


"No, ini bunga kami untuk mommy. Jadi kami harus membayarnya sendiri. Jika daddy mau, daddy bisa memilih bunga sendiri dan membayarnya," jawab Jack sembari menutup tasnya kembali.


Ben akhirnya memilih buket bunga tulip berwarna merah muda dan membayarnya.


Mereka kembali masuk ke mobil. Selama dalam perjalanan Ben masih tampak berpikir.


"Jack, Jared boleh daddy meminta sesuatu pada kalian?"


"Daddy tinggal katakan saja ada apa?"

__ADS_1


"Kalian sudah lama 'kan memiliki barang-barang itu? Bagaimana kalian menyembunyikannya dari mommy?"


"Barang itu tidak di simpan di rumah, kami menyimpannya di tempat uncle Albern."


"Apa uncle Albern tidak menanyai kalian?"


"Dia pernah bertanya, tapi aku bilang jika alat itu akan kami gunakan untuk melindungi mommy. Jadi dia tidak banyak bertanya lagi. Why?"


"Apa kalian mau berjanji bahwa ini akan menjadi yang pertama dan terakhir kalian memakai alat itu?"


"Kami tidak bisa, Dad. Sorry." Jack dan Jared menjawab bersamaan.


"Jika ada yang menyakiti mommy lagi maka kita akan pakai semua itu untuk membalasnya. Kami akan selalu menjadi yang terdepan melindungi mommy dari siapapun yang menyakitinya."


"Boys, kalian sekarang memiliki daddy. Jangan khawatir. Daddy akan melindungi kalian semua. Daddy mau kalian tumbuh seperti anak-anak lainnya."


Jack dan Jared langsung terdiam. Mereka bahkan masih belum sepenuhnya bisa mempercayakan ibunya pada Ben. Mereka terbiasa harus berpikir dewasa demi melindungi Giani.


Tidak ada lagi obrolan setelahnya. Jack dan Jared memilih tetap diam sampai tiba di rumah. Mereka turun terlebih dulu dan memilih untuk tidak menunggu Ben.


"Apa ada yang salah dari ucapanku, Ramos?"

__ADS_1


"Tidak, Bos. Saya yakin mereka hanya masih butuh waktu untuk sepenuhnya percaya pada anda. Saya masih bisa melihat keraguan di mata mereka."


"Ku rasa mereka dewasa sebelum waktunya."


"Itu karena keadaan yang memaksa mereka, Bos. Jika saja seandainya mereka tidak perlu menunggu waktu selama itu."


"Ini semua salahku dan aku akan menebusnya. Aku terlalu mengkhawatirkan mereka sampai aku lupa apa yang sebenarnya mereka perlukan. Pulanglah, aku akan berada di rumah seharian ini."


Ben akhirnya turun dari mobil. Dia masuk ke rumah sembari membawa buket bunganya. Giani duduk di ruang keluarga dengan Jack dan Jared yang bergelayut manja di sisi kiri dan kanannya.


Ben mendekat dan mencium kening Giani lalu memberikan buket bunganya.


"Wow, ini sebenarnya ada apa? Kenapa kalian semua memberiku bunga?"


"Ini adalah harimu. Kamu berhak mendapatkan cinta kami, tapi sepertinya formasi keluarga kita kurang. Seharusnya ada bayi perempuan di tengah-tengah kita," kata Ben, mengerling nakal ke arah Giani.


"Apa mommy sedang hamil? Aku mau punya adik perempuan," ujar Jack bersemangat seperti biasanya.


"Sebentar lagi. Daddy sedang mengusahakannya."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2